
"Ponselmu berbunyi, Kath!" Ucap Marvel seraya melepaskan pagutannya pada bibir Kath.
Kath sontak berdecak dan turun dari pangkuan Marv, sebelum kemudian wanita ituu merogoh ponselnya di dalam tas.
"Nomor asing?" Gumam Kath seraya mengernyit, saat wanita itu mendapati dereran nomor asing di layar ponselnya.
"Honey! Kau lapar?" Tanya Marv pada Kath yang masih memandangi nomor asing di layar ponselnya.
"Ya!" Jawab Kath sekenanya.
Kath masih menimbang apa ia akan menjawab telepon asing itu atau tidak, saat kemudian telepon sudah berakhir.
Yeah!
Akhirnya orang iseng itu berhenti mengganggu!
Kath ganti memeriksa pesan yang masuk, saat kemudian wanita itu mendapati dereran pesan dari nomor asing yang sama dengan yang tadi meneleponnya.
[Kath, aku Timmy]
[Kemarin Angga bertunangan. Apa kau masih di kota ini?]
[Bisa kita bertemu lagi dan bicara?]
Kath langsung mengetikkan pesan balasan untuk si nomor asing yang mengaku sebagai Timmy tadi.
[Sebutkan gambar tato apa aku sembunyikan jika kau benar-benar adalah Timmy] -Kath-
Balasan dari nomor asing tadi masuk tak berselang lama.
[Bunga dandelion tepat di bawah pusarmu]
Kath langsung tertawa kecil dan segera mengetikkan pesan balasan untuk Timmy. Kath bisa langsung yakin kalau itu benar-benar Timmy, karena satu-satunya yang tahu perihal tato dandelion itu hanyalah Timmy.
Pria itu juga yang melukisnya satu tahun lalu!
Konyol!
[Kenapa ganti nomor? Membuatku bingung saja!] -Kath-
Bukan balasan pesan yang masuk, melainkan telepon dari Timmy.
"Halo!" Sambut Kath to the point, bersamaan dengan Marv yang sudah keluar dari dapur seraya membawa sepiring sosis dan kentang goreng.
"Kau dimana?"
"Di apartemen Marv," jawab Kath yang sudah ganti bergelayut pada sang pacar.
"Marv?"
"Kekasihku!"
"Yang kemarin aku ceritakan kemarin. Kau tak ingat?" Jawab Kath dengan nada pamer.
"Oh!"
"Sedang apa bersama Marv?"
__ADS_1
Kath sontak tergelak dengan pertanyaan konyol Timmy.
"Apa kau sudah menjelma menjadi Mommy sekarang? Pertanyaanmu konyol, Tim!" Sergah Kath seraya mengecup singkat bibir Marv, sebelum kemudian gadis itu membuka mulut karena Marv yang sudah siap untuk menyuapkan kentang goreng ke mulut Kath.
"Ya!"
Suara Timmy terdengar lesu.
Entahlah! Mungkin pria itu sedang sakit.
"Kau sedang sakit, Tim?" Tanya Kath aku.
"Iya! Sakit sekali."
"Pergilah ke dokter kalau begitu dan minta adikmu...." Kath yang mendadak lupa pada nama adik Timmy, berusaha untuk mengingatnya.
"Beth."
"Iya, itu! Minta Beth untuk mengantarmu ke dokter!" Ujar Kath memberikan saran dan masukan.
"Kenapa bukan kau saja yang mengantarku berobat?"
"Aku sudah di kota D! Konyol sekali permintaanmu!" Kath kembali berdecak, sebelum wanita itu menyandarkan kepalanya di pundak Marv.
"Jadi kau sudah pulang--"
"Ya!" Sergah Kath cepat memotong kalimat Timmy.
"Aku kan sudah mengatakannya di pertemuan terakhir kita. Salahmu juga malam itu tak datang ke acara pertunangan Angga! Katanya teman Angga!" Cecar Kath panjang lebar diiringi sindiran di akhir kalimat.
"Aku tidak tahu kalau Angga bertunangan. Beth tak memberitahuku."
"Kau datang?"
"Tentu saja!" Jawab Kath cepat.
