Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
TIDAK BOLEH


__ADS_3

"Tidak!" Jawab Mama Tere tegas, setelah Timmy dan Yvone menyampaikan niatan mereka untuk tinggal di rumah sewa.


"Kami janji akan sering datang kesini dan berkunjung--"


"Tidak boleh!" Tegas Mama Tere sekali lagi.


"Tapi kenapa?" Tanya Timmy akhirnya menuntut alasan.


"Karena Beth juga akan menikah sebentar lagi! Lalu otomatis Beth akan tinggal di rumah Fairel, dan kau akan membiarkan Mama dan Papa berdua saja di rumah? Merasa kesepian?" Ujar Mama Tere panjang lebar membeberkan alasannya melarang Timmy dan Yvone untuk tinggal di rumah sewa.


"Dulu sebelum kau menikah, kau sudah jarang di rumah, Tim! Lalu sekarang setelah menikah kau juga ingin keluar dari rumah! Apa kau memang tak betah tinggal di rumah ini?" Cecar Mama Tere kemudian dengan sesikit emosi.


"Bukan sepertiitu, Ma!" Timmy langsung kehilangan kata-kata dan tak bisa beralasan lagi. Pria itu lalh menatap pada Yvone yang sejak tadi hanya diam.


"Yvone, apa kau merasa keberatan tinggal bersama Mama dan Papa? Apa kau mearsa tak nyaman?" Mama Tere ganti bertanya pada Yvone yang langsung menggeleng.


"Kau menantu di rumah ini, tapi mama dan papa sudah menganggapmu sebagai putri kami, sama seperti halnya Beth. Jadi bisakah...."


"Yvone akan tinggal disini bersama mama dan papa!" Ucap Yvone akhirnya seraya memeluk Mama Tere.


"Ini juga rumah kamu, Yv! Meskipun tak sebesar dan senewah rumah Uncle-mu," timpal Papa Will yang langsung membuat Yvone mengangguk.


"Mama dan Papa tak akan ikut campur mengenai pekerjaan atau rumah tangga kalian ke depannya. Tapi tolong jangan biarkan kami berdua kesepian di rumah ini, Tim!" Pinta Papa Will kemudian pada Timmy yang hanya menghela nafas. Timmy lalu menatap sejenak pada Yvone yang masih memeluk Mama Tere, sebelum kemudian pria itu pergi dan masuk ke kamarnya.


"Beth pulang!" Sapaan dari Beth yang baru pulang langsung membuat Yvone melepaskan pelukannya pada Mama Tere.


"Ada apa ini? Kenapa Mama dan Yvone--"


"Kak Yvone!" Mama Tere mengoreksi pangilan Beth pada Yvone dan langsung membuat Beth meringis.


"Maaf, lupa!"


"Kenapa Mama dan Kak Yvone menangis?" Beth mengulangi pertanyaannya.


"Tidak kenapa-kenapa." Jawab Mama Tere dan Yvone serempak.


"Duh, kompaknya!" Seloroh Beth yang langsung terkekeh.


"Kau darimana, Beth? Toko sudah buka?" Tanya Yvone kemudian.


"Belum. Nanti sesudah makan siang baru buka," ujar Beth.


"Lalu tadi darimana?" Tanya Yvone lagi.


"Dari kantor Fairel, mengantar rollcake. Tapi malah diajak kelayapan," jawab Beth seraya mengendikkan kedua bahunya.


"Lalu Fairel mana?" Gantian Papa Will yang bertanya.

__ADS_1


"Sudah pulang. Sudah ditelepon Dad--" Beth buru-buru membungkam mulutnya sendiri.


"Dad Liam, ya!" Ledek Papa Will yang langsung membuat Beth merengut.


"Uncle Liam, Pa! Belum sah, kok!" Gumam Beth kemudian dan semuanya kompak tertawa.


"Ngomong-ngomong, Abang Timmy mana?" Tanya Beth kemudian karena Timmy yang tadi memang sudah pergi ke kamar dan belum keluar lagi.


"Di kamar," jawab Mama Tere.


"Kak Yvonetak ikut masuk kamar juga? Barangkali tadi malam belum selesai," Beth menaikturunkan alisnya ke arah Yvone yang langsung salah tingkah.


"Beth benar, Yvone! Sebaiknya kau istirahat juga bersama Timmy," saran Mama Tere kemudian sembari mengusap punggung Yvone. Mama kandung Timmy itu lalu pergi ke dapur dan Beth segera mengekorinya. Sementara Papa Will juga sudah pergi keluar dan sepertinya ada keperluan.


Yvone menggaruk tengkuknyayang tak gatal, lalu wanita itu segera melangkah ke arah kamar Timmy. Tapi kemudian Yvone merasa ragu untuk masuk. Jadi Yvone beralih ke kamar Beth.


