
"Cari apa, Bang?" Tanya Beth pada Timmy yang berulang kali memeriksa saku celananya. Kiri ke kanan, lalu kanan ke kiri.
"Dompet."
"Dan ponsel!" Jawab Timmy sembari merogoh lagi saku celananya.
"Tadi Yvone titip dompet dan ponsel aku ke kamu tidak?" Tanya Timmy selanjutnya yang langsung dijawab Beth dengan gelengan kepala.
"Kau punya nomornya Yvone, kan? Coba telepon dia dan tanyakan--"
"Malas!" Jawab Beth cepat sebelum Timmy menyelesaikan kalimatnya.
"Abang telepon dan tanya sendiri!" Ujar Beth kemudia seraya menyodorkan ponselnya pada Timmy.
Sepertinya adik Timmy itu masih mengibarkan bendera perang pada Yvone.
Timmy akhirnya hanya menghela nafas, lalu mengambil ponsel Beth.
"Nama kontak--"
"Yvone!" Jawab Beth ketus. Beth kemudian berlalu meninggalkan Timmy yang langsung sibuk menghubungi Yvone.
"Halo, Beth! Apa Timmy sudah pulang?"
"Yv! Aku Timmy!" Ucap Timmy to the point saat Yvone yang malah menyapa Beth.
"Oh!"
"Hai, Timmy! Kau sudah pulang?"
"Ya! Aku sudah di kost-an bersama Beth," jawab Timmy cepat.
"Syukurlah kalau begitu."
"Mmm ngomong-ngomong, apa kau tadi melihat atau mungkin mengamankan dompet dan ponselku di lokasi kecelakaan, Yv?" Tanya Timmy akhirnya tak lagi berbasa-basi.
"Aku tidak melihatnya."
Timmy langsung mendes*h kecewa.
"Tapi kata warga mereka memang tak menemukan dompet atau ponsel atau identitas apapun saat menolongmu."
"Jadi aku pikir mungkin kau tak bawa."
"Aku membawanya!" Sergah Timmy cepat sembari berpikir tentang kemungkinan kalau dompet dan ponselnya pastilah diambil oleh seseorang yang jahat.
"Kau membawanya?" Suara Yvone membuyarkan lamunan Timmy.
__ADS_1
"Iya, aku membawanya, Yv! Apa kau benar-benar tak melihat?" Tanya Timmy sekali lagi masoh berharap.
"Aku tidak melihatnya, Tim! Maaf!"
"Baiklah, tak apa! Mungkin memang ada orang jahat yang memanfaatkan situasi." Timmy langsung tertawa sumbang.
"Aku tutup dulu teleponnya, Yv! Selamat malam!"
"Malam, Timmy!"
Telepon terputus dan Timmy segera menyusul Beth yang kini sudah berbaring dibatas tempat tidur Timmy.
"Ini ponselmu dan pulang sana mumpung belum larut!" Usir Timmy sekali lagi pada Beth.
"Tidak mau!"
"Toh Mama dan Papa juga sedang keluar," tukas Beth yang tak terlalu digubris oleh Timmy yang sudah menghilang ke dalam kamar mandi.
"Bang! Mau mandi?" Tanya Beth yang langsung bangun dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Ya!" Jawab Timmy sembari meringis di dalam kamar mandi, karena beberapa lukanya yang tergesek bajunya sendiri.
"Sial sekali aku hari ini!" Rutuk Timmy pada dirinya sendiri, sebelum pria itu mulai mengguyur tubuhnya pelan-pelan memakai air hangat.
****
Kath sedikit celingukan ke arah tamu yang baru saja datang. Wanita itu seolah sedang menunggu kedatangan seseorang...
"Cari siapa?" Tanya seseorang yang suaranya dibuat berat yang refleks langsung membuat Kath menyikut perut manusia berjenis kelamin laki-laki tersebut.
"Jangan iseng, Kai!"
"Auuw!" Pria yang tadi Kath panggil Kai itu langsung meringis sembari memegangi perutnya.
Kaindra adalah adik laki-laki Kath yang memang kerap bersikap usil dan kekanakan.
"Kakak nungguin siapa? Pacar bule Kakak itu?" Tanya Kai kepo yang langsung membuat Kath mendelik pada sang adik.
Mulut Kai benar-benar ember karena sepertinya adik Kath itu sengaja mengeraskan pertanyaannya tadi hingga di dengar oleh Mami dan Papi Kath yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Benar, kau sudah punya pacar, Kath?" Tanya Mom Mizty yang langsung membuat Kath meringis.
"Pacar--"
"Sudah punya, Mom!" Sahut Kai ember.
"Ck! Diam!"
__ADS_1
"Pacarmya bule," imbuh Kai lagi.
"Kami baru berkencan beberapa minggu, Mom! Makanya Kath belum mengenalkannya pada Mom," tukas Kath beralasan.
"Mengenalkan siapa?" Sahut Dad Dyrtha yang sudah ikut bergabung.
"Pacarnya Kath!" Jawab Mom Mizty cepat.
"Kath sudah punya pacar? Bagus! Kau bisa segera menyusul Angga!" Ucap Dad Dyrtha penuh semangat yang hanya membuat Kath mengangguk.
Kath lalu mengalihkan pandangannya ke atas panggung dimana Angga dan tunangannya sedang bertukar cincin.
Dulu saat kecil, Kath sebenRlarnya lumayan dekat dengan Angga. Namun setelah mereka beranjak dewasa, kedekatan mereka perlahan pudar, ditambah keluarga Uncle Robert yang akhirnya pindah ke kota ini setelah Omi dan Opi meninggal, membuat kedekatan Kath dan Angga semakin berjarak saja.
"Dor! Malah melamun!" Tegur Kai yang langsung membuat Kath berdecak.
"Jadi kapan kau akan mengenalkan pacarmu pada Dad, Kath?" Tanya Dad Dyrtha yang rupanya masih belum pergi.
"Belum tahu, Dad! Tapi secepatnya kalau dia serius, sih!" Ujar Kath sembari meringis.
"Harus serius! Masa iya, putri Dad yang cantik ini ditolak!" Tukas Dad Dyrtha seraya merangkul Kath, yang tentu saja langsung membuat semua anggota keluarga Harimarta itu tertawa.
****
Timmy yang baru selesai mandi, langsung disambut oleh Beth di depan pintu kamar mandi, yang sepertinya hendak memberikan laporan.
"Beth sudah coba menghubungi ponsel Abang tadi!" Lapor Beth sesuai dugaan Timmy .
"Tersambung?" Tanya Timmy tak sabar.
"Tidak!" Jawab Beth Seraya meringis. Timmy langsung mencibir pada adiknya tersebut.
"Tapi kan setidaknya itu sudah membuktikan kalau ponsel Abang beneran hilang," tukas Beth yang membuat Timmy semakin mencibir.
"Terserah saja!" Gumam Timmy seraya melangkah ke kamarnya.
"Bang!" Beth segera mengekori Timmy yang jalannnya masih terpincang-pincang.
"Diam disitu dan jangan ikut masuk! Aku mau ganti baju!" Timmy memperingatkan Beth yang langsung merengut dan menghentikan langkahnya di depan kamar.
Sementara Timmy yang sudah masuk ke kamar, langsung menutup serta mengunci pintu.
Ceklek!
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.