Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
DIPAKSA PINDAH


__ADS_3

"Silahkan masuk, Nona!" Ucap seorang maid saat Yvone baru tiba di kediaman Linardi.


"Video itu pasti hanya editan! Mustahil Reandra melakukannya, Pi!"


Yvone sudah langsung mendengar suara Aunty Jihan yang merupakan Mami kandung Reandra, saat ia baru menjejakkan kakinya ke dalam rumah.


Apa yang sudah terjadi?


"Tidak ada yang editan, Jihan!"


"Bahkan mereka membawa buktu dari pakar telematika sebagai bukti kalau video itu benar adanya!" Kali ini gantian Uncle Sahrul yang buka suara.


"Tapi mustahil Reandra..."


"Reandra harus bertanggung jawab dan menikahi Grace demi menyelamatkan nama baik keluarga ini!" Ucao Uncle Sahrul kemudian dengan nada tegas.


"Reandra belum mau menikah, Pi!" Sergah Reandra memohon.


"Sudah terlambat!" Bentak Uncle Sahrul.


"Seharusnya kau berpikir panjang sebelum melakukan--"


"Reandra dijebak, Pi!" Reandra masih bersikeras.


"Papi tidak mau tahu! Kau pria dewasa dan sudah pasti bisa menjaga diri! Bagaimana ceritanya kau bisa dijebak, hah?" Omel Uncle Sahrul yang langsung membuat Reandra terdiam.


"Benar-benar kamu, Re!"


"Selama ini Mami selalu menjaga agar kau bisa dekat dengan gadis-gadis berkelas, tapi kau sendiri malah berulah dan tidur dengan sembarang gadis--"


"Lalu sekarang kau malah menghamili anak gadis orang juga! Mau ditaruh dimana muka mami ini, Reandra?"


"Dimana?" Aunty Jihan terus saja mengomeli Reandra yang hanya terdiam. Sepertinya sepupu Yvone nan brengsek itu baru saja kena batunya!


"Yvone, kau sudah datang?" Sapa Uncle Sahrul yang akhirnya menyadari keberadaan Yvone yang sejak tadi hanya diam menyimak perdebatan keluarga pamannya tersebut.


"Selamat malam, Uncle, Aunty!" Sapa Yvone seraya mencium punggung tangan Uncle Sahrul dan Aunty Jihan secara bergantian.


"Duduk dulu, Yv!"


"Kau sudah makan, belum?" Ujar Uncle Sahrul selanjutnya bertanya pada Yvone.


"Sudah, Uncle!" Jawab Yvone cepat. Yvone lalu duduk di sofa ruang tamu, sementara Reandra sudah masuk dan menghilang entah kemana. Mungkin pria itu malu pada Yvone karena kenakalannya baru saja terbongkar!


"Jadi, ada masalah apa sebenarnya, Uncle? Kenapa tumben Uncle meminta Yvone datang?" Tanya Yvone kemudian membuka obrolan dengan sedikit canggung. Meskipun sebenarnya dulu Yvone pernah tinggal di rumah besar ini, namun sejak memutuskan untuk pindah ke apartemen beberapa tahun silam, Yvone memang jadi jarang datang kesini. Dan sekarang rumah ini malah terasa asing bagi Yvone.


"Uncle sudah mengambil keputusan, Yvone!"


"Agar kasus Reandra tak terulang padamu--"


"Dan agar kau tak ikut mencoreng nama besar keluarga ini juga!" Aunty Jihan sudah ikut menimpali.


"Mencoreng nama besar keluarga?" Yvone mengernyit tak paham.

__ADS_1


"Kau selama ini tinggal bebas di apartemen, kan? Dan kamintidak tahu apa kau pernah menbawa seorang pria ke apartemenmu--"


"Tentu saja Yvone tak pernah melakukannya, Aunty!" Sanggah Yvone cepat dengan nada suara yang sudah meninggi.


"Tapi kemarin kau bersama seorang pria saat kembali dari kota D!" Uncle Sahrul sudah menunjukkan sebuah foto yang entah ia dapat dari mana. Satu hal yang pasti, itu memanglah foto Yvone bersama Timmy saat di airport waktu itu.


"Itu teman Yvone, Uncle!", ujar Beth cepat mencoba menjelaskan.


"Tetap saja, Uncle harus mengawasimu mulai sekarang, Yv!"


"Uncle tak mau kecolongan lagi," ucap Uncle Sahrul sekali lagi.


"Jadi mulai malam ini kau akan kembali tinggal di rumah ini agar Uncle dan Aunty bisa mengawasimu serta menerapkan jam malam untukmu.


"Tapi Yvone sudah dewasa, Uncle! Yvone sudah sangat bisa menjaga diri Yvone sendiri!" Tukas Yvone berusaha meyakinkan sang Uncle.


Tentu saja Yvone sangat enggan untuk tinggal di rumah besar ini. Yvone bahkan sudah sangat-sangat nyaman tinggal sendiri di apartemen miliknya.


"Uncle tidak menerima penolakan, Yvone! Sekarang berikan kartu akses apartemenmu pada Uncle!"


"Tapi Uncle--"


"Berikan saja, Yv! Dan jangan coba-coba jadi gadis yang keras kepala!" Sergah Aunty Jihan ikut-ikutan.


"Ini semua juga demi kebaikanmu! Kau itu masih jadi tanggung jawab Uncle-mu!" Cerocos Aunty Jihan yang akhirnya membuat Yvone tak bisa lagi membantah. Yvone kemudian memberikan kartu akses apartemennya pada Uncle Sahrul, namun Aunty Jihan malah menyambarnya dengan cepat.


