Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
SUDAH TAHU


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, saat Timmy tiba di rumah km kedua orang tuanya.


"Sudah bertemu calon mertua?" Tiba-tiba lampu ruang tamu sudah menyala dan terdengar suara Papa Will yang sepertinya sudah menunggu Timmy sejak tadi.


Dan papa Will juga tak sendiri karena ada Mama Tere dan Beth juga yang wajahnya terlihat sumringah.


Pasti Beth yang sudah menderita semuanya pada Mama dan Papa!


"Selamat, ya, Bang!" Beth langsung menghambur ke pelukan Timmy dan memeluk dengan erat, seolah Timmy benar-benar akan menikah dengan Yvone.


Ya, Timmy memang akan menikah dengan Yvone!


Tapi hanya sementara sampai Yvone bertemu pria yang benar-benar mencintainya. Hanya sementara!


"Dan terima kasih karena abang benar-benar memenuhi permintaan Beth waktu itu," ucap Beth lagi yang langsung membuat Timmy mengernyit.


"Permintaan apa?" Tanya Timmy bingung.


"Permintaan untuk punya seorang kakak ipar!" Jawab Beth yang kini sudah melepaskan pelukannya pada Timmy.


"Selamat sekali lagi!" Ucap Beth lagi seraya mencium sekilas pipi Timmy. Adik perempuan Timmy itu lalu langsung berlalu pergi dan masuk ke kamarnya.


Timmy hanya geleng-geleng kepala seraya tersenyum tipis.


"Jadi, sudah berapa lama sebenarnya kau dan Yvone berkencan, Tim? Karena waktu itu seingat mama, kau pernah mengatakan kalau kau tak ada hubungan apa-apa dengan Yvone?" Cecar Mama Tere kemudian yang tak langsung dijawab oleh Timmy.


Timmy menghela nafas sejenak, lalu melepaskan topi di kepalanya dan duduk di kursi ruang tamu. Pria itu juga menyugar rambutnya beberapa kali.


"Tim!" Desak Mama Tere.


"Timmy dan Yvone memang tak pernah berkencan, Ma!" Ujar Timmy akhirnya menjawab cecaran pertanyaan dari sang mama.


"Kami sejak dulu hanya berteman, lalu--"


"Sama-sama merasa nyaman dan akhirnya memutuskan untuk menikah," sergah Papa Will membantu penjelasan Timmy.


Ah, benar-benar Papa yang pengertian.


"Iya, kurang lebih seperti itu, Ma!" Tukas Timmy membenarkan pemaparan Papa Will.


"Timmy dan Yvone hanya sudah sama-sama merasa nyaman," imbuh Timmy lagi.


"Papa sepertinya pengalaman juga. Dulu bersama Mama juga berawal dari teman, Pa?" Tanya Timmy kemudian sedikit mengalihkan pembicaraan.


"Bukan dengan mama kamu. Tapi dengan ma--" Papa Will tiba-tiba sudah membungkam mulutnya sendiri seperti orang yang nyaris keceplosan. Sementara mama Tere hanya berekspresi datar dan entah tadi mendengar ucapan Papa Will entah tidak.


"Jadi tadi membahas apa saja bersama orang tua--" Mama Tere akhirnya buka suara.


"Bukan orang tua, Ma! Tapi Uncle dan Aunty-nya Yvone!" Koreksi Timmy cepat.

__ADS_1


"Iya, maksud Mama itu,"


"Tadi membahas apa?" Tanya Mama Tere sekali lagi.


"Membahas tentang keseriusan Timmy. Lalu Uncle-nya Yvone juga meminta Mama dan Papa untuk datang ke rumahnya besok untuk melamar Yvone secara resmi," ujar Timmy yang langsung membuat Mama Tere dan Papa Will kompak terkejut.


"Besok?"


"Iya, besok. Mama dan Papa bisa, kan?" Tanya Timmy kemudian menatap bergantian pada Mama Tere dan Papa Will. Kedua orang tua Timmy itu lalu saling bertukar pandang dan berdiskusi sebentar.


Timmy mash terus memperhatikan diskusi antara Mama Tere dan Papa Will, sebelum akhirnya pasangan paruh baya tersebut kompak mengangguk.


"Besok sore, kita ke rumah pamannya Yvone dan melamar Yvone," ujar Papa Will yang langsung membuat Timmy mengulas senyum.


Mama Tere juga langsung menghampiri Timmy dan memeluk putra sulungnya tersebut.


"Mama turut bahagia, Tim! Semoga semuanya berjalan lancar besok, ya!" Ucap Mama Tere yang malah membuat hati Timmy mencelos.


