Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
SEJAK KAPAN?


__ADS_3

"Kau darimana?" Tanya Yvone pada Timmy yang baru saja tiba di rumah. Yvone juga tidak tahu pria itu tadi darimana, karena tadi setelah obrolan mereka di dapur, Timmy mendadak pergi tanpa pamit dan sekarang baru kembali.


"Dari luar, mencari angin," jawab Timmy beralasan.


"Yang lain sudah pergi ke kafe danaku menunggumu sejak tadi," omel Yvone kemudian seraya menatap tak senang ke arah Timmy. Pikiran Yvone mendadak tertuju pada satu hal tentang Timmy yang mendadak pergi. Apa pria ini kembali menemui Kath?


Ah, tapi apa peduli Yvone. Toh dirinya dan Timmy juga akan berpisah tak lama lagi.


"Maaf jika aku membuatmu cemas, Yv!" Timmy tiba-tiba sudah merengkuh kedua pundak Yvone, yang tentu saja hal tersebut membuat Yvone sedikit tersentak.


"Ayo kita menyusul ke kafe!" Ajak Timmy kemudian yang sudah ganti merangkul Yvone. Namun Yvone dengan cepat menyentak.


"Aku akan mengambil tas dulu," ujar Yvone beralasan seraya berlalu meninggalkan Timmy. Tak berselang lama, Yvone sudah kembali membawa tas yang ia pakai menyilang di dada. Wanita itu lalu keluar mendahului Timmy yang langsung berjalan menyusulnya. Pasangan itu lalu berjalan kaki menuju ke kafe dimana acara ulang tahun Barb digelar.


****


Timmy menyodorkan segelas minuman pada Yvone yang masih tampak murung. Meskipun di depan keluarga sang mami, Yvone selalu mengulas senyum, tapi Timmy sangat-sangat paham kalau itu hanyalah sebuah senyum yang dipaksakan.


"Tadi saat aku berjalan-jalan, aku menemukan sebuah tempat yang bagus," cerita Timmy yang sudah menarik kursi untuk ia duduk di dekat Yvone.


"Tempat macam apa yang kau temukan?" Tanya Yvone yang sama sekali tak tertarik.


"Aku bisa menunjukkannya kepadamu, kalau kau tak keberatan," tukas Timmy meminta persetujuan.


"Lagipula, menurutku acara disini juga sedikit membosankan," imbuh Timmy lagi yang malah langsung membuat Yvone mengangguk. Tapi pendapat Timmy ada benarnya dan Yvone juga sebenarnya merasa tak betah duduk disini.


"Tunjukkan padaku kalau begitu!" Ucap Yvone akhirnya setelah wanita itu meneguk minuman di gelasnya hingga tandas.


"Baiklah, aku akan minta izin pada mami--"


"Tidak usah!" Cegah Yvone seraya menatap pada Mami Mary yang masih sibuk dengan tamu-tamunya.


"Aku bukan gadis remaja kemarin sore dan kita adalah suami istri! Jadi bukan hal kriminal jika aku pergi bersamamu," tukas Yvone lagi seraya bangkit dari duduknya. Yvone lalu meraih tangan Timmy dan segera mengajaknya keluar dari kafe.


"Apa tempatnya jauh?" Tanya Yvone kemudian yang sudah melepaskan pegangan tangannya pada Timmy. Pasangan itu kini berjalan beriringan menyusuri trotoar jalan.


"Hanya beberapa blok lagi," jawab Timmy yang tiba-tiba sudah dengan cepat meraih tangan Yvone, lalu sedikit menarik wanita itu.


"Awas ada lubang!" Ujar Timmy saat Yvone nyaris terjatuh karena ditarik oleh Timmy tadi. Beruntung Timmy bergerak sigap untuk menahan tubuh Yvone.


