
"Papi menyuruhmu pergi ke kota D!" Ucap Reandra seraya melemparkan map ke atas meja kerja Yvone.
Dasar tidak sopan.
"Sepertinya kau salah memberi informasi karena Uncle tadi mengatakan kalau kau--"
"Aku tak bisa pergi!" Sergah Reandra yang sudah meninggikan nada suaranya.
"Lagipula, kau adalah wakilku disini, dan kau sangat bisa menggantikan aku kapanpun aku perintahkan," tukas Reandra lagi yang langsung membuat Yvone mendengus.
"Tapi setidaknya, buatlah alasan yang elegant, saat kau menyuruhku untuk menggantikan pekerjaanmu!"
"Dasar menyebalkan!" Cibir Yvone merasa kesal.
Disaat bersamaan, pintu ruangan Yvone sudah menjeblak terbuka. Ada Uncle Sahrul yang berdiri di ambang pintu.
"Yvone!"
Yvone langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Papi kandung Reandra tersebut.
"Iya, Uncle," jawab Yvone sopan.
"Kata Reandra, kau memaksa untuk menggantikan Reandra ke kota D."
"Apa itu benar?" Tanya Uncle Sahrul penuh selidik.
Yvone terang saja langsung melirik sengit ke arah Reandra yang bisa-bisanya mengarang alasan indah pada sang papi.
"Yvone!" Tanya Uncle Sahrul sekali lagi.
"Iya, Uncle! Yvone memang sedang ingin ke kota D. Jadi Yvone memaksa Reandra agar membiarkan Yvone saja yang pergi menggantikan dia," tukas Yvone yang akhirnya mengiyakan karangan indah nan menyebalkan Reandra.
Baiklah!
Yvone akan pergi ke kota D! Setidaknya Yvone tak perlu melihat sepupunya yang menyebalkan ini selama beberapa hari!
"Jadi, Reandra tak perlu pergi, kan, Pi?" Ujar Reandra lagi yang tentu saja langsung membuat Yvone menggerutu dalam hati.
"Tidak perlu!" Tukas Uncle Sahrul sebelum pria parih baya tersebut keluar dari ruangan Yvone.
"Terima kasih atas kerjasamanya, Sepupu!" Ucap Reandra yang langsung berhadiah delikan dari Yvone.
"Jangan pernah mengganggu Beth lagi!" Ucap Yvone dengan nada tajam.
"Tidak usah mengatur-ngaturku!" Tuding Reandra sebelum pria itu keluar dari ruangan Yvone.
"Semoga Beth sudah berhenti tergila-gila pada Reandra!" Gumam Yvone serata meraih ponselnya, lalu mencoba menghubungi Beth.
Namun sayangnya nomor Beth sedang sibuk sekarang. Mungkin nanti saja Yvone akan menciba menghubungi gadis itu lagi.
****
Timmy menatap keluar jendela pesawat, saat akhirnya pesawat yang Timmy tumpangi sudah mendarat dengan mulus di bandara kota D.
Ya, Timmy benar-benar nekat kali ini, karena ia sama sekali tak tahu alamat Kath dimana. Dan Timmy juga tak punya siapa-siapa di kota ini. Entah bagaimana caranya Timmy nanti bisa menemukan alamat rumah Kath.
Semoga ada keajaiban....
"Kath dan Marv katanya akan pulang malam ini, Dyr!"
Timmy masih memikirkan tentang keajaiban yang batangkali akan menghampirinya saat ia mencari alamat rumah Kath, saat tiba-tiba pria itu mendengar penumpang di depannya menyebut nama Kath dan Marv?
Timmy tak salah dengar, kan?
"Lalu Kai bagaimana? Ikut pulang malam ini juga?" Kali ini ganti suara pria yang berbicara.
"Belum ada info dari Kai. Mungkin anak itu masih mau liburan di rumah Uncle-nya."
__ADS_1
"Anak? Kai bahkan sudah dua puluh enam tahun--"
"Lalu aku harus memanggilnya pria dewasa, begitu?"
Terdengar gelak tawa dari pasangan paruh baya yang duduk di depan Timmy.
Timmy yang masih penasaran, memilih untuk menunggu hingga pasangan paruh baya tersebut bangkit dari kursinya dan keluar duluan dari pesawat.
"Oh, astaga!" Gumam Timmy saat akhirnya ia baru ingat kalau pasangan paruh baya itu adalah ibu-ibu yang tadi Timmy tabrak, serta suaminya yang tadi memelototi Timmy dengan galak.
Tapi mereka tadi menyebut nama Kath dan Marv....
"Aku dan Marv sudah bertunangan! Dan kami akan segera menikah!"
Iya, benar!
Kath dan Marv! Dan Timmy tak salah dengar.
Tapi pasangan paruh baya ini siapa? Orang tua Kath? Atau orang tua Marv?
Timmy memperhatikan dengan sejsama wajah wanita paruh baya yangvtadi menyebut-nyebut nama Kath. Hingga akhirnya Timmy menyadari kalau wajahnya mirip denagn Kath.
Berarti ini adalah kedua orang tua Kath!
Tapi Timmy masih ragu...
Tapi tak ada salahnya juga Timmy mengikuti mereka, ketimbang Timmy harus bertanya pada Angga alamat rumah Kath, dan nantinya Angga juga pasti akan mencecar Timmy macam-macam.
Ya, sebaiknya Timmy mengikuti pasangan paruh baya ini saja, karena siapa tahu feeling Timmy kalau mereka adalah orang tua Kath benar adanya.
