
Kath dan Marv baru keluar dari lift di lobi utama rumah sakit, saat dua orang itu melihat Timmy serta Yvone yang rupanya belum pergi dari rumah sakit. Timmy dan Yvone bahkan masih duduk di deretan kursi yang ada di lobi, seolah mereka sedang menunggu Kath dan Marv keluar.
Apakah itu benar?
"Ayo!" Marv yang masih menggendong Orion yang kini terlelap, langsung menarik tangan Kath dengan kasar. Namun alih-alih menurut, Kath malah langsung berontak dan menyentak kasar tangan Marv.
"Lepas, Marv! Aku ingin bicara pada Timmy!" Desis Kath seraya melempar tatapan tajam ke arah sang suami.
"Tidak perlu!" Ucap Marv tegas.
Kath semakin mendelik pada Marv, sebelum kemudian wanita itu mendekat ke arah suaminya tersebut dan berusaha mengambil alih Orion dari gendongan Marv.
"Berikan Orion--"
"Tidak akan!" Bentak Marv galak yang langsung membuat Orion yang tadinya mengantuk jadi menangis kencang.
"Berikan anakku, Marv!" Kath semakin kuat merebut Orion. Namun Marv tetap bersikeras dan tak mau memberikan Orion pada Kath. Pria itu malah langsung membawa Orion pergi dan meninggalkan lobi rumah sakit.
"Marv--"
"Kath!" Panggilan Timmy langsung menghentikan langkah Kath yang tadinya hendak menyusul Marv. Kath lalu mengurungkan niatnya dan ganti menghampiri Timmy.
"Kau harus membantu aku mengambil Orion dari Marv, Tim!"
"Orion putra kandungmu!" Ujar Kath memohon yang langsung membuat Timmy menatap serius pada Kath.
Kelebat kejadian saat Timmy memaksa Kath untuk bercinta dengannya di rumah Om Robert kembali berkelebat di benak pria itu
"Kau pakai pengaman tadi?" Pertanyaan Kath kala itu turut terngiang di kepala Timmy.
"Kita bisa membuktikannya melakui tes DNA, jika kau tak percaya! Karena hasil tes DNA irion dan Marv ne--"
"Wajah Orion sudah lebih dari cukup untuk membuatku percaya," sergah Timmy cepat yang tiba-tiba malah membuat Kath terisak. Kath kemudian menghambur ke pelukan Timmy, seolah wanita itu sedang meluapkan semua rasa rindunya pada Timmy.
Sementara Yvone yang tadi berada di dekat Timmy sudah pergi tanpa suara, seolah wanita itu tak mau mengganggu moment di antara Timmy dan Kath.
Kath masih terisak di pelukan Timmy, sementara Timmy yang tadinya ingin mengusapkan tangannya ke punggung atau ke kepala Kath, mendadak merasa ragu. Entahlah, ada satu hal yang mendadak terasa mengganjal di hati Timmy.
"Aku menyesal, Tim!" Cicit Kath kemudian yang masih membenamkan wajahnya di dalam pelukan Timmy.
"Menyesal kenapa?" Tanya Timmy dengan nada datar.
"Aku menyesal karena sudah memilih seorang pria baj*ngan sebagai suami!" Ujar Kath yang akhirnya mengangkat wajahnya dari dalam pelukan Timmy. Terang saja, pernyataan Kath barusan langsung membuat Timmy mengernyit.
"Kau tahu? Orang yang waktu itu menganiaya kau hingga masuk rumah sakit adalah Marv!" Ungkap Kath lagi yang benar-benar membuat Timmy tercengang.
"Jangan menuduh dan asal berprasangka, Kath!" Tukas Timmy kemudian yang masih merasa tak percaya pada Kath.