"Terima kasih," ucap Yvone setelah wanita itu berhasil menguasai dirinya dari tindakan refleks Timmy barusan. Timmy dan Yvone kemudian melanjutkan langkah mereka, namun kali ini Timmy tak melepaskan genggamannya pada tangan Yvone, dan Yvone juga tak berusaha untuk menolaknya. Jadilah dua sejoli itu kini berjalan sembari bergandengan tangan menyusuri trotoar jalan.


Langkah keduanya kemudian terhenti di sebuah restorant yang cukup mewah. Timmy lalu mengajak Yvone berbelok ke restoran tersebut, namun Yvone secepat kilat menahan.


"Tim, kita tidak akan masuk kesini, kan?" Tanya Yvone dengan nada ragu.


"Tempatnya memang disini, Yv!" Jawab Timmy seraya tersenyum dan menunjukkan raut wajah bersungguh-sungguh.


"Tapi ini resto mahal." Yvone sedikit berbisik dan masih merasa enggan untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Benarkah? Tadi aku memesan meja disini dan menurutku tak terlalu mahal."


"Ayo masuk!" Ajak Timmy memaksa, kali ini sambil merangkul pundak Yvone, layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Seorang waitres langsung menyambut Timmy dan Yvone, lalu mengantar keduanya ke meja yang memang sudah dipesan oleh Timmy.


"Ada acara istimewa apa sebenarnya sampai kau--" Kalimat Yvone belum selesai saat tiba-tiba seorang waitres kembali menghampiri meja Yvone dan Timmy seraya membawa troli berisi minicake lengkap dengan lilin yang menyala di atasnya.


"Timmy, apa-apaan ini?" Bisik Yvone dengan raut wajah tak percaya.


"Happy birthday, Yv!" Ucap Timmy seraya tersenyum tulus. Timmy kemudian mengambil minicake tadi dan membawanya ke hadapan Yvone.


"Kau bisa membuat permohonan dulu sebelum tiup lilin," ucap Timmy sedikit berbisik yang malah berhadiah tatapan tak mengerti dari Yvone.


Timmy akhirnya meletakkan kue di tangannya, lalu pria itu berpindah ke belakang Yvone dan tangannya menggenggam kedua tangan Yvone, lalu membimbingnya untuk menangkup di depan dada.


"Ucapkan permintaanmu," bisik Timmy di telinga Yvone yang tentu saja hal tersebut sukses membuat Yvone berjenggit.


"Aku ingin....." Yvone berpikir untuk beberapa saat karena mendadak otaknya terasa blank dan tak mampu berpikir.


"Aku ingin bahagia," lanjut Yvone akhirnya dengan suara yang sedikit tergagap. Yvone lalu meniup lilin di atas kue, dan saat itulah Timmy kembali berbisik di telinganya.


"Selamat ulang tahun, Yv! Aku tidak ingin kita berpisah."


Yvone seketika langsung mematung mendengar bisikan dari Timmy. Disaat bersamaan, beberapa waitres sudah menyajikan makanan, lalu salah satu dari mereka juga membawa buket bunga yang kemudian diserahkan pada Timmy.


Timmy lalu memberikan buket bunga tadi pada Yvone yang masih mematung bingung karena berusaha mencerna semua yang terjadi. Dan apa maksud ucapan Timmy tadi?


"Hadiah untukmu," ucap Timmy setelah pria itu membimbing Yvone untuk kembali duduk di kursinya. Timmy memberikan buket bunga tadi sembari menyodorkan sebuah kotak perhiasan.


"Hadiah untukmu. Bukalah!" Titah Timmy yang langsung membuat Yvone membuka kotak perhiasan berbentuk hati tersebut. Ada sebuah kalung di dalamnya dengan nama Yvone yang tertera sebagai bandulnya.


"Aku bantu pakaikan." Timmy langsung bergerak untuk melingkarkan kalung tadi di leher Yvone. Dan ukurannya ternyata pas sekali di leher Yvone.


"Timmy, seharusnya kau tak melakukan semua ini." Yvone kembali menatap tak mengerti ke arah Timmy yang sudah kembali duduk di hadapannya.


