
"Terima kasih, Dokter!" Ucap Yvone setelah dokter akhirnya mengizinkan dirinya untuk pulang.
Sejak tadi pagi, suhu badan Yvone memang sudah stabil. Yvone tentu saja langsung minta pada dokter untuk bisa pulang secepatnya. Toh setelah hasil tes darah kekuar, jumlah leukosit Yvone juga sudah tak setinggi kemarin. Yvone hanya perlu rutin minum obat setelah ini dan ia merasa tak perlu lagi mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Yvone tak mau baper berlarut-larut jika ia terus dirawat, lalu Timmy terus menjaganya dan memberikannya perhatian, namun itu semua hanya karrna perintah dari Beth!
Perintah dari Beth!
Timmy bahkan menikahi Yvone juga atas permintaan dan paksaan dari Beth.
Semuanya karena Beth!
Yvone menghela nafas, sebelum kemudian wanita itu turun dari atas bed perawatan. Yvone meraih tas yang Timmy letakkan di atas sofa. Wanita itu lalu mulai mengemasi barang-barangnya, agar nanti jika Timmy kembali semuanya sydah beres dan mereka hanya tinggal pulang. Namun nanti jika hingga sore Timmy masih tak kembali, Yvone akan pulang naik taksi saja.
Mungkin Yvone juga akan berpamitan dulu pada Beth sebelum pulang!
****
"Ini kamar perawatan Beth?" Tanya Mama Tere seraya membuka pintu di depannya. Kebetulan di dalam kamar hanya ada Beth dan mama mertua Beth Sementara Fairel tak terlihat batang hidungnya, dan entah pergi kemana suami Beth tersebut.
"Mama?" Bett tamoak terkejut melihat kedatangan Mama Tere, Papa Will, dan juga Timmy. Sementara Mama Tere malah langsung menghampiri bed perawatan Beth, lalu memeluk putri bungsunya tersebut.
"Kau baik-baik saja, kan? Tidak ada luka serius? Kandunganmu bagaimana?" Cecar Mama Tere ssmbari memindai kondisi Beth dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Beth baik-baik saja, Ma!" Jawab Beth sebelum kemudian adik Timmy itu melempar tatapan aneh atau cenderung kesal ke arah Timmy.
Ada apa memangnya? Timmy salah apa?
"Kandungan kamu? Kata Timmy kamu hamil?" Cecar Mama Tere lagi kali ini sembari memegang perut Beth.
"Kandungan Beth juga baik-baik saja, Bu Tere! Beth hanya perlu bedrest kata dokter." Bukan Beth, melainkan mama mertua Beth yang menjawab cecaran pertanyaan dari Mama Tere.
"Syukurlah kalau begitu! Seharusnya kau tidak ceroboh dan pecicilan lagi!" Mama Tere langsung mengomeli sekaligus menasehati Beth.
"Iya, Ma! Tadinya Beth kan juga tidak tahu kalau Beth sudah hamil," tukas Beth yang masih saja beralasan. Dan lagi-lagi, adik Timmy itu kembali melemparkan tatapan anehnya pada Timmy.
Maksudnya apa? Timmy benar-benar tak paham!
Timmy akhirnya hanya geleng-geleng kepala, lalu memilih untuk duduk di sudut ruangan. Sementara Beth, Mama Tere, dan Mama mertuanya Beth sudah mengobrol bertiga membicarakan beberapa hal.
"Tadi seingat papa, kau juga mengatakan kalau Yvone dirawat juga?" Tanya Papa Will yang sudah menghampiri Timmy. Tadinya pria paruh baya tersebut juga sudah menyapa, memeluk, serta menanyakan beberapa hal pada Beth.
__ADS_1
"Iya, Pa! Kamar Yvone di bawah," jelas Timmy seraya menyugar rambutnya.
"Yvone hamil juga?" Tanya Papa Will yang langsung membuat Timmy nyarus tersedak ludahnya sendiri. Kalau benar Yvone hamil, sudah dipastikan kalau itu bukanlah anak Timmy!
Timmy saja belum pernah menyentuh Yvone!
"Yvone tidak hamil--"
"Belum!" Papa Will mengoreksi dengan cepat kalimat Timmy.
"Memang apa bedanya?" Tanya Timmy pura-pura tak paham. Padahal sebenarnya Timmy juga paham artinya. Hanya saja, Timmy sengaja memakai kata tidak dan bukan belum, karena Timmy juga berharap kalau Yvone tak akan pernah hamil anak Timmy.
Ya, sebaiknya memang begitu agar ke depannya perpisahan Timmy dan Yvone tidak rumit! Itu juga alasan Timmy tam menyentuh Yvone! Timmy tak ingin pernikahan sementaranya bersama Yvone menjadi rumit.
"Ck! Belum artinya kan belum untuk saat ini, tapi harapannya satu hari nanti, Yvone akan menyusul hamil seperti Beth."