Mama Tere memang selalu berharap kalau Timmy akan segera menikah. Tapi bagaimana nanti perasaan Mama kandung Timmy ini sat mendapati kenyataan kalau pernikahan Timmy dan Yvone hanyalah sebuah pernikahan sementara yang akan berujung perceraian?


"Hoek!" Timmy mendadak merasakan muao lagi di perutnya.


"Kamu kenapa?" Tabya Mama Tere yang sudah melepaskan pelukannya pada Timmy.


Timmy tak menjawab pettanyaan sang mama dan pria itu buru-buru berlari ke kamar mandi untuk menumpahkan isi perutnya.


"Kau sakit?" Tanya Mama Tere lagi sembari mengusap punggung sang putra.


"Mungkin asam lambung," ujar Papa Will menerka-nerka.


"Timmy tak ada riwayat asam lambung!" Sergah Mama Tere yang masih bertanya-tanya.


"Berarti masuk angin. Tadi cari angin kemana saja bersama Yvone?" Seloroh Papa Will kemudian seraya terkekeh.


Timmy yang akhirnya berhenti mual-mual langsung berdecak dengan pertanyaan sang papa.


"Tadi Timmy hanya ke rumah Uncle-nya Yvone dan tak kemana-mana lagi, Pi!" Tukas Timmy seraya keluar dari kamar mandi.


"Kemana-mana juga tak masalah. Asal kau mengantar Yvone pulang dan tahu waktu saja!" Ujar Papa Will lagi seraya menepuk punggung Timmy.


****


Ping!


Timmy sudah hampir memejamkan mata saat sebuah pesan masuk ke ponselnya.


[Bagaimana? Sudah bicara dengan Mama dan Papamu? Mereka keberatan tidak?] -Yvone-


Timmy yang tadinya sudah berbaring, langsung bangun dan duduk sebelum mengetik pesan balasan untuk Yvone.

__ADS_1


[Mama dan papa tak keberatan dan besok sore mereka akan ke rumah] -Timmy-


[Syukurlah. Nanti aku kirimkan uangnya untuk membeli cincin. Aku minta nomor rekening] -Yvone-


[Kenapa tidak kau sendiri saja sekalian yang membeli cincinnya ketimbang hanya memberikan uang?] -Timmy-


Pesan sudah terkirim dan langsung terbaca oleh Yvone juga. Timmy membaca sekali lagi pesannya barusan dan merasa kalau bahasanya sedikit kasar.


"Bodoh!" Gumam Timmy merutuki kebodohannya, sembari dengan cepat menghapus pesan yang tadi. Timmy juga buru-buru mengetik pesan yang baru berisi permintaan maaf.


[Kenapa dihapus? Aku sudah membacanya dan besok aku akan membeli cincinnya sendiri. Nanti aku titipkan di toko Beth] -Yvone-


Pesan dari Yvone sudah terlebih dahulu masuk sebelum Timmy selesai mengetik pesan permintaan maaf.


[Sekali lagi aku minta maaf karena sudah banyak merepotkan kau dan Beth, Tim. Selamat malam dan selamat beristirahat.] -Yvone-


Timmy kejbali terdiam setelah membaca pesan Yvone yang selanjutnya. Sepertinya gadis itu benar-benar tersinggung dengan pesan yang Timmy hapus tadi.


Timmy menghela nafas dan menyugar kasar rambutnya ssbelum lanjut mengetik oesan balasannya yang belum selesai tadi.


[Yv, aku minta maaf soal pesan tadi. Aku hanay berniat bercanda dan ternyata candaanku benar-benar tak lucu. Soal cincin, kau tak usah membelinya lagi karena Mama yang akan membelinya bersama Beth. Tadi mama sudah mengatakannya padaku. Berikan saja ukuran jarimu agar Mama dan Beth tak salah beli besok] -Timmy-


Pesan terkirim, namun statusnya masih belum dibaca oleh Yvone.


Apa Yvone sudah tidur?


Cukup lama Timmy menunggu, namun pesan Timmy masih tak kunjung dibaca oleh Yvone.


"Dasar bodoh!" Rutuk Timmy sekali lagi pada dirinya sendiri. Pria itu akhirnya kembali berbaring dan meletakkan ponselnya di atas nakas, saat tiba-tiba benda persegi itu terdengar berdering.


Ada pesan masuk dari Yvone!


[Ukuran 7] -Yvone-


Singkat, padat, dan jelas! Bahkan tak ada sedikitpun pesan basa-basi dari Yvone.


[Baiklah. Nanti aku sampaikan ke mama] -Timmy-


Pesan terkirim dan lagi-lagi tak langsung dibaca oleh Yvone.


"Biar saja!" Gumam Timmy akhirnya yang kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas. Timmy lalu segera menarik selimut untuk membalut tubuhnya dan lanjut memejamkan mata.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2