Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
BUTUH BANTUAN


__ADS_3

Timmy baru saja akan keluar dari Sweety Cake untuk mengantar pesanan, saat pria itu melihat Yvone yang mendorong pintu depan toko dengan gerakan kasar dan tergesa.


"Yv-" Beth yang berdiri di belakang meja kasir, belum selesai menyapa, saat tiba-tiba Yvone sudah menghambur ke pelukan adik Timmy tersebut dan menangis tersedu-sedu.


Apa yang sudah terjadi?


"Yv, ada apa?" Tanya Beth yang tentu saja membuat Timmy ikut penasaran.


Sepertinya sedang ada masalah serius yang dihadapi oleh Yvone.


Ingatan Timmy mendadak juga tertuju pada permintaan Beth tempo hari kepadanya. Sebuah permintaan yang menurut Timmy sangat-sangat konyol.


"Please, Bang!" Ucap Beth memohon seraya menggenggam tangan Abang Timmy.


"Tidak!" Jawab Timmy tegas.


"Kenapa aku harus menikah dengan Yvone? Aku bahkan tak punya perasaan apapun pada temanmu itu!" Tukas Timmy lagi seraya berdecak.


"Karena hanya itu satu-satunya cara agar Yvone bisa keluar dari rumah Uncle-nya, Bang!"


"Yvone tertekan tinggal di rumah Uncle-nya!"


"Apa abang tak lihat wajah Yvone yang selalu murung saat ia datang kesini?" Cerocos Beth yang langsung membuat Timmy menggeleng.


"Aku tidak tahu," jawab Timmy kemudian tak peduli.


"Cari saja pria lain!" Tukas Timmy kemudian.


"Tidak ada pria lain, Bang!"


"Pasti ada! Kau carikan sana, lalu kau comblangkan sekalian!" Sergah Timmy memberikan saran


"Tapi jangan minta aku yang melakukannya. Aku masih belum ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat!" Imbuh Timmy lagi.


"Apa karena Abang belum move on dri Kath!" Sergah Beth yang langsung membuat Timmy terdiam untuk beberapa saat.


"Sampai kapan, Bang? Wanita itu bahkan sudah memilih pria lain dan mungkin juga sudah menikah dengan pacarnya yang kaya!"


"Lalu sampai kapan abang mau meratapinya?" Cecar Beth lagi yang tentu saja langsung membuat hati Timmy tersentil.


Mungkin Beth memang menganggap jika hubungan Timmy dan Kath hanyalah sebuah hubungan pacaran biasa. Adik Timmy ini tak tahu saja jika Tinggi dan Kath sudah sering berbagi ranjang serta kehangatan selama hampir dua tahun lamanya.


"Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan Kath!" Ujar Timmy akhirnya sedikit ketus.


"Abang hanya tidak mau menikah dengan gadis yang bahkan abang tak lunua perasaan apapun padanya-"


"Sekalipun itu demi menyelamatkannya?" Sergah Beth lagi.


"Menyelamatkannya dari apa maksudmu? Yvone sudah tinggal bersama Aunty dan Uncle-nya! Jadi dia tidak sedang dalam bahaya sekarang!"


"Lalu aku harus menyelamatkannya darimana?"


"Tapi Yvone tekanan batin tinggal disana, Bang!"


"Yvone hanya ingin keluar dari rumah Uncle-nya, dan satu-satunya jalan adalah Yvone harus menikah!"


"Suruh saja dia menikah dengan pacarnya! Selesai!" Sahut Timmy enteng.


"Yvone tak punya pacar, Bang!" Sergah Beth lagi.


"Cari pacar makanya! Atau cari sana laki-laki yang memang serius dengannya!" Pungkas Timmy seraya pria itu berlalu dari hadapan Beth yang masih terusa saja bercerocos dan membujuk Timmy.


Hhhh! Siapa juga yang mau jadi suami Yvone!


"Pipi kamu kenapa, Yv?" Pertanyaan Beth pada Yvone langsung membuyarkan lamunan Timmy.


"Aunty Jihan menamparku," cicit Yvone yang masih bisa didengar oleh Timmy, sebelum kemudian ponsel pria itu berdering.


"Bang! Kenapa belum pergi? Itu kuenya sudah ditunggu!" Tegur Beth mengingatkan Timmy yang masih mematungdi tempatnya.

__ADS_1


"Iya ini baru mau pergi," ujar Timmy seraya bergegas mengangkat telepon, sembari keluar dari toko kue sang adik.


Sejuta pertanyaan mengenai Yvone kini bercokol di benak Timmy!


****


"Minum dulu, Yv!"