"Kalau tidak berarti kan tidak sama sekali, baik hari ini maupun ke depannya," jelas Papa Will panjang lebar yang hanya membuat Timmy mengangguk dan seolah paham.
"Jadi mulai sekarang, gunakan kata belum!" Nasehat Papa Will kemudian.
"Iya, Pa!" Jawab Timmy patuh.
Timmy baru saja mendekat ke arah Beth, saat adiknya tersebut sudah langsung memutar bola mata malas.
"Ada apa?" Timmy sedikit berbisik pada Beth.
"Abang mengacaukan semuanya!" Dengkus Beth yang balik berbisik pada Timmy.
"Maksudnya?" Timmy langsung mengernyit bingung.
"Beth tadinya mau menbuat kejutan pada Mama dan Papa mengenai kehamilan ini! Toh besok Beth juga sudah bisa pulang. Tapi malah Abang mengatakannya duluan!" Decak Beth yang langsung membuat Timmy mengul*m senyum.
"Gagal deh rencana Beth!" Dengkus Beth lagi.
"Abang benar-benar tak tahu, Beth! Abang minta maaf, ya!" Timmy langsung meraup adik kesayangannya tersebut ke dalam pelukannya. Tak lupa Timmy juga mencium puncak kepala Beth.
"Ish! Nanti kalau Iel tahu, bakal mencak-mencak, Bang!" Tukas Beth yang sudah dengan cepat melepaskan pelukan Timmy.
"Iya, makanya mumpung suamimu tak ada, kita berpelukan dulu sampai puas," seloroh Timmy yang langsung membuat Beth memutar bola matanya.
"Abang peluk-peluk dan cium Kak Yvone sana! Sudah punya istri juga! Masih saja usil pada Beth!" Ujar Beth yang langsung membuat Mama Tere menghentikan obrolannya bersama Tante Yumi.
__ADS_1
"Oh, ya, Tim! Yvone dirawat juga, kan? Dia di kamar mana?" Tanya Mama Tere kemudian pada Timmy.
"Di lantai bawah, Ma! Tadi dia masih tidur saat Timmy pergi," ujar Timmy menjawab pertanyaan Mama Tere.
"Lalu kenapa kau malah duduk-duduk disini dan tidak ke kamar Timmy?" Mama Tere sudah berdecak dan geleng-geleng kepala.
"Kan Yvone juga tidur, Ma! Dia biasanya lama kalau tidur!" Tukas Timmy kembali beralasan.
"Ck! Tapi seharusnya kau tetap menemaninya, Tim!" Mama Tere sudaha meraih tasnya, lalu wanita paruh baya tersebut segera berpamitan pada Tante Yumi. Tepat saat Mama Tere dan Papa Will hendak keluar dari kamar perawatan Beth, Fairel sudah berdiri di depan pintu dan langsung menyapa kedua mertuanya tersebut. Rupanya suami Beth itu baru kembali dari kantor.
"Tim!" Panggil Mama Tere kemudian pada Timmy yang masih bearda di dalam kamar perawatan Beth. Timmy hanya menghela nafas, lalu akhirnya beranjak, dan sedikit berbasa-basi pada Fairel serta Tante Yumi, sebelum mengekori sang mama menuju ke kamar perawatan Yvone.
Yvone juga paling masih tidur!
****
Yvone menghela nafas panjang dan menyeka airmata yang sejak tadi terus saja jatuh di kedua pipinya. Tadi sebenarnya Yvone berniat untuk pamit ke Beth, karen aia sudah diizinkan pulang oleh dokter, namun saat hendak masuk ke kamar Beth, Yvone malah mendapati sebuah pemandangan yang membuatnya iri.
Mama Tere, Papa Will, Timmu, lalu ibu mertua Beth. Sdmuanya berada di dalam kamar perawatan Beth dan memberi perhatian pada adik Timmy tersebut.
Ya, Beth mrmang beruntung karena hidupnya dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayanginya. Mulai dari keluarga yang berlimpah kasih sayang, lalu suami serta keluarga suaminya yang juga begitu menyayangi Beth.
Sedangkan Yvone....
Sikap Timmy yang kemarin sempat membuat Yvone merasa baper, rupanya hanya karena atas permintaan Beth dan agar Beth tak marah. Mungkin jalan hidup Yvone memang akan selamanya kelam tanpa kasih sayang dari manapun.
Yvone menghela nafas sekali lagi, lalu gadis itu juga menyeka susa airmata di wajahnya. Yvone lalu mengangkat tasnya, dan memutuskan untuk pulang sdkarang saja naik taksi serta tak perlu menunggu Timmy merasa peka.
Timmy masih sibuk menjaga adik kesayangannya!
Yvone lalu membuka pintu kamar perawatan, dan alangkah terkejutnya wanita itu saat melihat siapa yang kini berdiri di depan kamar perawatannya.
"Yvone, kau mau kemana?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1