Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
FRUSTASI


__ADS_3

"Jadilah kekasihku, Kath!"


"Tidak! Aku bahkan tak punya perasaan apapun padamu."


"Menikahlah denganku kalau begitu!"


"Apa kau sedang mabuk? Aku tak akan menikah denganmu--"


"Tapi aku mencintaimu!"


"Dan aku tidak!"


"Aku tidak mencintaimu dan aku sudah punya kekasih sekarang, Timmy!"


"Kalau begitu, aku akan mengatakan pada kekasihmu tentang apa yang terjadi diantara kita!"


"Jangan coba-coba, Tim! Marv tak akan percaya padamu! Toh tak ada bukti apapun juga!"


"Aku harus membuat bukti kalau begitu--"


"Aku akan membuat bukti--"


"Tidak!"


Plak!


"Auuw!" Suara dari seseorang yang mengaduh lumayan keras, langsung membuat Kath terjaga dari tidurnya.


Ya ampun! Ternyata Kath tadi hanya bermimpi!


"Kenapa kau menamparku, Sayang? Aku bahkan belum jadi menciummu," kekeh Marvel yang entah sejak kapan sudah berada di kamar Kath....


Tadi setelah dari kost-an Timmy, Kath memang langsung kembali ke hotel untuk beristirahat. Dan saat Kath tiba di hotel, Marvel masih belum ada karena pria itu masih menemui seseorang.


"Kapan kau kembali, Marv? Aku benar-benar tidak tahu," tanya Kath kemudian yang tangannya sudah terulur untuk mengusap pipi Marvel. Kath benar-benar tak sadar kalau tadi yang ia tampar adalah Marv.


Semua gara-gara mimpi aneh Kath bersama Timmy!


Hhhh! Kath kan tidak ada perasaan apa-apa pada Timmy, jadi kenapa juga Kath harus sibuk memikirkan pria itu!


"Kau tidur nyenyak tadi saat aku datang," ujar Marv seraya mengecup bibir Kath.


"Lalu saat aku baru mau menciummu, kau malah menamparku," lanjut Marv lagi seraya terkekeh yang tentu saja langsung membuat Kath salah tingkah.


"Aku benar-benar tidak tahu kalau tadi aku menamparmu, Sayang!" Kath kembali mengusap pipi Marv.


"Aku pikir aku tadi sedang menampar--" Kath menghentikan kalimatnya dengan cepat.


"Menampar siapa? Penjahat?" Cecar Marv yang terlihat penasaran.


"Sepertinya!" Kath mengendikkan bahu dengan cepat.

__ADS_1


"Aku selalu bermimpi aneh saat tidur siang. Makanya aku jarang sekali tidur siang, dan tadi sepertinya aku tak sengaja ketiduran," tutur Kath kemudian beralasan. Marv hanya tertawa kecil, lalu bangkit dari ranjang.


"Mau kemana?" Kath menahan tangan Marv dengan cepat.


"Mandi, ganti baju."


"Bukankah kita harus ke acara pernikahan sepupumu," ujar Marv yang langsung membuat Kath buru-buru melihat jam.


Rupanya sudah pukul lima sore!


"Aku lama sekali tidur siang," gumam Kath kemudian.


"Mungkin karena kau merasa lelah sekaligus bahagia," tukas Marv yang sudah kembali duduk di ranjang dan mendekap Kath.


"Kau bahagia, kan?" Tanya Marv lagi sembari menggenggam tangan Kath, lalu memperhatikan cincin berlian yang semalam ia sematkan di jari manis Kath di hadapan keluarga besar Kath.


"Sangat bahagia," jawab Kath yang sudah langsung mengalungkan kedua lengannya di leher Marv. Dua sejoli itu lalu salong berpagutan.


"Jangan memancing, Kath!" Bisik Marv sembari melepaskan pagutannya pada Kath yang langsung tertawa kecil.


"Kau yang mulai!" tukas Kath yang malah balik menyalahkan Marv.


"Aku akan mandi saja!" Ujar Marv yang sudah kembali bangkit dari ranjang. Namun kali ini Kath tak menahan tangan pria itu lagi.


"Kau tak mau ikut mandi?" Tawar Marv sedikit menggoda.


"Bukankah katamu tadi jangan memancing! Sekarang kau yang memancingku!" Jawab Kath yang langsung membuay Marv tergelak.


"Kan hanya basa-basi dan bercanda," tukas Marv beralasan.


"Entahlah, aku bahkan belum berpikir sejauh itu!" Kekeh Marv sebelum akhirnya pria itu menghilang ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Kath yang langsung berdecak.


