
"Nomor yang anda tuju, tidak dapat dihubungi--"
"Brengsek!"
Umpat Timmy saat ia berusaha menghubungi nomor Kath, namun gagal! Sepertinya Kath benar-benar memblokir nomor Timmy!
Timmy lalu menyugar rambutnya sendiru, saat tiba-tiba ia mendengar suara kunci yang diputar di pintu depan, mirip dengan suara seseorang yang hendak membuka pintu.
Siapa itu yang datang?
Apa jangan-jangan Kath?
Bukankah biasanya yang kerap menyusup ke dalam kost-an Timmy adalah Kath?
Mungkin saja wanita itu hendak memberikan kejutan untuk Timmy pagi ini!
Timmy bergegas bangkit dari atas ranjang, lalu pria itu berdiri menempel di dinding kamar, dan bersiap memberikan kejutan untuk Kath!
Timmy sedikit mengintip ke pintu depan yang akhirnya terbuka. Seseorang yang perawakannya mirip seorang gadis langsung masuk ke dalam dan menutup pintu lagi.
"Kath--"
"Tim,"
Timmy lumayan terkejut saat mendapati siapa yang kini berdiri di belakang pintu apartemennya. Itu bukanlah Kath, melainkan adalah Yvone!
Ada urusan apa wanita itu datang lagi ke kost-an Timmy? Mau sok-sokan memberikan perhatian bagi Timmy?
"Kau sudah bangun, Tim? Tadi Beth meneleponmu berulang kali tapi tak kau angkat," ujar Yvone yang langsung membuat Timmy mengambil ponselnya, kalu memeriksa riwayat panggilan. Memang ada beberapa panggilan tak terjawab dari Beth.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Timmy kemudian sedikit ketus pada Yvone.
"Beth dan mama kamu akan datang sebentar lagi, jadi Beth memeriku mandat untuk menyembunyikan lebam.di wajahmu," tukas Yvone seraya mengendikkan dagu ke arah wajah Timmy yang masih tampak lebam di beberapa bagian.
"Kecuali kau mau dicecar oleh mama kamu perihal lebamnya wajahmu, ya berarti aku tak perlu melakukan tugasku," ujar Yvone lagi.
Timmy sontak berdecak, lalu mengambil kaca kecil untuk melihat wajahnya sendiri.
Benat saja! Lebam-lebam di atas bibir serta di tulang pipi Timmy masih nampak jelas.
"Kau akan menutupinya dengan apa?" Tanya Timmy kemudian pada Yvone.
"Concealer," jawab Yvone seraya mengeluarkan pouch perlengkapan make up dari tasnya.
"Apa aman? Bagaimana kalau wajahku malah iritasi?" Tanya Timmy merasa ragu.
"Aman, kok! Kita akan mengoleskannyq tipis-tpis saja," tukas Yvone menenangkan Timmy yang masih nampak ragu.
"Baiklah kalau begitu! Lakukan saja!" Ucap Timmy yang akhirnya memberikan Yvone izin untuk menutupi lebam-lebam di wajahnya.
Yvone segera meminta Timmy untuk duduk, sebelum kemudian gadis itu mengambil air hangat untuk membersihkan wajah Timmy terlebih dahulu.
"Kau sudah mengoleskan salep yang kemarin diberikan dokter?" Tanya Yvone memecah kebisuan di antara dirinya dan Timmy.
"Sudah tadi malam!" Jawab Timmy dengan suara pelan.
"Pagi ini?" Tanya Yvone lagi.
"Aku baru saja bangun, xan kau juga hendak meriasku!" Tukas Timmy yang langsung membuat Yvone meringis.
"Kau benar! Nanti saja kau oleskan setelah mama kamu pergi," ujar Yvone akhirnya memberikan ide dan masukan yang sama sekali tak ditanggapi oleh Timmy.
Baiklah, sudah biasa!
Yvone sudah selesai menyeka wajah Timmy memakai air hangat. Gadus itu lanjut mengeringkan wajah Timmy, dan mengusap lekuk demi lekuknya, meskipun terhalang oleh washlap. Tapi Yvone seolah tak mau berhenti menatap ke dalam wajah Timmy yang begitu.....
Menawan!
"Yv! Kau mau menyeka wajahku berapa lama?" Tanya Timmy yang langsung membuat lamunan Yvone menjadi buyar.
Astaga!
Yvone buru-buru menarik tangannya dari wajah Timmy, lalu gadis itu sedikit salah tingkah.
__ADS_1
"Maaf!" Ucap Yvone cepat seraya menganggukkan kepalanya pada Timmy.
