Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
DILUAR KESEPAKATAN


__ADS_3

Timmy membelokkan mobil Papa Will ke halaman rumah Uncle Sahrul yang begitu luas. Sesekali pria itu akan melirik ke arah Beth yang duduk di jok belakang bersama Mama Tere dan kini terlihat cemas.


"Ini rumahnya?" Tanya Papa Will seraya membenarkan kacamatanya.


"Iya, Pa!" Jawab Timmy yang kembali melirik ke arah Beth melalui kaca spion tengah.


"Ma!" Beth akhirnya buka suara, saat Mama Tere mengajaknya untuk turun.


"Ada apa, Beth?"


"Beth menunggu di mobil saja, ya!" Ucap Beth yang langsung membuat Timmy yang tadinya sudah hendak turun, mengurungkan niatnya sejenak.


"Kenapa memangnya?" Tanya Mama Tere pada Beth.


"Beth sakit perut," ucap Beth sembari memegangi perutnya. Entah benar-benar sakit perut entah Beth hanya berakting.


"Ada apa? Kenapa tak turun-turun?" Tanya Papa Will yang tadi sudah turun duluan, dan kini langsung mencari tahu.


"Beth sakit perut katanya," jelas Mama Tere pada sang suami.


"Perlu ke UGD, Beth?" Raut wajah Papa Will sudah ikut-ikutan cemas.


"Tidak!" Beth menggeleng dengan cepat.


"Beth biar istirahat di dalam mobil saja, Ma!" Timmy akhirnya buka suara dan sedikit membantu akting Beth. Timmy juga tak akan membiarkan Beth masuk ke rumah orang tua Reandra ini la,u bertemu dengan Reandra brengsek itu!


"Kau tidak apa-apa kami tinggal, kan?" Timmy lalu bdrtanya pada Beth dan sedikit memastikan. Sekalogus memberikan kode yang rupanya langsung dipahami oleh Beth.


"Tidak apa-apa, Bang!" Jawab Beth yakin.


"Yasudah. Kau berbaring dan istirahat dulu saja, Beth!" Tukas Mama Tere seraya membenarkan posisi Beth. Wanita paruh baya itu lalu segera turun menyusul Papa Will.


"Tetap disini dan jangan kemana-mana!" Pesan Timmy pada Beth, sebelum turun dari mobil.


"Iya, Bang!"


Timmy akhirnya menyueul turun juga, lalu ia bersama Mama Tere dan Papa Will langsung menuju ke pintu utama rumah Uncle Sahrul.


Semoga semuanya berjalan lancar!


****


"Kath," Marv mengusap lembut wajah Kath yang sejak tadi hanya diam dan melamun di kamar. Kath masih memikirkan kemungkinan jika dirinya hamil, lalu benih yang ada di kandungannya milik siapa.


Entahlah, semakin Kath memikirkannya, semakin kepala Kath terasa ingin pecah!


"Kath, kenapa melamun?" Marv tiba-tiba sudah mengecup bibjr Kath yang tentu saja langsung membuat Kath terkejut. Tangan Marv bahkan juga sudah menyusup ke bawah bra, menandakan kalau suami Kath itu sedang menginginkannya sekarang.


"Marv...." Kath sedikit menyentak tangan Marv.


"Ada apa? Apa perutmu masih sakit?" Tanya Marv cemas.

__ADS_1


"Sedikit," jawab Kath seraya meringis. Meskipun sebenarnya perut Kath sama sekali sudah tak sakit. Tapi Kath sedang tak bergairah untuk bercinta dengan Marv, karena sejak semalam, pikiran Kath terus saja tertuju pada Timmy, Timmy, dan Timmy!


Ada apa dengan Kath?


Bahkan mimpi Kath semalam juga tentang Timmy!


"Mau ke dokter lagi?" Tanya Marv yang masih terlihat cemas.


"Aku rasa tidak usah, Marv! Aku akan beristirahat saja," tolak Kath cepat.


"Maaf kalau aku jadi membuat acara bulan madu kita berantakan," ujar Kath lagi.


"Tidak apa, Sayang!" Marv langsung mengulas senyum dan mencium kening Kath.


"Aku akan memesan makan malam saja dan kita bisa makan di kamar," cetus Marv kemudian yang langsung dijawab Kath denagn anggukan setuju.


****


"Yvone ingin acara oernikahan sederhana saja, Uncle! Tidak perlu yang mewah--"


"Tidak bisa! " Sergah Aunty Jihan yang sejak awal memang ngotot dan ingin agar Yvone menggelar acara pernikahan mewah.


"Apa kata orang jika pernikahanmu hanya digelar sederhana dan mendadak," sergah Aunty Jihan lagi.


"Tidak perlu memikirkan kata orang, Aunty! Ini pernikahan Yvone, jadi Yvone punya hak penuh untuk memutuskannya!" Sergah Yvone tak kalah keras kepala.


"Bukan begitu, Uncle?" Yvone ganti menatap Uncle Sahrul seolah meminta dukungan.


