
Timmy baru saja menutup pintu kulkas, saat tiba-tiba Mama Tere sudah berdiri di balik pintu kulkas.
"Ya ampun!" Gumam Timmy yang tentu saja langsung terkejut.
"Mama ngagetin," ucap Timmy kemudian seraya berjalan ke meja makan masih dengan langkah kaki yang pincang.
"Kata Beth, kamu habis kecelakaan?" Tanya Mama Tere penuh selidik.
"Hanya jatuh dari motor karena terpeleset pasir, Ma!" Jawab Timmy berdusta.
"Kamu ngebut naik motor?" Tanya Mama Tere lagi yang kini sudah duduk di depan Timmy.
"Tidak, Ma!"
"Timmy pelan-pelan, kok!" Sanggah Timmy seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalau hanya pelan, tak mungkin babak belur begini!"
"Sudah mama bilang berulang kali, kalau naik motor itu tidak usah ngebut!" Mama Tere mulai mengomel dan bercerocos, dan Timmy memilih untuk diam mendengarkan saja.
"Siang!"
Terdengar sapaan dari pintu depan, saat Mama Tere masih sibuk mengomeli Timmy.
"Ya!" Jawab Mama Tere yang langsung beranjak dari duduknya, lalu menuju ke pintu depan untuk melihat siapa yang datang.
"Selamat siang, Tante Tere," sapa tamu yang rupanya adalah seorang gadis tersebut.
"Siang."
"Kamu...." Mama Tere sedikit mengingat-ingat nama gadis di depannya tersebut.
"Saya Yvone, Tante!"
"Temannya Beth," ujar gadis itu kemudian yang langsung membuat Mama Tere ingat.
"Iya, benar!"
"Maaf kalau tante sedikit lupa, Yvone!" Tukas Mama Tere yang langsung mempersilahkan Yvone untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
"Kau mencari Beth? Jam segini Beth sudah ke toko," ujar Mama Tere kemudian memberitahu Yvone.
"Mmmmm, sebenarnya saya ingin menjenguk Timmy, Tante."
"Kata Beth, Timmy ada disini," ujar Yvone menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya.
"Iya, Timmy ada." Mama Tere langsung memanggil Timmy.
"Kamu temannya Timmy juga?" Tanya Mama Tere selanjutnya pada Yvone.
"I....ya!" Jawab Yvone terlihat ragu, bersamaan dengan Timmy yang akhirnya keluar.
"Ada apa, Ma?" Tanya Timmy yang hanya menatap sekilas pada Yvone, lalu duduk di sofa di samping Mama Tere.
"Ini Yvone mau menjenguk kamu," tukas Mama Tere seraya bangkit berdiri, lalu meninggalkan Timmy dan Yvone di ruang tamu.
"Mau menjenguk? Aku sudah baikan," ujar Timmy cepat yang hanya sekilas-sekilas menatap pada Yvone.
"Terima kasih karena kemarin sudah menolongku," imbuh Timmy lagi.
"Sama-sama," jawab Yvone cepat.
"Perihal biaya rumah sakit--"
"Aku kesini bukan untuk menagih itu," sergah Yvone memotong.
"Nanti akan aku ganti. Kau berikan saja rincianmya." Timmy tetap melanjutkan kalimatnya yang dipotong oleh Yvone.
"Tidak usah diganti," tukas Yvone seraya tersenyum canggung. Sejenak suasana hening,hingga mama Tere keliar lagi seraya membawa minuman dan camilan untuk Yvone.
__ADS_1
"Ya ampun, Tante! Kenapa repot-repot," ucap Yvone merasa sungkan.
"Tidak repot!"
"Ayo diminum!" Titah Mama Tere selanjutnya mempersilahkan Yvone.
"Iya, Tante, Terima kasih," ucap Yvone yang langsung meraih gelas berisi es sirup yang tadi disajikan Mama Tere.
"Ehem!" Yvone kemudian berdehem, setelah Mama Tere pamit dari ruang tamu. Sementara Timmy masih diam dan sepertinya pria itu sedikit tidak berminat untuk menemui Yvone.
"Jadi, ponselmu sudah ketemu?" Tanya Yvone kemudian berbasa-basi.
"Belum! Mungkin ada yang mencuri," Timmy sedikit memicing pada Yvone.
"Kemarin, kata beberapa warga yang menolongmu, tidak ditemukan identitas apapun di sekitarmu."
"Kau tidak bawa dompet--"
"Aku membawa sebuah waistbag berisi dompet dan ponselku," sergah Timmy cepat.
"Ooh!"
"Warna apa?" Tanya Yvone lagim
"Apa kau detektif? Kenapa harus tanya mendetail?" Cecar Timmy tak senang.
"Iya maaf!" Yvone lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Kebetulan aku punya ponsel yang tak terpakai. Kau bisa memakainya dan anggap saja aku sedang mengganti barangmu yang kemarin hilang--"
"Tidak usah!" Tolak Timmy yang langsung mengembalikan ponsel Yvone.
"Tidak apa! Pakai saja ketimbang kau harus beli ponsel baru." Yvone menyodorkan lagi ponselnya pada Timmy.
"Aku bilang tidak usah!" Tolak Timmy lebih tegas yang langsung membuat Yvone menarik kembali ponsel di tangannya.
"Maaf, aku tak bermaksud untuk--"
"Aku juga tak menuduh kau mencuri ponselku! Kemarin itu aku hanya tanya barangkali kau tahu--"
"Aku benar-benar tidak tahu karena saat kau dibawa turun dari ambulans, petugas juga tak menyerahkan barang apapun padaku," tukas Yvone cepat
"Ya sudah! Tak perlu merasa bersalah apalagi sok-sokan bertanggung jawab," tukas Timmy sedikit ketus.
