Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
ENGGAN


__ADS_3

"Leukositnya tinggi. Ada infeksi bakteri juga. Itulah yang membuat ddmamnya tinggi," jelas dokter setelah Yvone melakukan cek darah lengkap.


"Saya boleh pulang dan berobat jalan saja, kan, Dok?" Tanya Yvone setelah turut mendengarkan penjelasan dari dokter.


"Sebaiknya jangan dulu!"


"Kau masih harus menjalani perawatan karena demammu masih tinggi. Dan lagi, kau juga mengalami dehidrasi," tukas dokter yang langsung membuat Yvone menghela nafas dan nampak frustasi.


"Kau takut rumah sakit juga?" Seloroh Timmy sedikit berbisik pada Yvone yang langsung menggeleng.


"Hanya tak suka tidur di bed perawatan seperti ini," jawab Yvone kemudian yang langsung membuat Timmy tertawa kecil.


"Aku juga tak suka," timpal Timmy yang masih tertawa kecil.


"Kau bisa pulang setelah kondisimu membaik, Yvone!" Ujar Dokter lagi sebelum pamit keluar dari ruang UGD. Tak berselang lama, perawat sudah menghampiri Yvone dan Timmy, untuk menginformasikan kalau kamar perawatan Yvone sudah siap.


Perawat lalu segera mendorong bed Yvone menuju ke kamar perawatan. Timmy yang tadinya mengikuti perawat, langsung berhenti sejenak, saat ponselnya berdering nyaring.


"Kak Yvone jadinya sakit apa, Bang?" Timmy bahkan belum menyapa Beth, namun adik Timmy itu langsung to the point bertanya mengenai kondisi Yvone.


"Leukositnya tinggi. Ada infeksi bakteri. Kata dokter dia harus dirawat sampai demamnya turun," jelas Timmy panjang lebar dan lengkap.


"Yah! Beth tidak bisa ke rumah sakit karena harus menemani Fairel ke acara."


"Kau bisa datang besok!" Tukas Timmy memberikan solusi. Disaat bersamaan terdengar suara Fairel yang melarang Beth pergi ke rumah sakit besok sebelum Fairel pulang dari kantor.


Timmy juga tak paham, kenapa Fairel harus melarang Beth menjenguk Yvone. Tapi menilik dari perangai Fairel, sepertinya suami Beth itu memang sedikit protektif pada Beth.


"Beth mungkin datang besok sore, Bang! Sampaikan salam Beth untuk Kak Yvone dan selamat ber-honey moon di rumah sakit!"


Timmy langsung geleng-geleng kepala mendengar selorohan Beth. Mana ada orang honeymoon di rumah sakit!


Lagipula, selama hampir tiga bulan menikah dengan Yvone, Timmy belum sekalipun menyentuh wanita itu. Semuanya sesuai perjanjian antara Timmy dan Yvone yang tak akan saling menyentuh, sekalipun setiap malam mereka harus tidur satu ranjang. Tapi Timmy selalu berusaha menahan diri karena ia juga tak berniat menghancurkan masa depan Yvone.


Yvone berhak mendapatkan pria yang baik dan tentu saja orang itu bukanlah Timmy!


"Bang!" Teguran Beth dari ujung telepon menyentak lamunan Timmy.


"Iya, ada apa lagi? Aku pikir suamimu sudah mengomel karena kau menelepon Abang terlalu lama." Timmy sedikit berseloroh demi mencairkan suasana. Bed Yvone sudah tam rerlihat dan mungkin sudah sampai di kamar perawatan yang berada di lantai tiga.

__ADS_1


"Iel memang hobinya mengomel. Jadi tak perlu risau, Bang!"


"Iya sebentar lagi!" Kembali terdengar perdebatan Beth dan Fairel di ujung telepon. Sepertinya kalimat Timmy tadi memang ada benarnya.


"Beth, sebaiknya kau tutup saja teleponnya agar Fairel tak marah," saran Timmy kemudian pada sang adik namun tak ada tanggapan dan yang terdengar malah suara Beth dan Fairel yang masih saling adu pendapat.


