
"Siapa sebenarnya pria itu?" Tanya Dad Dyrtha yang sudah kembali masuk ke rumah setelah tadi pria paruh baya tersebut mengusir Timmy.
"Dia teman Kath, Dad!" Jawab Kath menatap sungguh-sungguh pada Dad Dyrtha.
"Yang dikatakannya tadi tidak benar, kan, Kath?" Gantian Mom Mizty yang bertanya pada Kath.
"Tidak, Mom!" Kath langsung menggeleng berulang-ulang.
"Itu tidak benar!" Imbuh Kath lagi.
"Hubungan kami benar-benar hanya sebatas teman, dan beberapa hari yang lalu saat Kath memberitahu Timmy kalau Kath sudah bertunangan dengan Marv, Timmy mendadak merasa tak terima," cerita Kath kemudian.
"Benar-benar pria gila!" Gumam Dad Dyrtha yang masih terlihat kesal.
"Bisa-bisanya dia mengarang dan mengatakan kalau dia sudah tidur denganmu," Dad Dyrtha ganti tertawa sinis dan Kath hanya menundukkan wajahnya.
"Mom percaya padamu, Kath!" Ujar Mom Mizty yang kini sudah merangkul pundak sang putri. Hati Kath rasanya malah serba salah sekarang.
Tapi tak mungkin juga Kath berkata jujur pada kedua orangtuanya, tentang kenakalannya selama ini yang sudah tidur dengan beberapa pria.
Mom dan Dad pasti akan shock!
"Kath akan ke kamar dulu, Mom!" Pamit Kath akhirnya yang merasa enggan berlama-lama duduk bersama kedua orang tuanya. Rasa bersalah di hati Kath seolah semakin membukit saja jika ia terus dan terus berbohong pada kedua orang tuanya.
"Maaf, Mom, Dad!" Gumam Kath sebelum wanita itu naik ke kamarnya di lantai dua.
****
"Brengsek!" Umpat Timmy seraya menendang kaleng kosong yang ia jumpai di tepi jalan. Timmy lalu menyugar kasar rambutnya karena merasa benar-benar frustasi.
Timmy masih tak percaya tentang sikap Kath tadi yang seolah tak pernah tejadi apa-apa di antara mereka berdua.
Lalu apa arti dadi hubungan Kath dan Timmy selama dua tahun ini?
Apa artinya?
"Aaarrgghh!!" Timmy menggeram frustasi dan pria itu teeus melanjutkan langkahnya untuk menyusuri trotoar kota yang berangsur sepi. Hanya ada satu dua pejalan kaki yang berlalu lalang, termasuk Timmy.
Timmy merasa tak punya tujuan sekarang! Ia bahkan tidak tahu harus kemana!
Timmy juga merasa malas untuk kembali ke penginapan karena nanti saat ia tertidur, ujung-ujungnya ia hanya akan bermimpi tentang Kath....
__ADS_1
"Hubungan kita hanya sebatas teman dan teman ranjang! Jadi tidak perlu baper atas apa yang sudah terjadi di antara kita!"
Kalimat sialan yang pernah diucapkan Kath, lagi-lagi bercokol di benak Timmy.
"Aku tak pernah menganggapmu sebatas teman ranjang, Kath!"
"Aku sungguh-sungguh mencintaimu!"
"Lalu kenapa...."
"Kenapa kau malah memberikan cintamu pada pria lain?" Timmy terduduk di kursi taman kota yang tak sengaja ia lalui. Pria itu lalu menyugar rambutnya beberapa kali dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempatnya duduk yang cenderung remang-remang.
Seorang pria mendadak duduk di samping Timmy. Segera Timmy sedikit bergeser untuk menjaga jarak.
"Mau minum?" Tawar pria asing bertopi tersebut seraya menyodorkan sebuah minuman teh kemasan pada Timmy.
"Tidak terima kasih!" Tolak Timmy cepat.
"Baiklah!"
"Aku taruh disini saja, barangkali kau mau minum!" Tukas pria itu sebelum kemudian ia bangkit berdiri dan sepertinya hendak pergi.
"Bang!" Panggil Timmy akhirnya saat pria asing tadi. Ada satu hal yang ingin Timmy tanyakan pada pria asing tersebut.
"Apa anda tahu tempat hiburan malam di dekat sini?" Tanya Timmy kemudian pada pria asing tersebut.
