
"Aku melakukannya hanya untuk balas budi," gumam Timmy seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. Pria itu kemudian memandangi bayangan wajahnya di cermin.
"Hanya dua tahun dan tak akan terjadi apa-apa!"
"Yvone akan bertemu pria yang baik yang memang mencintainya, lalu aku....."
"Aku akan mendapatkan Kath lagi--" suara Timmy mendadak tercekat, saat pria itu merasakan sensasi mual yang aneh di perutnya. Timmy yang tadi sudah bersiap pergi, akhirnya berlari ke toilet karena ia merasakan ada sesuatu yang mengaduk-aduk perutnya.
"Aku kenapa?" Gumam Timmy penuh tanya, saat ternyata perasaan ingin muntah tadi hanya sebuah ilusi. Tak ada apa-apa yang keluar, saat Timmy mencoba untuk muntah. Namun perut Timmy masih terasa diaduk-aduk sekarang.
Timmy mencoba untuk muntah lagi, namun tetap tak ada apapun yang keluar.
Ck! Menyebalkan!
Timmy akhirnya memutuskan untuk keluar saja dari toilet dan lanjut pergi ke toko Beth. Timmy akan mengabaikan saja rasa mual tak jelas di perutnya ini!
****
"Timmy?" Panggil Kath ragu pada pria yang berdiri membelakanginya. Pria itu tampak mengenakan kemeja putih dan kini sdang melemoar pandangannya ke arah ombak yang bergulung-gulung yang berada di depan matanya.
"Apa kabar, Kath!" Tanya pria itu kemudian seraya menoleh ke arah Kath. Sesuai tebakan Kath di awal kalau pria itu memang adalah Timmy.
"Kau sedang apa disini?" Tanya Kath seraya beringsut mundur.
"Menemuimu. Apa kau tak rindu padaku?" Tanya Timmy yang mendadak sudah menyodorkan setangkai bunga lily warna putih pada Kath.
"Tapi aku sudah menikah...." Suara Kath tercekat di tenggorokan.
"Aku rasa itu bukan sebuah masalah!" Ujar Timmy yang tiba-tiba sydah memangkas jarak diantara dirinya dan Kath. Timmy lalu mengusapkan bunga lily di tangannya tadi ke perut Kath yang bentuknya sedikit berbeda.
Kath mengerjap beberapa kali, lalu tangannya mengusap perutnya sendiri yang entah mengapa kini terlihat sedikit lebih besar dari biasanya.
"Fuuuuh!" Timmy yang tiba-tiba sudah betlutut di hadapan Kath, mendadak meniup perut Kath, sebelum kemudian pria itu tersenyum pada Kath.
"Kau merasakannya, bukan?" Ucap Timmy kemudian yang tentu saja langsung membuat Kath mengernyit bingung.
"Merasakan apa?"
"Jika sekarang belum, berarti nanti," ucap Timmy lagi yang benar-benar membuat Kath bingung.
"Apa yang nanti? Apa yang kau bicarakan, Tim?"
"Merasakan apa? Aku tak merasakan apa-apa!" Kath terus mencecar Timmy dengan berbagai pertanyaan, saat perlahan tubuh pria itu mulai pergi dan memudar.
Dan disaat bersamaan, Kath tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa di perutnya bagian bawah.
"Arrrrggghhhh!" Kath langsung mengerang sembari memegangi perutnya bagian bawah. Wanita itu juga mulai menggeliat dan matanya yang perlahan terbuka, langsung menampakkan pemandangan di dalam kamar hotel temoat Kath dan Marv bermalam.
Ya, saat ini Kath dan Marv memang tengah melakukan honeymoon setelah pernikahan nereka yang digelar dengan begitu meriah pekan lalu.
"Aaarrrggghhh! Sakit sekali!" Kath kembali mengerang dan kali ini semakin keras, hingga akhirnya Marv yang sejak tadi terlelap di sebelahnya langsung terbangun.
"Kath, ada apa?" Tanya Marv yang langsung panik begitu mendapati Kath yang wajahnya sudah merah padam karrna menahan sakit.
"Perut aku sakit sekali, Marv!"
"Tolong--" Suara Kath tercekat di tenggorokan karrna wanita itu yang kini sudab meringis menahan rasa sakit.
"Marv!"
"Sakit--"
Marv akhirnya tak menunggu lagi dan pria otu bergehas memakai baju, lalu memakaikan baju pada Kath juga.