Terserah saja!


Timmy akhirnya memilih untuk mematikan telepon Beth, sebelum adik dan adik iparnya itu cakar-cakaran tak jelas. Benar-benar pasangan absurd!


Setelah menyimpan kembali ponselnya, Timmy lalu segera pergi ke arah lift, dan naik ke lantai tiga. Timmy sebaiknya memang menemani Yvone malam ini di rumah sakit.


****


Kath masih duduk bersandar di dekat pintu, saat tiba-tiba pintu dibuka dari luar dan Marv masuk ke dalam.


"Kath! Kau kenapa?" Tanya Marv yang buru-buru bersimouh untuk memeriksa kondisi Kath.


"Tim--" Suara Kath langsung tercekat, saat wanita itu mengangkat wajahnya dan menyadari kalau yang hadir di hadapannya bukanlah Timmy, melainkan Marv yang tak lain adalah suami sahnya.


Ya ampun! Kenapa Kath malah menggumamkan nama Timmy?


"Apa kau bilang tadi, Kath?" Tanya Marv kemudian sedikit mengernyit.


"Aku--"


"Aku mual, Marv!" Keluh Kath yang langsung mengalungkan kedua lengannya di leher Marv, sekaligus memberikan kode agar suaminya tersebut menggendong Kath ke sofa. Atau ke kamar.


"Apa aku pergi terlalu lama?" Tanya Marv cemas sembari pria itu menggendong Kath, lalu membaringkannya dengan hati-hati ke atas sofa.


"Tidak!"


"Kau kan ada urusan penting," jawab Kath mencoba maklum.


"Ngomong-ngomong, kau tadi membeli kue?" Marv sudah kembali kearah pintu dan pria itu mengambil paperbag berisi kue yang tadi diantar oleh adiknya Timmy.


Kenapa bukan Timmy yang tadi mengantar kue?


Kath benar-benar ingin bertemu Timmy sekarang!

__ADS_1


"Tadi aku tak sengaja melihatnya di marketplace dan mendadak aku ingin kue itu, Marv!"


"Tapi setelah kuenya datang, seleraku tiba-tiba menguap pergi," tukas Kath beralasan.


"Tak apa!" Marv langsung mengulas senyum dan pria itu segera mencium kening Kath.


"Nanti aku yang akan menghabiskan kuenya," ujar Marv lagi yang sudah ganti mencium bibir Kath.


"Marv--" Kath sedikit menahan dada Marv yang mulai tak berjarak darinya.


"Ada apa? Kau masih mual?" Tanya Marv yang sorot matanya tampak kecewa.


Hal wajar, mengingat sudah hampir satu pekan Kath selalu menolak ajakan Marv untuk bercinta. Kath mendadak kehilangan gairah, entah pengaruh da r i kehamilannya atau entah karena hal lain. Satu hal yang pasti, Kath selalu saja bermimpi tentang Timmy dan tak jarang dalam mimpi tersebut, dirinya dan Timmy tengah bercinta seperti yang dulu kerap mereka lakukan di kost-an.


Dan Kath ingin semua itu tak hanya sebatas mimpi!


Kath ingin bercinta dengan Timmy lagi dan bukan dengan Marv yang jelas-jelas adalah suaminya.


Ada apa sebenarnya dengan Kath?


Kenapa hati dan perasaan Kath terus saja tertuju pada Timmy, Timmy, dan Timmy!


"Maafkan aku, Marv!" Ucap Kath kemudian karena sekali lagi ia harus menolak ajakan Marv untuk bercinta.


"Tidak apa-apa, Sayang! Yang penting kau dan calon anak kita sehat," tukas Marv yang kini sudah ganti menarik Kath ke dalam dekapannya. Kath tak berkata apa-apa lagi in dan wanita itu malah memikirkan tentang kalimat terakhir Marv tadi.


Calon anak kita?


Calon anak Kath dan Marv?


Benarkah janin yang kini berada di dalam kandungan Kath adalah anak Kath dan Marv?


Bagaimana kalau bukan?


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2