
Kath membuka pintu mobil yang datang menjemputnya, saat kemudian gadis itu terkejut jarena mendapati seseorang yang duduk di kursi kemudi.
"Hai, kakakku yang menyebalkan!" Sapa Kaindra yang langsung membuat Kath berdecak.
Kaindra adalah adik kandung Kath yang usianya terpaut empat tahun lebih muda dari Kath.
"Kenapa kau yang menjemput?" Tanya Kath yang sudah masuk ke dalam mobil, lalu menggeser kaca mata hitamnya ke atas kepala.
"Kebetulan sedang luang."
"Jadi, bagaimana acara pertunangan Abang Angga tadi malam?" Tanya Kai memulai obrolan. Sementara Kath sudah sibuk dengan ponselnya untuk memeriksa beberapa pesan yang masuk.
"Seperti pertunangan pada umumnya. Angga akan menikah minggu depan,", jawab Kath tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel.
"Serius? Cepat sekali? Tunangannya Abang Angga sudah hamil, memang?" Cecar Kai kepo.
"Aku tidak tahu! Tanya saja langsung pada Angga!" Ujar Kath seraya meletakkan ponselnya di telinga karena benda persegi itu baru saja berdering.
"Halo, Sayang!" Sambut Kath yang langsung membuat Kai mencibir.
"Kau jadi pulang hari ini?"
"Ya! Aku baru di perjalanan dari bandara," jawab Kath seraya memindahkan ponselnya dari telinga kiri ke telinga kanan.
"Kau tidak menjemput tadi," ujar Kath lagi dengan suara yang sudah berubah manja.
"Kau bahkan tak memberitahuku akan tiba jam berapa. Aku pikir sore baru sampai."
Kath sontak tergelak.
"Kau salah tebak!" Tukas Kath kemudian.
"Apa itu artinya aku dapat hukuman?"
"Maybe." Kath masih tertawa renyah.
"Aku harus membawakanmu apa nanti malam?"
"Mau ke rumah memangnya?" Tanya Kath seraya senyum-senyum sendiri, seolah tak ada siapapun di dalam mobil. Padahal sejak tadi ada Kai yang tak berhenti mencibir ke arahnya.
"Tentu saja!"
"Pacarku baru pulang dri luar kota, jadi aku harus mengajaknya berkencan."
"Dasar bucin!" Cibir Kath kemudian.
"Tapi kau suka 'kan?"
"Iya!" Jawab Kath yang kembali tergelak.
"Jadi nanti malam--"
"Beri aku kejutan, Marv!" Sergah Kath dengan nada merayu.
"Baiklah! Aku kerja dulu sekarang. Bye!"
"Bye!" Jawab Kath seraya menutup telepon dari Marvelio yang merupakan kekasihnya sejak empat bulan terakhir.
"Jadi, nanti mau sekalian menggelar pernikahan bersama Abang Angga?" Tanya Kai yang kembali membuka percakapan.
__ADS_1
"Aku akan mengajak Marv ke pernikahan Angga minggu depan," tukas Kath tiba-tiba yang benar-benar tak nyambung dengan pertanyaan Kai barusan.
"Lalu aku harus mengajak siapa?" Gumam Kai sembari menggaruk kepalanya sendiri yang tak gatal.
"Ajak saja pacarmu kalau kau punya!" tukas Kath santai menanggapi gumaman Kai barusan.
"Kalau tidak punya?" Kai menatap sekilas pada Kath.
"Cari!" jawab Kath yang rupanya selalu punya solusi.
"Enak sekali jawabannya," gumam Kai lagi yang kembali menggaruk kepalanya.
****
Timmy turun dari ojek yang mengantarnya ke toko kue Beth, bersamaan dengan sebuah mobil yang melesat pergi meninggalkan toko kue. Sepertinya itu adalah mobil salah satu customer Beth. Lalu kenapa warna dan bentuknya terlihat tak asing?
Timmy tak terlalu memikirkannya, dan pria itu memilih untuk langsung masuk ke dalam toko. Beth terlihat sedang berdiri di depan meja kasir seraya memegang sebuah benda kecil di tangannya sembari mengamatimya dengan seksama.
"Apa itu, Beth?" Tanya Timmy yang langsung membuat Beth terlonjak.
"Hah!"
"Abang? Kok kesini?" Alih-alih menjawab pertanyaan Timmy, Beth malah balik melontarkan pertanyaan.
"Kau pegang apa itu?" Timmy langsung mengambil benda yang dipegang Beth tadi dan memeriksanya. Rupanya itu adalah satu tube salep untuk memar.
"Cuma salep, Bang!" Ujar Beth memberitahu.
