Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
BAGAIMANA BISA?


__ADS_3

Matahari sudah hampir terbenam saat Timmy tiba di toko kue Beth. Adik Timmy itu terlihat sedang memainkan pintu depan tokonya.


Memainkan?


"Beth! Ada apa?" Tanya Timmy yang langsung turun dari motornya karena melihat pintu kaca itu sudah miring dan nyaris lepas.


Dan benar saja, saat Timmy baru saja memegang pintu kaca tersebut, pintu sudah terlepas dan nyaris menimpa Beth andai tadi Timmy terlambat sebentar saja.


"Kan! Jadi copot!" Beth mencebik dan menghentakkan satu kakinya. Sementara Timmy langsung mengamankan pintu kaca yang terlepas tadi.


"Bagaimana ceritanya bisa lepas?" Tanya Timmy penuh selidik.


"Tidak tahu!" Jawab Beth seraya membuka ponselnya yang memang baru saja berdering dan sepertinya ada pesan masuk. Namun adik Timmy itu malah semakin mengerucutkan bibirnya setelah membaca pesan di ponselnya entah dari siapa.


"Ada apa lagi?" Tanya Timmy kembali menyelidik. Tak ada jawaban dari Beth, dan Timmy memutuskan untuk memeriksa saja pintu yang terlepas tadi untuk mencaritahu sebabnya.


"Seperti habis dibanting berulang-ulang, ya?" Gumam Timmy menerka-nerka.


"Memang!" Jawab Beth yang kini sudah bersedekap seraya mengedarkan pandangannya ke luar toko. Adik Timmy itu kemudian langsung berceletuk setelah melihat motor Timmy.


Hmmm! Mulai!


"Wow! Abang beli motor baru?" Tanya Beth yang tak lagi merengut.


"Bukan!" Bantah Timmy cepat.


"Itu motor Abang yang kemarin kecelakaan," ujar Timmy lagi.


"Yakin? Kok seperti baru?"


"Kemarin ringsek padahal motornya." Beth masih memperhatikan motor Timmy dengan detail.


"Kan dibawa ke bengkel! Diperbaiki!" Jawab Timmy yang mendadak kesal saat tahu nominal tagihan untuk memperbaiki motornya menjadi semulus sekarang.


Benar-benar si Yvone!


"Habis berapa banyak sampai jadi semulus ini?" Tanya Beth penasaran.


"Habis banyak!" Jawab Timmy seraya menyugar kasar rambutnya.


"Tapi yakin ini motor Abang yang dulu? Beth sedikit sangsi, Bang!" Cecar Beth lagi yang masih sibuk memperhatikan setiap detail motor Timmy.


"Sangsi kenapa? Ini kan memang--" Timmy merogoh kunci motornya di dalam saku dan memperhatikan benda tersebut. Gantungan kuncinya memang masih sama dengan yang sebelumnya. Tapi setelah Timmy perhatikan, kuncinya sedikit berbeda.


"Tu kan! Kuncinya saja terlihat baru!" Celetuk Beth yang sudah ikut-ikutan memeriksa kunci di tangan Timmy.


Tapi tidak mungkin Yvone menukar motor Timmy dengan yang baru, kan?


Mustahil rasanya....


"Beth, aku minta nomor kontaknya Yvone!" Ucap Timmy akhirnya pada sang adik yang langsung berekspresi aneh.


Ck! Dasar wanita!


"Yvone? Untuk apa?" Tanya Beth kemudian penuh selidik.


"Abang ada perlu dengannya!" Jawab Timmy to the point.


"Perlu apa?"

__ADS_1


"Beth sudah tak berteman dengan Yvone--"


"Tapi kamu pasti masih menyimpan kontaknya, kan?" Timmy langsung merebut ponsel Beth yang masih digenggam.oleh sang empunya. Mata Timmy langsung memicing saat ia yang baru membuka layar ponsel Beth, sudah mendapati chat Beth bersama sebuah kontak bernama satu huruf saja.


I!


Siapa I?


"Ini siapa? Kenapa transfer uang ke rekeningmu?" Tanya Timmy penuh selidik.


"Itu...." Beth langsung meringis saat Timmy membaca lagi pesan lanjutan dari I.


"Mengganti pintu toko yang pecah?" Timmy membaca seraya bergumam, sebelum kemudian pria itu menatap pada Beth seolah minta penjelasan.


"Iya itu I yang tadi banting-banting pintu toko, Bang!"


"Dia habis ada masalah dengan pacarnya, makanya dia ngamuk disini," cerita Beth yang malah membuat Timmy mengernyit.


Ada orang bermasalah dengan pacarnya dan malah mengamuk di toko orang. Aneh!


"Pacarnya I bukan kau kan?" Tanya Timmy memastikan.


"Bukanlah!" Sergah Beth cepat dan suaranya juga sudah naik tujuh oktaf.