Semoga saja!
****
"Ada apa, Mizt? Kenapa berhenti?" Tanya Dad Dyrtha saat sang istri, Mom Mizty tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang.
"Mungkin perasaanmu saja!"
"Tidak ada yang mencurigakan!", tukas Papa Dyrtha setelah pria paruh baya tersebut mengedarkan pandangannya ke belakang.
"Mungkin!"
"Ayo pulang kalau begitu! Kau masih harus ke acara siang nanti!" Ajak Mom Mizty kemudian seraya menggamit lengan sang suami.
Pasangan paruh baya tersebut langsung menuju ke area penjemputan, dimana sopir pribadi mereka sudah menunggu.
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya!" Sapa pak sopir ramah.
"Pagi, Pak!"
"Langsung ke rumah, ya!" Ucap Dad Dyrtha seraya masuk ke dalam mobil, menyusul Mom Mizty yang sudah terlebih dahulu masuk. Tak berselang lama, mobil sudah melaju meninggalkan bandara kota.
Sementara tak begitu jauh dari mobil Dad Dyrtha yang sydah melaju tadi, ada Timmy yang langsung sibuk mencari taksi untuk membuntuti mobil Papa Dyrtha.
Beruntung ada satu taksi yang langsung menghampiri Timmy.
"Pak ikuti mobil hitam yang baru keluar tadi," ujar Timmy yang tak lupa juga menyebutkan nomor plat mobil Dad Dyrtha.
Ya, meskipun hanya melihat sekali Timmy langsung bisa mengingat plat nomor mobil Daddy-nya Kath tadi.
Taksi segera melaju meninggalkan bandara kota untuk mengikuti mobil kedua orangtua Kath tadi.
****
[Kath!] -Timmy-
Kath yang sudah tiba di bandara kota, baru membuka pesan dari Timmy yang sebenarnya sudah masuk ke ponselnya sedari siang.
__ADS_1
Ya, Kath sedang malas chat dengan Timmy karena sesiangan tadi Kath malah asyik chat bersama Marvel yang katanya sedang menemui klien-nya.
Menemui klien tapi sambil menggombali Kath via chat! Dasar!
"Kopi, Sayang!" Marvel sudah menghampirinya Kath seraya menyodorkan segelas kopi pada Kath. Dua sejoli itu memang sedang menunggu pesawat penerbangan terakhir dengan tujuan kota D di ruang tunggu bandara.
"Terima kasih!" Ucap Kath yang langsung melengkungkan kedua sudut bibirnya. Kath yang tadinya hendak mengetikkan pesan balasan untuk Timmy, mendadak jadi lupa dan wanita itu malah langsung memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas.
Biar saja!
Kath akan membalas pesan Timmy nanti saja setelah tiba di rumah.
"Kai jadinya pulang kapan?" Tanya Marv membuka obrolan.
"Aku tidak tahu!"
"Katanya dia masih ada urusan disini, entah urusan apa."
"Sikapnya mendadak sedikit aneh," ujar Kath yang kini sudah mengendikkan kedua bahunya.
"Mungkin sudah menemukan tambatan hati juga di kota ini," Celetuk Marv menerka-nerka. Kath hanya tertawa kecil dan enggan menanggapi. Disaat bersamaan, ponsel gadis itu mendadak berdering.
"Ponsel kamu berbunyi, Sayang!" Ucap Marv yang kini sudah merangkul pundak Kath.
Kath akhirnya mengambil ponselnya dari dalam tas, untuk memeriksa siapa yang menelepon.
"Kai?" Gumam Kath setelah membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Tadinya Kath pikir yang menelepon adalah Timmy!
Ternyata bukan!
"Panjang umur sekali adikmu," seloroh Marv, sebelum kemudian pria itu bangkit dari kursinya, seolah ingin memberikan ruang untuk Kath bicara pada Kai.
"Aku sedikit lapar. Aku akan membeli kudapan dulu," pamit Marv kemudian seraya berlalu meninggalkan Kath yang segera mengangkat telepon dari sang adik.
"Halo!" Sambut Kath sedikit malas
"Kak! Kakak jadi pulang malam ini?"
"Tentu saja jadi! Aku dan Marv sudah di bandara kota!" Jawab Kath seraya memutar bola matanya.
"Oh!"
"Oh saja? Kau kapan pulang jadinya? Sudah punya pacar disini sampai tak mau pulang?" Kath ganti mencecar sang adik.
"Anggap saja begitu, Kak!"
Kath refleks bersiul.
"Aku bilang ke Mom dan Dad, ya!" Lanjut Kath dengan nada mengancam.
"Nanti Kai akan bilang sendiri, Kak!"
"Tidak ada nanti-nanti dan aku akan langsung bilang ke Mom dan Dad setelah pulang nanti!' Kath kembali mengancam sang adik.
"Ck! Kakak tidak asyik! Bhay!"
Kai menutup telepon begitu saja dan Kath malah langsung terkekeh. Kath lalu memeriksa pesan Timmy lagi dan baru akan mengetikkan pesan balasan, saat Marv sudah kembali lagi.
"Aku belikan untukmu juga,", ujar Marv seraya menyodorkan kantung makanan dari kertas pada Kath.
Kath akhirnya tak jadi membalas pesan Timmy apalagi menghubungi pria itu. Kath sudah terlanjur larut dalam obrolan menyenangkannya bersama Marv, hingga panggilan keberangkatan pesawat mereka terdengar.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.