"Apa kau takut, jika calon mertuamu tak sanggup mewujudkan pernikahan yang mewah?"


"Mengingat calon suamimu yang juga hanya seorang pekerja housekeeping bergaji rendah--"


"Selamat malam!" Sapaan dari pintu depan langsung menyela cemoohan Aunty Jihan pada keluarga Timmy.


"Malam!" Jawab Uncle Sahrul yang langsung mempersilahkan keluarga Timmy untuk masuk.


"Keluarga calon suamimu yang miskin sudah datang, Yvone! Pastikan Timmy mampu mewujudkan pernikahan mewah dan megah atau kau tak akan menikah dengan pria itu dan Aunty akan mencarikan pria yang lebih kaya--"


"Timmy akan mewujudkannya!" Sergah Yvone setaya menatap Aunty Jihan dengan tajam.


"Bagus!" Aunty Jihan langsung bersedekap. Bahkan saat mama Tere menyapa wanita paruh baya tersebut, ekspresi wajah Aunty Jihan benar-benar terlihat mengesalkan.


Ingin rasanya Yvone menendang keluar saja Aunty-nya yang sebelas dua belas dengan James baj*ngan itu!


Ah, tapi mereka memang kakak beradik, jadi wajar jika sikapnya sama-sama mengesalkan.


"Jadi, ini adalah kedua orang tuamu, Timmy?" Tanay Uncle James berbasa-basi.


"Iya, Uncle!"


"Kau anak tunggal?" Gantian Aunty Jihan yang melontarkan pertanyaan tetap dengan raut pongah.

__ADS_1


"Timmy punya seorang adik perempuan. Hanya saja adik Timmy sedang berhalangan untuk hadir," ujar Mama Tere menjelaskan. Uncle Sahrul langsung mengangguk paham dan Aunty Jihan tetap pada ekspresi awal.


Pongah dan meremehkan!


"Jadi begini, Pak Sahrul! Maksud kedatangan kami kesini adalah untuk melamar Yvone dan memintanyabuntuk menjadi istri dari Timmy sekaligus menantu di keluarga kami." Papa Will langsung berucap to the point pada Uncle Sahrul dan Aunty Jihan.


"Ya!"


"Kami sebagai wali dari Yvone, karena kebetulan juga orang tua Yvone juga sudah tiada hanya bisa memberikan restu jika memang inj adalah pilihan Yvone sendiri."


"Tapi tentu saja ada syarat yang harus dipenuhi Timmy, Pak Will dan Bu Tere! Mengingat Yvone juga adalah keponakan kesayangan kami," ujar Aunty Jihan cepat, menyambung kalimat Uncle Sahrul.


"Syarat?" Papa Will sontak mengernyit. Pun dengan Timmy yang ikut bertanya-tanya karena memang Yvone yang belum mengatakan pada Timmy perihal acara pernikahan mewah yang diinginak oleh Uncle dan Aunty Yvone tersebut.


"Bukan syarat sebenarnya, Pak Will!" Uncle Sahrul sedikit mengoreksi.


"Tapi ini hanya sebuah permintaan--"


"Yang harus dipenuhi oleh Timmy." Lagi-lagi Aunty Jihan menyela kalimat sang suami.


"Permintaan apa, Pak Sahrul?" Tanya Papa Will cepat.


"Yvone menginginkan pernikahannya digelar dengan megah dan mewah. Jadi kami harap Timmy akan bisa mewujudkannya..."


"Ya meskipun kami juga tahu kalau Timmy hanyalah...."


"Timmy akan bisa mewujudkannya, Aunty!" Sela Yvone cepat seraya menatap ke arah Timmy yang kini juga sedang menatapnya dengan tatapan tak percaya.


Di awal kesepakatan memang Timmy dan Yvone sudah sama-sama sepakat untuk menikah secara sederhana saja, karena toh ini hanya pernikahan sementara. Jadi pasti sekarang Timmy merasa terkejut karena pernyataan Aunty Jihan tadi yang menuduh kalau ini adalah permintaan Yvone.


Padahal ini semua murni paksaan dari Aunty Jihan dan Uncle Sahrul.


Ya ampun! Kenapa harus serumit ini?


Papa Will terlihat mengangguk-angguk dengan penjelasan Uncle Sahrul.


"Jadi bagaimana, Pak Will? Apa Timmy mampu mewujudkan impian Yvone tersebut?" Tanya Aunty Jihan kemudian ddngan nada meremehkan.


"Tentu saja bisa, Bu Jihan!" Jawab Papa Will dengan nada begitu yakin.


"Kami yang akan mengurus semuanya nanti sesuai kemauan Yvone," imbuh Papa Will lagi.


"Pa--" Timmy hendak protess namun Papa Will segera meminta sang putra untuk diam saja. Timmy akhirnya menatap lagi ke arah Yvone yang kini malah menundukkan wajahnya.


Timmy benar-benar butuh penjelasan dari gadis itu sekarang!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2