Entahlah! Timmy hanya sedang butuh pelampiasan sekarang.
"Tempat hiburan malam? Kelab malam? Atau yang lainnya?" Kedua telunjuk pria itu sudah membentuk tanda kutip.
"Kelab malam," jawab Timmy cepat.
"Ada di sebelah sana! Sekitar delapan ratus meter jaraknya dari persimpangan," ujar pria asing itu seraya menunjuk ke salah satu arah jalan di persimpangan dekat taman.
"Baiklah! Terima kasih informasinya," tukas Timmy sembari meraih botol minuman kemasan, yang tadi ditinggalkan oleh si pria asing.
"Aku boleh minum ini?" Tanya Timmy kemudian sedikit berbasa-basi, sebelum pria asing itu pergi.
"Minum saja! Atau habiskan kalau perlu," tukas pria tersebut sebelum kemudian ia berjalan meninggalkan Timmy dan menghilang ke arah seberang taman kota yang gelap.
Aneh!
__ADS_1
Timmy lalu menimang minuman kemasan di tangannya tadi, dan saat Timmy membuka tutup botolnya, aroma minuman keras langsung menguar.
Timmy tentu saja hafal dengan aroma tersebut karena setiap malam Timmy berkutat dengan aneka minuman beralkohol.
"Apa ini?" Gumam Timmy yang akhirnya kembali menutup botol minuman tersebut.
"Siapa orang tadi?" Gumam Timmy lagi bertanya-tanya.
Timmy kembali membuka botol minuman di tangannya tersebut dan sedikit menimbang-nimbang apa ia akan meneguknya sedikit atau meninggalkannya saja, lalu pergi ke kelab malam yang ditunjukkan oleh pria asing tadi dan memesan minuman beralkohol juga.
"Jangan percaya pada orang asing yang memberikanmu minuman." Timmy berucap pada dirinya sendiri sembari mengingat satu kata mutiara yang pernah ia baca.
Timmy lalu tertawa kecil dan menutup kembali botol minuman tadi, lalu melemparkannya ke tempat sampah di sebelah kursi yang ia duduki. Timmy akan pergi ke kelab malam saja dan menghabiskan malam disana.
Timmy baru bangkit dari duduknya dan hendak pergi, saat tiba-tiba kepalanya dihantam oleh balok kayu yang lumayan keras dan langsung membuat Timmy jatuh tersungkur. Rasa sakit seketika langsung menjalari kepala hingga tengkuk Timmy, namun pria itu tak kehilangan kesadaran. Timmy bahkan masih bisa merasakan saat sebuah sepatu kets menendang dan membalik tubuhnya hingga berubah posisi menjadi telentang.
Namun wajah orang brengsek itu sama sekali tak bisa Timmy lihat karena kurangnya penerangan, ditambah penglihatan Timmy yang mulai terasa samar.
"Jangan pernah mendekati atau mengganggu Kath lagi!" Suara orang itu terdengar berat dan Timmy benar-benar tak tahu itu suara siapa.
Apa mungkin orang suruhan Daddy-nya Kath? Atau siapa?
"Aaarrggh!" Timmy mengerang, saat sepatu kets tadi ganti menginjak pundak Timmy sebelah kanan dengan lumayan kuat.
Orang yang wajahnya sama sekali tak bisa Timmy kenali itu juga sudah menunduk, lalu melayangkan beberapa bogem mentah di wajah Timmy.
Bugh!
Bugh!
"Ini peringatan terakhir untukmu!" Ucap pria asing itu lagi tetap dengan suara beratnya. Pria itu lalu menendang tubuh Timmy sekali lagi dengan lumayan kuat, sebelum ia pergi meninggalkan Timmy yang sudah terkapar tak berdaya.
"Aaarrrgghh!" Timmy terus mengerang dan memegangi kepalanya yang terasa ingin pecah. Tubuhnya seolah tak lagi ada tenaga untuk sekedar bangun atau berteriak minta tolong. Pandangan Timmy juga perlahan menjadi buram, sebelum semuanya berubah jadi gelap.
Benar-benar gelap dan Timmy tak ingat apa-apa lagi setelahnya.
.
.
.
__ADS_1
Jadi ini timmingnya pas Timmy tiba-tiba hilang di "Beth Ter-Sweet" itu ya!
Terima kasih yang sudah mampir.