Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
SEDANG APA?


__ADS_3

"Beth, aku kesini bukan untuk berdebat. Aku hanya ingin bertemu Abangmu."


"Aku sudah ke rumahmu, tapi kosong. Kau tahu Timmy sekarang dimana? Apa dia sudah baikan?"


Yvone masih berbicara sendiri sembari mengemudikan mobilnya ke arah Sweety Cake.


Ya, Yvone memang sedang belajar merangkai kalimat saat nanti dirinya menemui Beth. Yvone sebenarnya juga hanya ingin bertemu Timmy dan memberikan sesuatu milik pria itu. Tapi Yvone tidak tahu Timmy sekarang dimana, jadilah ia akan bertanya pada Beth.


"Baiklah, ini akan mudah," tukas Yvone yang sudah memarkirkan mobilnya di depan toko kue Beth.


"Aku hanya perlu menyapa Beth, sedikit berbasa-basi, lalu langsung menanyakan keberadaan Timmy."


"Aku tak akan membawa-bawa nama Reandra apalagi menasehati Beth yang keras kepala itu!" Tekad Yvone seraya menarik nafas panjang.


Yvone lalu turun dari mobil dan bergegas menuju ke pintu masuk Sweety Cake. Namun kemudian Yvone tak jadi masuk ke dalam toko kue milik adik Timmy tersebut, setelah ia melihat Beth yang sepertinya sedang mengobrol serius bersama Timmy di dalam.


Ya, Yvone bisa melihatnya dengan jelas dari pintu kaca depan!


Mungkin sebaiknya Yvone memang tak mengganggu keintiman kakak beradik tersebut. Nanti saja Yvone menemui Timmy saat ia dan Beth sudah selesai bicara hal penting.....


"Baiklah, aku akan menunggu di luar saja," putus Yvone yang akhirnya kembali ke arah mobilnya.


Hampir tiga puluh menit Yvone menunggu, sebelum akhirnya Timmy keluar dari toko.


"Hai, Tim!" Sapa Yvone pada Timmy yang tampak terkejut dengan kehadirannya di depan Sweety Cake.


Baiklah, itu sedikit lebay!


Kenapa juga Timmy harus terkejut?


"Yvone? Sedang apa disini?" Tanya Timmy kemudian dan seperti sebelum-sebelumnya, sikap Timmy begitu canggung pada Yvone.


"Sebenarnya, aku sedang mencarimu," tukas Yvone akhirnya to the point.


"Mencariku?" Timmy langsung tampak mengernyit, terlebih saat Yvone mengangsurkan sesuatu pada pria itu.


"Kunci motor--"


"Seharusnya tidak usah repot-repot!" Sergah Timmy memotong kalimat Yvone yang belum selesai.


"Tapi ini motormu yang kemarin kecelakaan, Tim!" Jelas Yvone yang langsung membuat Timmy menatap tak percaya pada Yvone. Timmy lalu ganti melihat kunci di tangannya yang tadi diberikan oleh Yvone untuk memastikan.


"Aku baru saja akan pergi untuk mengurusnya," tukas Timmy kemudian yang terlihat sedikit salah tingkah..


"Tidak perlu lagi!"


"Sudah langsung bisa kau ambil di bengkel. Mau aku an--"


"Aku akan naik taksi!" Sergah Timmy yang langsung menolak dengan cepat tawaran Yvone.

__ADS_1


"Atau naik ojek," imbuh Timmy lagi seraya tertawa kaku. Yvone memaksa untuk tertawa juga meskipun hatinya sedikit kecewa dengan penolakan Timmy barusan.


Sudahlah! Bukankah sejak dulu Timmy memang begitu?


"Terima kasih sekali lagi, Yv!" Ucap Timmy yang langsung membuyarkan lamunan Yvone.


"Ya! Sama-sama," jawab Yvone seraya mengulas senyum.


Timmy tak berbasa-basi lagi pada Yvone, dan pria itu sudah langsung berlalu pergi meninggalkan Yvone yang hanya sibuk menatap ke arah Timmy yang akhirnya benar-benar naik ojek dan melaju pergi.


"Terima kasih sekali lagi!" Yvone menirukan ucapan Timmy tadi seolah gadis itu sedang merasa geram.


"Seharusnya tidak usah repot-repot!" Yvone masih mencibir-cibir menirukan ucapan Timmy tadi.


"Memang tidak repot dan hanya repot sekali. Tapi masih saja tidak digubris," gerutu Yvone kemudian seraya masuk ke dalam mobilnya. Yvone lalu menatap sebentar ke arah pintu masuk Sweety Cake bersamaan dengan beberapa pengunjung yang tampak keluar dari toko kue tersebut.


