Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
TIDAK USAH


__ADS_3

"Halo, selamat pagi!"


"Yvone!" Sapa Timmy untuk memastikan kalau yang ia telepon memanglah Yvone.


"Timmy?"


Sungguh diluar dugaan. Ternyata Yvone malah langsung bisa mengenali suara Timmy.


"Kau kenal suaraku?" Ucap Timmy seraya tertawa canggung. Timmy kemudian menatap ke arah Kath yang masih tidur begitu nyenyak.


"Ya! Suaramu punya ciri khas dan mudah dikenali."


"Oh! Aku malah tidak tahu!" Timmy kembali tertawa canggung mendengar jawaban tidak biasa dari Yvone.


Memang apa yang menjadi ciri khas suara Timmy?


Tak ada yang pernah memberitahu Timmy. Dan sepertinya m Yvone adalah orang pertama yang mengatakan kalau suara Timmy punya ciri khas.


Semoga gadis itu tak sedang membual!


"Jadi, ada apa menelepon? Kau sudah mengambil motormu di bengkel, kan?" Pertanyaan dari Yvone langsung membuyarkan lamunan Timmy dan seolah juga mengingatkan Timmy tentang tujuannya menelepon Yvone tadi.


Ya, Timmy memang hendak membahas tentang motornya yang mendadak jadi mulus setelahbkrluar dari bengkel!


"Sudah kuambil kemarin. Tapi sepertinya--"


"Sepertinya kenapa?" Timmy bahkan belum menyelesaikan kalimatnya saat Yvone tiba-tiba sudah menyela dan dari nada bicaranya, gadis itu seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu, namun berusaha untuk menutupinya.


Mencurigakan!


Jangan-jangan dugaan Timmy benar!


"Sepertinya ada yang berbeda dengan motorku. Apa kau menggantinya dengan motor lain?" Tanya Timmy to the point yang langsung membuat Yvone terdiam beberapa saat. Teman Beth itu tak langsung menjawab dan seolah sedang menyiapkan sebuah jawaban penyangkalan...


Hanya dugaan Timmy sebenarnya!


Mungkin seharusnya Timmy langsung menemui Yvone dan bicara empat mata dengan gadis itu. Jadi Timmy juga akan bisa langsung melihat ekspresi wajah Yvone, apa gadis itu berbohong atau tidak.


"Motor lain apa maksudmu, Tim? Itu memang motormu yang kemarin kecelakaan." Yvone akhirnya kembali buka suara dan menberikan jawaban. Tapi nada bicara gadis itu tetap saja terdengar berbeda dan seolah Yvone sedang menyembunyikan sebuah rahasia.


"Tapi kata Beth motorku sudah ringsek parah dan mustahil diperbaiki!" Ujar Timmy yang kembali memancing Yvone.


"Tapi itu bisa diperbaiki! Dan sekarang sudah bisa kau pakai lagi."


"Tapi kuncinya berbeda dan itu bukan kunci motor lamaku--"


"Kata pihak bengkel kunci yang lama rusak jadi mereka mengganti dengan kunci yang baru!"


"Bisa begitu?" Tanya Timmy tak percaya.


"Tentu saja bisa!" Jawab Yvone yang sepertinya masih pantang menyerah untuk meyakinkan Timmy.


Namun semua alasan yang dilontarkan oleh Yvone memang patut Timmy apresiasi. Gadis itu benar-benar tak kehilangan akal untuk beralasan dan meyakinkan Timmy. Meskipun nada bicara Yvone tak bisa bohong!


"Baiklah, jadi kau tetap tak mau berkata jujur?" Tanya Timmy sekali lagi meminta kejujuran dari Yvone. Timmy benar-benar bisa merasakan perbedaan pada motornya yang sekarang dibanding motornya sebelum kecelakaan.


"Berkata jujur mengenai apa? Itu memang motor kamu, Tim!"


Rupanya Yvone tetap tak mau berkata jujur.


Baiklah, dasar gadis keras kepala!


"Ya! Ini adalah motorku!" Tukas Timmy akhirnya yang tak mau lagi melanjutkan perdebatannya bersama Yvone di telepon. Mungkin nanti saat senggang, Timmy akan menemui gadis itu saja dan meminta kejujurannya.


