
"Yvone tadi sudah pulang?"
"Aku tidak tahu kenapa gadis itu ada dimana-mana dan seperti sedang membuntutiku."
Yvone menutup pintu kamar hotelnya, saat pertanyaan Timmy pada Beth tadi terus saja terngiang di kepalanya.
"Bukan keinginanku juga untuk selalu berada di tempat yang sama saat kau mendapat masalah!" Gumam Yvone kemudian seolah sedang menanggapi kalimat Timmy tadi.
"Seharusnya aku tak terbang ke kota ini dan tak perlu menggantikan Reandra, jadi aku juga tak akan menemukanmu tergeletak di taman kota dalam posisi kedinginan...."
"Meringkuk..."
"Babak belur! Bersimbah darah..." Yvone terus bermonolog sendiri seolah sedang meratapi kebetulan yang terjadi di setiap perjumpaannya dengan Timmy.
Kebetulan saat Yvone sedang melintas di jalan dan terkebak kemacetan, ternyata Timmy dan motornya mengalami kecelakaan.
Lalu kebetulan saat Yvone terbang ke kota ini untuk menggantikan Reandra, ban taksi yang Yvone tumpangi tiba-tiba meledak. Yvone terpaksa turun di taman kota, dan membuatnya tak sengaja menemukan Timmy yang sedang terkapar tak sadarkan diri dengan tubuh babak belur.
Semuanya hanya sebuah kebetulan!
Lalu kenapa Timmy malah menyalahkan dan menudih seolah Yvone sedang mencari perhatian atau diam-diam membuntutinya?
Kurang kerjaan sekali jika memang Yvone melakukan hal tersebut.
Lagipula, niat Yvone menolong Timmy, semata karena Timmy adalah abangnya Beth!
Yvone pernah berhutang budi pada Beth, jadi apa salahnya jika Yvone membalas semuanya dengan balik menolong Beth maupun keluarga Beth yang sedang mengalami masalah?
"Mungkin lain kali, aku tak perlu membantu Timmy saat dia tertimpa masalah!"
"Terserah saja!" Dengkus Yvone akhirnya sebelum kemudian gadis itu berganti baju, lalu memutuskan untuk pergi tidur saja.
Meskipun Yvone tak yakin kalau ia akan bisa tidur malam ini!
Apa Yvone minum obat tidur saja?
****
Yvone berhenti sejenak dan menatap pada pintu kamar perawatan Timmy di hadapannya.
Ya, hari memang sudah berganti menjadi pagi. Dan Yvone yang tadinya ingin tak peduli saja pada Beth dan Timmy yang masih berada di dalam kamar perawatan, mendadak berubah pikiran.
"Aku hanya akan meletakkan sarapan di dalam kamar, lalu keluar lagi dan pergi."
"Semoga Beth maupun Timmy belum bangun." Yvone berucap pada dirinya sendiri, sebelum tangan gadis itu membuka pintu kamar perawatan Timmy perlahan agar tak menimbulkan suara.
Suasana di dalam kamar perawatan masih sepi, dan Yvone segera menyusup masuk. Beth terlihat tidur di sifa, sementara Timmy juga masih tidur di atas bed perawatan.
Baiklah!
Sebaiknya Yvone bergegas, sebelum Beth bangun dan menyadari kehadirannya....
"Yvone!" Panggilan Beth langsung membuat Yvone menghentikan langkahnya. Gadis itu lalu pura-pura membenarkan syal yang melingkar di lehernya, saat Beth yang ternyata sudah bangun memergoki kedatangannya.
"Aku hanya mengantar sarapan untuk kau dan Abangmu," ucap Yvone tanpa menoleh ke arah Beth.
Yvone bru saja akan melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar perawatan, saat tiba-tiba Beth malah sudah menghampirinya dan mencegat langkahnya.
"Kau masih ada urusan di kota ini? Sampai kapan?" Tanya Beth yang langsung membuat Yvone menatap ke arah gadis tersebut.
"Mungkin dua atau tiga hari lagi," jawab Yvone.
Beth lalu terlihat menarik nafas lega. Apa Beth takut kalau Yvone akan meninggalkannya berdua saja bersama Timmy di kota ini?
"Kau sudah menghubungi kedua orangtuamu?" Tanya Yvone kemudian dan Beth langsung menggeleng.
"Aku bilang ke Mama kalau aku sedang berlibur bersamamu. Jadi aku minta tolong dengan sangat, Yv!" Beth tiba-tiba sudah meraih kedua tangan Yvone dan raut wajah gadis itu terlihat memohon.
Yvone tak langsung menjawab dan ia masih memperhatikan raut wajah Beth.
"Yv..." Beth semakin memohon.
"Kau masih berhubungan dengan Reandra?" Tanya Yvone kemudian karena sudah beberapa hari ini, pertanyaan tersebut mengganjal di hati Yvone.
Bukan apa-apa!