"Bukan menuduh! Aku memang mengatakan yang sebenarnya--" Kalimat Kath langsung terpotong, saat ponsel wanita itu berdering nyaring. Kath segera mengambil ponselnya dari tas dan memeriksa siapa yang menelepon. Sedetik kemudian, Kath langsung mematikannya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Tim!" Ulang Kath bersamaan dengan ponselnya yang kembali berdering. Namun sekali lagi, Kath mematikan telepon yang entah dari siapa tersebut.
Ponsel kembali berdering, dan Kath yang tampak geram, langsung mematikan benda pipih tersebut, lalu melesakkannya ke dalam tas.
"Marv yang sudah menganiaya kau waktu itu. Lalu dia juga yang sudah membayar orang untuk melakukan pengrusakan terhadap rumahmu," ujar Kath lagi yang langsung membuat ingatan Timmy terbang ke kejadian satu tahun silam, saat ia pulang ke rumah dan me dapati rumah kedua orang tuanya yang sudah kacau berantakan. Timmy dan Papa Will kala itu memang sempat menyelidiki siapa yang kira-kira melakukan penyerangan terhadap rumah mereka. Namun kemudian semuanya hanya menemukan jalan buntu, dan Papa Will maupun Timmy akhirnya memilih untuk tak menyelidikinya lagi.
Apa itu artinya, orang yang waktu itu mengirimkan ancaman via pesan singkat juga adalah Marv? Tapi kenapa? Timmy bahkan sama sekali tak menemui Kath waktu itu karena dirinya juga tak tahu Kath dimana dan Timmy sudah lama sekali kehilangan jejak Kath, sejak wanita itu memblokir nomornya, hingga detik ini.
"Marv benar-benar jahat, Tim! Dia seperti sengaja ingin memisahkan kita berdua!" Ujar Kath lagi seraya menghapus kasar sisa airmata di pelupuk matanya.
"Maksudnya memisahkan?" Timmy kembali mengernyit dan benar-benar tak paham dengan perkataan Kath kali ini.
"Bukankah sejak awal kita memang tak punya hubungan yang istimewa, Kath? Kau juga berulang kali menolakku dan katamu kau lebih memilih Marv--"
"Tapi sekarang aku menyesal, Tim!" Sergah Kath yang kembali terisak.
"Aku sudah menyadari, kalau selama ini ternyata aku juga begitu mencintaimu, Tim! Aku mencintaimu dan aku sangat-sangat merindukanmu dua tahun ini!" Kath kembali membenamkan kepalanya ke dalam pelukan Timmy.
"Aku benar-benar merana karena jauh darimu, Tim! Terlebih, setelah aku mengandung anakmu, darah dagingmu!"
"Rasa rinduku semakin tak terbendung lagi!" Tutur Kath panjang lebar yang langsung membuat Timmy mengusap punggung wanita tersebut, meskipun rasanya canggung sekali.
Padahal dulu Timmy selalu mengusap, membelainya, dan tak pernah melewatkan untuk mengecup punggung tersebut saat mereka bercinta Timmy bahkan masih mengingat lekuk demi lekuk tubuh Kath.
"Aku merindukanmu, Tim!" Ucapan Kath langsung membuyarkan lamunan Timmy.
"Aku juga berulang kali menghubungimu. Tapi kenapa kau tak pernah membalas pesanku?" Ujar Kath lagi yang kali ini ganti menatap penuh kecewa ke arah Timmy.
"Bukannya kau yang sejak awal memblokir nomorku?" Timmy balik bertanya dengan nada sedikit sinis.
"Aku sudah membuka blokiran pada nomormu! Aku juga mengirim banyak pesan dan mencoba menghubungimu!" Sergah Kath yang benar-benar harus membuat Timmy mengernyit. Timmy segera mengeluarkan ponselnya untuk membuktikan pada Kath tentang omongannya tadi.
"Aku juga berulang kali menghubungimu, Kath! Tapi kau dengar sendiri jawaban operator!" Timmy mencona menghubungi nomor Kath, setelah wanita itu menyalakan kembali ponselnya. Namun jawaban di ponsel Timmy ma s ih saja mengatakan kalau nomor Kath tak bisa dihubungi.