Yvone hanya sedang menimbang, apakah ia akan masuk ke toko untuk menemui Beth atau tidak....


"Sepertinya bukan waktu yang tepat." Yvone mengendikkan kedua bahunya.


"Lain kali saja aku akan mampir," tukas Yvone kemudian seraya melajukan mobilnya dan meninggalkan Sweety Cake.


****


Timmy yang baru tiba di bengkel langsung mendapati motor kesayangannya yang kata Beth kemarin ringsek saat kecelakaan. Namun sekarang sudah mulis lagi bahkan cenderung seperti motor baru.


"Ada yang bisa dibantu, Pak?" Tanya seorang pegawai bengkel.


Lagipula, kenapa juga Yvone harus membawa motor Timmy ke bengkel resmi ini. Biaya perbaikannya pasti akan berkali-kali lipat. Lebih naik beli motor baru saja kalau begini!


Dasar wanita!


"Motor yang ini, Pak?" Tanya pegawai bengkel sekali lagi.


"Iya!"


"Berapa total biaya perbaikannya?" Tanya Timmy kemudian.


"Sudah dilunasi semua oleh Bu Yvone. Silahkan langsung dibawa, Pak!"


"Kuncinya ada, kan?" Jawaban dari pegawai bengkel langsung membuat Timmy membelalakkan matanya.


Dilunasi oleh Yvone?


"Motornya sudah langsung bisa kau ambil di bengkel."


Kalimat Yvone di depan toko kue Beth tadi kembali berkelebat di benak Timmy. Kenapa sebenarnya dengan teman Beth itu?


"Pak! Sudah bawa kunci motornya?" Pertanyaan dari pegawai bengkel langsung membuyarkan lamunan Timmy.

__ADS_1


"Iya, sudah!" Jawab Timmy tergagap. Timmy segera merogoh kunci di saku celana, lalu mengambil motornya yang kini sudah begitu mulus.


"Aku boleh minta rincian biaya perbaikannya?" Tanya Timmy selanjutnya pada pegawai bengkel. Timmy berniat mengembalikan saja uang perbaikan motor ini pada Yvone, meskipun nanti ia harus mencicil.


Setidaknya itu lebih baik ketimbang Timmy harus berhutang budi pada teman Beth itu!


"Tadi sudah dibawa Bu Yvone--"


"Aku minta salinannya!" Ucap Timmy tegas.


"Sebentar saya tanyakan ke kasir dulu, Pak!" Ucap pegawai itu akhirnya seraya berlalu dari hadapan Timmy.


Tak berselang lama, oegawai bengkel tadi sudah kembali seraya membawa secarik kertas.


"Ini, Pak!" Ucaonya seraya mengangsurkan kertas tadi pada Timmy.


Timmy langsung fokus pada nominal yang dicetak tebak di bagian bawah yang merupakan total biaya perbaikan.


"Astaga!" Timmy hanya bergumam dalam hati sekaligus merasa dongkol.


Andai Yvone membawa motor Timmy ke bengkel langganan Timmy, pasti biayanya tak sampai separuh. Dasar gadis sok tahu!


"Terima kasih!" Ucap Timmy akhirnya sebelum pria otu mengendarai motornya keluar dari bengkel.


Mungkin Timmy akan menjual saja motornya ini untuk mengganti biaya perbaikan yang sudah dibayarkan oleh Yvone. Lalu semua kenangan Timmy bersama Kath....


"Ayo na--" Timmy belum selesau berucap, saat Kath sydah naik sendiri ke atas motornya, lalu wanita itu juga tanpa canggung langsung melingkarkan kedua lengannya di pinggang Timmy.


"Aku sudah berpegangan agar tak jatuh," ucap Kath yang kini juga turut menyandarkan dagunya di pundak Timmy.


"Ya! Sebaiknya, peganganmu juga erat." Timmy mengangguk-angguk dan hatinya mendadak jadi berbunga.


"Ayo jalan! Kenapa malah bengong!" Tepukan Kath langsung membuat Timmy kembali tersadar.


"Iya! Iya!" Timmy langsung melajukan motornya dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Pelukan Kath benar-benar....


Beep!


Suara klakson mobil dari arah belakang langsung menyentak lamunan Timmy. Lampu lalu lintas rupanya sudah berubah hijau dan Timmy masih saja larut bersama lamunannya tentang Kath. Timmy segera melajukan motornya lagi, sembari tangan kirinya meraba pinggang yang boasanya didekap oleh Kath.


Ya ampun!


Timmy merindukan Kath sekarang!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2