Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
FRUSTASI


__ADS_3

Timmy memakai jaket, lalu memakai topinya dengan rapat.


"Tim, kenapa pakai baju seperti itu?" Tanya Mama Tere yang sudah terlihat rapi dan siap pergi ke acara pernikahan Rossie. Pun dengan Papa Will dan juga Beth.


"Timmy mau ke tempat kerja, Ma!" Jawab Timmy jujur.


Ya, Timmy mendadak enggan datang ke acara pernikahan Rossie. Timmy tak mau bertemu Kath, atau kedua orang tua Kath. Timmy tak mau membuat skandal.


"Tapi kan Abang sydah janji mau datang. Kemarin saja pas Abang Angga menikah Abang tak datang," tukas Timmy yang langsung membuat Mama Tere menatap tajam pada Beth.


"Maksudnya tidak datang? Bukannya malam itu Timmy datang bersamamu Beth?" Cecar Mama Tere menuntut penjelasan Beth yang langsung meringis.


Timmy sontak berdecak dan geleng-geleng kepala karean sepertinya Beth baru saja keceplosan.


"Timmy datang, kok, Ma!" Sergah Timmy akhirnya berusaha menyelamatkan Beth.


"Tapi Timmy memang hanya menunghi di luar dan tak masuk ke dalam," tukas Timmy lagi.


"Kenapa begitu? Kau malu karena tak membawa pasangan?" Tebak Papa Will yang langsung membuat Timmy tertawa kecil.


"Tahu saja, Pa!"


"Seharusnya Abang mengajak Yvone malam itu!" Celetuk Beth yang langsung membuat Timmy mendengus.


Kenapa lagi-lagi Beth membawa nama Yvone?


"Yvone tak akan mau menjadi pasangan seorang pria gembel, Beth! Stop sudah menjodoh-jodohkan Abang dengan temanmu itu!" Ketus Timmy kemudian seraya berlalu dan meninggalkan pembicaraan


"Apa maksudnya pria gembel, Tim? Siapa yang sudah berani menyebutmu pria gembel?" Mama Tere langsung menyusul langkah Timmy dan meminta penjelasan pada sang putra.


"Kau punya tempat tinggal, kau punya pekerjaan! Jadi siapa yang berani menyebutmu pria gembel? Mama akan mengomelinya!" Cerocos Mama Tere lagi yang sepertinya benar-benar tak terima saat mendengar Timmy yang menyebut dirinya sendiri sebagai pria gembel.


"Bukan siapa-siapa, Ma! Sudah tak usah lebay!" Sergah Timmy yang kembali membenarkan topinya untuk menutupi rambutnya yang sudah lumayan gondrong.


"Mungkin maksudnya gembel disini adalah penampilanmu yang tak karuan itu, Tim!" Ujar Papa Will berpendapat.


"Betul!" Sahut Beth turut menimpali.


"Rambut Abang gondrong dan selalunya baju Abang tak rapi!" Komentar Beth lagi.


"Pergilah ke barbershop agar tak ada yang menyebutmu pria gembel lagi, Tim!" Saran Papa Will kemudian yang hanya diiyakan oleh Timmy meskipun Timmy tak yakin kalau ia akan melakukannya dalam waktu dekat. Timmy masih nyaman dengan penampilannya yang sekarang.


"Timmy pergi dulu, Ma! Pa!" Pamit Timmy akhirnya seraya mencium punggung tangan Mama Tere dan Papa Will secara bergantian.


"Serius Abang tidak datang ke acara pernikahan Rossie?" Tanya Beth sekali.


"Iya serius!"

__ADS_1


"Abang mau kerja!" Jawab Timmy sembari hendak mengacak rambut Beth, saat Beth sudah dengan cepat menghindar.


"No!" Teriak Beth lebay.


"Iya, iya!" Cibir Timmy sebelum akhirnya pria itu berpamitan dan keluar dari rumah.


****


"Tutup!" Gumam Timmy saat ia tiba di kelab malam yang menjadi tempatnya bekerja beberapa tahun belakangan. Tempat itu kini tertutup rapat dan terlihat gelap. Sepertinya isu tentang kelab yang akan segera ditutup itu bukan sekedar isu semata karena sekarang sudah benar-benar terbukti.


"Aku harus mencari pekerjaan baru berarti," ucap Timmy bermonolog sendiri, sembari pria itu melepas topinya, lalu menyugar rambutnya beberapa kali.


Timmy kemudian segera memakai topi dan helmnya kembali, sebelum lanjut meninggalkan tempat tersebut. Timmy akan berkeliling kota dulu untuk mencari angin.


****


"Aku hamil, Re!" Ucapan seorang wanita yang duduk tak jauh dari tempat duduk Timmy saat ini, langsung membuat Timmy menoleh sejenak ke arah pasangan tersebut.


"Iya, terus? Belum tentu juga itu adalah anakku, kan?" Tukas si pria yang sepertinya tidak mau tahu.


