
"Marv! Lihat!"
Marv baru tiba di rumah, saat Kath sudah melaporkan 'kejahatan' yang dilakukan oleh Orion. Putra Kath tersebut baru saja membanting ponsel Kath hingga mati total.
"Kau menaruhnya sembarangan lagi?" Tebak Mrv yang langsung membuat Kath merengut.
"Aku hanya meninggalkannya sebentar di atas meja untuk mengambil minum."
"Besok aku belikan yang baru dan tak perlu marah!" Marv segera menenangkan Kath dan mencium kening istrinya tersebut.
"Tapi aku sudah janji pda Mom untuk meneleponnya malam ini, Marv! Bisa aku pinjam teleponmu?" Pinta Kath memohon.
"Ya! Nanti kau bisa meminjamnya. Aku akan mandi dulu," jawab Marv seraya masuk ke dalam kamar. Kath hendak menyusul Marv, namun tangisan Orion membuat wanita itu mengurungkan niatnya. Kath segera menggendong Orion, lalu mengajaknya masuk ke kamar. Marv rupanya sudah pergi mandi, saat Kath masuk ke kamar. Namun kemudian tatapan Kath tertumbuk ke arah ponsel Marv yang tergeletak di atas nakas.
Kath tak berpikir panjang dan segera mengambil ponsel suaminya tersebut. Toh sebelumnya Kath juga sudah pernah meminjam ponsel Marv dan sama sekali tak ada masalah.
"Jangan, Sayang!" Kath sedikit menjauhkan ponsel Marv dari jangkauan Orion agar putranya itu tak membantingnya.
Kath lalu segera membuka ponsel Marv yang kata sandinya belum berubah. Wanita itu berniat menelepon Mom Mizty sekarang saja.
Drrrtttt!!
Ponsel Marv mendadak bergetar dan menampilkan sebuah pop up pesan yang baru saja masuk di bagian atas layarnya, saat Kath mpbaru membuka ponsel tersebut.
[Transferan sudah masuk, Bos! Kami akah lanjut memantau pria itu dan melaporkannya]
Kath langsung mengernyit setelah membaca pesan yang baru saja masuk tersebut. Rasa penasaran Kath seketika langsung membuncah, karena sebelum-sebelumnya saat Marv meminjamkan ponselnya, tak pernah ada pop up peean yang terlihat seperti ini.
Apa ini juga alasan Marv meminta Kath menunggu hingga Marv selesai mandi, saat tadi Kath hendak meminjam ponselnya?
Marv merahasiakan apa memangnya?
Kath langsung membuka aplikasi pesan, dan mencari oedan yang tadi baru saja masuk. Nomornya tak ada nama, dan sepertinya sengaja tak disimoan Marv di kontak ponselnya. Namun riwayat chat dari nomor tersebut lumayan panjang saat Kath membukanya. Bahkan ada beberapa foto dan video yang dikirimkan.
Kath segera menelusuri pesan demi pesan yang dikirimkan nomor tadi, sambil berusaha men-download foto-foto yang sepertinya sudah dihapus oleh Marv. Beberapa foto gagal Kath unduh dan hanya foto terakhir saja yang berhasil Kath lihat. Tampak sebuah rumah yang halamannya begitu berantakan dan seperti baru saja dilempari oleh batu, karena jendelanya terlihat pecah.
"Ini rumah siapa?" Kath bergumam sembari menurunkan Orion dari gendongannya.
[Misi berhasil, Bos!]
Kath membaca pesan yang tertera di bawah foto dan kembali mengernyit. Jarinya lalu men-scroll pesan-pesan yang lebih lama yang dikirim hampir dua tahun lalu.
[Dia sudah terkapar di taman kota yang sepi, Bos!] Sebuah pesan tertera di bawah sebuah foto yang tak bisa lagi diunduh.
[Dia dirawat di rumah sakit. Cari tahu dan habisi!] -Marv-
Kedua bola mata Kath sontak membelalak saat membaca pesan Marv pada nomor asing tersebut. Dia siapa yang dimaksud oleh Marv? Dan maksudnya habisi apa?
"Timmy baru saja menjadi korban penganiayaan dan dia sedang dirawat di rumah sakit sekarang."
"Sepertinya Dad-mu yang sudah mengirim orang untuk menganiayaku. Tapi aku tak akan menherah dan aku tetap akan berjuang!"
"Dad tidak akan membuang-buang tenaga apalagi sampai membayar orang untuk menganiaya pria brengsek itu!"
Ssmua kalimat Yvone, Timmy serta Dad Dyrtha seolah berputar di kepala Kath. Sampai akhirnya ingatan Kath tertuju pada ekspresi kesal Marv waktu itu di apartemennya.
Bukankah itu hari yang sama dengan saat Marv mengirim pesan pada nomor asing ini?
Apa mungkin selama ini....
"Kath! Kau sedang apa?" Teguran Marv langsung membuat Kath terlonjak dan wanita itu buru-buru berbalik tanpa sempat mengembalikan ponsel Marv ke atas nakas. Marv yang sudah selesai mandi, sedang menggendong Orion yang sejak tadi memang Kath abaikan kardna wanita itu sibuk dengan pikirannya.
