
"Kau mau menceritakan kepadaku tentang pria yang pertama kali melakukannya?" Tanya Timmy seraya menatap intens ke arah Kath yang kini tengkurap di sampingnya.
"Tidak! Itu privasi!" Jawab Kath tegas.
"Apa dia pacarmu? Cinta pertamamu?"
Alih-alih menjawab cecaran pertanyaan dari Timmy, Kath malah justru tertawa terbahak-bahak.
"Ya, dia memang pernah jadi pacarku tapi hanya sekitar tiga bulan sebelum akhirnya kami putus."
"Hanya tiga bulan, tapi sangat sukses membuat Kath yang polos menjadi Kath seperti sekarang," ujar Kath lagi yang kini sudah menatap ke arah Timmy.
"Menikahlah denganku, Kath!" Pinta Timmy kemudian dengan ekspresi wajah tulus namun malah dijawab Kath dengan gelak tawa.
"Apa kau sedang bercanda?"
"Sama sekali tidak!" Ucap Timmy tegas.
"Aku mencintai--""
"Ssshhhh!" Kath langsung membungkam bibir Timmy memakai jemarinya.
"Berhenti mengucapkan kata cinta sialan itu karena hubungan kita ini bukanlah hubungan cinta, Tim!"
"Tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu, Kath!" Ucap Timmy bersikeras.
"Ck! Kau menyebalkan jika sudah mulai baper begitu!" Gumam Kath jengah seraya wanita itu bangkit dari atas ranjang.
"Kath!"
"Aku tidak mendengarmu dan aku akan pulang!" Sahit Kath masabodoh.
"Kath! Aku benar-benar mencintaimu!"
"Terserah! Aku tak peduli!" Kath sudah memakai bajunya dengan cepat, lalu wanita itu juga menyambar tasnya.
"Kath!"
"Kath aku mencintaimu!"
"Kath!"
"Abang!" Bayangan Kath yang sudah mengayunkan langkah dan keluar dari kamar Timmy, perlahan mulai memudar, saat telinga Timmy samar-samar mendengar suara tak asing yang memanggilnya.
"Abang!" Suara itu kini disertai dengan usapan di lengan Timmy yang mendadak terasa nyeri.
Bukan hanya lengan, tapi kepala dan wajah Timmy juga terasa nyeri.
Timmy akhirnya membuka matanya perlahan....
"Kath--" Timmy langsung menahan kalimatnya, saat ia mendapati wajah Beth yang kini sudah berada di sampingnya.
Wajah Beth, dan bukan Kath!
"Kapan kau datang, Beth?" Tanya Timmy akhirnya pada Beth yang terlihat berekspresi bingung.
Kenapa dengan adik Timmy ini?
"Beth!" Tegur Timmy sekali lagi karena Beth yang malah terlihat melamun.
"Beth tiba tadi sore, Bang!" Ujar Beth yang akhirnya menjawab pertanyaan Timmy.
"Abang sebenarnya kenapa, sih?" Pertanyaan sederhana dari Beth malah justru membuat ingatan Timmy kembali melayang ke kejadian semalam, saat Timmy datang ke rumah Kath untuk menemui Mom dan Daddy-nya Kath. Lalu Timmy diusir dan dihadiahi bogem mentah oleh Daddy-nya Kath.
__ADS_1
Lalu saat Timmy berada di taman kota, ia malah bertemu orang asing yang memukul kepalanya dengan balok kayu. Timmy bahkan sempat berpikir kalau ia sudah mati malam itu, karena saat udara malam yang dingin menusuk tulangnya, tak ada siapapun yang datang menolong.
Saat Timmy merintih kesakitan, masih tak ada siapapun yang datang, hingga akhir Timmy merasa lelah untuk merintih dan kedua matanya terpejam begitu lama. Hingga saat Timmy membuka mata....
"Tim...."
Suara gadis bernama Yvone itu kembali terngiang di telinga Timmy.
