
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif!"
"Brengsek!" Umpat Timmy seraya melemparkan kaleng soda kosong di tangannya dengan perasaan frustasi sekaligus jengkel. Timmy memang sedang berusaha untuk menghubungi nomor Kath tadi. Namun ternyata nomor tak bisa dihubungi. Entah Kath yang memang sudah ganti nomor atau wanita itu yang sekarang sudah memblokir nomor Timmy?
"Apa abang tak ingin balas budi?"
"Yvone sudah banyak menyelamatkan dan menolong Abang!"
Kalimat demi kalimat yang tadi diucapkan Beth terus saja berputar-putar di kepala Timmy sekarang.
"Yvone butuh bantuan, Bang! Dia hampir saja diperkosa hari ini! Apa abang tak mau menolongnya sekali ini saja?"
"Kita harus membantu Yvone, Bang!"
Timmy menyugar kasar rambutnya sekali lagi. Kalimat Beth masih saja tak berhenti berputar di kepalanya. Timmy lalu membuka ponsel dan juga beberapa pesan dari Beth yang sebenarnya sudah masuk ke ponselnya sejak tadi. Namun sengaja Timmy abaikan, karena Timmy sedang ingin mencari ketenangan, serta tak mau buru-buru mengambil keputusan.
Timmy masih berharap pernikahan Kath yang mungkin akan kandas di tengah jalan, lalu wanita itu akan mencari Timmy suatu hari nanti....
Pemikiran naif dan konyol!
Drrrrrttt! Drrrrtttt!
Timmy belum jadi membaca isi pesan dari Beth, saat ponsel pria itu malah sudah bergetar menandakan ada telepon yang masuk.
Beth!
"Halo," jawab Timmy akhirnya setelah mengangkat telepon dari Beth.
"Bang, kenapa belum kembali? Abang kemana?"
"Abang masih ada urusan, Beth!" Ujar Timmy beralasan.
"Tapi Yvone butuh bantuan abang seka--"
"Abang harus pergi sekarang! Sedang buru-buru!" Sela Timmy cepat sebelum Beth menyelesaikan kalimatnya. Timmy juga langsung mematikan telepon dari Beth.
Timmy benar-benar sedang tak mau mendengar apalagi membahas tentang Yvone!
*****
"Abang!" Beth yang tadi sedang menelepon Timmy, sekarang terlihat kesal sembari berdecak berupang kali. Sepertinya Timmy baru saja mematikan telepon secara sepihak.
"Ck! Kenapa malah dimatikan, sih?" Gerutu Beth kemudian.
"Timmy masih sibuk, ya?" Tanya Yvone akhirnya oada Beth. Yvone kembali melihat arloji di tangannya, lalu melemparkan pandangannya keluar toko Beth, dimana dua pria berpakaian serba hitam tadi masih berdiri di sana.
"Aku akan coba menghubunginya lagi, Yv!" Tukas Beth yang kembali menghubungi nomor Timmy. Namun kemudian gadis itu langsung berdecak.
"Nomornya kok jadi tidak aktif?" Gumam Beth yang sajahnya semakin kesal.
"Mungkin aku harus mencari cara lain untuk keluar dari rumah Uncle, Beth, " ucap Yvone kemudian dengan nada putus asa.
__ADS_1
Bagaimana tak putus asa, jika sejak awal sebenarnya Yvone juga sudah berharap kalau Timmy akan mau diajak bekerja sama. Tapi sepertinya pria itu benar-benar tak mau membantu Yvone sekarang.
Memang sebaiknya Yvone tak perlu berharap atau bergantung pada orang lain!
"Nanti aku akan membujuk abang Timmy lagi, Yv!" Janji Beth sekali lagi seraya menggenggam tangan Yvone.
Yvone hanya menggeleng sambil berusaha mengulas senyum, meskipun hatinya sekarang sedang tak karuan. Gadis itu lalu meraih tasnya dan hendak beranjak pulang, saat tiba-tiba pintu toko sudah dibuka dari luar. Yvone dan Beth langsung kompak menoleh ke arah pintu dan terlihat Timmy yang baru datang seraya melepaskan topinya.
"Abang!" Beth langsung menghampiri Timmy yang kini menatap ke arah Yvone seolah ada sesuatu yang hendak disampaikan oleh pria itu.
"Abang berubah pikiran, kan?" Tanya Beth yang langsung mendesak sang abang.
"Abang mau bicara dulu dengan dia," tukas Timmy seraya mengendikkan dagunya ke arah Yvone yang sudah bersiap pergi.
"Aku juga ingin bicara," ujar Yvone sambil tangannya sedikit membenarkan letak tas di pundaknya.
"Ayo!" Ajak Timmy yang kemudian memberikan kode pada Yvone agar masuk ke arah dapur. Yvone hanya mengangguk, lalu gadis itu segera mengikuti Timmy masuk ke dalam dapur.
