Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
BIMBANG


__ADS_3

Duaaaarr!!


"Pak!" Pekik Yvone saat gadis itu merasakan taksi yang ia tumpangi oleng ke kanan dan nyaris terguling. Beruntung supir bisa mengendalikan tepat waktu dan taksi akhirnya berhenti dengan selamat.


"Aduh!" Yvone mengusap kepalanya yang terbentur jok karena dirinya yang tak memakai sabuk pengaman.


Bodoh!


Andai taksi tadi benar-benar terguling, Yvone pasti akan terlempar keluar dan tak selamat.


"Nona, anda baik-baik saja?" Tanya supir taksi yang langsung membuyarkan lamunan Yvone.


"Ya!" Jawab Yvone singkat masih sambil mengusap kepalanya sendiri.


"Tadi suara apa, Pak?" Tanya Yvone kemudian saat supir taksi hendak turun.


"Sepertinya ban pecah. Saya periksa dulu," ujar supir taksi seraya turun meninggalkan Yvone yang masih saja mengusap-usap keningnya yang lumayan nyeri.


Jangan sampai kening Yvone benjol nanti karena ia harus bertemu klien jam sepuluh pagi.


Yeah!


Yvone seharusnya berangkat ke kota ini kemarin sore. Namun karena tak menperhatikan jadwal, Yvone malah tertinggal pesawat. Jadilah Yvone harus mengejar penerbangan paling pagi hari ini, agar ia juga punya waktu bersiap sebelum bertemu klien.


Seharusnya Reandra yang melakukan semua ini!


Tapi sekarang pria itu malah melimpahkan semuanya pada Yvone.


"Dasar egois!" Gerutu Yvone kesal sembari membuka pintu taksi. Yvone akhirnya memutuskan untuk turun saja sembari menunggu supir taksi selesai menngganti ban.


"Nona, mungkin agak lama. Saya teleponkan rekan saya agar Nona bisa segera sampai ke hotel, ya!" Ujar supir taksi saat Yvone menghampirinya.


"Memang tidak bawa ban cadangan, Pak?" Tanya Yvone yang sudah ikut-ikutan memeriksa ban mobil yang tadi pecah.


"Kebetulan tidak bawa." Supir taksi menggaruk tengkuknya sendiri.


"Nanti rekan saya akan datang membawa ban cadanagn, sekalian mengantar Nona ke hotel."


"Tunggu dulu sepuluh menit dan saya benar-benar minta maaf--"


"Tidak apa-apa!" Ucap Yvone cepat seraya mengulas senyum.


"Aku akan jalan-jalan dulu di taman sembari menunggu," tukas Yvone lagi saat matanya tak sengaja melihat taman kota yang tak jauh dari tempat taksi berhenti.


"Aku akan duduk-duduk di sana, Pak!" Ucap Yvone sekali lagi yang langsung diiyakan oleh supir taksi. Yvone lalu mengambim tasnya, dan segera berjalan santai ke arah taman kota yang tampak sepi. Tampak beberapa bangku di taman tersebut yang sedikit basah. Mungkin sisa dari hujan yang semalam mengguyur.


Yvone memilih untuk menghampiri satu bangku taman yang berada tepat di bawah pohon. Gadis itu juga segera mengeluarkan tisu dari tasnya untuk menyeka bangku yang basah. Namun saat Yvone hendak menyeka air di atas bangku, tatapannya tak sengaja tertumbuk pada seseorang yang tidur meringkuk di atas rumput taman.

__ADS_1


Tunggu! Apa itu orang mabuk?


Yvone tak jadi duduk, dan memperhatikan dengan seksama, tubuh yang hanya terlihat diam tersebut. Yvone perlahan mendekat untuk memastikan apa orang tersebut sudah mati atau masih hidup. Yvone terus memperhatikan sesosok pria tersebut, sampai saat Yvone melihat wajahnya, gadis itu sontak membelalak.


"Timmy?" Gumam Yvone yang langsung bersimpuh untuk memastikan lagi.


Ya, dibalik wajahnya yanglebam kebiruan, pria yang kini tak sadarkan diri tersebut memanglah Timmy.


"Ya ampun! Kamu kenapa, Tim?" Gumam Yvone yang bergegas memeriksa denyut nadi Timmy. Masih ada denyutnya meskipun cenderung lemah. Seluruh tubuh Timmy juga terasa dingin dan ada luka di bagian belakang kepalanya, dengan darah yang sudah mengering.


