
"Abang Timmy! Astaga!"
Pekikan dari seseorang yang baru saja mendorong pintu kamar, membuat Timmy menoleh untuk melihat siapa yang datang. Otak Timmy mendadak blank dan sedikit lupa dengan suara tak asing barusan.
Siapa yang datang?
Kenapa wajahnya terlihat kabur dan tak jelas?
"Kath, kaukah itu?" Tanya Timmy seraya menatap pada seseorang bergaun yang kini berdiri di ambang pintu kamarnya tersebut.
Biasanya Kath yang memakai gaun semacam itu.
"Kath--" Panggil Timmy lagi saat kemudian seseorang itu berjalan perlahan dan menghampiri dirinya yang masih terkapar di lantai.
"Bang!"
"Abang kenapa mabuk?" Tanya seseorang yang kini sudah memeriksa Timmy.
Ah, iya! Timmy baru ingat kalau ini adalah Beth adik kesayangannya.
Lalu Kath kemana? Kenapa bukan Kath yang datang?
Suara ponsel yang berdering nyaring, membuat Beth tak jadi mengomeli Timmy. Gadis itu terlihat memeriksa pinselnya, sebelum kemudian menempelkannya di telinga.
"Uhuuk! Uhuuk!"
Timmy terbatuk-batuk karena sisa alkohol sialan yang tadi ia tenggak masih terasa membakar tenggorokannya.
"Uhuuk! Uhuuk!" Timmy semakin keras terbatuk dan Beth sudah keluar dari kamar seraya mengangkat telepon.
"Halo, Ma!" Timmy samar-samar masih mendengar sapaan Beth pada seseorang yang tadi meneleponnya.
Sepertinya Mama Tere yang menelepon Beth. Tapi Timmy tak peduli dan Timmy kembali menatap ke langit-langit kamarnya.
"Kath...." Racau Timmy lagi yang kembali ingat pada perkataan Kath kepadanya siang tadi.
"Aku sudah bertunangan!"
"Aku dan Marv akan segera menikah!"
"Tidak boleh! Kau tidak boleh menikah dengan Marv, Kath!"
"Aku mencintaimu!"
"Aku mencintaimu, Kath!" Suara Timmy perlahan melemah karena rasa sakit di kepalanya juga semakin menjadi.
"Aku mencintaimu, Kath," gumam Timmy semakin lirih bersamaan dengan matanya yang mulai terasa berat.
Beth masih belum selesai menelepon, saat pandangan mata Timmy semakin mengabur, semakin mengabur, dan mata Timmy rasanya tak bisa terbuka lagi.
"Kath...." Timmy masih terus menggumamkan nama Kath hingga ia memejamkan mata dan terlelap karena merasa lelah.
Lelah memikirkan Kath yang bahkan tak pernah menggubris perasaannya.
Timmy akan tidur dan menemui Kath dalam mimpi saja kalau begitu!
****
"Stop!" Cegat Kaindra, saat Kath dan Marv hendak meninggalkan resepsi pernikahan Angga dan Reina
__ADS_1
"Apa, sih, Kai! Minggir!" Gertak Kath galak pada sang adik.
Ya, Kaindra memanglah adik Kath satu-satunya yang menyebalkan!
"Kalian mau kemana, hah?" Tanya Kaindra kemudian seraya menuding bergantian ke arah Kath dan Marv.
"Sopan sedikit!" Bentak Kath yang langsung menurunkan jari Kaindra yang tadi menuding-nuding tak jelas.
"Baiklah, Kakakku yang galak! Kau dan tunanganmu ini mau kemana?" Kaindra mengulangi pertanyaannya.
"Kami akan pulang duluan karena Kath merasa bosan, Kai! Kau mau ikut jalan-jalan?" Jawab Marv seraya menawari Kaindra.
Langsung terdengar decakan tak senang dari Kath.
"Tidak usah mengajaknya, Marv! Kita pergi berdua saja!" Desis Kath merasa geregetan.
"Jalan-jalan, ya? Jangan-jangan nanti sekalian--"
"Sssshhhh! Tidak usah sok tahu!" Kath sudah membungkam mulut Kaindra dengan cepat.
"Aku laporkan ke Dad," ancam Kaindra kemudian kekanakan.
"Laporkan saja! Kau pikir aku takut?" Delik Kath yang balik menantang sang adik.
"Ayo, Marv!" Kath kemudian menarik tangan Marv yang tadi malah terkekeh. Pasangan yang baru saja bertunangan tersebut lalu segera keluar dari kediaman Halley, dimana acara pernikahan Angga dan Reina digelar.
Kath masih bertanya-tanya, kenapa Reina dan Angga tidak menyewa gedung saja untuk acara pernikahan mereka. Pasangan pengantin itu malah menggelar acara pernikahan di kediaman orang tua Reina.
"Beth, baru datang? Timmy mana?" Suara Uncle Robert yang sedang menyapa seorang tamu, membuat Kath menghentikan langkahnya sejenak..
Apa Uncle Robert tadi baru saja menyebut nama Timmy?
Kath refleks menoleh, namun tamu yang disapa Uncle Robert tadi rupanya sudah berlalu ke arah pelaminan. Kath hanya melihat punggung gadis tadi yang entah siapa.
