Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
TERAKHIR?


__ADS_3

Timmy yang sudah selesai mengunci pintu depan, segera menyusul Kath yang sudah dukuan masuk ke kamar dan melepaskan gaunnya begitu saja.


"Pacarmu sudah pergi," seloroh Kath kemudian seraya naik me atas ranjang, lalu menutupi tubuhnya yang tadi hanya terbalut bra serta underwear dengan selimut.


"Aku sudah bilang kalau itu bukan pacarku, Kath! Kenapa kau masih saja membahasnya?" Tukas Timmy tak habis pikir. Timmy sudah memungut gayn Kath yang tadi teronggok di lantai, lalu melipat ala kadarnya gaun tersebut sebelum meletakkannya di sudut ranjang.


Timmy ganti membuka almari bajunya, lalu mengambil satu kaus secara acak.


"Pakai baju!" Perintah Timmy seraya melempar kaus tadi pada Kath.


Timmy sendiri sudah menanggalkan kausnya, sebelum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hampir sepuluh menit Timmy berada di kamar mandi, dan saat pria itu keluar, Kath tetap belum memakai kaus yang tadi Timmy lemparkan. Kath malah sibuk dengan ponselnya dan posisi wanita itu yang setengah berbaring, membuat pikiran Timmy jadi melayang kemana-mana.


Sialan memang!


"Kau sudah selesai yang memakai kamar mandi?" Tanya Kath yang akhirnya mengalihkan tatapannya dari layar ponsel.


"Ya!"


"Silahkan kalau mau pakai!" Tukas Timmy seraya mengambim satu bantal dari atas ranjang dan hendak membawanya keluar dari kamar, saat Kath dengan cepat melontarkan pertanyaan.


"Kau mau kemana, Tim?"


"Tidur di depan," jawab Timmy tanpa menatap pada Kath.


"Tumben!" Kath tertawa kecil sebelum kemudian wanita itu masuk dan menghilang ke dalam kamar mandi.


Timmy menghela nafas, sebelum kemudian pria itu masuk ke kamar lagi dan memparkan bantal yang tadi ia ambil ke atas ranjang. Timmy lalu menyugar kasar rambutnya dan duduk di tepi ranjang, sembari beberapa kali menatap ke arah pintu kamar mandi dimana tadi Kath menghilang.


Wanita itu sudah keluar tak berselang lama sembari menggerutu.


"Bra-ku tak sengaja tersiram air, Tim!" Lapor Kath seraya menunjukkan bra-nya yang basah.


"Lepaskan saja kalau begitu dan kau bisa memakai kausku tadi," titah Timmy seraya memejamkan kedua matanya.


"Baiklah!" Kath sydah menanggalkan bra-nya, lalu wanita itu segera memakai kaus Timmy yang lumayan longgar di tubuhnya.


Tanpa dalaman, tentu saja dada Kath yang ukurannya diatas rata-rata langsung tercetak dengan jelas.


Timmy sudah membuka mata dan Kath sudah kembali berbaring di atas ranjang.


"Kau tidak jadi tidur di luar?" Tanya Kath seraya mengambil bantal yang tadi Timmy lempar.


"Udaranya dingin," jawab Timmy beralasan seraya ikut naik ke atas ranjang, lalu masuk ke dalam selimut juga. Suasana sesaat hening.


"Ngomong-ngomong, kau masih belum punya pacar?" Tanya Kath memulai obrolan.


"Belum," jawab Timmy lirih.


"Kenapa? Kau mau mencari wanita yang bagaimana memang? Biar aku bantu carikan--"

__ADS_1


"Yang sepertimu," tukas Timmy cepat yang langsung membuat Kath tergelak.


"Apa yang lucu? Kenapa malah tertawa?" Tanya Timmy heran.


"Maaf, aku tak punya saudara kembar, jadi tak ada wanita yang mirip denganku!"


"Saudaraku satu-satunya juga laki-laki. Jadi mustahil kau menikah dengan Kai!" Tukas Kath yang kembali tergelak. Timmy ikut tertawa meskipun tawanya tak selepas Kath.


"Berarti aku tak usah punya pacar kalau begitu," ucap Timmy kemudian yang sudah lanjut berbaring.


"Jangan konyol, Tim!" Sergah Kath yang tiba-tiba sudah membungkukkan tubuhnya tepat di atas Timmy yang sudah berbaring.


"Kau tidak akan hidup sendiri sampai tua, kan?" Kath menatap tajam pada Timmy, namun fokus Timmy malah tertuju pada sesuatu milik Kath yang kini tergantung di atas Timmy.


Oh, ayolah! Timmy pria yang normal.


"Tidak, jika kau mau menikah denganku, Kath," ucap Timmy yang langsung membuat Kath berdecak. Wanita itu lalu duduk membelakangi Timmy sembari bersedekap.


"Kita tidak akan menikah!" Ucap Kath tegas.


"Kenapa? Bukankah kau masih bisa putus dengan Marv kapan saja?" Tanya Timmy yang kini sudah berbaring miring dan menatap pada punggung Kath yang teebalut kaus miliknya. Namun Timmy tetap bisa membayangkan punggung mulus Kath yang sudah berulang kali Timmy usap dan belai.


"Aku dan Marv saling mencintai! Jadi kami tak akan putus!" Tukas Beth yang tiba-tiba sudah berbalik dan menatap tegas pada Timmy.


"Lalu kenapa kau ada disini kalau kau mencintai Marv, Kath? Kenapa kau tidak tidur saja bersama Marv?" Cecar Timmy mulai emosi.