Tapi Yvone tentu saja tak ingin Beth terjebak oleh kebrengsekan Reandra.
Yvone memang sudah memperingatkan Beth tempo hari. Namun pesan Yvone sama sekali tak digubris oleh Beth. Semoga saja hubungan Beth dan Reandra belum sejauh yang Yvone pikirkan.
Tidak!
__ADS_1
Beth gadis baik dan dia tak boleh jatuh ke pelukan Reandra brengsek dan baj*ngan itu!
"Sudah tidak! Aku sudah memblokir nomornya," jawaban serta gelengan kepala dari Beth langsung membuat Yvone bernafas lega.
"Aku baru membaca pesan yang kau kirimkan malam itu, saat kau meminta aku untuk tak pergi bersama Reandra," ucap Beth kemudian membuat pengakuan.
"Berarti kau pergi bersama Reandra malam itu?" Tebak Yvone yang tak jadi bernafas lega. Apalagi Beth yang malah diam dan tak langsung menjawab.
"Apa Reandra melakukan sesuatu padamu, Beth?" Tanya Yvone lagi yang kedua tangannya sudah merengkuh pundak Beth sekarang. Yvone benar-benar cemas dan takut kalau-kalau Reandra sudah berbuat sesuatu pada Beth!
Yvone akan ikut menanggung rasa bersalah kalau itu benar adanya karena secara tak langsung Yvone-lah yang memperkenalkan Beth pada Reandra.
"Beth, katakan padaku!" Desak Yvone yang masih merengkuh kedua pundak Beth.
"Reandra hampir melakukannya, tapi--"
"Timmy datang tepat waktu, kan?" Potong Yvone cepat menyambung cerita Beth.
Ya, malam itu Yvone juga mengirim pesan pada Timmy. Jadi pasti Timmy langsung menyelamatkan Beth dan tak mungkin Timmy membiarkan sang adik dalam bahaya!
"Abang Timmy?" Gumaman Beth langsung membuat Yvone ikut mengernyit bingung.
"Aku juga menghubungi Timmy malam itu dan meminta dia menasehatimu agar kau tak pergi bersama Reandra," ujar Yvone yang mulai merasa kalau terkaannnya barusan salah.
"Tapi malam itu bukan Abang Timmy yang datang menyelamatkanku," cerita Beth yang ganti membuat Yvone mengernyit.
"Lalu siapa?" Tanya Yvone penasaran.
"Iel," jawab Beth yang langsung membuat Yvone menahan tawa.
Rupanya ada pahlawan lain!
"Ada apa? Kenapa malah tertawa?" Rengut Beth yang ganti membuat Yvone terkekeh.
"Yvone!"
"Jadi Iel yang menyelamatkanmu dari Reandra malam itu?" Yvone akhirnya berhenti tertawa.
"Iya! Tapi Iel juga memarahiku habis-habisan," cerita Beth lagi yang kembali merengut.
"Memarahi bagaiamana?" Tanya Yvone tak paham.
"Ayo duduk saja!" Ajak Beth kemudian karena Yvone juga baru sadar kalau sedari tadi ia dan Beth masih sama-sama berdiri di dekat pintu kamar perawatan.
"Something apa maksudmu? Pria itu bahkan begitu menyebalkan dan juga galak!" Sergah Beth bersungut-sungut yang langsung membuat Yvone menahan tawa.
"Kan! Kamu tertawa lagi!" Beth kembali merengut.
"Jadi, Iel memarahimu karena apa?" Yvone mengulangi pertanyaannya yang pertama.
"Aku juga tidak tahu!" Jawab Beth sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Tapi memang Iel pernah menunjukkan beberapa foto Reandra yang sedang menggandeng wanita yang berbeda-beda padaku..."
"Tapi kau tidak percaya?" Tebak Yvone yang langsung membuat Beth merengut.
"Aku pikir Iel mengedit foto-foto itu," cicit Beth mencari alasan.
"Iel tak mungkin mengeditnya karena kenyataannya memang demikian, Beth! Reandra itu pria brengsek," ungkap Yvone yang langsung membuat Beth menatap tak percaya pada gadis di sebelahnya tersebut.
"Itulah makanya aku berulang kali menyuruhmu untuk menjauhi Reandra. Tapi kau keras kepala sekali," sambung Yvone lagi.
"Aku minta maaf karena tak mendengarkanmu, Yv!" Ucap Beth penuh sesal yang langsung membuat Yvone mengulas senyum, lalu memeluk sahabatnya tersebut.
"Yang penting sekarang kau sudah tahu kan?"
Beth langsung mengangguk-angguk.
"Tapi aku masih penasaran apa kau benar-benar sepupunya Reandra?" Tanya Beth kemudian yang sudah melepaskan pelukan Yvone.
"Ya! Aku sepupunya!" Jawab Yvone cepat.
"Papinya Reandra adalah kakak dari papa aku," sambung Yvone lagi menjelaskan.