Apa mungkin itu adiknya Timmy? Mengingat dia tadi memanggil Timmy dengan sebutan Bang.
Entahlah!
"Kath, ayo!" Ajakan Marv menyentak lamunan Kath.
Kath akhirnya tak menggubris lagi gadis asing yang disapa Uncle Robert tadi. Kath langsung menggamit lengan Marv dan dua sejoli itu lanjut meninggalkan kediaman Halley.
****
"Emmhhh!" Kath melenguh masih sambil memejamkan matanya, saat milik Timmy sudah melesak masuk ke dalam milik wanita itu.
"Kath," panggil Timmy lembut.
"Hmmm! Bergeraklah!" Ujar Kath seraya menyentakkan sedikit bokongnya, seolah memberikan kode pada Timmy agar mulai bergerak.
"Kalau aku tak mau?" Tanya Timmy memancing, yang langsung membuat Kath membuka matanya dan menatap Timmy dengan tajam.
"Aku boleh mencium bibirmu dulu, kan?" Ujar Timmy kemudian bernegosiasi.
"Kau selalu saja mencari kesempatan!" Dengkus Kath yang langsung membuat Timmy tergelak.
"Barangkali kau berubah pikiran, Kath!" Timmy semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Kath yang tumben tak memberikan perlawanan. Wanita itu hanya diam seolah memberikan izin untuk Timmy yang perlahan mulai menyatukan bibirnya dengan bibir Kath.
Pelan dan hati-hati, Timmy mulai mencecap bibir Kath. Namun baru beberapa detik, tubuh Kath mendadak menjadi pudar....
__ADS_1
"Kath!" Panggil Timmy saat tubuh Kath perlahan semakin pudar dan lenyap.
"Kath!"
"Kath! Jangan pergi!" Timmy membelalakkan kedua matanya dan langsung mendapati pemandangan langit-langit kamar. Rasa dingin langsung menyergap ke seluruh tubunh dan tulang Timmy, saat kemudian pria itu menyadari kalau ia sedang berbaring di atas lantai kamarnya. Ada selimut yang menutupi bagian tubuh atas Timmy.
Siapa memang yang menyelimuti Timmy?
Bukankah tadi Timmy sedang minum dan mabuk demu meluapkan rasa kecewanya?
Lalu yang menyelimuti Timmy adalah....
Timmy diam sebentar dan berusaha mengingat-ingat.
"Beth," gumam Timmy kemudian yang akhirnya ingat pada kedatangan sang adik di kost-nya tadi. Pasti Beth juga yang menyelimuti Timmy sebelum gadis itu pergi lagi.
Timmy hanya menghela nafas, lalu berusaha untuk bangun sekalipun kepalanya masih terasa sangat sakit. Semuanya adalah efek dari alkohol sialan yang tadi Timmy tenggak!
Timmy lalu segera naik ke ranjang, dan membuka laci nakas. Timmy lalu mengambil sesuatu yang mirip obat dari nakas, sebelum kemudian pria itu berdiri dengan sempoyongan.
"Sial!" Umpat Timmy yang langsung berpegangan pada tembok kamar agar ia tak rubuh ke lantai. Timmy menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali, sebelum lanjut melangkah ke arah dapur untuk mengambil minum.
Timmy berjalan sempoyongan ke dapur, sembari berpegangan pada tembok. Setelah berhasil mencapai dapur, Timmy langsung minum banyak air putih dan minum obat yang tadi ia ambil dari nakas. Semoga itu bisa sedikit mengurangi rasa sakit di kepala Timmy!
Selesai minum, Timmy kembali lagi ke kamar dan langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Timmy lalu berbaring miring, dan meraba bagian ranjangnya yang biasa ditempati oleh Kath saat wanita itu menginap.
"Kath, aku mencintaimu," gumam Timmy dengan wajah sendu.
"Aku tak akan membiarkan kau menikah dengan pria lain, Kath!"
"Kau hanya boleh jadi milikku!" Ucap Timmy berulang-ulang, sebelum akhirnya pria itu kembali terlelap dan melayang ke dalam mimpi indahnya bersama Kath.
****
Ceklek!
Timmy yang tadi sudah sempat terlelap, sedikit kaget saat mendengar suara pintu depan yang sepertinya dibuka oleh seseorang, lalu tak berselang lama kembali ditutuo.
"Kath," gumam Timmy yang sudah hendak bangun. Namjn kemudian suara batuk-batuk dari ruang depan, seolah memberitahu Timmy kalau yang datang bukanlah Kath, melainkan Beth.
Ya, Timmy memang hafal dengan suara batuk adiknya tersebut.
Timmy akhirnya tak jadi turun dari ranjang, dan pria itu pura-pura memejamkan mata saat Beth membuka pintu kamarnya.
"Sudah pindah sendiri?" Gumam Beth yang bisa didengar jelas oleh Timmy.
Timmy bahkan bisa merasakan saat sang adik menyelimuti tubuhnya dengan hati-hati. Beth tadi darimana memangnya?
Timmy masih memejamkan kedua matanya, hingga Beth keluar dari kamarnya dan kembali menutup pintu. Sepertinya adik Timmy itu akan menginap di kost-an malam ini untuk menemani Timmy.
.
.
.
Ini sambungan "Beth Ter-Sweet" bab 63-66
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1