Kath kemudian ganti mencoba untuk menghubungi nomor Timmy. Panggilan masuk, namun ponsel Timmy sama sekali tak berdering.
"Tak ada panggilan masuk!" Ucap Timmy seraya menunjukkan layar ponselnya. Kath yang masih meletakkan ponselnya di telinga, mendadak tersentak saat teleponnya akhirnya diangkat oleh seseorang yang ia hubungi.
__ADS_1
"Halo," ucap Kath ragu.
"Kau ingin bicara berapa lama lagi dengan pria brengsek itu, Kath? Aku akan membawa Orion pergi, dan jika dalam lima menit kau tak keluar, kau tak akan pernah bisa bertemu Orion lagi!"
"Silahkan pergi bersama Timmy!"
Kath seketika membelalak, saat ia mendengar suara Marv beserta semua ancaman dari pria itu.
"Tidak, Marv!" Kath langsung berlari keluar dan menuju ke halaman parkir. Wanita itu langsung menghampiri mobil Marv, dimana Marv kini bersandar di kap depan mobil, tanpa Orion.
"Orion!!" Kath bergegas membuka pintu mobil yabg ternyata dikunci oleh Marv.
Brengsek!!
"Buka pintunya, Marv! Kau mau membuat bayi itu kepanasan?" Desak Timmy yang kini sudah ikut-ikutan mendelik ke arah Marv.
"Bayi itu?" Decak Marv dengan nada sinis.
"Namanya Orion dan aku sudah memastikan kalau dia aman di dalam sana--"
"Buka pintunya, Marv!" Kath tiba-tiba sudah mendorong tubuh Marv yang sedang menuding ke arah Timmy.
"Tidak!" Jawab Marv tegas.
"Kau akan membawa Orion pergi dari pelukanku, jika aku membuka pintu mobilnya!" Marv menuding bergantian ke arah Timmy dan Kath.
"Orion memang bukan putra kandungmu dan dia adalah putra kandung Timmy, Marv! Jadi aku akan membawa Orion pergi bersama dengan Timmy--"
"Aaaarrggghhh!!!" Marv tiba-tiba sudah meninju kap depan mobilnya dengan begitu keras, seolah pria itu sedang meluapkan emosinya.
"Orion adalah putraku dan tak ada seorangpun yang bisa mengambilnya dariku!" Teriak Marv kemudian seperti orang kesetanan..
"Orion bukan putra kandungmu, Marv! Terimalah kenyataan itu dan berikan Orion padaku sekarang!" Kath ikut-ikutan berteriak pada Marv sebelum kemudian Orion yang berada di dalam mobil tampak menangis.
"Lihat! Kau membuat putraku menangis!" Marv mendelik pada Kath sebelum kemudian pria itu membuka pintu mobil dan hendak menggendong Orion keluar. Namun Kath rupanya sudah bergerak cepat untuk mendorong Marv.
Terang saja, hal itu langsung membuat Marv tersungkur dan Kath secepat kilat segera menggendong Orion dan membawanya keluar dari mobil. Tangis bayi sepuluh bulan itu terang saja langsung pecah. Sedangkan Marv yang sudah bangkit dengan cepat langsung mengejar Kath dan hendak merebut Orion.
"Tidak!" Teriak Kath yang berusaha menghindari Marv yang sudah seperti orang gila. Kath segera mendekat ke arah Timmy dan meminta perlindungan.
"Marv! Hentikan!" Gertak Timmy pada Marv yang masih bersikeras untuk mengambil Orion.
"Kau membuat--" Timmy menatap sekilas ke bayi laki-laki yang kini digendong oleh Kath. Wajahnya memang mirip Timmy, namun entah mengapa Timmy merasa biasa saja saat menatapnya.