"Biar Aunty saja yang pegang!" Tukas Aunty Jihan yang langsung membuat Yvone berdecak dalam hati.


"Besok Aunty akan mengantarmu! Sekarang kau tidur disini malam ini!" Ujar Aunty Jihan cepat sebelum kalimat Yvone selesai. Sekali lagi, Yvone hanya bisa mengangguk patuh.


"Baik, Aunty!"


****


Timmy yang sudah hampir tertidur, langsung tersentak, saat mendengar suara pintu gerbang depan yang dibuka. Pria itu bergegas mengintip dari jendela untuk melohat siapa yang datang, meskipun Timmy yakin kalau yang datang adalah Mama, Papa, serta Beth yang baru pulang dari acara pernikahan Rossie.


Timmy memilih untuk langsung bangkit dari duduknya, lalu membuka pintu depan. Mama Tere dan Beth rupanya sudah berdiri di depan pintu saat Timmy baru membukanya.


"Abang! Kok ada disini? Tadi katanya kerja?" Cecar Beth yang langsung menginterogasi Timmy.


"Mendadak tak enak badan. Makanya langsung pulang saja tadi," tukas Timmy beralasan, seraya pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Demam?" Tanya Mama Tere khawatir, yang langsing meletakkan punggung tangannya di kening Timmy.


"Hanya sedikit pusing, Ma!" Jawab Timmy berdusta.


Tidak sepenuhnya berdusta, karena Timmy memang sedikit pusing memikirkan pekerjaannya yang sedang tidak baik-baik saja. Mungkin setelah ini Timmy akan tinggal saja di rumah Mama dan Papanya, agar kamar kost yang selama ini ia tempati bisa sekalian ia sewakan. Lumayan untuk penghasilan tambahan!


"Minum obat, ya! Tadi sudah malan belum?" Cecar Mama Tere yang langsung membimbing Timmy untuk pergi ke ruang makan. Sementara Papa Will yang baru saja menyusul masuk ke rumah langsung berdehem tak senang dan sepertinya cemburu.


"Sabar, Pa! Mama sedang merawat putra kesayangannya yang sedang tak enak badan," tukas Beth seraya menepuk-nepuk punggung Papa Will.


"Timmy sakit?" Raut Papa Will sudah berubah khawatir.

__ADS_1


"Katanya sakit kepala," tukas Beth sebelum kemudian gadis itu pamit pergi ke kamar untuk ganti baju dan istirahat. Sementara Papa Will langsung menyusul Timmy dan Mama Tere ke ruang makan.


"Sakit kepala kenapa, Tim?" Tanya Papa Will pada Timmy yang sekarang sedang duduk seraya makan jeruk yang dikupaskan oleh Mama Tere.


"Ya sakit kepala saja, Pa! Memang harus ada alasan kenapa tiba-tiba sakit kepala?" jawab Timmy yang hanya melirik sekilas pada Papa Will, sebelum lanjut melahap jeruk-jeruk di hadapannya.


"Iya barangkali sakit kepala karena kelamaan sendiri," seloroh Papa Will yang langsung membuat Mama Tere tertawa kecil dan Timmy yang hanya berdecak.


"Maksudnya sendiri bagaimana? Kan ini ada Mama, Papa...."


"Ada Beth juga di rumah," ujar Timmy pura-pura tak paham.


"Status kamu itu yang masih sendiri maksud Papa, Tim!"


"Angga saja sudah menikah, lalu Rossie juga sudah menikah."


"Lalu kamu kapan menikah, Tim?" Ujar Mama Tere melanjutkan kalimat Papa Will.


"Kan! Mama kamu juga sudah bertanya-tanya dan sudah tak sabar untuk menimang cucu," seloroh Papa Will lagi.


"Papa juga!" Sergah Mama Tere seraya mencubit perut Papa Will.


"Jadi kapan?" Tanya Papa Will sekali lagi pada Timmy.


"Apanya yang kapan?" Timmy masih pura-pura tak paham.


"Kamu menikahnya! Sudah ada calon, kan? Siapa kemarin, Ma? Yv--"


"Timmy tidak ada hubungan apa-apa dengan Yvone, Pa! Dan dia juga bukan calon Timmy!" Sergah Timmy yang sudah menyanggah dengan cepat.


"Ada juga tidak masalah, Bang!"


"Atau kalau belum ada ya diada-adakan saja!" Sahut Beth yang mendadak sudah ikut menimpali. Adik Timmy itu sudah mengganti gaunnya dengan piyama sekarang dan ia juga membawa sebuah bunga di tangannya.


"Ini bunga dari Rossie! Katanya biar abang Timmy cepat menikah!" Ujar Beth lagi seraya memberikan bunga tadi pada Timmy.


"Harus aku apakan bunganya? Aku jadikan istri dan menikahinya?" Kelakar Timmy yang langsung membuag semua anggota keluarga tersebut tergelak.


"Berikan bunganya pada Yvone!" Bisik Beth di telinga Timmy yang langsung membuat pria itu berdecak.


"Ngomong-ngomong, Abang mau bicara hal penting padamu," ujar Timmy kemudian yang balin berbisik pada sang adik. Timmy mendadak ingat pada kejadian di kafe tadi.


"Bicara apa?"


"Ayo ke kamar!" Timmy sudah bangkit dari duduknya, lalu segera mendorong pundak Beth menuju ke kamar adiknya tersebut.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2