"Dasar!" Gumam Kath seraya mengamati lagi cincin yang kini melingkar di jari manisnya. Bayangan saat Marv melamarnya dengan begitu romantis, kembali menari-nari di benak Kath dan membuat wanita itu menyunggingkan senyum.


"Kathlyne Harimarta, maukah kau menikah denganku?" Ucap Marv seraya berlutut di depan Kath san menyodorkan sebuah kotak berisi cincin berlian.


"Ya, aku mau!"


****


"Hubungan kita tak lebih dari partner ranjang."


"Aku tak tertarik menjadi pacar apalagi istrimu!"


Timmy menenggak dengan kasar, minuman di botol kaca yang sedari tadi ia genggam. Kalimat demi kalimat yang pernah diucapkan Kath tentang hubungan mereka berdua terus saja bercokol dan berkelebat di benak Timmy.


"Brengsek!" Umpat Timmy frustasi sembari menggak lagi cairan laknat yang kini terasa membakar tenggorokannya.


Ya, meskipun sudah bertahun-tahun Timmy bekerja sebagai bartender di kelab malam, namun Timmy jarang sekali minum alkohol apalagi sampai mabuk seperti hari ini!


Ini kali pertama Timmy menenggak cairan terkutuk ini, karena hati dan pikirannya sudah sangat frustasi dan putus asa.

__ADS_1


"Marv melamarku kemarin malam. Lalu semalam kami resmi bertunangan,"


"Aku mencintai Marv dan aku akan menikah dengan Marv. Jadi apapun yang pernah kita lakukan, kita lupakan saja semuanya!"


Timmy memejamkan kedua matanya, saat kata-kata Kath mengenai pertunangan wanita itu bersama Marv kembali terngiang di telinga dan kepala Timmy.


"Nanti pasti aku akan mengirimkan undangan, jika aku dan Marv menikah."


"Aku tak butuh undanganmu!" Teriak Timmy emosi, sembari melemparkan botol kaca di tangannya ke arah tempat sampah.


Sedikit meleset, dan tempat sampah dari plastik itupun langsung terguling dan jatuh ke lantai.


Tapi Timmy tak peduli!


Timmy lanjut mengambil botol selanjutnya dari dalam kardus, lalu menenggak isinya lagi, meskipun kini tenggorokan Timmy sudah terasa perih dan terbakar.


Namun hati Timmy rasanya malah lebih perih lagi!


"Kenapa semudah itu kau mencintai pria lain, Kath?"


"Kenapa kau tidak mencintaiku saja dan menerima cintaku?" Ratap Timmy kemudian seraya mengusao wajahnya beberapa kali, serta menyugar kasar rambutnya yang kini sudah awut-awutan tak jelas.


"Aku mencintaimu, Kath!"


"Aku sangat-sangat mencintaimu!" Teriak Timmy kemudian yang sudah sangat-sangat frustasi.


"Aku mencintaimu, Kath! Lalu kenapa kau tak pernah mencintaiku?"


"Kenapa?" Teriak Timmy sekali lagi meluapkan semua emosi yang membuncah di dadanya. Pria itu menenggak sekali lagi minuman keras di botol kaca yang berada di sampingnya.


Timmy terus menenggak cairan laknat itu dengan begitu rakus, hingga membuat sebagiam minuman tersebut tumpah dan mengalir keluar dari sudut bibir Timmy.


"Aku tak akan membiarkan lau menikah dengan Marvel!"


"Aku pasti akan bisa memiliku, Kath! Menjadi satu-satunya untukmu!" Racau Timmy sebelum kemudian tubuh pria itu ambruk ke samping.


Timmy berbaring di atas lantai yang dingin seraya menatap pada langit-langit kost tempat tinggalnya. Sesekali Timmy akan tertawa, lalu pria itu juga akan ganti meringis, saat debuman di kepalanya terasa menyakitkan.


"Aku mencintaimu, Kath!" Racau Timmy yang tetap menatap ke langit-langit kamar kost-nya. Pandangan Timmy perlahan mulai memudar dan debuman di kepalanya juga terasa semakin menyakitkan.


"Bang!"


Timmy yang baru memejamkan matanya samar-samar mendehtar ketukan pintu sekaligus suara seseorang yang memanggilnya.


"Abang Timmy!" Kembali terdengar ketukan di pintu, namun Timmy sama sekali tak punya tenaga untuk bangun apalagi membuka pintu depan. Timmy masih terbaring di lantai kamarnya, saat akhirnya pria itu melihat dengan lamat-lamat lampu depan yang dinyalakan oleh seseorang. Lalu tak berselang lama, pintu kamar Timmy juga sudah didorong perlahan oleh seseorang yang kemudian memekik.


"Abang Timmy! Astaga!"


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2