Timmy masih tak mengerti, kenapa Yvone seolah berada dimana-mana.
"Bang!" Tegur Beth lagi yang rupanya masih menunggu jawaban dari Timmy atas pertanyaannya tadi. Pertanyaan tentang apa alasan Timmy berada di kota ini.
Timmy harus menjawab apa?
"Yvone tadi sudah pulang?" Timmy akhirnya balik melontarkan pertanyaan pada Beth.
Tidak nyambung sekali!
Tapi Timmy hanya ingin menanyakan keberadaan Yvone sekaligus motif gadis itu kenapa dia bisa ada dimana-mana terutama saat Timmy mendapat masalah.
"Aku tidak tahu kenapa gadis itu ada dimana-mana dan seperti sedang membuntutiku," ujar Timmy lagi seolah sedang mengungkapkan uneg-unegnya, saat tiba-tiba terdengar sanggahan dari Yvone yang rupanya masih berada di dalam kamar perawatan Timmy.
"Aku tak membuntutimu!"
Timmy langsung mengalihkan tatapannya ke arah Yvone yang sudah mendekat ke bed perawatan Timmy.
"Aku sedang ada urusan bisnis di kota ini, dan bahkan aku juga tak tahu menahu kalau kau pergi ke kota ini!" Tukas Yvone kemudian seraya menatap tajam ke Arah Timmy yang hanya berekspresi datar seolah tak peduli. Timmy juga beberapa kali memalingkan wajahnya, karena ia malas menatap wajah Yvone.
"Aku akan pulang sekarang, Beth!" Tukas Yvone kemudian entah benar-benar serius atau hanya sedang cari perhatian saja.
"Toh kau juga sudah disini dan sepertinya Timmy juga sudah baikan." Yvone berucap lagi pada Beth dan Timmy masih tak peduli.
"Tapi ini sudah malam, Yv!"
"Apa tidak sebaiknya--"
"Baiklah kalau begitu!"
"Terima kasih sekali lagi karena sudah menolong Abang Timmy, Yv!" Ucap Beth sekali lagi pada Yvone. Dua gadis itu sudah berdiri di dekat pintu kamarnya perawatan sekarang, namun Timmy masih bisa mendengar obrolan keduanya.
"Oh, ya! Sebaiknya kau juga segera menghubungi Mama dan papamu karena aku tak bisa membantumu berbohong lagi," tukas Yvone sebelum kemudoan terdengar suara pintu yang dibuka, lalu ditutup lagi. Sepertinya Yvone sudah benar-benar pergi!
Beth sudah kembali menghampiri bed perawatan Timmy, namun tatapan mata adik Timmy itu tampak kosong.
Apa ini ada hubungannya dengan kalimat terakhir Yvone tadi?
Memang Beth sudah berbohong apa pada Mama dan Papa?
"Kapan aku bisa keluar dari sini, Beth?" Tanya Timmy memecah kebisuan, sembari pria itu berusaha melepaskan infus dari tangannya.
"Abang, jangan!" Cegah Beth cepat. Beth kemudian langsung mencekal tangan Timmy ke belakang punggung.
"Hasil tes abang sebagian belum keluar. Jadi abang belum bisa pulang!" Tukas Beth lagi yang hanya membuat Timmy berdecak. Cekalan tangan aduk Timmy ini lumayan kuat ternyata.
"Abang sebenarnya sedang apa di kota ini?" Cecar Beth kemudian.
"Sedang ada urusan," jawab Timmy tanpa menatap ke arah Beth. Meskipun Timmy sangatvyakinnkalau Beth tak akan percaya begitu saja.
"Urusan menemui Kath?" Tanya Beth tiba-tiba dengan nada sinis.
Darimana Beth tahu nama Kath?
Perasaan Timmy belum pernah cerita atau menyebutnya di depan Beth!
__ADS_1
Atau jangan-jangan saat tadi tak sadarkan diri, Timmy mengigaukan nama Kath?
