
Yvone melirik ke arah Timmy, saat pengumuman dari awak pesawat tentang turbelensi yang mungkin akan terjadi karena diluar memang sedang hujan disertai petir. Timmy teelihatvtenang dan memejamkan kedua matanya. Pun dengan Beth yang duduk di dekat jendela pesawat.
Kenapa kakak beradik itu bisa begitu tenang?
Yvone akhirnya ikut-ikutan memejamkan mata dan berusaha berpikir positif, namun kemudian guncangan yang terjadi membuat Yvone kaget dan refleks mencengkeram tangan Timmy yang duduk di sebelahnya.
"Cepatlah selesai!" Gumam Yvone yang masih mencengkeram erat tangan Timmy. Semoga pria itu tak bangun dan tak marah, karena Yvone benar-benar ketakutan sekarang.
Sementara Timmy yang duduk di samping Yvone, sedikit terkejut saat me dadak tangannya dicengkeram oleh Yvone. Namun Timmy hanya melirik sejenak ke arah Yvone yang wajahnya tampak tegang. Timmy juga tak bereaksi apapun dan membiarkan saja Yvone mencengkeram tangannya, meskipun rasanya sedikit sakit.
"Bang!" Bisik Beth tiba-tiba dari samping kanan Timmy.
"Aku pikir kau tadi tidur." Timmy balik berbisik-bisik pada Beth yang rupanya sedang memperhatikan Yvone yang wajahnya tegang akibat turbelensi.
"Yvone kenapa?" Tanya Beth kemudian.
"Sepertinya takut karena tadi ada guncangan beberapa kali. Cuaca sedang kurang baik," ujar Timmy yang tetap tak mengubah posisinya dan masih membiarkan tangannya dicengkeram oleh Yvone.
Semakin kuat saja cengkeraman gadis itu! Padahal guncangan sudah sedikit mereda.
"Abang peluk Yvone kalau begitu dan tenangkan dia," usul Beth seraya terkikik yang langsung membuat Timmy berdecak.
Timmy lalu kembali melirik ke arah Yvone yang sydah membuka mata dan cengkeramannya di tangan Timmy juga mulai mengendur.
"Kau bilang apa tadi?" Bisik Timmy kemudian pada Beth, seolah dirinya tadi tak mendengar bisik-bisik sang adik.
"Abang peluk Yvone agar dia tak ketakutan!"
"Yvone masih jomblo, Bang!" Ujat Beth lagi yang langsung membuat Timmy kembali berdecak.
"Peluk!" Ucap Beth lagi yang kembali terkikik, saat akhirnya Yvone buka suara.
"Maaf, Tim!" Ucap Yvone yang kini sudah melepaskan cengkeramannya pada tangan Timmy. Tapibentah Yvone mendengar bisik-bisik Beth barusan entah tidak.
Semoga Yvone tak salah paham!
"Tidak apa!" Jawab Timmy santai seraya mengusap tangannya yang lumayan nyeri juga gara-gara dicengkeram Yvone tadi.
"Ck! Abang payah!" Bisik Beth kemudian seraya menyikut lengan Timmy yang hanya melirik pada sang adik.
Pesawat sudah berhenti berguncang sekarang, dan Timmy kembali mengusap tangannya yang kini terdapat bekas kuku Yvone.
Kuat juga cengkeraman Yvone, ya?
"Apa berdarah?" Bisik Yvone yang tiba-tiba sudah meraih tangan Timmy dan hendak memeriksa. Namun Timmy refleks menarik tangannya kembali seolah ia tak mau jika Yvone memegang tangannya.
"Maaf, jika aku lancang!" Ucap Yvone lagi yang kini sudah ganti merem*s kedua tangannya.
"Tidak apa! Tanganku baik-baik saja!" Ucao Timmy bersungguh-sungguh yang hanya membuat Yvone mengangguk.
__ADS_1
Setelah menempuh penerbangan selama hampir satu jam, pesawat akhirnya mendarat di bandara kota tempat tinggal Timmy.
Mungkin sekarang Timmy akan pulang dulu. Tapi esok atau lusa, Timmy tetap akan kembali ke kota D untuk membuktikan pada Kath, kalau ia memang pantas menjadi pasangan hidup Kath!
****
"Emmppphh!" Kath melenguh saat sekali lagi, Marv berhasil menyentak masuk ke dalam milik wanita itu. Matv lalu kembali mel*mat bibir Kath, saat tiba-tiba terdengar dering nyaring dari ponsel Marv di atas nakas.
"Ponsel kamu berbunyi, Marv!" Ucap Kath sembari mengakhiri pagutannya pada Marv. Meskipun begitu, milik Kath dan milik Marv masih menyatu di bawah sana.
Marv segera meraih ponselnya dan mengangkat telepon yang entah dari siapa. Biasanya memang dari rekan bisnis Marv.
"Halo!" Sambut Marv cepat.
"Tuan muda, kami sudah memeriksanya."