"Bisa kau katakan berapa harganya agar aku bisa mengganti--" Timmy belum menyelesaikan kalimatnya, saat Kath tiba-tiba sudah bangun mengangkat kepalanya. Wanita itu lalu menoleh ke arah Timmy yang mungkin tadi suaranya terlampau keras saat bicara pada Yvone di telepon


"Hai kau sudah bangun? Maaf kalau suaraku terlalu keras. Aku akan keluar!" Ucap Timmy seraya mengusap wajah Kath yang masih terlihat mengantuk.


Timmy yang masih tersambung dengan Yvone via telepon, bergegas bangkit dari atas ranjang, lalu keluar dari kamar.


"Kau tidak pakai celana, Tim?" Seru Kath sebelum kemudian wanita itu tertawa terbahak-bahak.


"Sialan!" Umpat Timmy yang masih belum mematikan teleponnya pada Yvone. Timmy lalu masuk lagi ke dalam kamar untuk mengamb celananya. Pria itu juga langsung memakainya dengan cepat sembari keluar lagi dari kamar.

__ADS_1


Selesai memakai celana, Timmy lalu memeriksa ponselnya yang tadi ia pegang memakai mulut.


"Masih tersambung?" Gumam Timmy seraya membelalak, sebelum kemudian pria iru menempelkan lagi ponselnya di telinga.


"Yv--"


"Sepertinya kau sedang sibuk." Nada bicara Yvone lebih terdengar menyindir sekarang.


"Sorry! Tadi aku pikir aku sudah menutup telepon."


"Lagipula, aku tadi hanya ngobrol bersama temanku," tukas Timmy beralasan.


"Ya! Aku juga tak menghakimimu atau menuduhmu sedang melakukan something bersama temanmu."


Sekali lagi, ucapan Yvone benar-benar seperti sebuah sindiran tajam untuk Timmy.


"Mungkin lain kali saja--"


"Tidak! Sebentar, Yv!" Cegah Timmy cepat.


"Aku tadi belum selesai membahas tentang motor--"


"Itu motor kamu, Tim!" Lagi-lagi, Yvone memotong kalimat Timmy yang belum selesai.


"Katakan harganya berapa!" Ucap Timmy memaksa. Timmy masih tak percaya dengan pernyataan Yvone kalau itu memanglah motornya yang kemarin ringsek. Timmy sungguh yakin kalau Yvone sudah menggantinya dengan motor lain.


"Harga apa? Bukankah rincian biaya servis sudah diberikan kepadamu kemarin oleh karyawan bengkel?"


"Memang!" Jawab Timmy cepat.


"Tapi aku masih merasa kalau itu bukanlah motorku!" Sambung Timmy lagi yang langsung membuat Yvone berdecak di ujung telepon.


"Maksudmu, aku mengganti motormu dengan motor baru yang sama persis, begitu? Konyol dan kurang kerjaan sekali!" Terdengar tawa sinis dari Yvone di ujung telepon.


"Jadi kau tidak melakukannya?" Tanya Timmy sekali lagi yang tetap masih tak percaya. Bisa saja Yvone berbohong! Timmy bahkan tak melihat bagaimana ekspresi wajah gadis itu sekarang.


"Tidak!"


"Baiklah! Kirimkan nomor rekeningmu kalau begitu agar aku bisa mengganti biaya perbaikan--"


"Aku ikhlas--"


"Aku yang tak mau berhutang apapun padamu!" Sergah Timmy menyela.


"Aku tak akan menganggapnya sebagai hutang budi!"


"Tetap akan kuganti!" Tukas Timmy tegas.


"Kirimkan setelah aku menutup telepon, Yv! Atau--"


"Atau apa? Kau mau apa kalau aku tak mengirimkan nomor rekeningku?"


"Aku akan memberikan uangnya secara cash!"


"Aku tak mau berhutang apapun, dan terima kasih atas waktumu. Bye!" Pungkas Timmy seraya mengakhiri teleponnya pada Yvone.


Timmy lalu menyugar kasar rambut dan kembali masuk ke kamar untuk memeriksa Kath.


Namun Kath sudah tak di kamar!


"Kath!" Panggil Timmy seraya mengetuk pintu kamar mandi.


"Ya! Aku hampir selesai!" Seru Kath yang rupanya benar berada di kamar mandi.


Timmy baru saja akan berbalik saat tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka dari dalam, dan kepala Kath tampak menyembul keluar.


