
"Terima kasih, Pak!" Ucap Timmy seraya menyodorkan uang pada sopir taksi yang mengantarnya ke rumah orang tua Kath sore ini.
Ya! Tadi pagi Timmy memang berhasil membuntuti kedua orang tua Kath sampai di depan rumah besar ini. Namun saat Timmy hendak masuk untuk menemui orang tua Kath, Timmy sejenak mengurungkan niatnya karena penampilan Timmy yang masih lumayan berantakan. Belum lagi kata security, kedua orang tua Kath yang dipanggil Tuan dan Nyonya Harimarta oleh security tadi juga hendak pergi karena ada acara di luar.
Timmy akhirnya memutuskan untuk mencari penginapan terlebih dahulu, sebelum kembali menemui kedua orangtua Kath. Sekarang Timmy sudah rapi dan siap bertemu Tuan dan Nyonya Harimarta.
"Tuan dan Nyonya belum pulang, Pak!" Ucap security yang langsung membuat Timmy berdecak. Timmy lalu melihat arlojinya yang kini menunjukkan pukul enam sore.
"Apa masih lama pulangnya, Pak?" Tanya Timmy kemudian sembari menatap ke arah pagar rumah yang menjulang.
"Kurang tahu, Pak! Mau menunggu?" Tawar security ramah.
"Apa boleh--"
"Tapi menunggu disini saja, Pak! Karena Tuan melarang orang asing masuk ke rumah tanpa izin darinya," ujar security lagi yang langsung membuat Timmy mengangguk.
Timmy akhirnya masuk ke dalam pos security dan menunggu di dalam sembari bermain ponsel.
****
Timmy menyesap kopi di cangkirnya hingga tandas. Pria itu lalu melihat arlojinya lagi yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Timmy sudah menghabiskan dua cangkir kopi di dalam pos security kediaman Harimarta. Timmy juga sudah mengajak security di rumah Kath ini bermain catur serta berbincang banyak hal. Namun masih belum ada tanda-tanda kedatangan kedua orang tua Kath.
Ya ampun!
Timmy harus menunggu sampai jam berapa?
"Mau kopi lagi, Pak?" Tawar security pada Timmy yang langsung menggeleng. Perut Timmy akan kembung kalau ia terlalu banyak minum kopi.
Disaat bersamaan,terlihat sorit lampu kendaraan yang mendekat ke kediaman Harimarta.
"Itu Tuan dan Nyonya sudah pulang, Pak!" Ujar security seraya bangkit dari duduknya, lalu bergegas membukakan pintu gerbang. Security juga terlihat langsung menghampiri mobil kedua orang tua Kath tersebut, dan sepertinya sedang melaporkan kedatangan Timmy pada Daddy-nya Kath.
Semoga Timmy masih bisa bertemu jedua orang tua Beth, meskipun haru sudah malam.
"Pak!" Teguran security membuyarkan lamunan Timmy.
"Iya, Pak! Bagaiamana? Itu tadi Tuan dan Nyonya Harimarta?" Tanya Timmy tak sabar.
"Iya, Pak! Anda di tunggu Tuan Dyrtha di dalam," ujar security yang langsung membuat Timmy mengulas senyum. Timmy segera bangkit berdiri, lalu sedikit merapikan penampilannya, sebelum lanjut berjalan ke rumah besar Kath.
Ya, dugaan Timmy kalau Kath adalah putri seorang konglomerat memang benar adanya. Bahkan rumah orang tua Kath sama besarnya dengan rumah Uncle Robert.
Oh, ya! Mereka kan masih saudara! Jadi wajar saja!
"Silahkan, Pak!" Ujar security yang tadi mengantar Timmy sampai ke teras rumah. Timmy menghela nafas panjang beberapa kali, sebelum melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam rumah Kath yang pintunya memang sudah terbuka.
"Kau!" Dad Dyrtha sudah langsung menghadiahi Timmy dengan delikan tajam, saat pria itu baru melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
"Kau yang tadi di dalam pesawat dan sudah bersikap kurang ajar pada istriku--"
"Saya tadi tidak sengaja menabrak istri anda, Tu...an," Timmy sedikit kaku memanggil tuan pada Dad dari Kath ini.
"Saya benar-benar minta maaf!" Ucap Timmy lagi penuh sesal.
"Dia tidak sengaja tadi, Dyr! Tak perlu dibesar-besarkan!" Tukas Mom Mizty yang berdiri di sebelah Dad Dyrtha. Wanita paruh baya itu terlihat mengusap lengan sang suami beberapa kali, seolah paham bagaimana caranya menemamgkan suaminya yang sedang emosi.
__ADS_1
"Lalu ada keperluan apa kau datang kemari?" Tanya Dad Dyrtha lagi yang masih belum mempersilahkan Timmy untuk duduk.
"Saya---"
"Silahkan duduk dulu...." Mom Mizty akhirnya mempersilahkan Timmy untuk duduk.
"Terima kasih, Nyonya! Saya Timothy, temannya Kath," ujar Timmy cepat memperkenalkan diri.
"Teman Kath?" Dad Dyrtha langsung mengernyit penuh curiga.
"Kath kebetulan belum pulang. Dan tadi kata security, kau mencari kami berdua. Ada masalah apa?" Tanya Mom Mizty kemudian.
"Saya...." Timmy menelan ludahnya dengan susah payah. Jantung Timmy juga sudah berdegup tak beraturan sekarang.
"Saya kesini mau melamar Kath, putri anda, Tuan dan Nyonya Harimarta!" Ucap Timmy akhirnya dengan nada lantang dan tegas.
Sejenak suasana hening, sebelum kemudian Dad Dyrtha terlihat berdecih.
