
"Kenapa Papa tadi menyanggupi?" Tanya Timmy setelah mobil meninggalkan rumah Uncle Sahrul.
"Karena Papa memang sanggup, Tim!" Jawab Papa Will tegas.
"Tapi--"
"Kami sudah mempersiapkan semuanya dari jauh-jauh hari, Tim!" Timpal Mama Tere dari jok belakang.
"Mempersiapkan?" Timmy bergumam bingung.
"Kita mungkin bukan keluarga yang kaya seperti Uncle-nya Yvone. Tapi untuk biaya pernikahanmu dan Beth kelak, Mama dan Papa sudah menabung sejak lama. Jadi kau tak perlu lagi khawatir atau mempersoalkan tentang kemauan Yvone tadi."
"Semua wanita pasti punya pernikahan impian mereka," tutur Papa Will sembari melirik ke jok belakang, dimana Mama Tere sedang duduk sembari mengusap-usap kepala Beth yang sudah tertidur. Sepertinya adik Timmy itu sedikit kelelahan menunggu acara lamaran tadi.
"Sudah jangan dipikirkan lagi!" Nasehat Papa Will sekali lagi sembari menepuj punggung Timmy.
Timmy tak berkomentar apa-apa lagi dan pria itu memilih untuk fokus saja pada jalan di depannya.
****
[Aku berani bersumpah, kalau apa yang disampaikan Uncle dan Aunty tadi bukanlah keinginanku.] -Yvone-
[Itu semua paksaan dari Uncle dan Aunty.] -Yvone-
[Sekali lagi aku minta maaf tentang semua hal ini, Tim! Perihal biaya pernikahan, nanti akan aku ganti semuanya] -Yvone-
Timmy hanya mendengus setelah pria itu membaca deretan pesan dari Yvone yang sudah masuk ke ponselnya, begitu Timmy tiba di rumah. Timmy akhirnya langsung mengetikkan pesan balasan pada Yvone dan sedikit meluapkan kekesalannya.
[Ini bukan soal biaya pernikahan! Tapi soal status pernikahan ini ke depannya!] -Timmy-
[Aku tak akan melanggar atau mengubah kesepakatan kita kemarin.] -Yvone-
[Atau kita bisa membuat surat kontrak bermaterai jika kau merasa ragu] -Yvone-
Timmy menyugar kasar rambutnya setelah membaca dua pesan dari Yvone yang baru saja masuk. Pria itu lalu mengetikkan balasan singkat.
[Tidak usah!] -Timmy-
Pesan terkirim dan Timmy segera mematikan ponselnya. Timmy lalu segera mengganti baju formalnya tadi dengan kaus biasa dan sebuah celana jeans. Tak lupa Timmy juga menyambar hoodie dari dalam almari dan sebuah topi. Pria itu lalu keluar dari kamar dan hendak pergi.
"Bang! Mau kemana?" Tegur Beth dari arah dapur yang langsung membuat Timmy buru-buru menghampiri adik semata wayangnya tersebut.
"Keluar sebentar cari angin," jawab Timmy sedikit berbisik.
__ADS_1
"Bukan menemui wanita itu lagi, kan?"
"Wanita yang mana maksudmu? Bukankah kau sendiri yang memknta Abang untuk menjauhinya, lalu menikah dengan temanmu dengan alasan membantunya?" Cecar Timmy dengan raut wajah sedikit kesal.
"Kalau saja itu bukan permintaanmu, tak akan Abang menurutinya," tukas Timmy lagi yang malah membuat Beth tersenyum.
"Tapi Yvone memang lebih pantas dan lebih cocok untuk Abang," pendapat Beth kemudian.
"Dan seiring berjalannya waktu, Beth yakin kok kalau abang akan mulai mencintai Yvone," tukas Beth lagi sebelum kemudian gadis itu berlalu meninggalkan Timmy dan langsung masuk ke kamarnya.
"Tidak akan pernah," gumam Timmy yang seolah sedang menyangkal harapan Beth barusan. Timmy lalu membenarkan topinya dan lanjut keluar dari rumah. Timmy akan berkeliling sebentar sekedar mencari angin.
****
"Siang," sapa Yvone pada Timmy yang baru saja membuka pintu rumah. Timmy langsung berdecak dan tak sedikitpun membalas sapaan Yvone.