"Kak!" Teguran Beth membuat jantungYvonenyaris melompat keluar.


"Itu kamar Beth! Kamar Kak Yvone yang depan," kikik Beth yang langsung menghilang ke dapur lagi.


Yvone langsung menghela nafas dan kembali meraih gagang pintu kamar Timmy. Yvone lalu membukanya perlahan dan mengintip terlebih dahulu, kira-kira Timmy sedang bapa di dalam kamar.


Namun baru juga mengintip, tatapan Yvone malah langsung bertumbukan dengan tatapan Timmy yang kinj mengarah pada Yvone.


Ya ampun!


"Masuklah! Aku mau bicara," ucap Timmy sembari membuka lebar pintu kamarnya. Yvone akhirnya masuk juga ke dalam kamar Timmyyang rupanya sudah didekor ala-ala kamar pengantin.


Siapa juga yang melakukannya?


Beth? Atau Mama Tere?


Kamar Timmy tak terlalu luas. Hanya ada satu ranjang ukurandua badan, lau satu almari dengan pintu geser, serta satu pintu yang sepertinya mengarah ke toilet.


Ada satu jendela juga yang tak terlalu besar, serta satu nakas di samping tempat tidur. Tak ada sofa disini, dan tak mungkin juga untuk meletakkannyakarena sudah tak ada space.


Lau bagaimana Timmy dan Yvone akan berbagi kamar malam ini? Tidak mungkin Yvone menyuruh Timmy tidur di lantai.


Lalu bagaimana?


"Kau Bekerja kalau malam, kan? Kita bisa gantian memakai--"


"Aku sudah tak bekerja di kelab malam itu!" Sergah Timmy memotong kalimat Yvone.


"Kau resign?" Tanya Yvone menerka-nerka. Timmy langsung menggeleng.


"Ada masalah internal dan semua karyawan diberhentikan termasuk aku," jelas Timmy yang langsungmembuat Yvone mengangguk.

__ADS_1


"Sudah dapat pekerjaan baru?" Tanya Yvone kemudian.


"Sebagai kurir di toko Beth? Ya!" Jawab Timmy yang langsung membuat Yvone tertawa kecil. Yvone lalu membuka ponselnyadan tampam mengutak-atikbenda pipih persegi tersebut.


"Aku boleh duduk disini?" Izin Yvone sembari menunjuk ke tepi ranjang Timmy.


"Ya! Silahkan!" Jawab Timmy yang sudah duduk juga, namun dengan menjaga jarak dari Yvone.


"Kau sedang apa? Tak usah repot-repot mencarikan aku pekerjaan, karena aku bisa mencarinya sendiri. Lagipula aku pemilih dalam hal pekerjaan--"


"Kebetulan sedang ada lowongan barista di kafe hotel," Yvone menunjukkan layar ponselnya pada Timmy.


"Aku bartender, bukan barista," ujar Timmy cepat yang langsung membuat Yvone mengangguk.


"Aku salah, ya! Baiklah, tak ada lowongan berarti. Silahkan mencari pekerjaan sendiri," tukas Yvone kemudian seraya menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Yvone lalu mengedarkan sekali lagi pandangannya ke setiap sudur kamar Timmy.


"Bingung nanti malam harus tidur dimana?" Ujar Timmy kemudian yang langsung membuat Yvone tertawa kecil.


"Mungkin ranjangmu harus diperkecil agar kita bisa memasukkan sofa kesini. Atau kita ganti pakai ranjang susun saja?" Tutur Yvone mengungkapkan semua ide di kepalanya.


"Ya! Idemu bagus!" Timmy mengangguk-angguk penuh antusias.


"Tapi itu semua hanya bisa diterapkan jika kita tak serumah dengan Mama dan Papa!"


"Lagipula, mengeluarkan ranjang ini lewat pintu tidak semudah kelihatannya," tukas Timmy lagi yang langsung membuat Yvone menatap bergantian ke arah ranjang dan ke arah pintu.


Benar juga!


"Lalu dulu ranjang ini masuk lewat mana?" Tanya Yvone kemudian yang langsung membuat Timmy terkekeh.


"Dirakit di tempat," jawab Timmy seraya bangkit dari duduknya. Pria itu lalu membuka tirai jendela yang rupanya mengarah ke samping rumah yang hanya berjarak satu meter dari pagar tembok.


"Tapi pasti ada cara, Tim!" Tukas Yvone lagi tetap sambil berpikir keras.


"Tentu saja!" Jawab Timmy yang kini sudah menatappada Yvone.


"Apa caranya?" Tanya Yvone penasaran.


"Kita akan berbagi ranjang mulai nanti malam!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2