"Ambilkan handuk, Tim! Tak ada handuk di kamar mandimu!" Perintah Kath yang langsung membuat Timmy berdecak. Timmy langsung menyambar handuk di rak disamping kamar mandi dan mengangsurkannya pada Kath.


"Kau akan langsung--" Pertanyaan Timmy belum selesai saat Kath sudah menutup kembali pintu kamar mandi.


Hhhh!


Tak berselang lama, Kath akhirnya keluar dari kamar mandi dan wanita itu hanay membalut tubuh polosnya dengan handuk. Namun Timmy tak terlalu mempermasalahkan karena Timmy juga sudah sangat hafal dengan bentuk tubuh wanita itu.

__ADS_1


"Aku boleh pinjam bajumu, Tim?" Tanya Kath yang sudah membuka almari Timmy.


"Ambil saja sesukamu!" Jawab Timmy yang sudah kembali merebahkan tubuh setengah naked-nya di atas ranjang. Timmy memperhatikan Kath yang sedang mengganti handuk yang membalut tubuh sintalnya tadi dengan celana dan kaus milik Timmy.


"Kau tidak mandi?" Tanya Kath seraya melemparkan handuknya pada Timmy.


"Nanti saja! Aku juga tak kemana-mana," jawab Timmy malas.


"Ngomong-ngomong, Yv siapa? Kau tadi sepertinya sedang menelepon seorang wanita." Kath sudah menaik turunkan alisnya ke arah Timmy.


"Temannya Beth," jawab Timmy malas.


"Pacar kamu?" Tanya Kath lagi antusias.


"Bukan!" Jawab Timmy tegas seraya bangun dari ranjang, lalu mengalungkan handuk Kath tadi ke lehernya.


"Bukan terus! Carilah pacar agar hidupmu tudak merana, Tim!"


"Kau pria normal, kan?" Seloroh Kath sedikit meledek Timmy.


"Aku tak akan tidur denganmu berulang-ulang kalau aku bukan pria normal!" Tukas Timmy sebelum akhirnya pria itu masuk ke kamar mandi dan meninggalkan Kath.


"Katanya tak mau mandi!" Cibir Kath sembari bersedekap.


****


"Kirimkan nomor rekeningmu kalau begitu agar aku bisa mengganti biaya perbaikan--"


"Tidak usah! Aku ikhlas!"


"Aku yang tak mau berhutang apapun padamu!"


"Aku tak mau berhutang apapun, dan terima kasih atas waktumu."


Klunting!


Suara pena yang jatuh ke atas lantai, langsung membuyarkan lamunan Yvone tentang percakapannya bersama Timmy di telepon tadi. Yvone segera menghela nafas, sebelum memungut pena yang tadi jatuh dari tangannya.


"Bu Yvone! Pria pemilik motor minta rincian biaya perbaikan. Saya harus bagaimana?" Tanya karyawan bengkel pada Yvone via telepon.


"Kau bisa membuat rincian palsu? Pokoknya jangan sampai dia tahu kalau aku mengganti motornya!" Jawab Yvone memberikan sebuah ide.


"Tapi, Bu Yvone--"


"Buatkan saja, dan nanti aku tambahkan tip untukmu!" Perintah Yvone tegas.


"B--baik, Bu! Akan saya buatkan!"


Tok tok tok!


Suara ketukan di pintu langsung membuyarkan lamunan Yvone.


Lagi!


Hari bahkan masih pagi dan Yvone sudah melamun berulang kali!


"Yvone!" Sapa Uncle Sahrul yang merupakan Uncle dari Yvone.


"Pagi, Uncle!" Sambut Yvone sopan.


"Kau tahu Reandra kemana?" Tanya Uncle Sahrul selanjutnya.


"Mmmm, katanya tadi keluar sebentar karena ada urusan, Uncle," jawab Yvone seraya meringis.


"Urusan apa lagi!" Decak Uncle Sahrul yang sepertinya sedikit kesal. Uncle Sahrul adalah Papi kandung Reandra. Pria paruh baya ini juga merupakan kakak dari ayah kandung Yvone. Itulah alasan lain kenapa Yvone lumayan dekat dengan keluarga Reandra.


"Jadi kau tidak tahu Reandra pergi kemana, Yvone?" Tanya Uncle Sahrul sekali lagi.


"Tidak, Uncle!" Jawab Yvone tegas sebelum akhirnya Uncle Sahrul keluar dari ruang kerja Yvone.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2