"Kita akan--"


"Yv, aku sudah mengambil keputusan dan aku tak ingin kita bercerai," sergah Timmy yang langsung menyela kalimat Yvone sembari menggenggam tangan wanita itu.


"Aku mencintaimu, Yv! Aku sudah jatuh cinta padamu," ucap Timmy lagi dengan tatapan sungguh-sungguh.


"Sejak kapan? Apa ini hanya sebuah pelarian atau pelampiasan--"


"Sama sekali bukan!" Sangkal Timmy cepat.


"Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan ini muncul, tapi akhirnya aku menyadari semuanya kemarin saat kau berulang kali mengatakan kalau kita akan berpisah."


"Hati kecilku mengatakan kalau itu tidak benar. Aku tidak busa berpisah darimu, Yv! Aku sudah terbiasa berbagi kamar dan ranjang denganmu--


"Tapi kita bahkan tak melakukan apapun selama dua tahun ini!" Sergah Yvone yang masih merasa ragu pada perasaan Timmy.

__ADS_1


"Kata siapa? Kita melakukan sesuatu." Timmy tersenyum penuh arti pada Yvone yang wajahnya langsung berubah kaget.


"Kita tak pernah melakukannya." Yvone kembali bergumam seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. Namun raut cemas di wajah wanita itu sama sekali tak bisa ia sembunyikan.


"Kita melakukannya." Timmy semakin mendekatkan wajahnya ke arah Yvone.


"Kita berbagi cerita setiap malam, Yv! Lalu mengobrol dan kadang bersenda gurau hingga kita sama-sama terlelap," ujar Timmy kemudian yang langsung membuat Yvone berdecak.


"Memangnya tadi apa yang kau pikirkan?" Tanya Timmy kemudian seraya terkekeh.


"Tidak ada!" Jawab Yvone cepat seraya menyelipkan rambutnya di belakang telinga, demi menutupi salah tingkahnya. Timmy sontak langsung tersenyum simpul melihat sikap Yvone tersebut.


"Jadi, kita akan--"


"Kita tidak akan berpisah, Yv!" Sergah Timmy menyela dengan nada tegas.


"Kau melakukan ini karena sesuatu? Karena permintaan Beth, atau mama atau-"


"Bukan!" Sergah Timmy lagi lebih tegas.


"Aku melakukan semua ini atas kesadaran dan berdasarkan kata hatiku sendiri!"


"Aku sungguh-sungguh mencintaimu dan aku akan membuktikannya." Timmy sudah bangkit dari duduknya dengan cepat, lalu tiba-tiba pria itu sudah berlutut dengan satu kakinya di hadapan Yvone.


"Timmy, kau mau mau apa?" Yvone yang kaget, langsung bangkit dari kursinya dan hendak menghindar. Namun Timmy malah sudah dengan cepat meraih tangan Yvone lalu menahan langkahnya.


"Menikahlah denganku, Yvone Xaquilla!" Ucap Timmy kemudian dengan suara lantang yang tentu saja sukses menarik perhatian para tamu resto yang lain.


"Timmy, kita sudah menikah," bisik Yvone mengingatkan Timmy yang mungkin saja mendadak amnesia.


"Ya, tapi aku belum pernah melamarmu seperti ini, jadi biarkan aku melakukannya sekarang."


"Maukah kau menikah denganku, Yvone Xaquilla?" Timmy mengulangi kalimatnya seraya pria itu menatap Yvone dengan penuh kesungguhan.


Yvone tak langsung menjawab dan wanita itu diam untuk beberapa saat. Tamu resto yang lain seolah juga ikut menunggu jawaban dari Yvone.


"Ya, aku mau," jawab Yvone akhirnya yang langsung membuat semua pengunjung resto bersorak serta bertepuk tangan.


"Sekarang bang--" Kalimat Yvone belum selesai saat Timmy sudah bangkit berdiri dengan cepat dan tiba-tiba langsung mencium bibir Yvone.


Apa?


"I love you, Yv!"


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir


__ADS_2