"Kau membuat Orion ketakutan!" Timmy melanjutkan kalimatnya sembari menatap Marv dengan tajam. Marv langsung diam dan pria itu menatap ke arah Orion yang masih menangis meraung-raung di pelukan Kath. Sepertinya Kath begitu kewalahan menenangkan Orion.
"Diamlah, Orion!" Kath masih berusaha menenangkan Orion yang terus berontak sembari mengulurkan tangannya ke arah Marv, seolah bayi itu ingin digendong oleh Marv.
Namun alih-alih menjadi tenang, Orion malah semakin mengamuk saat Timmy menggendongnya, seolah Timmy adalah orang jahat yang hendak menculiknya.
"Orion, ini adalah Dad!" Ucap Kath yang ikut membujuk Orion, namun bayi itu tetap mengamuk.
"Orion--" Suara Kath mendadak tercekat, saat Timmy tiba-tiba sudah menyodorkan Orion pada Marv.
Marv langsung menyambut Orion dan mendekap bayi sepuluh bulan tersebut ke dadanya. Tak butuh waktu lama dan Orion sudah langsung tenang serta berhenti mengamuk. Bayi itu hanya masih sesenggukan di dalam pelukan Marv.
Tentu saja hal tersebut langsung membuat Kath tertegun.
Marv kemudian segera membawa Orion masuk ke dalam mobil, saat Kath bergerak cepat untuk menghentikan.
"Kath!" Timmy pun bergerak cepat dan menghentikan wanita itu dengan mencekal tangannya.
"Orion anak kandungmu, Tim! Aku tak akan membiarkan Marv membawanya!" Kath menatap penuh emosi ke arah Timmy.
"Kau hanya akan membuat Orion menangis dan mengamuk lagi!" Timmy memperingatkan Kath dengan tegas.
"Tapi kau ayah kandungnya! Jadi kau pasti bisa menenangkannya--" Suara Kath langsung tercekat saat Timmy sudah dengan cepat menggeleng.
"Aku tidak bisa! Aku hanya orang asing bagi Orion, Kath!" Ucap Timmy tegas.
"Tapi kau harus berusaha, Tim! Kau ayah kandung Orion dan kau harus membawa aku dan Orion pergi dari pria baj*ngan itu!" Kath menunjuk ke arah Marv yang kini duduk di dalam mobil masih sambil mendekap Orion. Timmy kerap melihat pemandangan serupa saat Fairel mendekap Sky yang sedang demam atau rewel.
Timmy langsung tersenyum kecut.
"Pria baj*ngan?" Timmy lalu berkata dengan nada sinis pada Kath.
"Tim, aku mencintaimu dan aku menyesal atas sikapku yang dulu menolakmu! Aku tidak bisa hidup bersama Marv lagi!"
"Bawa aku dan Orion pergi, Tim!";
"Bawa kami pergi!" Kath memohon sembari terisak dan mencengkeram kerah baju Timmy.
"Bisa kau sebutkan kejahatan Marv selama menjadi suamimu, Kath?" Tanya Timmy setelah pria itu terdiam cukup lama.
"Dia yang sudah menganiayamu malam itu."
"Dia juga sudah merusak rumah tinggalmu!" Kath membeberkan semua perbuatan Marv yang menurutnya adalah kejahatan.
__ADS_1
"Kau pernah bertanya pada Marv, kenapa dia melakukan semua itu?" Tanya Timmy lagi yang langsung membuat Kath menatap bingung pada Timmy.
"Marv ingin memisahkan kita berdua--"
"Dia hanya ingin melindungimu dari seorang pria brengsek dan baj*ngan!" Timmy menunjuk ke dirinya sendiri.
Kath langsung menggeleng, dan Timmy perlahan mundur.
"Tidak!" Kath menahan langkah Timmy dan kembali mencengkeram kerah baju pria itu.
"Kau istri Marv, Kath!"
