Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
KETIDURAN


__ADS_3

[Yvone, kirimkan nomor rekeningmu sekarang dan jangan membuat aku berhutang budi padamu] -Timmy-


Yvone berdecak, setelah gadis itu membaca pesan Timmy yang kesekian kali, namun isinya tetap saja sama.


Minta nomor rekening!


[Ya, nanti aku kirimkan] -Yvone-


Pesan terkirim dan hanya dibaca oleh Timmy tanpa dibalas lagi. Nanti selang beberapa jam pasti pria itu akan mengirim pesan yang sama lagi jika Yvone belum mengirimkan nomor rekeningnya.


Jadi, baiklah! Yvone tak usah mengirimkan nomor rekeningnya pada Timmy, agar pria itu terus-terusan mengiriminya pesan.


Sinting memang!


Tapi saat menerima pesan dari Timmy rasanya....


"Kau sudah siap, memangnya? Aku masih ada keperluan dan mungkin sedikit terlambat menjemputmu." Suara Reandra yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Yvone, seketika langsung membuat lamunan Yvone tentang Timmy menjadi buyar. Sepupu Yvone itu sepertinya sedang bicara dengan seseorang di telepon.


"Apa kau--"


"Sssttt!" Reandra memberikan kode pada Yvone agar diam dan pria itu kembali fokus pada pembicaraannya di telepon entah pada siapa. Yvone akhirnya hanya berdecak sekaligus melipat kedua tangannya di depan dada. Gadis itu juga menatap kesal pada Reandra.


"Iya. Mungkin aku terlambat tiga puluh menit!"


"Tapi kita tetap akan pergi, Beth Sayang!"


Yvone langsung dibuat terbelalak, saat Reandra menyebut nama Beth.


Dan apa tadi Reandra mengatakan kalau ia akan menjemput Beth? Pria itu mau mengajak Beth kemana?


"Oke, aku tutup dulu teleponnya, Bye!" Ucap Reandra yang akhirnya menyudahi pembicaraannya di telepon bersama Beth.


Yvone langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri sang sepupu sembari mendelik.


"Undangan!" Reandra tiba-tiba malah memberikan sebuah undangan dengan sedikit kasar pada Yvone.


"Kau mau mengajak Beth kemana, hah?" Tanya Yvone tetap mendelik pada Reandra.


"Hanya pergi berkencan! Toh Beth sendiri tak keberatan, lalu kenapa kau kebakaran jenggot begitu? Kau cemburu?" Nada bicara Reandra terdengar meledek.


"Aku tidak cemburu!" Sanggah Yvone cepat.


"Dan berhenti mengganggu Beth!" Gertak Yvone memperingatkan


"Jangn ikut campur atau sok-sokan mengaturku!" Reandra langsung balik menuding pada Yvone.


"Lagipula, Beth sendiri yang tergila-gila padaku. Kadi aku hanya memberikannya kesempatan--"


"Keparat ka--"


"Yvone, ada apa ini?" Teguran dari Aunty Jihan yang tiba-tiba sydah berada di ruangan Yvone, membuat Yvone yang sudah .engangkat tangannya untuk menampar Reandra, rak jadi melakukan.


"Halo, Mi!" Reandra langsung menyapa dan memeluk sang mami . Sementara Yvone memilih untuk diam seraya menarik nafas berulang-ulang demi meredam emosinya yang tadi sudah siap meledak.


"Aunty tumben datang kesini," tanya Yvone berbasa-basi, setelah emosinya sedikit mereda.


"Aunty ingin mengajakmu ke butik, Yv!" Ucap Aunty Jihan yang benar-benar membuat Yvone ingin berteriak keras.


"Sekarang, Aunty?" Tanya Yvone yang berharap kalau besok saja Aunty Jihan mengajak dirinya ke butik. Yvone ingin menemui Beth sekarang untuk mencegah gadis itu pergo bersama Reandra. Meskipun Beth akan keras kepala dan mungkin tak mendengarkan peringatan Yvone, tapi tak ada salahnya Yvone mencoba.

__ADS_1


"Iya, sekarang, Yv!"


"Kenapa kau malah melamun?" Tegur Aunty Jihan yang langsung membuat Yvone tersadar dari lamuannya.


"Mungkin karena dia terlalu lama sendiri, Mi! Dia perlu dicarikan pasangan--"


"Aku bisa mencari pasangan hidupku sendiri!" Sergah Yvone yang langsung mendelik pada Reandra yang kini malah tersenyum tanpa dosa.


"Tidak perlu dibesar-besarkan, Yv!"


"Reandra hanya bergurau!" Ujar Aunty Jihan yang lagi-lagi haris membuat Yvone menarik nafas panjang demi meredakan amarahnya.


"Iya, Aunty," ujar Yvone akhirnya dengan nada lirih.


"Ayo kita pergi sekarang!" Ajak Aunty Jihan kemudian pada sang keponakan.


"Dan jangan lupa untuk datang ke acara nanti malam, karena aku tidak bisa datang!" Pesan Timmy seraya mengendikkan dagunya ke arah undangan yang tadi ia berikan pada Yvone.