"Beth jadi penasaran, siapa sebenarnya Kath itu hingga dia bisa membuat abang Timmy mabuk-mabukan kemari, lalu babak belur sekarang!"
"Dia bukan siapa-siapa--" sahut Timmy cepat menjawab cecaran pertanyaan dari Beth
"Apa Kath itu wanita yang waktu itu berada di kost-an Abang Timmy?" Tanya Beth lagi yang sepertinya masih pantang menyerah untuk mengulik informasi mengenai Kath.
"Sudah sejauh mana sebenarnya hubungan Abang Timmy dan Kath?" Cecar Beth lagi dan lagi yang sama sekali tak ditanggapi oleh Timmy.
"Abang!" Beth akhirnya memukul pundak Timmy karena Timmy yang hanya diam seribu bahasa sejak tadi.
"Kau kesini bersama siapa?" Tanya Timmy yang akhirnya buka suara karena melihat wajah Beth yang sudah teramat kesal.
"Beth kesini sendiri dan Mama serta Papa tak tahu tentang apa yang kini menimpa Abang Timmy." Ternyata ini yang dimaksud kebohongan oleh Yvone tadi. Beth tak memberitahu Mama Tere dan Papa Will mengenai kondisi Timmy. Entah Beth mengarang cerita apa saat ia pamit pada Mama dan Papa sebelum pergi kesini tadi.
"Jadi, bisakah abang Timmy menjelaskan sedetail-detailnya pada Beth tentang siapa Kath dan ada hubungan apa diantara Abang Timmy dan wanita itu?" Cecar Beth panjang lebar seolah sedang menuntut penjelasan dari Timmy.
"Dia temanku," jawab Timmy akhirnya.
Teman ranjang maksudnya!
"Teman istimewa?" Tanya Beth lagi dengan nada mencibir.
"Anggap saja begitu!" Jawab Timmy sekenanya. Timmy lalu menatap pada selang infus yang masoh tersambung ke tangannya.
"Aku ingin pulang sekarang, Beth!" Ujar Timmy kemudian yang entah mengapa malah membuat Beth ternganga.
"Ini tengah malam, Bang!" Sergah Beth yang langsung membuat Timmy memutar kepalamyabke arah jendela kamar perawatan yang kini tertutup tirai.
Beth akhirnya bangkit berdiri dan membuka tirai seolah sedang menunjukkan pada sang abang kalau ini memanglah masih tengah malam.
Baiklah, Timmy percaya!
"Tapi aku bisa pulang besok pagi, kan?" Tanya Timmy kemudian dengan nada memaksa.
Lagipula, siapa juga yang betah berlama-lama di rumah sakit. Timmy ingin secepatnya pulang, lalu berbaring di ranjangnya....
Dan membayangkan tubuh Kath yang berada disampingnya.
Konyol!
"Kita lihat saja besok saat semua hasil tes Abang keluar," jawaban Beth langsung membuyarkan lamunan Timmi. Adik Timmy itu juga sudah bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan bed perawatan.
"Beth, aku lapar!" Panggil Timmy yang langsung membuat Beth tak jadi meninggalkan bed perawatan Timmy. Gadis itu kembali menghampiri Timmy.
"Apa ada makanan?" tanya Timmy lagi pada Beth.
"Ada," jawab Beth seraya mengendikkan dagunya ke arah nakas, dimana ada berberapa kotak makanan disana.
Timmy langsung bernafas lega, saat Beth mengambilkan satu kotak makanan dan meletakkannya di depan Timmy.
"Abang berhutang banyak penjelasan pada Beth!" Ucap Beth kemudian yang langsung membuat Timmy yang baru saja akan menyuapkan makanan ke mulutnya sejenak terdiam.
"Bang!"
"Iya!" Jawab Timmy akhirnya seraya mengangguk samar.
Nanti saja Timmy memikirkan penjelasan untuk Beth, karena sekarang Timmy benar-benar lapar dan ia hanya ingin makan.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.