
Timmy mengerjapkan matanya beberapa kali, saat pria itu merasakan kandung kemihnya yang mendadak penuh. Timmy segera bangun dan bergegas pergi ke toilet untuk menuntaskan hajatnya. Setelah selesai dan kekuar dari toilet, pandangan Timmy langsung tertumbuk ke atas bed perawatan Yvone yang kosong.
Apa?
Kenapa bed perawatan Yvone kosong? Yvone pergi kemana?
"Yv!" Panggil Timmy seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Namun Yvone benar-benar tidak ada. Timmy baru saja akan keluar untuk memeriksa, saat tiba-tiba Yvone sudah membuka pintu kamar perawatan dari luar sembari mendorong tiang infus.
"Kau darimana, Yv?" Tanya Timmy yang bergegas membimbing Yvone untuk kembali lagi ke atas bed perawatan.
"Menjenguk Beth," jawab Yvone seraya tertawa kecil.
"Kebetulan aku tadi sedang tak bisa tidur. Beth juga tak bisa tidur, jadi kami mengobrol beberapa hal," cerita Yvone kemudian setelah wanita itu duduk di tepi ranjang.
"Kenapa tidak membangunkan aku dan minta aku antar? Kau seharusnya tak berjalan dulu--"
"Aku baik-baik saja dan tak usah khawatir!" Sergah Yvone seraya menatap Timmy dengan sungguh-sungguh. Timmy lalu mengecek suhu badan Yvone lagi.
"Kau demam lagi," tukas Timmy seraya membantu Yvone untuk berbaring. Timmy lanjut mengompres Yvone lagi.
"Seharusnya kau tidak jalan-jalan dulu!" Decak Timmy kemudian.
"Aku jenuh di kamar," ujar Yvone beralasan. Timmy kemudian menghela nafas dan menarik kursi untuk duduk di samping bed perawatan Yvone.
"Kenapa kau tidak tidur lagi?" Tanya Yvone pada Timmy yang kini malah menumpukan wajahnya diatas kedua tangan di samping bed perawatan.
"Katanya kau tadi jenuh. Kau mau cerita sesuatu agar bisa aku dengarkan atau aku tanggapi?" Ujar Timmy yang langsung membuat Yvone menggeleng.
"Aku tak punya cerita apa-apa. Kenapa bukan kau saja yang cerita tentang wanita yang kau cintai?" Yvone balik memancing.
Timmy langsung tertawa kecut dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Wanita yang aku cintai tapi dia tak pernah mencintaiku," tukas Timmy kemudian yang masih tersenyum kecut.
"Kenapa begitu? Kau kurang menarik, kurang tampan, atau kurang apa?" Cecar Yvone menebak-nebak dan sekali lagi Timmy hanya menggeleng, lalau pria itu menunduk seraya menyandarkan keningnya di sisi bed perawatan. Tampak jelas rasa kecewa serta patah hati yang mungkin dirasakan oleh Timmy.
"Kenapa kau tak coba untuk menemuinya lagi, Tim?" Tanya Yvone kemudian yang langsung membuat Timmy mengangkat wajahnya kembali.
"Terakhir kali kami bertemu, dia pura-pura tak kenal siapa aku," tukas Timmy dengan raut penuh kekecewaan.
__ADS_1
"Mungkin ada alasannya." Yvone menerka-nerka.
"Ya! Ada calon suami dan Mommy-nya waktu itu," jawab Timmy yang kemudian tersenyum kecut lagi.
"Maksudku suaminya. Dia sudah menikah," ungkap Timmy mengoreksi kalimat sebelumnya.
"Tapi kau masih yakin kalau sebenarnya dia mencintaimu, dan mungkin saja saat ini dia sedang merindukanmu," terka Yvone kemudian yang langsung membuat Timmy terdiam.
"Entahlah! Tapi dia memang beberapa kali datang dalam mimpiku dan mengatakan kalau dia merindukanku," tutur Timmy dengan nada lirih.
"Berarti itu memang sebuah pertanda."
"Temui dia dan ungkapkan semua perasaanmu padanya, Tim!" Ujar Yvone sembari mengusap punggung tangan Timmy.
"Dia di kota yang berbeda dan aku tak mungkin pergi sekarang, Yv! Aku masih harus menjagamu atau Beth akan marah nanti jika aku meninggalkan kau begitu saja," tukas Timmy seraya menarik tanagnnya yang tadi diusap oleh Yvone.
"Beth akan marah." Yvone bergumam pelan sebelum kemudian wanita itu memalingkan wajahnya dan sekuat tenaga menahan airmatanya agar tak berlinang. Susah payah Yvone menghela nafas demi menepis hati dan perasaannya yang terasa campur aduk.