"Kau mau kemana malam ini, Re?" Tanya Aunty Jihan penuh selidik.


"Ada teman baik Reandra yang berulang tahun, Ma! Rasanya keterlalauan jika Reandra tidak datang dan melewatkannya," jelas Reandra yang Yvone sangat-sangat tahu kalau sepupunya itu tengah berbohong.


Sialan memang!


Aunty Jihan juga sudah jelas menentang hubungan Reandra dan Beth. Lalu kenapa Beth masih saja keras kepala begini?


Apa Beth pikir labrakan Aunty Jihan kemarin itu hanya gertakan sambal semata?


Mungkin sebaiknya Yvone memperingatkan Beth!


"Yvone, ayo pergi!" Ajak Aunty Jihan sekali lagi.


[Beth, jangan pergi bersama Reandra!] -Yvone-


Pesan sudah langsung terkirim. Semoga Beth segera membacanya dan gadis itu mau mendebgarkan peringatan Yvone kali ini!


****


Timmy terjaga dari tidurnya, saat mendengar dering ponselnya yang nyaring. Pria itu bergegas meraih ponsel yang ia charger dibatas nakas, sembari masoh berusaha membuka kedua matanya yang terasa begitu lengket.


"Halo!" Sambut Timmy masih sambil mengucek kedua matanya.


"Tim, kau pergi kerja tidak?"


"Iya!"


"Sekarang jam berapa memangnya...." Timmy langsung mengarahkan pandangannya ke jam dinding yang ada di kamar dan pria itu segera terlonjak. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam sekarang!


Apa?


Perasaan tadi saat Timmy memejamkan mata, jam masih menunjukkan pukul dua siang! Timmy juga tadi hanya berniat tidur satu jam saja karena ia harus menemani Mama dan Papa ke panti asuhan. Lalu kenapa saat Timmy bangun hari malah sudah malam?


Kacau sudah!


"Tim!"


"Ya!" Jawab Timmy yang sudah ganti memijit pelipisnya sendiri.


"Aku berangkat malam ini. Kau mau izin lagi?" Tanya Timmy pada sang rekan.

__ADS_1


"Terima kasih karena kau sudah paham!"


"Ck! Kebiasaan!" Decak Timmy bersamaan dengan telepon rekannya yang sudah terputus.


Timmy langsung ganti menelepon Mama Tere. Meskipun Timmy sangat yakin kalau mama dan papanya pastilah sudah pulang dari panti asuhan.


"Halo!"


"Ma!" Sapa Timmy cepat.


"Siapa, ya?"


Timmy langsung melihat ke layar ponselnya untuk memastikan ia tak salah nomor. Tapi yang ia hubungi memang benar nomor sang mama yang kemarin kontaknya ia salin dari ponsel Beth.


"Halo, ini siapa?"


"Ini Timmy, Ma!" Jawab Timmy cepat yang malah langsung membuat Mama Tere berseru di ujung telepon.


"Jadi ini nomor baru kamu, Tim? Kenapa baru menelepon Mama sekarang?"


Baiklah, sekarang Timmy malah kena omel dari sang mama. Lagipula, kenapa juga Beth tidak gerak cepat mengganti nomor kontak Timmy di ponsel Mama Tere dan Papa Will?


"Timmy pikir Beth sudah memberitahu mama," ujar Timmy seraya garuk-garuk kepala.


"Belum!"


"Beth sore tadi memang memberitahu kalau kau ganti nomor. Tapi Beth belum memberikan nomormu yang baru. Makanya mama bing--"


"Selamat malam, Pak!"


"Halo, Ma!" Tegur Timmy karena sepertinya Mama Tere sedang menyapa seseorang di ujung telepon.


"Kau tadi telepon mau bertanya apa, Tim? Ini Mama sedang menemani papa kamu untuk menemui teman lamanya."


"Oh, berarti Mama sudah pulang dari panti asuhan?" Tanya Timmy.


"Iya, sudah! Kok kamu tahu kalau Mama dan Papa tadi pergi ke panti?"


"Beth yang memberitahu Timmy pagi tadi, Ma! Dan sebenarnya Timmy mau menemani Mama dan Papa tapi Timmy malah ketiduran," cerita Timmy seraya menyugar rambutnya berulang-ulang.


"Iya, sudah tidak apa-apa! Beth juga ada acara bersama temannya sore tadi, jadi Mama dan Papa pergi berdua saja."


Kembali terdengar suara mama Tere yang sepertinya sedang berbincang bersama teman papa Will.


"Ya sudah, Ma! Timmy tutup dulu teleponnya agar tak mengganggu acara mama dan papa," pungkas Timmy akhirnya.


"Timmy juga mau siap-siap ke tempat kerja," sambung Timmy lagi.


"Iya! Kamu jaga kesehatan dan kalau naik motor hati-hati!"


"Iya, Ma!" Jawab Timmy sebelum kemudian telepon terputus. Timmy lalu bangkit dari atas ranjang dan segera pergi mandi sekaligus bersiap pergi ke kelab untuk bekerja.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2