"Dan sejak kedua orang tuaku bercerai, lalu papa meninggal, aku memang diajak tinggal di rumah Paman Sahrul karena Mama tak pernah peduli kepadaku," cerita Yvone lagi dengan raut wajah yang sudah berubah sedih.
Beth refleks meraup Yvone ke dalam pelukan.
"Aku sebenarnya juga kurang suka pada Reandra, Beth! Tapi aku menghormati Paman Sahrul yang secara tak langsung sudah menyelamatkan hidupku yang dulu tak tentu arah sejak kepergian Papa."
"Dan lagi, jabatan ku sebagai wakil Reandra di hotel..." Yvone menghela nafas frustasi.
__ADS_1
"Kau tidak berniat mencari pekerjaan lain?" Tanya Beth yang langsung membuat Yvone menggeleng.
"Paman tak akan mengizinkan dan lagi aku juga tak seperti dirimu yang pandai membuat kue," ujar Yvone sedikit berseloroh yang terang saja langsung membuat Beth terkekeh.
"Aku tak keberatan mengajarimu jika kau mau," tukas Beth kemudian yang langsung membuat Yvone menggeleng.
"Sebaiknya tak usah karena terakhir kali aku merebus air, aku nyaris membuat apartemenku terbakar," tutur Yvone membuat pengakuan tentang dirinya yang memang tak berbakat untuk memasak di dapur.
Entahlah!
Mungkin Yvone hanya perlu belajar dan diajari oleh seseorang yang sabar.
"Astaga, Yv!" Beth langsung geleng-geleng kepaka xengan pengakuan Yvone barusan.
Disaat bersamaan, ponsel Beth tiba-tiba berdering.
"Mama menelepon!" Gumam Beth seraya menunjukkam layar ponselnya pada Yvone.
"Angkat saja dan aku akan membantumu beralasan!" Yvone sudah mengeluarkan ponselnya untuk mengetik kalimat yang harus diucapkan Beth pada Mama Tere.
Ya, padahal tadi malam Yvone sudah mengatakan pada Beth kalau ia tak akan membantu Beth lagi. Tapi sekarang malah Yvone berubah pikiran.
Hhhh! Labil sekali!
"Halo, Ma!"
"Mau pulang jam berapa, Beth? Ucapanmu kemarin soal kau akan ke luar kota bersama Yvone hanya gurauan, kan?"
Yvone bisa mendengar dengan jelas suara Mama Tere, karena Beth menyalakan loudspeaker seperti tadi malam.
"Ti--tidak, Ma!"
"Maksudnya tidak?"
"Beth sudah di kota...."
Yvone segera mengetikkan kalimat yangbharus diucapkan oleh Beth di layar ponselnya.
"D sekarang!"
"Iya, Beth sekarang di kota D!" Beth mengulangi jawabannya.
"Di kota D?"
"Iya pekerjaan Yvone di kota ini, jadi Beth perginya kesini bersama Yvone, Ma!" Jawab Beth sambil tetap membaca skrip yang ditulis Yvone.
"Mama ingin bicara pada Yvone kalau begitu!"
Beth langsung memberikan ponselnya pada Yvone.
"Halo, Aunty! Selamat pagi!" Sapa Yvone ramah pada Mama Tere di ujung telepon.
"Pagi, Yv!"
"Kenapa harus dadakan mengajak Beth pergi ke luar kota?"
"Iya, Aunty! Maaf kalau terkesan dadakan karena kemarin saat Yvone bertemu Beth, dia terlihat sedih dan murung. Jadi Yvone tawarkan untuk ikut Yvone saja ke luar kota agar pikirannya bisa fresh, karena Yvone pikir mungkin Beth juga butuh jalan-jalan dan refreshing."
"Dan Beth juga langsung setuju, jadi Yvone pesankan tiket langsung dan kami berangkat kemarin sore," terang Yvone panjang lebar tanpa skrip, tanpa latihan.
Oh, Yvone sudah pandai mengarang indah sekarang!
"Ck! Lalu rencananya kau dan Beth akan di kota D berapa hari?"
"Rencananya lusa kami sudah pulang, Aunty!" Jawab Yvone cepat.
"Sekali lagi Yvone minta maaf karena sudah lancang mengajak Beth pergi dadakan, Aunty!" Ucap Yvone lagi dengan nada penuh sesal.
"Aunty maafkan kali ini, tapi lain kali kau harus minta izin dan jangan dadakan begini!"
"Iya, Aunty!" Jawab Yvone patuh.
"Berikan ponselnya pada Beth lagi, Yv! Aunty mau bicara."
"Baik, Aunty!" Yvone langsung mengembalikan ponsel Beth pada sang empunya dan gadis itu tak lagi menyimak obrolan Beth bersama Mama Tere. Yvone memilih untuk beranjak dan memeriksa Timmy yang masih lelap dalam tidurnya.
Hari ini hasil pemeriksaan Timmy akan keluar. Semoga hasilnya bagus dan Timmy bisa segera pulang.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.