"Pak!" Panggil Yvone kemudian pada supir taksi yang tadi mengantarnya.


"Pak, tolong kemari!" Panggil Yvone sekali lagi bersamaan dengan taksi pengganti yang juga sudah datang.


Yvone tak menunggu lagi dan gadis itu segera membawa Timmy ke rumah sakit terdekat.


****


Kath mengerjapkan mata, saat ia merasakan kehadiran seseorang di dekatnya. Kath bahkan bisa merasakan tangan seseorang itu sedang membelai kepalanya sekarang.


"Tim--" Kath mengangkat wajah dan tak jadi melanjutkan gumamannya. Apa memang yang Kath pikirkan? Kenapa ia hampir menggumamkan nama Timmy, sementara saat ini di depannya ada Marv?


"Pagi!" Sapa Marv seraya mengulas senyum lebar pada Kath. Pria itu juga menyodorkan setangkai bunga mawar untuk Kath.


"Pagi!" Jawab Kath yang sudah menerima bunga dari Marv.


"Kau masuk ke kamar seorang gadis pagi-pagi begini, kau tadi menyusup?" Tanya Kath penuh selidik.


"Mana aku tahu!" Kath hanya mengendikkan bahu, lalu lanjut mengendus aroma bunga mawar yang diberikan oleh Marv.


"Kau ke kantor hari ini?" Tanya Marv kemudian.


"Ya! Aku kan bukan pengangguran!" Jawab Kath seraya menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Marv sibtak bersiul saat melihat baju tidur Kath yang memang hanya sebatas kemeja tanpa bawahan.


Kath memang lebih nyaman tidur seperti itu ketimbang harus memakai piyama lengkap seperti anak balita.


"Apa? Kau bahkan sudah melihatnya!" Tukas Kath yang langsung menuju ke kamar mandi. Wanita itu tak berucap apa-apa lagi dan segera menutup pintu kamar mandi.


Setelah menanggalkan piyama yang ia kenakan, Kath langsung berdiri di bawah shower dan mulai mengguyur kepalanya dengan air dingin.


"Saya mencintai putri anda, Tuan Harimarta!"


"Dan saya ingin menikahi Kath!"


"Kath, aku mencintaimu! Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Kath!"


Kath menengadahkan wajahnya sembari memejamkan mata, saat kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Timmy terus saja berkelebat di benaknya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Kath!"


"Aku mencintaimu!"


"Tidak!"


"Tidak bisa, Timmy!" Kath menggeleng-gelengkan kepalanya dan sekuat tenaga berusaha melupakan semua ucapan Timmy.


"Kenapa aku terus saja memikirkan pria itu?" Tanya Kath kemudian pada dirinya sendiri.


Tak ada jawaban!


Yang terdengar sekarang hanyalah gemericik air dari shower serta hati Kath yang mendadak bimbang.


****


"Angkat, Beth!" Gumam Yvone yang masih berusaha untuk menghubungi nomor Beth. Namun telepon Yvone tak kunjung diangkat oleh adik Timmy tersebut.


Apa Beth masih marah pada Yvone?


Yvone akhirnya ganti membuka aplikasi pesan, dan gadis itu segera mengirim pesan pada Beth lengkap dengan foto Timmy yang kini terbaring tak berdaya.


[Beth, angkat teleponku! Lihatlah kondisi abang kamu!] -Yvone-


Pesan terkirim!


Namun tak langsung dibaca apalagi dibalas oleh Beth.


Ya ampun! Gadis itu kemana sebenarnya?


"Anda keluarga pasien yang bernama...."


"Timothy, Suster!" Ucao Yvone cepat menyebutkan nama lengkap Timmy.


"Iya, Timothy. Anda keluarganya?" Tanya perawat itu lagi.


"I--iya!" Jawab Yvone berusaha untuk tak ragu. Timmy harus secepatnya mendapat perawatan dan rasanya akan lamban sekali jika harus menunggu Beth atau keluarga Timmy datang.


Yvone tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada pria itu, jadi Yvone yang akan bertanggung jawab sementara menunggu keluarga Timmy datang.


"Iya, saya keluarganya, Suster!" Ulang Yvone lagi.


"Silahkan masuk! Dokter akan menjelaskan kondisi oasien Timothy," titah perawat tadi yang langsung membuat Yvone mengekorinya masuk ke dalam ruang UGD.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2