Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
CERITA


__ADS_3

"Auuuwww!" Pekik Timmy saat kepala pria itu terbentur langit-langit kamar yang tak terlalu tinggi. Yvone langsung nenahan tawa, namun wanita itu juga bergegas untuk memeriksa kepala Timmy.


"Hati-hati makanya!" Ucap Yvone yang langsung mrmbimbing Tiimmy untyk duduk di tepi tempat tidur yang langsung menghampar di lantai tanpa dipan. Yvone memeriksa sekali lagi kepala Timmy yang tadi terantuk langit-langit kamar.


"Sakit?" Tanya Yvone memastikan.


"Tidak terlalu," jawab Timmy seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar.


"Kita tak bisa berdiri tegak di kamar ini," ujar Timmy lagi yang langsung membuat Yvone tertawa kecil.


"Ya! Kita harus menunduk atau merangkak kalau perlu," timpal Yvone kemudian dan Timmy langsung terkekeh.


"Tapi sepertinya menyenangkan tidur disini saat malam." Timmy mengendikkan dagunya ke atap transparan yang sepertinya juga berfungsi sebagai jendela.


"Oh, tidak! Itu akan terlihat seram saat malam," tukas Yvone mengemukakan pendapatnya.


"Tidak! Itu akan menyenangkan, Yv!"


"Tapi aku tak bisa tidur dengan jendela terbuka begitu--"


"Berarti kau butuh teman malam ini!" Timmy menatap penuh kode ke arah Yvone yang akhirnya menghela nafas.


"Baiklah, tidak masalah! Kasurnya lumayan lebar dan kita bisa berbagi tempat malam ini," ujar Yvone akhirnya. Wanita itu lalu mengambil tasnya, dan mengeluarkan notebook dari dalam tasnya.


"Aku tak perlu mencarikanmu hotel berarti malam ini," tukas Yvone lagi bersamaan dengan ponsel wanita itu yang tiba-tiba berdering.


Yvone bergegas memeriksa siapa yang menelepon. Dan saat melihat nama Uncle Sahrul yang tertera di layar, Yvone memilih untuk langsung mematikannya.


"Siapa?" Tanya Timmy bersamaan dengan ponsel Yvone yabg kembali berdering.


Timmy mengintip sekilas, sebelum kemudian pria itu pura-pura tak mendengar. Timmy lalu segera sibuk dengan ponselnya dan pria itu juga sudah merebahkan tubuhnya di atas trmoat tidur. Sementara Yvone yang sejak tadi hanya menatap ke arah ponselnya yang berdering, akhirnya bergerak dan mengangkat telepon dari Uncle Sahrul.


"Yvone! Kau kemana? Kenapa dua hari absen bekerja?"


"Yvone sedang menemui Mami," jawab Yvone to the point dan seketika di ujung telepon langsung hening.


"Mami? Apa maksudmu Mary? Untuk apa kau menemuinya--"


"Untuk mengungkap sebuah kebenaran!" Yvone berbucara sembarj matanya menatap ke layar notebook miliknya. Wanita itu awalnya membelalak, sebelum kemudian ia tertawa sinis.


"Apapun yang dikatakan Mary itu sebuah--"


"Sebuah kebenaran!" Sergah Yvone memotong kalimat Uncle Sahrul.


"Yvone benar-benar tak menyangka, jika selama ini Uncle begitu licik! Uncle menjelma seolah pahlawan untyk Yvone, namun di belakang Yvone--" Yvone tak melanjutkan kalimatnya dan wanita itu kembali tertawa sinis, entah apa yang ia baca di layar notebooknya.


"Uncle sudah mendapatkan semuanya sekarang, kan? Jadi Yvone akan pergi dan tinggal bersama Mami di sini!"


"Yvone dengarkan Uncle--"

__ADS_1


"Tak ada lagi yang perlu Yvone dengarkan! Yvone sudah tahu semuanya dan selamat menikmati semua kekayaan yang Uncle miliki!" Pungkas Yvone seraya menutup begitu saja telepon dari Uncle Sahrul. Yvone juga langsung mematikan ponselnya dan melempar benda pipih tersebut serampangan.


Yvone lalu kembali menatap ke layar notebooknya sembari tersenyum kecut.


"Uncle-mu sudah mengambil alih semua hotel yang seharusnya menjadi milikmu?" Tebak Timmy yang seolah bisa membaca ekspresi wajah Yvone.


"Aku tak butuh semuanya!" Gumam Yvone seraya mematikan kembali notebook-nya. Wanita itu kemudian duduk bersila di atas tempat tidur dan mendongakkan wajahnya, lalu menatap pada langit-langit kamar.


"Kau yakin akan tinggal disini dan tak ikut pulang bersamaku, Yv?" Tanya Timmy yang langsung membuat Yvone menoleh dan ganti menatap ke arah Timmy yang masih setengah berbaring di samping Yvone.


"Kau takut pulang sendiri?" Yvone balik bertanya dan sedikit meledek Timmy.


