
Timmy yang baru membuka mata, mendapati kamar perawatan yang sudah sepi.
"Beth!" Panggil Timmy seraya berusaha untuk bangun. Prianitu lalu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar yang memang benar-benar tak ada siapapun kecuali dirinya.
Beth kemana?
Sedang mandi? Atau keluar?
Timmy akhirnya hanya mengendikkan bahu dan tak terlalu memikirkannya. Beth mungkin sedang keluar membeli makanan atau sesuatu. Nanti adik Timmy itu juga akan kembali.
Timmy lanjut meraih ponselnya yang berada di atas nakas, lalu menyalakan benda tersebut. Jari Timmy langsung bergerak untuk membuka aplikasi pesan, lalu sedikit men-scroll beberapa pesan yang masuk dan baru berhenti di satu kontak yang menjadi alasan Timmy datang ke kota ini.
Kath!
Timmy memejamkan mata dan membuka foto profil Kath terlebih dahulu. Timmy lalu menatap cukup lama pada foto Kath yang sedang memamerkan cincin lamarannya dari Marv.
Hati Timmy seketika mencelos, dan pria itu buru-buru menutup aplikasi pesan. Disaat itulah, pintu kamar perawatan tiba-tiba sudah menjeblak terbuka.
"Kau darimana, Beth?" Tanya yang sudah dengan cepat mengalihkan tatapannya dari layar ponsel ke arah Beth yang baru saja masuk. Namun alih-alih menjawab, adik Timmy tersebut malah langsung menghampiri Timmy dengan langkah tergesa.
"Beth, kau dari--" Pertanyaan Timmy belum selesai, saat Beth tiba-tiba sudah mengambil ponselnya dengan secepat kilat.
Apa?
"Beth!" Tegur Timmy yang hanya diabaikan oleh Beth. Adik Timmy itu sudah sibuk men-scroll layar ponsel Timmy dan entah sedang mencari apa. Wajah Beth terlohat serius saat ia melihat ke dalam layar ponsel Timmy.
"Beth, kau sedang mencari apa?" Tanya Timmy sekali lagi yang kali ini sudah mengulurkan tangannya sebagai tanda kalau ia meminta Beth untuk mengembalikan ponselnya.
Atau barangkali Timmy bisa membantu Beth yang sedang mencari sesuatu entah apa di ponselnya. Dan sebenarnya tindakan Beth yang tiba-tiba langsung merebut ponsel Timmy tadi juga tak bisa dibenarkan.
"Abang menjalin hubungan apa dengan sepupunya Rossie?" Tanya Beth tiba-tiba seraya gadis itu mengembalikan ponsel Timmy dengan kasar.
Timmy sontak terdiam dengan pertanyaan Beth barusan.
Sepupu Rossie?
Siapa lagi kalau bukan Kath!
Tapi bagaimana Beth bisa tahu? Siapa yang cerita pada Beth?
Bukankah selama ini hubungan Timmy dan Kath tak diketahui oleh siapapun, bahkan oleh Rossie maupun Angga!
Lalu bagaimana Beth bisa...
"Jawab, Bang!" Desak Beth dengan nada suara yang sudah meninggi.
"Hubungan apa?" Jawab Timmy yang balik bertanya pada Beth. Wajah adik Timmy itu seketika langsung berubah kesal.
"Tidak usah pura-pura b*go, Bang!"
"Abang ke kota ini karena ingin menemui Kath, kan?"
"Tapi Kath sudah punya pacar, dan abang tetap keras kepala! Lihatlah sekarang! Abang jadi babak belur dan harus dirawat di rumah sakit!" Beth mengomeli Timmy panjang kali lebar.
Namun bukan hal itu yang membuat Timmy terperangah, melainkan tebakan Beth yang begitu tepat sasaran.
Bahkan Beth juga bisa tahu kalau Kath sudah berpacaran dan bertunangan dengan pria lain.
__ADS_1
Apa Beth tadi baru saja bertemu Kath?
"Jawab, Bang! Apa itu semua benar?" Desak Beth lagi dengan emosi yang sudah meledak-ledak.
Timmy tak menjawab dan pria itu hanya diam.
"Abang diam! Berarti benar, kan? Abang kesini untuk menemui Kath!"
"Kenapa Abang Timmy harus melakukan hal bodoh seperti itu?" Tanya Beth kemudian yang kini sudah duduk di kursi di samping bed perawatan Timmy.
"Karena abang mencintainya, Beth!" Ujar Timmy yang akhirnya buka suara.
"Konyol sekali! Kath bahkan sudah bertunangan dan hendak menikah dengan kekasihnya!" Tukas Beth seraya berdecih.
"Apa kau bertemu Kath?" Tanya Timmy yang akhirnya tak tahan lagi.
"Ya!" Jawab Beth seraya menatap tajam pada Timmy.
"Beth bertemu dengan Kath dan matanya begitu berbinar saat ia memamerkan cincin pertunangannya!"
"Jelas sekali kalau ia begitu bahagia dan begitu mencintai tunangannya," tukas Beth lagi yang masih menatap tak percaya pada Timmy.
"Apa Abang tidak tahu atau--"
"Abang tahu!" Sergah Timmy memotong.
"Abang tahu semuanya," ulang Timmy lagi.