__ADS_1
"Sakit sekali!" Erang Kath lagi saat Marv sedang bergerak untuk menggendongnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
****
Timmy menatap pada rumah bak istana yang kini ada di depan matanya. Kata Yvone ini adalah rumah Uncle-nya yang kurang pengertian dan terlalu mengekang Yvone tersebut.
Sepertinya Yvone salah memilih pria untuk ia bawa pulang dan ia kenalkan pada Uncle-nya. Besar kemungkinan, Timmy akan langsung ditendang keluar nanti saat ia mengatakan kalau ia akan menikahi Yvone.
Semoga saja!
"Ayo turun!" Ajakan Yvone langsung membuyarkan lamunan Timmy.
Timmy kemudian melepaskan sabuk pengaman dan pria itu segeraturun mengikuti Yvone yang sudah turun terlebih dahulu.
Ya, tadi Timmy memang menumpang mobil Yvone saat datang kemari, karena Yvone-lah yang memaksa. Dan berhubung ini adalah mobil Yvone ditambah Timmy yang juga belum tahu alamat rumah Uncle-nya Yvone, jadilah Yvone juga yang duduk di belakang kemudi.
"Uncle-mu di rumah?" Tanya Timmy sedikit berbasa-basi pada Yvone.
"Ya! Tadi aku juga sudah memberitahu kalau aku akan membawa teman ke rumah," tutur Yvone yang langsung membuat Timmy mengangguk. Yvone dan Timmy lalu langsung masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
"Yvone! Akhirnya kau pulang!" Sambut Uncle James saat Yvone dan Timmy baru samlai di pintu depan. Yvone tentu saja langsung beringsut mu dur saat melihat adik dari Aunty Jihan tersebut. Masih lekat di ingatan Yvone kejadian pagi tadi saat pria tua bangka sialan ini nyaris merenggut kehormatan Yvone.
"Kau bersama siapa itu?" Tanya Uncle James selanjutnya.
"Teman--"
"Pacarnya Yvone, Uncle!" Sergah Timmy mengoreksi seraya oria itu merengkuh kedua pundak Yvone dari belakang. Terang saja hal tersebut sukses membuat Yvone berjenggit dan sedikit kaget.
"Pacar?" Uncle James tampak terkejut.
"Siapa yang datang, James?" Terdengar suara Aunth Jihan yang kini ikut-ikutan menghampiri Yvone dan Timmy.
" Oh."
"Kenapa hanya berdiri disitu, Yv! Ajak pacaramu masuk ke dalam!" Titah Aunty Jihan kemudian.
" Iya, Aunty!" Jawab Yvone yang segera mengajak Timmy untuk masuk me ruang tamu.
"Papi!" Aunty Jihan sudah memanggil Uncle Sahrul yang entah dimana.
"Papi! Ada Yvone dan pacarnya." Aunty Jihan kemudian melirik sedikit sinis ke arah Timmy yang kini duduk bersebelahan dengan Yvone.
Tak berselang lama, Uncle Sahrul akhirnya keluar untuk menemui Yvone dan juga Timmy.
"Malam, Uncle!" Sapa Timmy seraya mengangguk sopan.
"Malam!"
"Kau?" Uncle Sahrul mengernyit ke arah Timmy.
"Namanya Timothy, Uncle! Dan dia pacarnya Yvone," ujar Yvone cepat menjelaskan pada sang paman.
"Pacar, ya?"
"Sudah berapa lama pacaran dan kenapa kau tak pernah mengenalkannya pada Uncle, Yv?" Cecar Uncle Sahrul kemudian.
"Benar sekali! Wajahnya juga terlihat asing dan sepertinya bukan seorang pengusaha," timpal Aunty Jihan tetap dengan nada merendahkan dan meremehkan.
"Kami sudah berpacaran selama--"
"Dua tahun, Uncle!" Ujar Timmy cepat menyambung jawaban Yvone yang tampak ragu-ragu.
__ADS_1
"Dua tahun? Kenapa kau tak pernah cerita atau mengenalkannya pada Uncle, Yv?" Tanya Uncle Sahrul lagi yang raut wajahnya terlihat kecewa.
"Soal itu, Uncle..." Yvone menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan merasa bingung harus beralasan apa. Lagipula, kenapa Timmy harus menjawab dua tahun? Lama sekali!