"Kau mau menelepon Mom sekarang?" Tanya Marv seraya mengendikkan dagunya ke ponsel miliknya yang masih digenggam oleh Kath.
__ADS_1
"Berikan--"
"Kau yang menganiaya Timmy dua tahun lalu, setelah dia datang ke rumah Dad untuk melamarku." Kath langsung menatap tajam dan penuh interogasi ke arah Marv yang masih berekspresi santai.
"Timmy siapa? Aku tidak tahu kau bicara apa. Berikan ponselku--"
"Kau membayar orang untuk menganiaya Timmy, lalu untuk menghancurkan rumah Timmy, kan?" Kath menunjukkan rumah yang rusak di ponsel Marv tadi.
"Jangan berteriak di depan Orion, Kath!" Ucap Marv dengan tatapan tegas seraya hendak membawa Orion keluar dari kamar. Namun Kath mencegah dengan cepat.
"Orion bahkan bukan putra kandungmu, Marv!" Kalimat Kath langsung mejbuat ekspresi wajah marv berubah.
"Dia anak kandung Timmy!" Ungkap Kath lagi yang langsung membuat Marv menyentak tangan Kath yang hendak merebut Orion dengan kuat hingga membuat wanita itu terhuyung.
"Orion anakku dan dia bukan anak dari pria pengecut itu!" Ucap Marv tegas sembari menuding kd arah Kath.
"Kau salah!" Teriak Kath yang sudah bangun dengan cepat.
"Aku punya hasil tes DNA yang membuktikan kalau Orion bukan putra kandungmu!" Kath segera menghampiri almari besar di kamar tersebut dan mencari kertas hasil tes DNA yang ia simpan di dalam almari.
Tapi tidak ada!
Kemana kertas itu? Kath merasa kalau ia tak pernah mengeluarkannya.
"Aku sudah membakar hasil tes DNA palsu itu!" Ungkap Marv yang kini sudah berdiri di ambang pintu kamar. Marv tak lagi menggendong Orion yang sepertinya sudah diberikan pada pengasuh.
"Itu bukan--"
"Orion putraku, Kath!" Teriak Marv kemudian setrlah pria itu mengunci pintu kamar dan membuang kuncinya. Marv lalu menghampiri Kath dan mendorong tubuh wanita itu hingga jatuh ke atas ranjang.
"Dan kau adalah istriku!" Tegas Marv lagi seraya menatap tajam pada Kath.
"Orion bukan putramu, Marv! Aku dan Timmy pernah bercinta seleian sebelum kita menikah dan itu membuatku mengandung benih Timmy!" Teriak Kath yang langsung membuat Marv mengangkat tinggi tangannya seolah hendak memukul Kath.
"Kau hanya sedang memancing kemarahanku, kan?" Ucap Marv tiba-tiba yang tentu saja langsung membuat Kath bingung. Marv bahkan sudah tertawa seolah apa yang tadi Kath katakan hanyalah sebuah gurauan.
"Orion putraku. Putra kita, dan jangan pernah menyebut nama pria lain lagi, Kath! Kau istriku dan hanya milikku seorang."
"Aku mencintaimu!" Bisik Marv seraya mengecup bibir Kath.
Kath sudah berusaha meronta dan menghindar, namun Marv terus saja memaksa Kath agar membalas pagutannya. Marv bahkan sudah melucuti baju-baju Kath dengan tergesa.
"Marv, aku tidak--" Penolakan Kath langsung berhadiah pagutan kasar dari bibir Marv.
Marv bahkan langsung menghujamkan miliknya ke dalam milik Kath tanpa for*play yang mumpuni, membuat Kath harus meringis menahan perih.
"Kau hanya milikku dan selamanya akan begitu, Kath! Jadi jangan pernah memikirkan pria lain karena aku tak suka!" Ucap Marv seraya menatap tegas pada Kath.
"Jadi, kau yang sudah menganiaya Tim--" Bibir Kath langsung dibungkam olrh Marv.
"Aku tak akan membiarkan pria manapun merebut kau dari pelukanku. Aku akan melakukan segala cara untuk menjaga kau agar tetap berada di pelukanku. Sekalipun aku harus menghilangkan nyawa pria pengecut dan tak tahu diri bernama Timmy itu!" Tegas Marv lagi yang benar-benar membuat Kath tak mampu lagi berkata-kata.
Bagaimana bisa Kath menikah dengan pria yang begitu posesif kepadanya?
"I love you, Kath!" Ucap Marv kemudian yang hanya membuat Kath membisu. Bahkan Kath sama sekali tak ada hasrat untuk membalas ungkapan cinta Marv barusan. Kath mendadak merasa asing pada pria yang berstatus sebagai suaminya ini.
****
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi--"
"Bodoh!" Rutuk Timmy pada dirinya sendiri yang masih saja mencoba untuk menghubungi nomor Kath. Sudah hampir dua tahun dan nomor Kath tak pernah bisa dihubungi hingga detik ini. Mungkin wanita itu memang sudah bahagia bersama keluarga barunya dan melupakan Timmy.