"Tutup pintunya!" Titah Timmy setelah Yvone masuk. Yvone segera menutup pintu dapur, lalu ikut duduk di bangku yang ada di dalam dapur. Namun gadis itu sengaja menjaga jarak dari Timmy.
"To the point saja," ucap Timmy yang langsung buka suara, setelahntadi pria itu sedikit berdehem.
"Aku tidak bisa membantumu. Maaf!" Ucap Timmy lagi yang langsung membuat Yvone menggigit bibir bawahnya.
"Aku sangat-sangat berterima kasih atas semua jasa baikmu dalam menyelamatkan nyawaku beberapa kali. Tapi untuk hal ini aku benar-benar tak bisa--"
"Sekalipun itu hanya pernikahan pura-pura?" Sergah Yvone menyela.
"Pernikahan pura-pura?" Timmy langsung mengernyit ke arah Yvone.
"Kita hanya akan hidup sebagai teman nanti, dan aku berjanji kalaua ku tak akan mengganggu kehidupan privasimu. Terserah misalnya kau ingin menjalin hubungan dengan wanita di luaran sana. Aku tak akan ikut campur," ujar Yvone bersungguh-sungguh.
"Kau bebas melakukannya," sambung Yvone lagi.
"Berapa lama?" Tanya Timmy kemudian yang ganti membuat Yvone mengernyit bingung.
"Berapa lama kita akan menjalani pernikahan pura-pura ini?" Timmy memperjelas pertanyaannya.
"Bukankah katamu tadi aku bebas menjalin hubungan dengan wanita lain? Jadi misalnya aku ingin seriys dengan wanita pilihanku--"
"Dua tahun!" Sergah Yvone cepat.
"Dua tahun? Kenapa tidak satu atau setengah tahun saja?" Tanya Timmy sedikit keberatan.
"Itu terlalu singkat dan Uncle akan curiga," ujar Yvone memaparkan alasannya.
"Lalu Uncle akan memaksaku untuk tinggal bersamanya lagi," imbuh Yvone lagi.
"Lalu setelah dua tahun, apa menurutmu Uncle-mu tak akan memaksamu untuk tinggal bersamanya lagi?" Tanya Timmy lagi.
"Tidak!" Yvone menggeleng dengan yakin.
__ADS_1
"Aku akan mencari tempat tinggal sendiri nanti setelah dua tahun dan pergi dari kota ini."
"Dan barangkali aku juga akan bertemu seorang pria sebelum waktu dua tahun itu. Jadi pernikahan pura-pura ini nantinya juga busa kita akhiri dengan cepat," tukas Yvone lagi seraya tertawa kecil.
"Aku sudah benar-benar putus asa sekarang, Tim! Jadi aku mohon...." Raut wajah Yvone sudah berubah memohon sekarang.
"Pernikahan pura-pura, tak ada ikut campur urusanribadi dan hanya dua tahun atau sampai kau bertemu pria idamanmu." Timmy menjabarkan semua garis besar pembicaraan empat matanya bersama Yvone tadi.
"Ya!" Yvone mengangguk-angguk.
"Baiklah, deal!" Timmy mengulurkan tangannya dan mengajak Yvone berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan.
"Oke, deal!" Yvone segera menyambut tangan Timmy dan kini dua orang itu saling bertatapan sembari berjabat tangan.
"Kau bisa ikut aku ke rumah Uncle sore ini karena aku sudah janji--"
"Dengan penampilan seperti ini?" Tanya Timmy seraya menunjuk ke penampilannya sendiri yang lumayan berantakan.
"Kau mungkin bisa ganti baju dulu," tukas Yvone seraya meringis.
"Aku akan pulang ke rumah Mama dulu," ujar Timmy kemudian seraya pria itu keluar dari dapur.
"Ya! Aku akan menunggu disini," jawab Yvone yang entah didengar oleh Timmy entah tidak. Tak berselang lama, ponsel Yvone sudah berdering lagi.
"Halo, Uncle!" Sambut Yvone sambil kembali duduk.
"Kau jadi pulang bersama temanmu?"
"Iya, Uncle! Sebentar lagi," jasab Yvone seraya meringis bersamaan dengan pintu dapur yang sudah didorong dari luar. Beth masuk ke dapur dan langsung menarik kursi untuk duduk di depan Yvone.
"Baiklah, Uncle tunggu!"
"Iya, Uncle! Bye!" Pungkas Yvone seraya menyimpan kembali ponselnya.
"Jadi, bagaimana?" Tanya Beth yang langsung menyelidik.
"Timmy sudah setuju," jawab Yvone dengan raut wajah datar.
"Kalian akan menikah?"
"Akhirnya aku punya kakak ipar!" Beth langsung memeluk Yvone dengan erat, namun ekspresi wajah Yvone masih saja datar dan tak bersemangat sedikitpun.
Kakak ipar?
Kakak ipar sementara dan pura-pura!
Maaf, Beth!
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.