"Dan terima kasih karena sudah menjengukku." Ucap Timmy lagi yang kini sudah beranjak berdiri.
"Beth ada di toko kalau kau mau menemuinya," lanjut Timmy lagi sembari berbalik dan hendak meninggalkan Yvone, sebelum kemudian pria itu berbalik dan duduk lagi di sofa.
"Tidak jadi istirahat?" Yvone sedikit berbasa-basi.
"Aku baru ingat kalau semalam Beth mengatakan padaku kalau kalian sudah tak berteman sekarang." Timmy menatap penuh selidik pada Yvone.
"Itu hanya sedikit kesalah pahaman," tukas Yvone cepat sembari pikirannya melayang pada apa yang dilakukan oleh Aunty Jihan yang merupakan mama kandung Reandra pada Beth di depan toko beberapa hari lalu.
Haruskah Yvone menceritakannya pada Timmy?
Atau mungkin Beth malah sudah cerita dan melapor pada abangnya ini.
"Kata Beth, kau ada something dengan Reandra--"
"Tidak ada!" Sanggah Yvone cepat.
"Aku dan Reandra adalah sepupu. Jadi mustahil kalau--"
"Jaman sekarang banyak sepupu yang menjalin hubungan lalu menikah," sergah Timmy cepat dengan nada sedikit sinis.
"Dan kata Beth, kau juga menyuruh Beth untuk menjauhi Reandra," ujar Timmy lagi yang sudah kembali menatap penuh selidik pada Yvone.
"Aku punya alasan kenapa meminta Beth melakukan itu semua!" Sergah Yvone cepat.
__ADS_1
"Apa alasanmu?" Tatapan Timmy semakin tajam.
"Reandra bukan pria yang baik untuk Beth."
"Aku bisa bilang begitu karena aku dan Reandra adalah sepupu. Dan lagi kami juga bekerja di tempat yang sama," tukas Yvone menjelaskan.
"Dan kau juga yang mengenalkan Reandra pada Beth?"
"Lalu kenapa kau kenalkan adikku pada sepupumu yang tidak baik itu kalau akhirnya--"
"Aku tak pernah mengenalkan Reandra pada Beth!" Sanggah Yvone cepat.
"Aku tak tahu Beth pertama kali melihat Reandra dimana, karena saat aku tak sengaja mengatakan kalau Reandra adalah sepupuku, Beth mendadak langsung bersemangat dan minta aku membantunya pedekate dengan Reandra," tutur Yvone mulai bercerita.
"Lalu kenapa tak dari awal kau mengatakan kalau Reandra itu bukan pria yang baik pada Beth dan malah membantunya pedekate?" Tanya Timmy lagi penuh selidik.
"Aku tak pernah membantu Beth untuk pedekate pada Reandra. Mereka tiba-tiba langsung dekat setelah aku memberikan alamat toko kue Beth pada Reandra." Yvone sedikit meringis.
"Masih mengatakan tak membantu?" Cibir Timmy dengan nada sinis.
"Tapi waktu itu Reandra belum seperti Reandra yang sekarang!" Tukas Yvone membela diri.
"Tidak seperti Reandra yang sekarang! Bisa kau jelaskan dengan detail perbedaannya dan sejak kapan Beth dekat dengan Reandra Reandra itu?" Cecar Timmy memohta penjelasan Yvone.
"Semuanya dimulai dua tahun lalu," jawab Yvone cepat.
"Atau tiga tahun lalu." Yvone sedikit mengoreksi.
"Yang jelas sebelum Reandra pergi ke USA untuk melanjutkan studinya."
"Reandra adalah pria baik waktu itu," Jelas Yvone yang kembali meringis.
"Lalu setelah pulang dari USA, Reandra berubah jadi tak baik?"
"Bisa kau jelaskan setidak baik apa Reandra sekarang?" Cecar Timmy selanjutnya pada Yvone.
"Sangat tidak baik dan sebaiknya Beth tidak menjalin hubungan apapun dengan pria itu!"
"Tapi Beth tidak mau mendengarkan aku. Jadi mungkin sebagai abangnya Beth, kau bisa menasihati gadis itu," ujar Yvone panjang lebar sekaligus penuh harap.
Timmy tak langsung menanggapi dan tampak terdiam beberapa saat.
"Tolong kau nasehati adikmu, Tim!" Pinta Yvone sekali lagi.
"Ya!"
"Nanti aku akan bicara pada Beth," ucap Timmy akhirnya yang langsung membuat Yvone menarik nafas lega.
"Terima kasih karena sudah perhatian pada Beth, meskipun sebenarnya aku masih tak sepenuhnya percaya pada ceritamu tentang Reandra yang tidak baik tadi."
"Karena jarang sekali ada orang yang akan membeberkan keburukan saudaranya sendiri kecuali ada something." Kedua telunjuk Timmy sudah membentuk tanda kutip yang langsung membuat raut wajah Yvone berubah.
"Aku melakukannya karena aku peduli pada Beth!" Sergah Yvone sedikit emosi.
"Ya, aku percaya!" Tukas Timmy yang bahkan nada bicaranya terdengar tak percaya.
"Aku akan bicara pada Beth nanti!" Ujar Timmy sekali lagi dan Yvone terlihat menarik nafas panjang berulang kali seolah sedang berusaha meredam amarahnya.
"Aku langsung pamit kalau begitu," ujar Yvone kemudian seraya meneguk es sirupnya hingga tandas.
Timmy tak menjawab sepatah katapun, dan Yvone akhirnya juga langsung pergi begitu saja tanpa basa-basi lagi.
"Gadis aneh!" Gumam Timmy setelah Yvone pergi.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.