Timmy baru saja menghela nafas panjang, saat tiba-tiba pintu kamar sudah menjeblak terbuka. Yvone yang tadi sore sempat mengirim pesan pada Timmy dan mengatakan akan pulang sedikit terlambat karena harus mampir ke rumah Uncle Sahrul untuk mengambil sesuatu, ternyata sudah pulang. Namun raut wajah wanita yang berstatus sebagai istri Timmy itu tampak berbeda dan tak seperti biasanya.
__ADS_1
Ada apa?
Apa James sudah kembali ke kediaman Uncle Sahrul dan tadi menggoda Yvone lagi?
Timmy masih belum bertanya ataupun buka suara, saat Yvone meletakkan tasnya ke atas ranjang, lalu wanita itu tiba-tiba menutupi wajahnya dan menangis terisak.
"Yv, ada apa?" Timmy langsung duduk di samping Yvone dan bertanya penuh selidik. Namun alih-alih menjawab, Yvone malah hanya menggeleng.
"James mengganggumu lagi?" Tebak Timmy akhirnya karena Yvone yang tak kunjung buka suara.
"Bukan!" Jawab Yvone lirih.
"Lalu kenapa kau menangis?" Tanya Timmy sekali lagi penuh selidik. Yvone tak langsung menjawab dan wanita itu menarik nafas panjang terlebih dahulu. Sementara Timmy masih sabar menanti jawaban dari Yvone.
"Aku hanya tak menyangka jika Uncle Sahrul selama ini membohongiku!" Ucap Yvone yang akhirnya buka suara juga. Wanita itu lalu meraih tasnya dan mengeluarkan beberapa amplop yang sudah tampak usang dari dalam tas.
Timmy mengambil satu amplop tersebut, lalu membukanya. Ada surat yng ditulis tangan di dalam amplop yang di luarnya tertera sebuah alamat di negara lain.
Ya, surat-surat ini sepertinya berasal dari luar negeri. Tapi siapa yang mengirim surat-surat ini?
"Mary?" Gumam Timmy penuh tanya saat membaca nama si pengirim surat.
"Itu nama Mami," ucap Yvone lirih yang rupanya mendengar gumamam Timmy barusan.
"Mami dan Papi berpisah saat usiaku enam belas tahun, karena sebuah pertengkaran. Lalu selang setahun, Papi meninggal karena kecelakaan." Yvone mebatap kosong ks arah jendela kamar Timmy.
"Lalu setelah itu, Uncle mengajakku untuk tinggal bersamanya. Membiayai kuliah, lalu memberikan aku pekerjaan."
"Mami tak pernah ada kabar semenjak ia meninggalkan rumah dan meninggalkan aku. Uncle juga selalu mengatakan kalau Mami mungkin memang tak lagi peduli atau sayang kepadaku. Makanya dia tak pernah mengabari dan menghilang begitu saja bak ditelan bumi."
"Dan bodohnya aku percaya begitu saja dengan ucapan Uncle...." Yvone menghapus kasar airmatanya. Wanita itu lalu mengambil satu surat dan menunjukkan tanggal surat itu ditulis.
"Padahal Mami mengirim surat dan menanyakan kabarku, sehari setelah kematian Papi."
"Mami juga meminta izin pada Uncle agar bisa bertemu denganku...."
"Tapi entah apa yang dikatakan Uncle pada Mami! Uncle juga tak pernah menyampaikan surat-surat Mama padaku, dan malah menimbunnya di brankas di kamarnya."
"Kalau saja tadi aku tidak kesana dan melihat mad yang nebdak membakar semua surat inj, pasti aku juga tak akan tahu kalau ternyata Mami masih oeduli padaku, masih mencariku, dan masih menyayangiku," ungkap Yvone panjang lebar dengab airmata yang masih bercucuran.
Timmy lalu mengambil satu surat yang tadi dibawa Yvone dan memeriksa barangkali ada kontak yang bisa dihubungi. Namun tak ada!
Hanya saja, alamat pengirim di surat tersebut sangatlah jelas dan sepertinya itu bukan alamat palsu.
"Alamatnya tertera dengan jelas, Yv! Kenapa tak coba datang saja kesana, barangkali Mamimu masih tinggal di alamat yang sama," ujaf Timmy mencetuskan sebuah ide pada Yvone.
"Itu sudah lama sekali dan surat terakhir dikirim Mama sekitar lima tahun lalu," gumam Yvone dengan nada putus asa.
"Tapi tidak ada salahnya mencoba, Yv!"
"Aku tak keberatan menemanimu ke sana," ujar Timmy bersungguh-sungguh yang langsung membuat Yvone menatap ke dalam mata pria di depannya tersebut.
"Bukankah kita adalah teman?" Ujar Timmy lagi yang langsung membuat Yvone menipiskan bibirnya, kemudian mengangguk.
"Aku akan memesan tiket," tukas Yvone kemudian seraya menghapus sisa airmata di wajahnya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1