"Bukan begitu!" Timmy bangun dengan cepat, lalu ganti duduk bersila, sama seperti Yvone.


"Tapi aku lihat kau sedikit kurang nyaman bersama keluarga Mami kamu tadi--"


"Aku tak akan tinggal disini ke depannya. Aku akan mencari rumah sewa dekat sini. Lalu mencari pekerjaan...."


"Dan pasangan hidup," timpal Timmy menyambung kalimat Yvone.


"Iya! Dan pasangan hidup." Yvone tertawa renyah sembari kembali mendongak ke langit-langit kamar.


"Kau akan mencari Kath lagi setelah kita berpisah?" Tanya Yvone kemudian yang malah membuat Timmy mengendikkan kedua bahunya.


"Aku bahkan tidak tahu harus mulai mencari darimana. Tak ada petunjuk apapun." Timmy bergumam dan tampak putus asa.


"Ya! Nanti aku coba jika aku sudah pulang...." Timmy kembali menatap ke arah Yvone.


"Pulang sendiri," lanjut Timmy yang hanya bergumam.


"Kapan?" Tanya Kath kemudian yang langsung membuat Timmy mengernyit.


"Apanya?" Timmy balik bertanya bingung.


"Kau akan pulang."


"Kau mengusirku?" Tanya Timmy yang langsung membuat Yvone membulatkan kedua bola matanya.


"Bukan seperti itu! Aku benar-benar tak bermaksud." Yvone sedikit salah tingkah.


"Nanti setelah kau mendapatkan rumah sewa, aku akan pulang," tukas Timmy akhirnya.


"Aku bisa mencarinya sendiri, Tim!" Sergah Yvone cepat.


"Iya! Tapi aku harus memastikan keamanannya," ujar Timmy beralasan.


"Ck! Ada keluargaku disini! Jadi aku akan baik-baik saja--"


"Tapi aku lihat kau masih kurang nyaman dengan kekuarga barumu," sergah Timmy yang langsung membuat Yvone terdiam.

__ADS_1


"Aku hanya belum beradaptasi," tukas Yvone kemudian setelah diam beberapa saat.


"Kau terkejut dengan adik barumu?" Tebak Timmy kemudian yang langsung membuat Yvone mengendikkan kedua bahunya


"Rasanya hanya masih aneh dan sulit dipercaya."


"Kau tahu maksudku, kan? Usiaku dan Roger bahkan terpaut dua puluh tahun." Yvone ganti tertawa aneh.


"Tapi dia tetap adikmu. Jadi kau juga harus belajar jadi kakak yang baik," ujar Timmy memberikan nasehat.


"Aku akan berusaha!" Tukas Yvone yang sepertinya tak yakin.


"Kau tahu satu hal, Yv?" Ucap Timmy kemudian yang sepertinya hendak memulai sebuah cerita.


"Satu hal apa?"


"Aku dan Beth sebenarnya juga seperti kau dan Roger," ungkap Timmy yang tentu saja langsung membuat Yvone mengernyit.


"Sepertinya tidak! Selisih usiamu dan Beth tidak terlalu jauh setahuku," gumam Yvone sambil sedikit berpikir.


"Bukan tentang usia! Tapi tentang papa kandungku dan papa kandung Beth yang berbeda."


"Papa Will bukan papa kandungku." Timmy mengungkapkan sebuah fakta yang membuat Yvone lumayan tercengang.


"Jadi, kau dan Beth sebenarnya juga saudara satu ibu dan beda ayah?" Tebak Yvone kemudian yang langsung membuat Timmy mengangguk.


"Tapi aku menyayangi Beth dari sejak ia lahir ke dunia. Dan bagiku, Beth adalah adik kesayanganku," ungkap Timmy yang langsung membuat Yvone mengangguk-angguk.


"Kau juga harus belajar menyayangi Roger," ujar Timmy kemudian yang kembali membuat Yvone mengangguk. Wanita itu kemudian menguap.


"Aku masih sedikit jetlag," tukas Yvone kemudian seraya mengambil posisi untuk berbaring.


"Jangan terlalu ke pinggir agar kau tak jatuh!" Ujar Timmy mengingatkan yang tentu saja langsung membuat Yvone tertawa kecil. Meskipun selama hampir dua tahun inj mereka selalu berbagi ranjang, namun sepertinya Yvone selalu menempati dua pertiga bagian ranjang dan Timmy hanya sepertiganya.


Atau malah hanya seperempatnya saja!


Timmy selalu bisa mempertahankan posisi tidurnya dari awal hingga bangun, dan tak seperti Yvone yang sedikit rusuh saat tidur karena banyak bergerak.


"Kau mau ikut tidur?" Tabya Yvone pada Timmy yang masih belum mengubah posisinya.


"Aku belum mengantuk. Kau tidur duluan saja," jawab Timmy yang langsung membuat Yvone mengangguk. Yvone pun segera menarik selimut dan berganti posisi menjadi miring serta memunggungi Timmy yang kini sibuk mengutak-atik ponselnya.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2