"Dan kau sendiri yang sudah memilihnya sebagai suami! Kau yang sudah sepenuh hati menerima cinta Marv! Jadi wajar jika Marv merasa marah, saat ada seorang pria brengsek yang menggangumu dan hebdam merebutmu dari pelukannya!"
"Itu karrna Marv sangat-sangat mencintaimu!" Ucap Timmy dengan nada tegas.
"Tapi kau juga mencintaiku, Tim!" Sergah Kath yang langsung membuat Timmy mengendikkan kedua bahunya.
"Itu dulu...."
"Dua tahun lalu--"
"Tidak!" Kath berteriak tak terima.
"Kau pasti masih mencintaiku hingga detik ini, Tim! Kau pasti masih mencintaiku--"
"Aku sudah menikah dan punya istri, Kath!" Teriak Timmy tiba-tiba. Timmy juga tidak tahu kenapa dirinya malah meneriakkan kalimat tersebut, padahal pernikahannya dengan Yvone hanya sandiwara belaka yang sebentar lagi akan berakhir.
"Itu pasti hanya sebuah pelarian! Kau tak mungkin mencintai wanita lain selain aku, Tim!" Ujar Kath yang masih terus mencari penyangkalan.
"Aku sudah mengandung dan melahirkan anakmu, Tim!"
"Aku memang mencintaimu...." Kalimat Timmy langsung membuat sorot mata Kath yang tadi sempat putus asa kembali berbinar.
"Tapi itu dulu, Kath!" Timmy melanjutkan kalimatnya dan langsung membuat Kath yang tadinya hendak tersenyum menjadi kembali murung.
"Itu dulu dan semuanya sudah berlalu." Timmy kembali menatap sekilas ke arah Marv yang masih mendekap Orion dan masih belum beranjak dari tempatnya.
"Kau benar-benar brengsek, Tim!" Teriak Kath akhirnya merasa frustasi.
"Ya! Aku memang pria brengsek!" aku Timmy seraya tersenyum kecut.
"Kau akan menelantarkan aku dan Orion! Kau akan lari dari tanggung jawabmu?" Cecar Kath yang sudah benar-benar emosi sekarang.
"Aku tak pernah menelantarkanmu, Kath!"
"Kau punya suami yang begitu mencintaimu dan rela melakukan apa saja demi bisa mempertahankanmu!"
"Orion juga sudah punya Dad yang luar biasa menyayanginya!" Tukas Timmy panjang lebar.
"Tapi....." Kath ganti menangis terisak, saat Timmy mendekati wanita itu lalu merengkuh kedua pundaknya.
"Tim...." Kath bahkan tak mampu berkata-kata lagi. Timmy kemudian merangkul Kath dan membimbingnya agar mendekat ke arah Marv.
"Tidak!" Kath menggeleng dan berusaha berontak.
"Kath, dengarkan aku!" Timmy akhirnya membentak Kath agar wanita itu tenang.
"Tapi Orion putramu, Tim! Dia putra kandungmu!" Kath masih terus bersikeras.
"Orion putraku!" Ucap Marv yang akhirnya buka suara. Kath seketika langsung tertawa sinis ke arah suaminya tersebut.
"Kenapa kau tak pernah bisa menerima kenyataan, Marv?"
"Karena aku mencintaimu!" Jawab Marv singkat dan jelas.
"Kau juga mencintaiku--"
"Tidak lagi!" Sergah Kath ketus.
"Kau masih mencintaiku, Kath!" Ujar Marv lagi sembari memejamkan matanya.
"Tidak! Apa kau tuli?" Kath mulai kesal sekarang.
"Kau hanya sedang marah sekarang. Nanti setelah kau tenang--"
"Aku tidak mencintaimu, Marv! Dan aku membencimu!" Teriak Kath pada Marv yang langsung mengusap kasar wajahnya sendiri.
"Aku membencimu!" Ulang Kath lagi.
"Dan aku ingin kita berpisah--"
"Tidak!"
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.