Yvone sudah berusaha untuk tak menaruh perasaan apapun pada Timmy. Tapi Yvone tak bisa!
Dan sekarang Timmy masih menjaga cintanya yang hanya untuk Kath seorang. Jadi Yvone memang harus siap menanggung sakit hati saat annti akhirnya Timmy dan Kath bisa bersatu. Yvone yang tak bisa menjaga hatinya sendiri, jadi Yvone juga yang harus menanggung rasa sakit hati itu!
"Selamat malam dan selamat istirahat, Yv!" Ucapan lirih Timmy sedikit menyentak lamunan Yvone. Timmy juga membenarkan selimut yang membalut tubuh Yvone, lalu pria itu mengganti sekali lagi handuk yang berada di kening Yvone.
****
Timmy pulang ke rumah setelah makan siang. Sementara Yvone masih belum diperbolehkan pulang meskipun demamnya sudah tak terlalu tinggi.
Timmy baru saja membuka pintu pagar deoan, saat pria itu sudah dikejutkan oleh pemandangan yang ada di halaman rumah kedua orangtuanya. Kaca jebdela depan sudah pecah berhamburan seperti bekas dilempar batu oleh seseorang. Bunga-bunga Mama Tere yang ada di dalam pot juga berserakan tak karuan di halaman. Siapa yang melakukan semua perbuatan ini?
Beep beep!
Suara klakson dari depan rumah, langsung menyentak lamunan Timmy. Buru-buru pria itu memeriksa siapa yang datang.
"Tim! Sedang pulang istirahat?" Tanya Mama Tere yang rupanya sudah pulang dari urusannya di luar kota bersama Papa Will.
Sial!
Bagaimana Timmy akan menjelaskan tentang kekacauan yang ada di rumah pada kedua orangtuanya?
__ADS_1
"Mama dan Papa kenapa sudah--"
"Ini kenapa halaman rumahnya berserakan, Tim?" Seru Mama Tere yang sudah merangsek ke halaman sebelum Timmy sempat mencegah.
"apa baru saja terjadi perampokan? Kenapa kaca jendelanya pecah semua?" Gantian Papa Will yang mencecar Timmy.
"Timmy juga tidak tahu, Pa! Timmy baru pulang siang ini dan semuanya mendadak sudah seperti ini!" Sergah Timmy yang ikut-ikutan bingung. Namun kemudian Timmy ingat pada pesan dari nomor asing yang semalam masuk ke ponselnya. Mungkinkah pelakunya adalah orang yang sama dengan yang mengirim pesan pada Timmy semalam? Tapi siapa?
"Tidak tahu bagaimana? Kau darimana tadi memangnya?" Cecaran Papa Will langsung menyentak lamunan Timmy.
"Timmy di rumah sakit sdjak semalam, Pa!" Jawab Timmy seraya menyugar kasar rambutnya.
"Di rumah sakit? Siapa yang sakit?" Gantian Mama Tere yang mencecar Timmy.
"Yvone. Beth. Mereka berdua sama-sama dirawat!" Jawab Timmy yang langsung membuat Mama Tere dan Papa Will kompak terkejut.
"Beth dan Yvone sakit apa, Timmy?" Tanya Mama Tere yang wajahnya sudah panik.
"Yvone demam dan Beth jatuh terpeleset di toko. Beth juga ternyata hamil dan mengalami pendarahan--"
"Beth pendarahan?"
"Pa, ayo ke rumah sakit!" Mama Tere tiba-tiba sudah menarik tangan Papa Will dan dua orang tua itu bergegas keluar melalui pagar depan.
"Ma! Pa!" Panggil Timmy yang buru-buru menyusul kedua orangtuanya yang sudah panik tak karuan tersebut.
"Kenapa tidak ada taksi, Pa?" Tanya Mama Tere yang terlihat sudah sangat panik.
"Ayo pergi bersama Timmy, Ma!" Ajak Timmy seraya menbuka pintu mobil Fairel.
Ya, sejak kemarin Timmy memang masih memakai mobil adik iparnya tersebut. Toh Fairel juga tak meminta kuncinya pada Timmy sejak semalam. Mungkin Fairel sudah memakai mobilnya yang lain. Kata Beth, koleksi mobil Fairel di garasi rumah ada tiga.
Mama Tere dan Papa Will akhirnya bergegas masuk ke dalam mobil Fairel, dan Timmy segera melajukan kuda besi tersebut ke rumah sakit. Pikiran Timmy masih saja tertuju pada seseorang yang semalam mengancamnya dan pagi ini menghancurkan rumah kedua orang tuanya.
Sepertinya orang tersebut benar-benar benci pada Timmy!
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.