"Karena tadinya aku ingin bicara beberapa hal padamu."


"Maksudnya memperjelas?" Timmy langsung mengernyit tak mengerti.


"Memperjelas kalau selama dua tahun kita menjadi partner ranjang, aku tak ada perasaan apapun padamu, Tim!"


"Kau hanya aku anggap sebagai teman dan sekali lagi aku tegaskan kalau aku tak menyimpan perasaan apapun padamu--"


"Lalu apa yang kau rasakan saat kita tidur bersama itu?" Sergah Timmy merasa tak terima dengan pernyataan Kath.


"Apa yang aku rasakan? Aku merasa puas," jawab Kath masih dengan tatapan tegasnya pada Timmy.


"Bukankah kau juga merasakan hal yang sama? Kita sama-sama merasa puas karena sama-sama mencapai pelepasan."


"Sejak awal kita melakukannya juga kita sudah sama-sama berjanji untuk tidak saling baper. Kau tidak lupa, kan?" Ujar Kath panjang lebar yang langsung membuat dada Timmy terasa sesak.


Bagaimana Timmy tak baper, jika Kath adalah wanita pertama yang Timmy tiduri?


"Mungkin setelah ini aku akan serius dengan hubunganku bersama Marv, Tim!"


"Jadi aku berharap, apapun yang pernah terjadi di antara kita, sebaiknya kita lupakan semuanya. Aku akan fokus pada hubunganku bersama Marv, lalu kau juga bisa mulai mencari seorang wanita untuk kau jadikan teman hidup--"


"Apa itu artinya kau tak akan datang kesini lagi setelah ini?" Tanya Timmy menyela penuturan Kath.


"Untuk waktu dekat, aku masih belum tahu."

__ADS_1


"Tapi kalau nanti Marv melamarku, aku mungkin akan berhenti datang kemari untuk menemuimu," tukas Kath kemudian yang seketika langsung membuat lidah Timmy menjadi kelu dan ludahnya juga mendadak terasa pahit.


"Lalu kapan rencananya Marv akan melamarmu, Kath?" Tanya Timmy kemudian setelah pria itu berhasil menguasai emosinya.


Timmy juga tidak tahu kenapa ia malah menanyakan hal ini pada Kath. Tapi mungkin Timmy akan mendahului Marv untuk melamar Kath, kalau Timmy tahu kapan pria itu akan melamar Kath.


Timmy juga akan langsung menemui kedua orang tua Kath kalau perlu!


"Marv belum membahasnya," ujar Kath seraya tertawa kecil.


Ah, sebuah angin segar bagi Timmy!


Timmy akan secepatnya terbang ke kota D untuk menemui orang tua Kath!


"Berarti malam ini kita masih bisa melakukannya?" Tanya Timmy kemudian yang sudah ganti menatap penuh n*fsu pada Kath.


Jangan salahkan Timmy, karena sejak tadi Kath lah yang mulai dan memancing!


"Ini bahkan sudah hampir pagi!" Kath tergelak dan wanita itu hendak turun dari ranjang. Namun rupanya gerakan Timmy lebih cepat dan pria itu tiba-tiba sudah menyambar pinggang Kath, lalu menjatuhkan tubuh Kath ke atas ranjang. Timmy juga langsung menindih wanita itu dan menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah Kath.


"Kau masih tak boleh mencium bibirku!" Ucap Kath seraya menahan bibir Timmy yang hendak mendarat di bibirnya. Timmy sontak berdecak.


"Aku masih penasaran alasan aku tak boleh mencium bibirmu sejak dulu!"


"Padahal seluruh tubuhmu sudah aku jamah," ungkap Timmy seraya menari lepas kausnya yang tadi dikenakan oleh Kath. Kini teman ranjang Timmy itu sudah setengah naked.


"Itu hanya sebuah prinsip," ujar Kath yang masih tak mau mengungkapkan alasan yang sesungguhnya.


"Apa aku benar-benar tak boleh melakukannya sekali saja?" Pinta Timmy lagi sedikit memaksa.


"Tidak!" Jawab Kath tegas.


"Baiklah! Kita lakukan seperti biasa saja," tukas Timmy akhirnya seraya melepaskan penutup terakhir di tubuh Kath. Dua tubuh itupun segera larut dalam pergumulan panas, hingga matahari menunjukkan semburatnya di ufuk timur.


"Uhuuk! Uhuuk!"


Suara batuk Kath seolah membuyarkan lamunan Timmy tentang apa yang terjadi di kamarnya ini semalam. Timmy menoleh ke arah Kath yang masih naked, seperti halnya Timmy dan tubuh mereka berdua hanya tertutup oleh selimut sekarang. Bahkan ranjang Timmy bentuknya juga sudah tak karuan.


Timmy menyugar rambutnya beberapa kali, sebelum kemudian pria itu melihat jam di arlojinya yang tergeletak di atas nakas. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi dan Timmy baru ingat kalau ia ada rencana untuk menelepon Yvone dan menanyakan perihal motornya.


Timmy ganti meraih ponselnya di atas nakas, dan tak butuh waktu lama untuk Timmy menemukan kontak Yvone yang kemarin ia kirim dari ponsel Beth. Timmy tak membuang waktu dan langsung menghubungi teman Beth tersebut.


Baru di dering ketiga, telepon Timmy akhirnya diangkat oleh Yvone.


"Halo, selamat pagi!"


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2