"Tadi aku hanya memastikan kalau wajahmu sudah kering sempurna," ujar Yvone lagi memaparkan alasannya yang memegang wajah Timmy lumayan lama tadi.
"Ya!"
"Apa bisa kau mulai sekarang?" Ujar Timmy lagi yang langsung membuat Yvone bergegas mengambil pouch kosmetiknya, lalu menghampiri Timmy lagi. Yvone lalu mulai memoles tipis-tpis wajah Timmy dengan concealer, menutupi setiap memar yang ada di wajah Timmy, hingga akhirnya....
"Sudah jadi!" Lapor Yvone yang sudah selesai menutupi lebam di wajah Timmy.
Disaat bersamaan, terdengar suara ketukan dari pintu depan.
"Itu mungkin adalah Beth dan mama kamu," ujar Yvone menerka-nerka.
Timmy tak berucap apapun, dan Yvone juga yang akhirnya turun tangan untuk membuka pintu depan kost-an Timmy.
"Yvone!" Sapa Mama Tere yang sudah berdiri di depan kost-an Timmy. Rupamya yang tadi mengetuk pintu adalah mama kandung Timmy ini.
"Pagi, Aunty!" Sapa Yvone sedikit salah tingkah.
Huh! Mama Tere mungkin akan berpikir macam-macam setelah uni karena Yvone yang sydah berada di kost-an pria pagi-pagi begini!
"Pagi, Yv!"
"Sedang ada keperluan bersama Timmy, ya?" Terka Mama Tere lagi yang mau tidak mau terpaksa membuat Yvone mengangguk.
"Iya, Aunty!"
"Tapi sudah selesai dan Yv mau pulang, Aunty!" tukas Yvone lagi yang sudah meraih tangan .ama Tere, lalu menciumnya dengan takzim.
Disaat itulah, Beth sudah ikut menghampiri Yvone dan juga Mama Tere.
Entah apa yang membuat gadis itu lambat dan tadi tak segera masuk. Sepertinya Beth dan Mama Tere tadi diantar oleh seseorang bermobil sedan hitam.
Siapakah gerangan? Pacar baru Beth?
"Tidak sarapan dulu, Yv?" Tanya Mama Tere menyentak lamuna Yvone.
"Tidak usah, Aunty! Yvone langsung pulang saja," tolak Yvone halus.
"Iya!"
"Sudah tak terlihat, kan?" Yvone ganti berbisik-bisik pada Beth karena ia khawatir kalau polesanya pada wakah Timmy tadi terlihat jelas dan kurang sempurna menutup lebam di wajah abang Beth tersebut.
"Iya! Good job!" Puji Beth seraya mengacungkn ibu jarinya ke arah Yvone.
Yvone hanya mengulas senyum, sebelum kemudian gadis itu menghampiri Mama Tere lagi.
"Aunty, Yvone pulang dulu!Selamat pagi!" Pamit Yvone sekali lagi seraya mencium punggung tangan Mama Tere dengan takzim. Gadis itu kemudian segera menuju ke mobilnya yang terparkir di depan kost-an Timmy.
****
"Jadi, kau dan Yvone pacaran, Tim?" Tanya Mama Tere sembari menatap penuh selidik pada sang putra.
"Enggak, Ma!" Sanggah Timmy cepat.
"Tidak pacaran tapi pagi-pagi sudah disamperi!" Celetuk Beth yang baru datang entah darimana. Timmy sontak mendengus dengan celetukan sang adik.
Timmy lalu mendaratkan bokongnya di sofa, sembari menunggu Mama Tere selesai membongkar makanan yang tadi ia bawa.
"Ini makanan darimana?" Tanya Mama Tere dari arah dapur, yang buru-buru membuat Timmy menoleh ke arah mama Tere.
"Yvone yang bawa, Ma!" jawab Timmy seraya bangkit dari duduknya, lalu membantu Beth menggelar karpet di ruang depan untuk mereka bertiga duduk.
"Masih bilang tak pacaran?" Mama Tere sontak tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.
"Kan Beth sudah bilang, Ma!"
"Lagipula, Abang Timmy dan Yvone serasi, kan?" Tukas Beth lagi meminta pendapat Mama Tere.
"Serasi!" Jawab Mama Tere cepat.
"Apanya yang serasi? Timmy dan Yvone tak pacaran, Ma!" Ujar Timmy sekali lagi tetap bersikeras.
__ADS_1
"Belum saja!" Seloroh Beth sok tahu.
"Semoga segera jadian," Celetuk Beth lagi yang langsung berhadiah delikan dari Timmy.
