Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
MELEDAK


__ADS_3

Timmy yang baru membuka mata, nyaris jantungan saat tangannya tak sengaja meraba sesuatu yang lebih mirip tubuh manusia, berada di atas ranjang tepat disampingnya. Pria itu buru-buru menoleh untuk memastikan kalau yang masuk ke kamarnya bukanlah....


"Kath?" Gumam Timmy teekejut yang justru malah membuat Kath tertawa lumayan keras.


Dasar!


Gadis ini selalu saja pandai menyusup ke dalam kost-an Timmy.


Tapi selama ini Timmy memang sengaja meninggalkan kunci cadangan di bawah pot, agar Kath bisa masuk ke kost-nya kapan saja gadis ini mau.


"Baru bangun? Tadi pulang jam berapa dari kelab?" Tanya Kath yang kini sudah menumpukan dagu di atas kedua tangannya.


"Jam empat," jawab Timmy seraya bangun dari berbaring, lalu pria itu duduk bersandar di kepala ranjang. Timmy juga meraih arlojinya di atas nakas, yang saat ini sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


"Aku pikir kau sudah kembali ke kota D--"


"Angga menikah hari ini! Jadi mana mungkin aku sudah pulang! Bisa mencak-mencak nanti sepupuku itu!" Tukas Kath yang langsung membuat Timmy tergelak.


"Kemarilah kalau begitu!" Titah Timmy seraya merentangkan tangannya ke arah Kath dan bersiap untuk mendekap reman ranjangnya tersebut.


Ah, Timmy bahkan bisa langsung menerjang Kath pagi ini dan mungkin mengungkungnya agar wanita ini tak perlu pergi lagi bersama kekasihnya yang bernama Marv itu!


"Tidak!" Tolak Kath yang kini sudah berganti posisi menjadi duduk. Dan meskipun Kath saat ini memakai baju yang lumayan tertutup, tetap saja lekuk tubuh wanita itu masih terlihat menggiurkan bagi Timmy.


"Kau tahu, aku kesini mau apa?" Ujar Kath kemudian memberikan pertanyaan untuk Timmy.


"Untuk memberiku jatah--"


"Salah!" Sergah Kath cepat.


"Lalu untuk apa? Untuk memberitahu kalau kau dan kekasihmu sudah--"


"Bertunangan!" Sergah Kath cepat memotong sekaligus melanjutkan kalimat Timmy. Wanita itu bahkan sudah memamerkan cincin berlian yang kini melingkar di jari manisnya.


"Taraaa!" Kath menggoyang-goyangkan jari manisnya di hadapan Timmy yang hanya diam seribu bahasa.


"Marv melamarku kemarin malam. Lalu semalam kami resmi bertunangan, meskipun hanya disaksikan keluarga dekat saja," cerita Kath lagi yang tak terlalu digubris oleh Timmy.


Hati Timmy rasanya....


Tak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata!


Hancur, remuk, hilang harapan....


Kenapa secepat ini Marv melamar Kath?


Apa itu artinya Timmy sudah terlambat dan tak punya kesempatan lagi?


"Timmy, hai!" Guncangan dari Kath seolah mengembalikan kesadaran Timmy. Pria itu lalu menatap linglung pada Kath yang kini tampak sumringah.


Sumringah karena akhirnya ia sudah bertunangan dengan kekasihnya...

__ADS_1


Dan setelah itu mereka akan segera naik pelaminan.


Tidak mungkin!


"Kau akan datang saat aku dan Marv menikah nanti, kan, Tim?" Tanya Kath kemudian pada Timmy yang masih linglung sekaligus tak percaya dengan apa yang baru saja Kath sampaikan.


Timmy pasti hanya bermimpi, kan?


Ini semua pasti hanya mimpi!


"Timmy!" Tegur Kath lagi pada Timmy yang sudah kembali larit dalam lamunannya.


"Apa?" Jawab Timmy lirih dan tanpa semangat hidup.


"Kau akan datang ke pernikahanku bersama Marv, kan?" Kath mengulangi pertanyaannya dan lidah Timmy rasanya jadi kelu sekarang. Timmy bahkan tak bisa lagi menjawab pertanyaan Kath.


"Tidak," gumam Timmy kemudian seraya melemparkan tatapan tajam ke arah Kath. Kedua tangan Timmy bahkan sudah ganti merengkuh pundak Kath.


"Timmy--" Kath baru saja akan beringsut mundur saat tiba-tiba Timmy sudah mendorong tubuhnya hingga jatuh telentang, lalu Timmy juga langsung menindih Kath.


"Timmy kau sedang apa!" Kath refleks memukul dada Timmy dan berusaha mendorong pria itu agar menyingkir.


"Aku tahu kalau kau tadi hanya bercanda, Kath!" Timmy sudah tertawa sumbang sekarang, dan pria itu tetap menindih Kath yang mulai meronta.