"Sebelumnya kami memang menjalin hubungan LDR, Uncle! Baru kemarin saya kembali ke kota ini dan mengakhiri hubungan LDR kami berdua," Timmy yang akhirnya menjawab sekaligus menjelaskan pada Uncle Sahrul.
"LDR? Kau di kuar kota atau luar negara sebelumnya, Tim?" Tabya Uncle Sahrul lagi.
"Luar kota, Uncle!" Jawab Timmy cepat tanpa rasa grogi sedikitpun.
"Bekerja? Sebagai apa dan di perusahaan mana?" Gantian Aunty Jihan yang bertanya.
"Bukan perusahaan, Aunty! Tapi sebuah hotel." Timmy menatap ke arah Yvone yang rupanya juga tengah memperhatikan dirinya. Namun kemudian Yvone langsung menundukkan wajahnya dengan cepat, saat tatapannya dan tatapan Timmy tak sengaja bertemu.
"Sebuah hotel? Kau menjabat General Manager juga?" Tebak Aunty Jihan kemudian yang sudah sangat antusias.
"Staff housekeeping lebih tepatnya, Aunty!" Ujar Timmy cepat yang langsung membuat senyuman antusias di bibir aunty Jihan pudar seketika. Wanita paruh baya tersebut lalu kembali menatap sinis dan remeh pada Timmy.
"Jadi awal pertemuan kami berdua adalah saat Yvone sedang ada urusan bisnis, lalu menginap di hotel tempat saya bekerja, Uncle," cerita Timmy lagi mengarang indah. Namun sukses membuat Uncle Sahrul tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Sangat tidak sepadan denganmu, Yv! Kau itu gadis berkekas dan sangat tidak pantas memiliki pacar seorang housekeeping!"
"Kau sangat-sangat bisa mendapatkan pria yang lebih kaya dan berkelas," komentar Aunty Jihan panjang lebar yang sama sekali tak Yvone gubris.
"Benar!"
"Uncle bisa membantu mencarikan pria kaya untik teman kencanmu, Yv! Uncle punya banyak kenalan!" Timpal Uncle James ikut-ikutan berkomentar.
"Tidak perlu repot-repot, Uncle!" Sahut Yvone ketus.
"Yvone punya hak penuh untuk menentukan lelaki pilihannya, Mi!" Sergah Uncle Sahrul bijak yang tentu saja langsung membuat Aunty Jihan menggerutu.
"Ngomong-ngomong, apa ada hal penting yang ingin kau sampaikan, Tim?" Tanya Uncle Sahrul kemudian seolah sedang memverikan kode pada Timmy.
"Ya!" Jawab Timmy cepat.
"Saya datang kemari untuk minta izin pada Uncle, karena saya ingin menjalin hubungan yang serius dengan Yvone dan kami juga berencana menikah dalam waktu dekat."
"Saya sore ini ingin melamar Yvone, Uncle!" Ujar Timmy kemudian dengan nada bicara yang terdengar mantap tanpa keraguan sedikitpun. Seolah ini bukanlah sandiwara!
"Kau membawa apa memangnya? Melamar tapi datang seirang duri tanoa keluarga tanpa apapun!" Cibir Aunty Jihan lagi.
"Mi!" Uncle Sahrul langsung menegur sang istri.
"Mami hanya berpendapat, Pi! Jika memang pria ini serius ingin mekanar Yvone, seharusnya dia membawa kedua orang tuanya kemari!"
"Yvone juga kan keponakan kesayangan Papi! Memangnya Papi mau menyerahkan Yvone begitu saja pada laki-laki yang tak jelas asal-usulnya?" Cerocos Aunty Jihan panjang lebar yang langsung membiat Yvone menelan ludah dengan susah payah. Yvone juga melirik ke arah Timmy yang raut wajahnya masih tampak tenang.
"Maaf, tapi asal-usul saya jelas, Aunty! Saya punya orang tua yang masih lengkap--"
"Uncle ingin bertemu orang tuamu kalau begitu, Timmy! Apa besok mereka bjsa datang kemari untuk melamar Yvone secara resmi?" Ujar Uncle Sahrul kemudian mengajukan syarat yang benar-benar di luar dugaan Timmy.
"Besok, Uncle?"
"Ya! Besok malam!" Jawab Uncle Sahrul tegas yang langsung membuat Yvone dan Timmy saling bertukar pandang.
Bagaimana ini?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.