"Bilang aamiin, Bang! Memangnya Abang Timmy nggak pengen cepat-cepat nikah, trus ngasih Mama cucu," seloroh Beth lagi.
"Kamu duluan saja! Sama yang tadi nganterin kamu dan Mama!" Ujar Timmy kemudian.
"Siapa, Ma?" Tanya Timmy pada Mama Tere yang masih sibuk memindahkan makanan yang tadi dibawa Yvone ke dalam piring.
"Fairel!" Jawab Mama Tere.
"Nah, itu! Sepertinya cocok!" Seloroh Timmy lagi seraya terkekeh. Timmy memang paling suka menggoda adiknya ini!
"Dih cocok apanya? Tiap ketemu saja selalu ribut," ungkap Beth yang kini bibirnya tampak merengut.
"Mama sejak tadi sebenarnya mau tanya ke kamu, Beth!" Ujar Mama Tere yang sudah ikut duduk di atas karpet.
"Tanya apa, Ma?"
"Iya itu. Hubungan kamu dan Fairel itu sebenarnya sudah sejauh mana?"
"Hubungan apa, sih, Ma?" Sergah Beth yang kembali merengut.
"Kami itu tak ada hubungan apa-apa! Kecuali hubungan penjual dan pembeli."
"Beth jualan rollcake, Iel yang beli rollcake-nya," jelas Beth panjang lebar.
"Tapi Fairel beberapa kali mencarimu saat kamu pamit liburan kemarin."
"Bahkan, Fairel sempat sampai menggedor pintu toko waktu itu," cerita Mama Tere yang langsung membuat Beth ternganga dan Timmy yang sejak tadi menyimak pembicaraan dua wamita itu refleks mengul*m senyum.
"Serius, Ma?" Tanya Beth yang terlihat antara kaget dan tak percaya.
"Iya! Papa kamu juga melihat," cerita Mama Tere lagi.
"Trus nggak mama tegur? Atau mama minta ganti rugi seperti pas dia banting-banting pintu kaca di toko--" Beth tiba-tiba sudah membungkam mulutnya memakai telapak tangan.
"Banting-banting pintu kaca di toko?" Timmy dan Mama Tere kompak melemparkan tatapan penuh selidik pada Beth yang masih membungkam mulutnya sendiri.
"Jadi waktu itu yang membuat pintu toko lepas itu Fairel?" Tanya Timmy yang baru ingat dengan kejadian tempo hari saat ia ke toko dan pintu toko yang terbuat dari kaca itu terlepas.
Waktu itu Beth memang mengatakan kalau ada pria frustasi yang membanting pintu dan membuatnya terlepas. Tapi Timmy benar-benar tak menyangka jika pria itu adalah Fairel.
"Dia sudah ganti rugi semua biaya perbaikannya, Bang!" Ujar Beth akhirnya membuat pengakuan.
"Kenapa Fairel membanting pintu toko sampai lepas? Apa ada masalah?" Gantian Mama Tere yang mencecar Beth, dan Timmy kembali menyimak..
"Tidak ada, Ma! Iel hanya sedang PMS saja," jawab Beth asal, seraya tangannya mencomot satu kue pastel dari atas piring.
"Mana ada pria PMS, Beth! Ngacau kamu!" Decak Timmy mengacak rambut Beth yang sontak langsung membuat sang empunya merengut.
Ponsel Beth kemudian terdengar berdering, namun adik Timmy itu tak kunjung menagngkatnya, dan malah mendiamkan ponselnya sejenak, sebelum kemudian lanjut mematikan panggilan yang masuk.
"Kenapa tak diangkat?" Tanya Mama Tere persis seperti yang naru mau Timmy tanyakan.
"Malas, Ma!" Beth mencomot satu pastel lagi dan ponselnya berdering lagi.
"Coba lihat!" Timmy akhirnya iseng merebut ponsel sang adik untuk melihat siapa yang menelepon.
Ada nama Fairel di layar ponsel!
"Abang!" Geram Beth yang berusaha mengambil kembali ponselnya, namun Timmy berhasil menghindar.
"Oh! Fairel!" Ucap Timmy kemudian sedikit berseru, seolah sedang memberitahu Mama Tere kalau yang bolak-balik menelepon Beth adalah Fairel.
"Tinggal angkat saja apa susahnya!" Ujar Timmy lagi yang jarinya sudah dengan cepat menggeser tombol hijau. Pria otu lalu mengembalikan ponsel Beth, dengan Fairel yang sudah tersambung di ujung telepon.
"Abang!" Geram Beth pada Timmy yang.malah terkekeh tanpa dosa.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.