Timmy masih menyimak perdebatan pasangan tersebut, sambil sesekali menyesap minuman yang tadi ia pesan.


Ya, setelah tadi Timmy puas berkeliling kota, Timmy akhirnya memutuskan untuk mampir di sebuah kafe yang lumayan mahal harga makanannya.


Konyol memang! Disaat Timmy sedang kehilangan pekerjaan, ia malah menghamburkan uangnya untuk pergi ke kafe ini.


Lagipula, tak ada lagi alasan bagi Timmy untuk menabunh atau bekerja keras!


Wanita yang Timmy perjuangkan saja sudah menolak Timmy mentah-mentah! Jadi apa gunanya lagi Timmy menabung dan mengumpulkan uang untuk membeli rumah mewah untuk istrinya kelak?


Timmy akan menghamburkan saja uang tabungannya mulai sekarang untuk menikmati hidup!


Mungkin Timmy juga akan mengajak Beth shopping dan membelikan apa saja barang yang diinginkan oleh adiknya tersebut!


"Ini adalah anakmu, Reandra! Selama ini aku hanya tidur denganmu!" Tukas wanita yang tadi masoh berdebat dengan pacarnya di meja di samping Timmy.


Wanita itu sebenarnya sudah menurunkan intonasi bicaranya. Namun Timmy masih bisa mendengar jelas semua ucapannya.


"Aku bukan wanita murahan yang tidur dengan banyak pria!" Ungkap wanita itu lagi.


Timmy kembali menoleh ke arah pasangan yang sudah sama-sama dewasa tersebut. Dewasa dalam artian harfiah atau usia. Tidak tahu dalam hal mental! Sepertinya si pria masih kekanakan karena dia terus saja menyanggah dan enggan bertanggung jawab.


"Aku akan menemui kedua orang tuamu dan membawa semua bukti!"


"Bukti apa maksudmu? Jangan coba-coba mengancamku, hah!" Si pria yang tak bertanggung jawab tadi tiba-tiba sudah mendorong si wanita hingga jatuh terduduk di lantai.


"Hei! Jangan main kasar!" Timmy akhirnya tak tahan lagi untuk tak ikut campur. Timmy cepat-cepat membantu wanita tadi untuk bangkit berdiri.

__ADS_1


"Jangan ikut campur, Orang Asing!" Tuding si pria kemudian yang wajahnya terlihat tak asing tersebut. Timmy diam sebentar untuk mengingat wajah tak asing ini....


"Ini Reandra, Bang! Pacarnya Beth!"


"Kau!" Timmy balik menuding pada Reandra yang tampak bingung dengan delikan dari Timmy.


"Pertanggungjawabkan perbuatanmu, kalau memang kau pernah tidur dengan wanita itu, Bung!"


"Jangan jadi pengecut!" Tuding Timmy tegas yang masih mendelik pada Reandra.


"Jangan ikut campur, Orang Asing!" Gertak Reandra lagi yang langsung membuat Timmy berdecak.


Timmy lalu membantu wanita yang tadi didorong oleh Reandra untuk bangkit berdiri.


"Kalau kau punya bukti kuat perbuatannya padamu, dan dia tetap tak mau bertanggung jawab, beberkan saja pada orang tuanya!" Ujar Timmy memberikan saran pada wanita tersebut.


"Jangan mempengaruhinya!" Gertak Reandra yang hendak berbuat sesuatu pada wanita tadi namun Timmy dengan cepat menghalangi.


"Jangan jadi pengecut yang hanya berani pada wanita! Pertanggungjawabkan perbuatanmu atau--"


"Atau aku akan menyebarkan video kita berdua dan membuatmu terkenal!" Sergah wanita tadi yang rupanya sudah menemukan keberanian untuk melawan.


"Jangan coba-coba, Grace!" Reandra menuding sekali lagi pada wanita bernama Grace tadi.


"Pertanggungjawabkan perbuatanmu kalau begitu!" Tantang Grace yang langsung membuat Reandra mendengus, lalu pergi meninggalkan Grace dan Timmy.


"Terima kasih atas bantuanmu," ucap Grace yang langsung membuat Timmy mengangguk.


"Kau harus menemui orang tua pria brengsek itu dan melaporkan kebejatan anaknya," saran Timmy lagi.


"Ya! Aku akan melakukannya! Terima kasih sekali lagi," ucap Grace sekali lagi.


Grace lalu keluar dari kafe dan Timmy memastikan apa gadis itu dalam bahaya atau tidak. Namun rupanya Grace sudah disambut oleh beberapa orang bodyguard begitu ia keluar dari kafe.


"Bukan wanita sembarangan ternyata," gumam Timmy yang lanjut menyesap minumannya yang belum habis. Pria itu lalu keluar dari kafe dan berniat menemui Beth untuk memastikan kalau sang adik sudah tak menjalin hubungan apa-apa dengan Reandra.


Brengsek!


Kenapa Timmy bisa kecolongan dan membiarkan Beth menjalin hubungan dengan seorang pria brengsek?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2