"Sudah kau bereskan juga?" Tanya Marv to the point.
"Mereka sudah pergi."
"Brengsek!" Gumam Marv seraya mengepalkan tangannya, lalu menutup telepon begitu saja.
"Ada apa, Marv?" Tanya Kath yang masih berada di bawah kungkungan Marv.
"Tidak ada apa-apa! Hanya gagal mendapatkan satu proyek bagus," jawab Marv sembari kembali mel*mat bibir Kath dengan penuh nafs*. Marv juga mulai menggerakkan bokongnya naik dan turun hingga membuat nafas Kath sedikit tersengal.
"Marv--"
"Kau nanti menginap, kan?" Tanya Marv kemudian seraya mengangkat kedua tangan Kath ke atas, lalu lidah pria itu menyusur setiap lekuk tubuh Kath.
"Sepertinya--" jawab Kath seraya menggelinjang, karena lidah Marv yang mulai menjelajah area sensitif di tubuhnya.
Disaat bersamaan, gantian ponsel Kath yang berdering.
"Itu Mom," gumam Kath yang suaranya sedikit tercekat akibat r*ngsangan demi rangs*ngan yang diberikan oleh Marv.
Kath memang memasang dering khusus untuk panggilan dari Mom Mizty dan juga Dad Dyrtha.
"Tidak usah diangkat!" Marv mengompori seraya menciumi wakah Kath hingga wanita itu meronta-ronta.
"Marv, hentikan!"
"Mom akan marah kalau aku tak mengangkat telepon!" Tukas Kath yang segera meraih tasnya, lalu mengambil ponsel dan mengangkat panggilan dari Mom Mizty.
"Halo, Mom!"
"Kau dimana, Kath? Masih bersama Marv?"
"Iya, Mom!"
__ADS_1
"Cepat pulang kalau begitu! Minta Marv mengantar--"
"Apa Kath tidak boleh menginap, Mom?" Tanya Marv yang sudah merebut ponsel Kath.
"Tidak boleh, Marv! Kau antar Kath pulang sekarang!"
"Siap Mom!" Pungkas Marv seraya mematikan telepon dari Mom Mizty.
"Antar aku pulang sekarang, Marv!" Ucap Kath menatap tegas pada sang kekasih.
"Nanti dulu!" Tukas Marv seraya kembalu ******* bibir Kath, lalu melanjutkan pergelutan mereka yang tadi sempat terjeda.
****
"Kita pulang ke rumah Mama, kan, Bang?" Tanya Beth saat Timmy, Beth, dan Yvone baru keluar dari pesawat dan mereka bertiga menyusuri garbarata bersama penumpang lain.
"Lalu Mama akan langsung mencecarku!" Jawab Timmy seraya menunjukkan sisa-sisa lebam di wajahnya yang masih terlihat jelas.
Ya, lebam di wajah Timmy selain disebabkan oleh penganiayaan oleh orang asing di taman malam itu, juga akibat dari bogem mentah dari Daddy-nya Kath. Ada sekita empat bohem..entah yang dihadiahkan oleh Dad Dyrtha hanya karena Timmy mengatakan kalau ia ingin melamar Kath.
"Jadi Abang akan pulang ke kost?" Tanya Beth lagi yang langsung menyentak lamunan Timmy.
"Ya!" Jawab Timmy cepat.
"Aku akan naik ojek dan kalian pulanglah naik tak--"
"Sebenarnya aku bawa mobil," ujar Yvone menyela kalimat Timmy yang belum selesai.
"Kita bisa pulang bersama dan aku tak keberatan mengantar kau sampai ke kost-mu, Tim," ujar Yvone lagi seraya menatap bergantian pada Timmy dan Beth.
"Tidak, tidak usah!" Tolak Timmy cepat.
"Aku akan naik ojek saja--"
"Bang!" Sergah Beth seraya menatap tak senang pada Timmy.
Baiklah, Timmy benci pada tatapan adiknya yang mirip tatapan Mama Tere ini!
"Tidak baik menolak pertolongan orang!" Tukas Beth lagi yang langsung membuat Timmy bungkam dan tak mampu berkata-kata lagi. Cara Beth mengomel selalu mirip dengan cara Mama Tere mengomel. Membuat Timmy tak kuasa untuk membantah apalagi melawan.
"Jadi, kita pulang naik mobilku saja, ya!" Tukas Yvone sekali lagi yang kembali menatap bergantian pada Beth yang langsung mengangguk dan Timmy yang akhirnya hanya mengangguk samar.
Kalau bukan karena paksaan dari Beth, Timmy tak akan mau ikut.
"Baiklah, ayo!" Ajak Yvone kemudian yang langsung mengayunkan langkah ke area parkir bandara. Beth segera menarik tangan Timmy dan mengekori Yvone menuju ke mobilnya. Memangnya Timmy bisa apalagi selain pasrah saja pada kemauan sang adik!
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.