Aneh!


"Beth juga tidak kenal dan tadi tiba-tiba pas dia datang langsung banting pintu. Pas Beth tegur, dia malah bilang kalau mau ganti rugi, misal pintunya rusak," cerita Beth kemudian yqng meskipun terdengar aneh dan janggal namun tetap Timmy percaya. Timmy juga sedang malas berdebat bersama adiknya ini.


Timmy kembali fokus ke ponselnya Beth dan segera mencari kontak Yvone. Setelah Timmy menemukannya, segera Timmy mengirimkan kontak tersebut ke ponselnya.


"Abang kenapa mencari Yvone, sih?" Tanya Beth penuh selidik saat Timmy mengembalikan ponsel adiknya tersebut.


"Urusan apa?" Pertanyaan Beth tak terlalu Timmy gubris, karena sekarang pria itu sudah duduk di salah satu bangku yang bearda di dalam toko. Timmy segera membuka pesan Kath.


[Congrats karena akhirnya kau punya pacar!] -Kath


Timmy langsung mengernyit setelah membaca pesan Kath.


Apa wanita itu sedang mabuk? Memangnya kapan Timmy punya pacar? Pernyataan cintanya pada Kath saja sudah ditolak mentah-mentah.


[Pacar yang mana maksudmu, Kath? Aku tak mengerti] -Timmy-.


Pesan balasan Timmy sudah terkirim dan tak berselang lama, pesan Kath kembali masuk ke ponselnya.


[Kau menggendongnya masuk ke dalam kost tadi! Tidak usah pura-pura polos] -Kath-


Timmy berpikir cukup lama dan mencoba memahami maksud pesan Kath. Timmy menggendongnya ke dalam kost?


Tadi siang Timmy menggendongnya masuk ke dalam kost?


Tadi siang Timmy menggendong...


Syiela!


Tapi bagaimana Kath bisa tahu?


Timmy tak menunggu lagi dan pria itu langsung menelepon Kath.


"Halo! Sudah selesai yang berduaan? Oh, aku tak mau membuat pacarmu cemburu." Kath sudah langsung bercerocos saat telepon Timmy tersambung.

__ADS_1


"Itu bukan pacarku!" Sanggah Timmy cepat.


"Tidak apa, Tim! Aku turut bahagia--"


"Itu pacar temanku dan aku hanya menolongnya karena dia pingsan di depan kost-ku!" Sergah Timmy cepat mencoba menjelaskan pada Kath yang sudah salah paham.


"Hmm, begitu, ya?"


"Kau percaya, kan, Kath?" Tanya Timmy cemas.


Tidak tahu kenapa Timmy jadi cemas. Tapi Timmy hanya takut kalau Kath akan cemburu.


"Iya, aku percaya!"


"Tapi kenapa suaramu panik begitu? Seolah kau takut kalau aku cemburu arau marah." Terdengar suara tawa renyah dari Kath di ujung telepon.


Timmy seketika langsung diam dan ingat kalau Kath sudah punya kekasih sekarang. Jadi mana mungkin wanita itu cemburu....


"Barangkali kau sudah putus dari kekasihmu--"


"Sialan! Tentu saja belum! Dad saja sudah merestui hubungan kami dan mungkin kami akan mulai serius dengan hubungan ini."


Ucapan Kath benar-benar terdengar seperti petir yang menyambar dada Timmy di siang bolong.


"Tim! Kau masih disana?"


"I--iya!" Jawab Timmy tergagap seraya mengedarkan tatapannya dengan linglung ke dalam toko Beth. Adik Timmy itu terlihat sedang melayani beberapa pembeli yang datang.


"Jadi, wanita yang tadi kau gendong bukan pacarmu?"


"Bukan," jawab Timmy lirih.


"Sayang sekali!"


"Cepatlah cari pacar kalau begitu!"


Timmy tak menjawab saran dari Kath barusan. Timmy masih memikirkan tentang Kath yang katanya akan menjalin hubungan serius bersama kekasihnya saat ini.


Berarti Timmy harus secepatnya menemui kedua orang tua Kath!


"Tim, aku ada urusan! Aku tutup dulu teleponnya, Bye!"


Telepon sudah terputus sebelum Timmy sempat bertanya bagaimana Kath bisa tahu kalau Timmy tadi menggendong Syiela masuk ke dalam kost. Apa jangan-jangan, Kath sedang di kota ini?


"Bang!"


Timmy mengabaikan begitu saja panggilan Beth dan pria itu bergegas keluar dari toko kue sang adik. Timmy akan mencari Kath ke.....


Kediaman Hadinata sepertinya!


.


.


.


Jadi ini timmingnya setelah Fairel banting-banting pintu tokonya Beth itu, ya!


"Beth Ter-Sweet" bab 56

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2