"Melamar Kath? Apa kau sedang mabuk, Anak muda?" Cecar Dad Dyrtha dengan tatapan meremehkan pada Timmy.
"Sama sekali tidak, Tuan!"
"Saya dalam kesadaran penuh dan saya benar-benar ingin melamar Kath, karena sudah dua tahun kami--"
"Timmy! Kau sedang apa disini?" Ucapan Timmy mendadak disela oleh Kath yang rupanya sudah sampai di rumah.
Oh, akhirnya Timmy bisa melihat wanita pujaannya itu!
"Kau sudah pulang, Kath? Marvel mana? Tidak mengantarmu?" Tanya Dad Dyrtha lantang seolah sedang memberitahu tahu Timmy kalau Kath sudah punya kekasih...
Oh, bukan!
Ya, Kath dan Marv sudah bertunangan!
Tapi Timmy sudah tidur dengan Kath berulang kali, jadi jika berbicara masalah posisi, maka Timmy lebih berhak untuk mendapatkan Kath daripada Marv yang mungkin belum pernah menyentuh Kath sama sekali!
"Marvel langsung pulang tadi, Dad," jawab Kath yang kemudian duduk di samping Mom Mizty.
"Seharusnya kau minta Marv untuk mampir agar pria tak tahu diri ini paham, kalau kau sudah bertunangan dengan Marv!" Icap Dad Dyrtha seraya melirik sinis ke arah Timmy.
"Timmy sudah tahu kalau Kath dan Marv bertunangan, Dad!" Sergah Kath cepat.
"Bukan begitu, Tim?"
"Kau sedang apa disini dan darimana kau tahu alamat rumahku?" Cecar Kath kemudian menatap penuh tanya pada Timmy.
"Aku..."
"Aku sedang melamarmu, Kath!" Ucap Timmy sekali lagi dengan lebih lantang!
"Kami tidak menerima lamaranmu karena Kath sudah bertunangan dengan Marv!" Dad Dyrtha berteriak lebih lantang dan bahkan pria paruh baya itu sudah bangkit dari duduknya sembari tangannya menuding ke arah Timmy.
"Pergi kau dari sini dan jangan pernah mengganggu kehidupan putriku dan tunangannya!" Usir Dad Dyrtha kemudian yang langsung membuat Timmy menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maaf, tapi saya tidak bisa pergi atau melepaskan Kath begitu saja, Tuan Harimarta!" Timmy sudah menatap tajam pada Dad Dyrtha.
"Karena saya kesini ingin mempertanggungjawabkan perbuatan---"
__ADS_1
"Timmy, hentikan!!" Teriak Kath yang langsung membungkam mulut Timmy dengan tangannya. Namun tentu saja Timmy bisa langsung dengan mudah menyentak tangan Kath.
"Perbuatan apa?" Wajah Dad Dyrtha sudah terlihat merah padam.
"Bukan apa-apa, Dad! Jangan dengarkan dia!" Kath teruss berusaha menghalangi Timmy yang memang berniat membuka semuanya.
"Saya mencintai Kath dan saya sudah berulang kali tidur dengan putri anda, Tuan Harimarta!" Ucap Timmy lantang yang tentu saja langsung membuat Dad Dyrtha naik pitam dan langsung menghampiri Timmy, lalu menghadiahi pria itu dengan bogem mentah.
Bugh!
Bugh!
Dua bogem mentah Dad Dyrtha langsung sukses membuat Timmy terjengkang ke belakang. Namun tak lama pria itu sudah bangkit berdiri lagi, seraya mengusap darah yang mengalir di hidung dan sudut bibirnya.
"Aku tidak percaya dengan ucapanmu barusan!"
"Putriku bukan gadis murahan yang akan tidur dengan pria sepertimu!" Tuding Dad Dyrtha kemudian pada Timmy yang malah menatap berani pada Dad kandung Kath tersebut.
"Anda bisa menanyakannya langsung pada putri anda, Tu--"
"Hubungan kita hanya sebatas teman, Timmy! Jangan mengarang!" Sergah Kath yang rupanya tak mau berkata jujur.
"Teman ranjang!" Timmy mempertegas dan Mom Mizty langsung terlihat mencengkeram kedua pundak Kath.
"Katakan kalau itu tidak benar, Kath! Kau tunangan Marv dan tak mungkin kau tidur bersama pria lain juga, kan?" Cecar Mom Mizty penuh emosi.
Kath hanya menggeleng entah apa maksudnya.
"Kath, jangan berbohong!"
"Aku mencintaimu--"
Bugh!
Dad Dyrtha kembali melayangkan satu bogem mentah ke wajah Timmy.
"Keluar kau dari sini dan jangan pernah menemui putriku lagi!" Usir Dad Dyrtha kemudian seraya mendorong Timmy keluar dari kediamannya.
"Saya mencintai putri anda, Tuan Harimarta!"
"Dan saya ingin menikahi Kath!" Teriak Timmy yang terus meronta dan tak mau pergi.
"Aku tidak sudi putriku dinikahi oleh pria sepertimu!"
"Aku sydah punya calon menantu yang seribu kali lebih baik darimu!"
"Pergi, kau!"
"Pergi dari rumahku!" Dad Dyrtha terus mengusir Timmy agar pergi dari rumahnya. Pria paruh baya itu juga memanggil security agar membantu mengusir Timmy keluar dari kediaman Harimarta.
"Aku mencintaimu dan aku tak akan pernah melepaskanmu, Kath!" Teriak Timmy frustasi setelah ia didorong keluar oleh security. Pagar besi itu lalu ditutup dan dikunci rapat, seolah Timmy tak lagi dizinkan untuk menginjakkan kakinya disana.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.