Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
KAGET


__ADS_3

"Lakukan saja semua yang terbaik, Dokter!" Ucap Yvone setelah ia mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi Timmy.


Timmy masih belum sadar hungga detik ini, dan dokter mengkhawatirkan luka di kepala belakang Timmy. Itulah mengapa, serangkaian test akan dilakukan pada Timmy untuk memastikan tak ada cedera serius di kepala bagian belakang.


Drrrrrtttt!


Yvone sudah keluar dari ruangan dokter, saat ponselnya terasa bergetar. Ada kontak Beth yang kini tertera di layar ponsel Yvone.


"Beth--"


"Yvone! Abang Timmy kenapa?"


"Aku juga tidak tahu!" Jawab Yvone sembari berjalan ke bagian administrasi. Yvone harus mengurus beberapa hal sebelum Timmy dipindah ke kamar perawatan.


"Aku hanya tak sengaja melihat Timmy yang sudah terkapar di trotoar jalan, jadi aku membawanya ke rumah sakit," beber Yvone lagi menceritakan pada Beth tentang kronologi bagaimana dirinya tadi menemukan Timmy.


"Lalu kondisi Abang Timmy sekarang bagaimana?"


"Sampai sekarang Timmy belum sadar. Bisakah kau atau orang tuamu datang kemari?" Jelas Yvone lagi seraya berharap Beth akan secepatnya datang ke kota ini.


"Abang Timmy dirawat dimana? Aku akan secepatnya kesana--"


"Posisiku dan Timmy sekarang di kota D, Beth!" Jawab Yvone cepat dan suara Beth langsung menyiratkan keterkejutan.


"Apa?"


"Maksudnya, sekarang Abang Timmy di kota D?"


"Iya! Apa Timmy tidak memberitahumu kalau dia pergi ke kota D?" Yvone balik bertanya pada Beth.


"Tidak!"


"Kemarin Abang Timmy tiba-tiba pergi dari kost dan aku pikir mungkin dia ke tempat temannya."


"Dia sama sekali tidak bilang akan ke kota D, Yvone!"


"Kalian punya saudara atau mungkin teman di kota D?" Cecar Yvone lagi pada Beth.


"Tidak ada!" Suara Beth terdengar sungguh-sungguh.


"Jadi aku harus ke kota D sekarang, ya?"


"Bagaimana ini?"


"Beth! Beth!" Yvone yang mebdebgar suara Beth sudah berubah panik segera berusaha mebenangkan adik Timmy tersebut.


"Beth, kau harus tenang dulu!"


"Entahlah, aku bingung, Yv!"

__ADS_1


"Aku pesankan tiket kesini, ya!" Tawar Yvone akhirnya.


Ya, meskipun Yvone juga khawatir dengan kondisi Timmy, namun sejak tadi Yvone bisa berpikir tenang. Mungkin berbeda dengan Beth yang notabene adalah adik sekaligus keluarga Timmy.


"Apa bisa?"


"Bisa! Nanti aku kirimkan tiketnya dan kau bisa langsung ke airport," ujar Yvone serenang mungkin agar Beth tidak semakin panik.


"Lalu Abang Timmy disana bagaimana? Kau dimana sekarang?"


"Aku di rumah sakit menemani Timmy sekarang. Dan aku akan tetap disini sampai--"


"Ya ampun!" Yvone menepuk keningnya sendiri karena baru ingat kalau ia ada pertemuan penting pukul sepuluh pagi ini.


"Yv, ada apa?"


"Aku harus bertemu seseorang dulu nanti pukul sepuluh. Tapi aku akan minta perawat menjaga Timmy. Kau tak perlu khawatir oke!"


"Iya!"


"Aku juga akan secepatnya kesana..."


"Nanti aku kirimkan tiketmu. Kau pergi bersama siapa?" Tanya Yvone lagi.


"Pesankan satu tiket saja, Yv!"


"Orang tuamu bagaimana? Kau tidak memberitahu mereka?" Tanya Yvone seraya mengernyit.


"Baiklah, terserah!" Yvone akhirnya tak mau ikut campur lagi karena ia juga sedang buru-buru.


"Aku tutup dulu teleponnya, Beth! Aku harus siap-siap!" ait Yvone kemudian yang hanya diiyakan oleh Beth. Yvone kalu menutup telepon dan segera menemui perawat untuk menitipkan Timmy selagi ia pergi.


****


"Ayolah, Kath!" Pinta Marv sekali lagi yang kini sedang berada di kantor Kath. Marv sedang membujuk Kath agar mau menemaninya bertemu seorang klien dari luar kota.


"Aku sibuk dan banyak pekerjaan, Marv!"


"Biasanya kau juga pergi sendiri,'" tukas Kath tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop. Marv sontak berdecak dengan jawaban Kath.


"Tapi aku ingin sedikit berbeda hari ini, Kath!"


"Abaikan dulu pekerjaanmu dan ayo ikut aku!" Marv tidak sudah menutup laptop Kath yang tentu saja langsung membua wanita itu mencak-mencak.


"Marv!"


"Ayo temani aku dulu, Kath!" Rayu Marv yang langsung membuat Kath berdecak.


"Satu kali ini saja, ya!"

__ADS_1


"Please!" Mohon Marv lagi yang akhirnya berhasil menbuat Kath bangkit dari duduknya.


"Kau benar-benar menyebalkan!" Gerutu Kath seraya meraih tasnya, lalu menyampirkan benda itu di lengannya. Kath langsung keluar mendahuli Marv yang kini tersenyum penuh kemenangan.


****


Yvone baru selesai mengirimkan tiket yang berhasil ia pesankan untuk Beth, saat seorang pria menghampirinya.


"Apa kau perwakilan dari hotel Ossa?" Tanya pria tersebut yang langsung membuat Kath mengangguk, lalu berdiri dengan cepat untuk menjabat tangan pria tadi.


"Aku Marvellio."


"Yvone," balas Yvone seraya menyebutkan namanya.


"Aku pikir yang akan menemuiku adalah putra dari Tuan Linardi."


"Re---" Marv tampak mengingat-ingat.


"Reandra! Kebetulan dia sedang berhalangan. Jadi aku menggantikannya," ujar Yvone menjelaskan pada Marvel, meskipun dalam hati Yvone juga sedikit muak karena harus berbohong mengenai Reandra yang tak bisa datang.


Menyebalkan memang!


"Begitu, ya!"


"Kau adiknya Reandra?" Tanya Marvel selanjutnya seraya membuka map yang tadi ia bawa.


"Bukan, aku sepupu sekaligus wakil Reandra di kantor," jelas Yvone yang langsung membuat Marvel mengangguk paham.


Yvone dan Marvel lalu segera memulai pembicaraan serius mereka, saat tiba-tiba ponsel Yvone berdering.


"Maaf, Yvone! aku angkat telepon sebentar," izin Marvel yang langsung diiyakan oleh Yvone.


Marvel lalu agak menjauh dari Yvone sebelum lanjut bicara di telepon.


"Halo, Kath! Kau dimana?" tanya Marvel karena tadi Kath memang pamit pergi ke kamar mandi namun tunangan Marvel itu malah tak kunjung kembali.


"Aku mendadak di telepon Dad karena ada hal urgent di kantor, Marv! Aku harus ke kantor sekarang!"


"Sekarang? Aku belum selesai--"


"Aku akan naik taksi. Bye!"


Telepon sudah terputus, dan Marvel hanya bisa mendengus kecewa.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2