"Angga sepupuku dan tentu saja aku datang," imbuh Kath lagi.
"Ya."
Sejenak suasana hening.
"Ngomong-ngomong, kau tadi menelepon hanya ingin membahas hal ini?" Tanya Kath memecah keheningan.
"Aku ingin memberitahu sekalian kalau ini adalah nomor baruku. Barangkali kau tak percaya!"
"Jawabanmu tadi sudah membuatku lebih dari percaya," tukas Kath sebelum kemudian wanita itu lanjut membuka mulut.
Marv menyuapkan potongan sosis ke mulut Kath, sebelum kemudian pria itu tiba-tiba ikut menggigit ujung satunya.
Marv dan Kath langsung berlomba melahap satu sosis berdua, sebelum kemudian bibir keduanya saling bertaut.
"Kath! Kau masih bersama Marv?"
Pertanyaan Timmy hanya diabaikan oleh Kath yang sydah sibuk berpagutan dengan sang kekasih. Kath bahkan sudah mengalungkan kedua lengannya di leher Marv seolah memberikan sebuah kode.
"Mau lanjut ke kamar?" Tanya Kath dengan nada merayu, di sela-sela pagutannya bersama Marv.
__ADS_1
"Tidak!" Jawab Marv tegas seraya melepaskan pagutannya pada bibir Kath.
Kath hanya mampu berdecak akhirnya karena selama empat bulan berpacaran, Marv memang selalu menolak setiap kali Kath mengajak pria itu ke ranjang.
Namun untuk urusan lain, Marv sama sekali tak keberatan. Seperti pagutan mereka berdua tadi.
Kath sendiri mengenal Marv awalnya dari situs dating online. Lalu mereka memutuskan untuk bertemu, dan siapa menyangka, kalau Kath dan Marv bisa langsung akrab,hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berpacaran. Ditambah Marv yang ternyata adalah salah satu kolega Dad Dyrtha, membuat hubungan Kath dan Marv kian mendapatkan jalan terang.
"Aku masih lapar."
"Ayo cari makan di luar!" Ajak Marv kemudian seraya membimbing Kath untuk bangkit berdiri.
Kath seketika langsung lupa pada ponsel serta telepon Timmy yang tadi sepertinya belum mati.
****
"Kath! Kau masih bersama Marv?"
Pertanyaan Timmy seperti sebuah angin, karena tak ada lagi jawaban dari Kath atau sekadar basa-basi.
"Mmmpphh!" Des*han samar yang tak sengaja Timmy dengar sudah cukup memberikan jawaban atas pertanyaan Timmy tadi.
Ya! Kath sedang bersama Marv dan seharusnya Timmy tak mengganggu dua sejoli itu!
Timmy langsung mematikan teleponnya pada Kath dan pria itu ganti menyugar rambutnya sendiri dengan kasar. Masih ada rasa tak rela di hati Timmy saat membayangkan apapun yang dilakukan oleh Kath bersama Marv.
Tapi mustahil juga kalau Timmy mau melarang, Timmy bukan siapa-siapa dan ia hanyalah sekadar teman ranjang untuk Kath!
"Teman ranjang!" Gumam Timmy sinis, sebelum kemudian pria itu ganti mengetikkan nomor ponsel Beth yang juga hafal diluar kepala, selain nomor Kath tadi.
"Halo!" Suara nyaring Beth di ujung telepon langsung membuyarkan lamunan Timmy.
"Beth, ini Abang!" Ujar Timmy yang langsung memperkenalkan diri.
"Oh! Sudah dapat ponselnya, Bang,"
"Sudah! Abang baru mau pulang antar motor kamu," tukas Timmy kemudian.
"Besok saja, Bang! Beth sudah mau jalan ini bersama Mama dan Papa."
"Kemana?" Tanya Timmy seraya mengernyit.
"Membeli baju untuk anak-anak panti, Bang!"
"Uangnya ada?" Tanya Timmy lagi memastikan.
"Ada!"
"Kirim nomor rekening kamu, biar abang tambahi!" titah Timmy kemudian.
"Sekalian kalau kamu mau jajan nanti," imbuh Timmy lagi yang langsung disahut decakan Beth di ujung telepon.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.