"Untuk memar?" Timmy langsung mengernyit dan memicing pada Beth.
"Iel tadi yang mengantar. Tidak tahu maksudnya apa." Adik Timmy itu mengendikkan kedua bahunya.
"Naik ojek," jawab Timmy seraya mengembalikan salep Beth tadi.
"Sudah diceramahi oleh Mama?" Tanya Beth lagi
"Siapa?" Timmy balik bertanya.
"Abanglah! Masa Beth!"
Timmy sontak tergelak.
"Mama nggak ceramah! Hanya menasehati," tukas Timmy yang langsung menbuat Beth mencibir.
"Kamu pakai acara ngadu!" Timmy ganti mengacak rambut Beth yang terlambat menghindar.
"Beth nggak ngadu juga Mama pasti tahu! Orang Abang babak belur begitu!" Cibir Beth seraya merapikan rambutnya yang tadi diacak oleh Timmy.
"Ngomong-ngomong, tadi Yvone ke rumah," ujar Timmy yang hanya membuat Beth berekspresi datar.
"Kau masih marah pada Yvone?" Tanya Timmy penasaran.
"Bukan marah. Hanya kesal," ujar Beth mengoreksi.
"Sama saja!" Timmy mengacak sekali lagi rambut sang adik.
"Tapi memang gelagat Yvone sedikit aneh," pendapat Timmy kemudian yang kali ini sukses membuat Beth tertarik.
"Aneh bagaimana? Yvone ngomong apa saja ke Abang?" Cecar Beth yang sepertinya penasaran sekali.
__ADS_1
"Dia meminta abang menasehatimu, agar kau menjauh dari Reandra," cerita Timmy yang langsung membuat Beth terdiam beberapa saat.
"Yvone mengatakan alasannya?" Tanya Beth kemudian.
"Karena Reandra bukan pria yang baik untukmu. Itu kata Yvone," terang Timmy yang langsung membuat Beth berdecak.
"Tapi Yvone tidak mengatakan secara spesifik, maksud dari tidak baik itu apa," ujar Timmy lagi dan Beth masih diam, seolah gadis itu sedang memikirkan sesuatu.
"Memang, sudah sejauh mana sebenarnya hubunganmu dengan Reandra, Beth?" Tanya Timmy lagi penuh selidik.
"Belum sampai mana-mana, Bang!" Jawab Beth lirih seraya menghela nafas. Gadis itu lalu mengayunkan langkahnya ke dapur toko.
"Tapi sudah jadian?" Tanya Timmy yang juga ikut menyusul Beth masuk ke dapur.
"Entahlah," jawab Beth yang sepertinya sedang malas membahas tentang Reandra. Adik Timmy itu terlihat sedang galau.
"Ngomong-ngomong, Abang tadi kesini hanya mau membahas hal itu?" Tanya Beth kemudian pada Timmy.
"Abang mau mengajakmu pergi membeli ponsel," jawab Timmy yang memang berniat membeli ponsel baru saja karena hidup tanpa ponsel rasanya begitu merepotkan. Timmy jadi tak bisa menghubungi siapa-siapa.
Termasuk Kath!
Ya ampun, Timmy masih terus saja memikirkan gadis itu apalagi setelah ia tak datang ke pertunangan Angga, dimana Kath pasti ada disana.
Dan juga Mom dan Daddy-nya Kath!
Bodoh sekali Timmy karena melewatkan kesempatan yang ada!
"Bang! Kok melamun?" Tegur Beth yang langsung menyentak lamunan Timmy.
"Iya, bagaimana? Kau mau?"
"Beth sedang repot!"
"Dan lagi, nanti Mama juga mau mengajak Beth belanja kebutuhan anak-anak panti."
"Abang pergi sendiri saja!" Ujar Beth membeberkan sederet alasan.
"Abang boleh pinjam motormu kalau begitu? Tadi sudah kau ambil dari kost-an, kan?" Tanya Timmy akhirnya yang hanya dijawab Beth dengan anggukan kepala.
"Pakai saja!"
Timmy ikut mengangguk, lalu keluar dari dapur.
"Eh, memangnya Abang sudah bisa naik motor?" Tanya Beth kemudian sedikit berseru pada Timmy yang jalannnya sudah tak sepincang semalam. Tapi masih sedikit pincang.
"Bisa!" Jawab Timmy yang terus mengayunkan langkahnya.
"Jangan ngebut lagi, Bang!" Seru Beth setelah Timmy mendapatkan kunci motor Beth dan hendak keluar dari toko.
"Ya!" Jawab Timmy sambil terus melanjutkan langkahnya dan keluar dari toko.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1