"Siapa yang datang, Tim?" Tanya Mama Tere yang sudah ikut keluar.
"Yvone, Ma!" Jawab Timmy malas. Timmy lalu menggeser posisinya dan memberikan kode agar Yvone masuk ke dalam.
"Yvone! Bagaimana kabarmu?" Mama Tere langsung menyambut Yvone dengan hangat, sementara Timmy masih berdiri di ambang pintu dan hanya menatap dengan malas dua wanita yang sedang berpelukan tersebut
"Kabar Yvone baik, Tante!"
"Dan Yvone kesini untuk mengantar undangan," ujar Yvone sembari menunjukkan paperbag besar yang tadi ia bawa.
"Tim! Kemarilah! Kau tidak mau melihat undangan pernikahanmu?" Panggil Mama Tere pada Timmy yang masih saja berdiri di ambang pintu.
"Nanti saja, Ma! Timmy sedang buru-buru," tukas Timmy beralasan, sembari pria itu membenarkan topinya.
"Buru-buru kemana?" Tanya Mama Tere penuh selidik.
"Mengantar kue! Sudah ditunggu Beth di toko!" Jawab Timmy sembari pria itu berlalu dan keluar dari rumah.
"Timmy! Kenapa begitu?" Gumam Mama Tere tak habis pikir.
"Timmy sekarang membantu Beth di toko, Tan?" Tanya Yvone kemudian membuka obrolan.
"Iya! Tapi hanya sementara karena kebetulan dia memang sedang cuti bekerja," jelas Mama Tere yang langsung membuat Yvone mengangguk. Dua wanita itupun segera duduk bersama dan mengobrol beberapa hal mengenai undangan serta pernikahan Yvone dan Timmy yang akan digelar beberapa hari lagi.
****
"Kau adalah suamiku," ucap Yvone seraya menggamit erat lengan Timmy, lalu gadis itu juga menyandarkan kepalanya di pundak Timmy.
__ADS_1
Timmy baru saja mengangkat tangannya dan hendak mengusap kepala Yvone, saat tiba-tiba seseorang datang mencegah dan mencekal tangan Timmy.
"Timmy, kenapa kau menikah dengan wanita lain?" Timmy sontak terkejut dengan kehadiran Kath yang wajahnya terlihat sembab. Tak hanya itu, Kath juga terlihat menggendong seorang bayi....
"Kenapa kau menikah dengan wanita lain dan menelantarkan aku...."
"Dan anakmu!"
Kath baru saja akan memperlihatkan wajah bayi di gendongannya, saat tiba-tiba sebuab tepukan membuyarkan semua mimpi buruk Timmy tersebut.
"Bang! Kok malah tidur?"
Timmy langsung terlonjak dan pria itu menatap linglung pada Beth yang tadi membangunkannya.
"Abang kenapa?" Raut wajah Beth sudah berubah cemas sekarang.
Timmy tak menjawab dan pria itu malah mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempatnya berdiri. Timmy baru sadar kalau ia kini berada di dalam toko Beth.
"Abang jadi mengantar pesanan?" Tanya Beth kemudian seraya mengusap lengan sang abang.
"Iya jadi!" Jawab Timmy sedikit tergagap.
"Abang sebaiknya cuci muka dulu," saran Beth kemudian yabg langsung menbuat Timmy mengangguk. Timmy lalu pergi ke toilet di dekat dapur toko untuk mencuci muka sekaligus mengembalikan kesadaran.
Kenapa mimpi tadi terasa begitu nyata?
Kenapa Kath menggendong bayi dan mengatakan kalau itu adalah anak Timmy?
Timmy membasuh wajahnya berulang kali, lalu menatap bayangan wajahnya di dalam bak air, saat kalimat Kath di pertemuan terakhir mereka, berkelebat di benak Timmy....
"Kau pakai pengaman, kan?"
"Bukankah kau yang selalu memakainya?"
Timmy langsung mengangkat wajahnya dan mengingat-ingat raut wajah Kath waktu itu yang menunjukkan kecemasan....
Apa Kath tak lagi memakai kontrasepsi waktu itu?
Bukankah saat hal itu terjadi, Kath memang hendak menikah dengan Marv?
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.