"Abang sudah tahu semuanya, tapi Abang tetap nekat pergi kesini untuk...." Beth kembali menatap tak percaya pada Timmy
"Abang sedang memperjuangkan cinta Abang, Beth!" Jawab Timmy tegas seraya balik berteriak pada Beth.
Namun sesaat kemudian, hati Timmy kembali mencelos saat ia ingat pada cincin pertunangan Kath....
"Memperjuangkan cinta?" Beth berdecih tak percaya.
"Abang tadinya mau melamar Kath! Tapi kemudian---"
"Melamar?" Beth kembali memotong kalimat Timmy.
"Abang sudah tahu kalau Kath sudah dilamar pria lain, kan? Lalu kenapa masih nekat datang kesini dan mau apa tadi?"
"Melamarnya?" Beth menatap tak percaya pada Timmy yang kini hanya diam seraya menatap kosong ke arah dinding kamar perawatan.
"Abang berpikir, barangkali Kath akan berubah pikiran jika Abang datang kemari," gumam Timmy mengungkapkan satu harapan semunya.
"Konyol!" Sahut Beth yang kembali berdecih.
"Beth benar-benar tak habis pikir, Bang!" Tukas Beth lagi bersamaan dengan suara ketukan di pintu.
Beth dan Timmy langsung sama-sama menghentikan perdebatan mereka dan menarik nafas panjang berulang, demi meredam emosi yang tadi sudah sangat naik ke ubun-ubun.
Beth kemudian mengayunkan langkah ke arah pintu kamar oerawadan membuka pintu.
"Selamat pagi," sapa dokter yang datang bersama beberapa perawat.
"Pagi, Dok! Silahkan masuk!", Ucap Beth seraya mempersilahkan rombongan tadi untuk masuk ke dalam. Perawat langsung memeriksa kondisi Timmy. Sementara dokter sudah membuka map yang berisi hasil dari serangkaian pemeriksaan yang kemarin dilakukan pada Timmy.
__ADS_1
"Semuanya bagus dan tak ada cedera di organ dalam," jelas Dokter setelah membaca hasil tes.
"Berarti saya sudah boleh pulang, Dok?" Tanya Timmy tak sabar.
Ya, Timmy memang ingin cepat-cepat pulang, karena Timmy benar-benar tak tahan jika harus terus menginap di rumah sakit. Timmy bisa gila nanti!
"Iya, boleh! Kau bisa lanjut rawat jalan setelah ini!" Ujar dokter menjawab pertanyaan Timmy barusan. Dokter juga menepuk punggung Timmy, lalu menjelaskan beberapa hal yang boleh dan tak boleh dilakukan oleh Timmy setelah pulang dari rumah sakit nanti.
"Sudah paham, Timothy?" Tanya Dokter di akhir penjelasannya.
"Iya, Dok! Saya akan melakukan semua nasehat dokter," jawab Timmy patuh yang langsung membuat sang dokter tersenyum.
Setelah sedikit berbasa-basi dengan Beth, dokter kemudian pamit dan undur diri dari kamar perawatan Timmy.
"Beth, apa bisa kau selesaikan dulu administrasinya!" Pinta Timmy kemudian pada sang adik. Tak lupa, Timmy juga menyodorkan sebuah kartu debet pada Beth karena ia tak membawa uang cash yang cukup.
"Abang sudah mengirimkan nomor pin-nya ke ponsel kamu," imbuh Timmy lagi pada Beth yang sejak tadi enggan menatapnya. Sepertinya adik Timmy itu benar-benar marah pada Timmy!
"Beth--"
"Pokoknya, abang harus melupakan Kath!" Sergah Beth tiba-tiba seraya melempar tatapan tajam pada Timmy.
"Iya, abang akan melupakannya, Beth!" Jawab Timmy yang sebenarnya masih setengah hati untuk melupakan Kath.
Timmy begitu mencintai Kath dan mustahil rasanya Timmy akan bisa melupakan teman ranjangnya tersebut.
"Benar-benar melupakan, Bang!" Tegas Beth lagi.
"Iya!"
"Sekarang kamu selesaikan dulu administrasi rumah sakit, karena aku mau pulang siang ini!" Perintah Timmy sekali lagi pada Beth yang sudah ganti menghampiri sofa.
"Semuanya sudah dilunasi oleh Yvone," jawab Beth seraya mendaratkan bokongnya di sofa.
Timmy tentu saja langsung terkejut dengan jawaban Beth tersebut.
Yvone lagi!
Kenapa gadis itu ada dimana-mana dan seolah menjelma menjadi seorang pahlawan. Apa sebenarnya maksud Yvone?
"Kenapa tidak kamu cegah? Abang masih punya uang untuk membayar biaya rumah sakit, Beth!" cecar Timmy kemudian pada Beth yang langsung mengendikkan kedua bahunya.
"Beth juga baru tahu tadi saat hendak mengurusnya," tukas Beth kemudian.
Timmy seketika langsung menyugar kasar rambutnya sendiri.
"Lalu kapan aku bisa pulang, Beth?" tanya Timmy yang benar-benar tak tahan lagi berada di rumah sakit.
"Setelah Yvone kembali kesini, Bang!"
"Abang sarapan dulu, gih!" ucap Beth kemudian, seraya mengambilkan sarapan untuk Timmy.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1