"Siapa yang bercanda!" Kath tak berhenti memukul-mukul dada Timmy yang tak terbalut apapun.


Ya, Timmy memang selalu setengah naked saat pria itu tidur!


"Kenapa kamu--" Kath berusaha mendorong tubuh Timmy yang semakin kuat menindihnya.


"Tapi aku baru saja akan melamarmu, Kath!"


"Aku baru saja akan menemui Mom dan Dad-mu!" Ujar Timmy penuh emosi yang langsung membuat Kath menatap tak paham pada pria yang masih menindihnya tersebut.


"Kau gila!" Kath mendorong tubuh Timmy sekuat tenaga agar pria itu berhenti menindihnya.


"Aku tentu saja akan langsung menolak lamaranmu! Hubungan kita tak lebih dari partner ranjang, Timmy!" Ucap Kath tegas yang rasanya seperti sebuah belati yang menikam dada Timmy.


Menikam hati Timmy yang terdalam, hingga membuatnya sakit, berdarah, dan sekarat.


Ya, tak ada yang lebih menyakiti dari cinta yang tak terbalas. Terlebih saat orang yang begitu Timmy cintai hanya menganggapmya sevagai partner ranjang dan tak lebih!


Rasanya begitu menyakitkan!


Kath akhirnya berhasil menyingkirkan tubuh Timmy yang sejak tadi menindihnya, karena Timmy yang mendadaktak semangat lagi dan kehilangan semangat hidup.


"Aku tadi datang kesini untuk...."


"Untuk mengakhiri apapun yang pernah terjadi di antara kita, Tim!" Ucap Kath kemudian yang kini sudah bangun dan duduk di tepi ranjang. Sementara Timmy masih bungkam dan membisu di atas ranjang.


"Aku mencintai Marv dan aku akan menikah dengan Marv. Jadi apapun yang pernah terjadi diantara kita. Apapun yang pernah kita lakukan, kita lupakan saja semuanya!"

__ADS_1


"Mulai sekarang, kita tak ada hubungan apa-apa lagi, Tim!" Ucap Kath sekali lagi tetap dengan nada tegas.


"Aku mengucapkan terima kasih karena selama hampir dua tahun ini kau sudah bersedia menjadi teman curhatku sekaligus teman ranjang saat aku membutuhkannya." Kath berucap sembari tertarik kecil.


"Kau pasti akan menemukan gadis yang baik ke depannya, Tim!"


"Lalu kau akan menyusul menikah juga," sambung Kath lagi yang tetap membuat Timmy membisu.


"Ya, pada akhir kita akan bahagianya bersama pasangan kita masing-masing, Timmy!" Kath kembali tertawa kecil.


"Apa tidak bisa jika aku yang menjadi pasanganmu saja, Kath?" Tanya Timmy yang akhirnya buka suara. Nada bicara pria itu bahkan sudah terdengar putus asa.


"Tidak bisa, Tim!"


"Berapa kali aku harus mengatakan, kalau aku tak punya perasaan apapun padamu!" Tegas Kath sekali lagi.


"Tapi kau tidur bersamaku berulang-ulang, Kath! Apa pacarmu tahu tentang itu?" Cecar Timmy yang sudah kembali merengkuh kedua pundak Kath.


"Tentu saja Marv sudah tahu dan seperti yang kubilang di awal, kalau Marv menerimaku apa adanya. Ia sama sekali tak mempermasalahkan tentang keperawanan--"


"B*llsh*t!" Umpat Timmy menanggapi pernyataan Kath.


"Pria itu tak mungkin menerimamu apa adanya, Kath! Dia pasti mempermasalahkannya--"


"Sama sekali tidak!" Tegas Kath sekali lagi.


"Marv pria yang baik," ujar Kath lagi yang benar-benar membuat Timmy ingin mengamuk sekarang.


Apa maksud Kath, Timmy bukan pria yang baik? Begitu?


"Aku akan pulang sekarang! Tadi aku kesini hanya ingin mengabarkan berita bahagia ini, Tim!"


"Sekaligus mengakhiri semua yang pernah kita lalui dan pernah terjadi di antara kita, ujar Kath panjang lebar yang tak terlalu digubris oleh Timmy.


Semua amarah Timmy seolah naik ke ubun-ubun,dan rasanya Timmy ingin menghancurkan dunia!


"Nanti pasti aku akan mengirimkan undangan, jika aku dan Marv menikah," janji Kath kemudian sebelum wanita itu memakai sepatunya.


"Aku pergi dulu, Tim! Bye!" Pamit Kath kemudian seraya wanita itu keluar dari kost-an Timmy.


"Keparat! Baj*ngan!" Umpat Timmy keras-keras setelah Kath pergi.


Tadi saat Kath masih di dekatnya, Timmy seolah tak bisa marah. Namun setelah kepergian wanita itu, semua emosi Timmy langsung meledak keluar.


Sekarang, Timmy benar-benar frustasi!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2