Yvone yang sudah sedikit tenang, segera meraih gelas minuman yang disodorkan oleh Beth. Gadis itu lalu minum dengan perlahan, saat kemudian airmatanya kembali jatuh.


"Yv, sudah!" Beth langsung mendekap Yvone yang masih tak mampu untuk bercerita. Kejadian di rumah Uncle Sahrul tadu benar-benar membuat Yvone shock dan juga trauma. Yvone tak mau lagi pulang ke rumah Uncle-nya tersebut!


Tok tok tok!


Yvone yang masih bersiap untuk pergi bekerja, langsung tersentak saat mendengar suara ketukan di pintu.


"Sia--"


Yvone belum selesai melontarkan pertanyaan, saat pintu malah sudah dibuka dari luar oleh seseorang yang tak punya sopan santun....


"Belum berangkat, Yv?" Tanya Uncle James yang langsung membuat Yvone mengumpat dalam hati.


Brengsek! Kenapa pria tua bangka ini begitu lancang masuk ke kamar Yvone, padahal Yvone sama sekali rak mempersilahkannya.


"Yvone baru saja akan berangkat!" Yvone sudah dengan cepat meraih tasnya, lalu bangkit berdiri.


"Kenapa buru-buru?" Goda Uncle James dengan raut genit menjijikkan. Pria itu juga sudah menghadang langkah Yvone.


"Bolos kerja satu hari tidak masalah, kan? Bukankah hotel itu milik Sahrul!" Ujar Uncle James lagi yang hendak memeluk Yvone, namun tentu saja Yvone langsung gesit menghindar.


"Oh, jual mahal--"


"Baj*ngan!" Maki Yvone berani.


"Apa katamu?" Uncle James langsung mendelik marah pada Yvone, dan berusaha memeluk gadis itu lagi. Namun gagal!


Sial!


"Auuw!" Yvone yang hilang keseimbangan, langsung jatuh terduduk di lantai dan Uncle James langsung tersenyum licik.


Pria paruh baya itu lalu mendekati Yvone dengan raut liciknya. Dan saat situasi genting tersebut, Yvone akhirnya berinisiatif untuk berteriak sekuat tenaga.


"Tolooooong!!"


"Kau pikir akan ada yang dengar, hah?" Cemooh Uncle James yang langsing membuat Yvone beringsut mundur, ke arah pintu. Lalu saat Uncle James lengah, tangan Yvone dengan cepat membuka gagang pintu kamar.


"Tolooong!!" Teriak Yvone lagi lebih keras saat pintu sudah terbuka.


Tak berselang lama, terdengar derap langkah yang menaiki tangga yang langsung membuat Uncle James tiba-tiba sydah bersimpuh di depan Yvone atau lebih tepatnya di kaki Yvone yang tadi sempat tertekuk saat ia jatuh terduduk.


"Yvone, ada apa?" Tanya Uncle Sahrul yang sudah merangsek masuk ke kamar Yvone, beserta Aunty Jihan juga.


"Tolong, Uncle!" Yvone berusaha untuk bangkit berdiri, saat Uncle James dengan cepat mencegah.


"Jangan berdiri dulu, Yvone! Kakimu sepertinya cedera--"


"Tidak!" Yvone langsung menarik kakinya yang hendak dipegang oleh Uncle James.


Brengsek!


"Yvone, ada apa sebenarnya?" Tanya Uncle Sahrul yang akhirnya menghampiri Yvone.


"Dia--" Yvone sedikit terbata saat menunjuk ke arah Uncle James.


"Tadi Yvone terpeleset dan kebetulan aku sedang--"


"Aku tak terpeleset!" Sergah Yvone menyela.


"Kau yang hampir--"

__ADS_1


"Ck! Bisakah kau cerita to the point, Yv?" Aunty Jihan mulai kesal sekarang.


"Adik Aunty ini mau menperkosa Yvone!" Ujar Yvone akhirnya dengan nada lantang.


"Memperkosa bagaimana, Yv? Uncle tadi menolongmu!" Sanggah Uncle James cepat.


"Tidak usah mengarang atau mengada-ada, Yv!" Aunty Jihan ikut-ikutan menimpali dan rupanya lebih percaya pada adiknya yang baj*ngan.


"Uncle!" Yvone akhirnya berhasil bangkit berdiri dan gadis itu langsung menghampiri Uncle Sahrul untuk mengadu.


"Uncle--"


"Jangan mengarang cerita, Yv! James tak mungkin melakukan tindakan asusila padamu."


"Toh tadi Uncle juga melihat dengan mata kepala, James yang sedang memeriksa kaki kamu," sambunh Uncle Sahrul yang benar-benar membuat Yvone ternganga.


Bahkan Uncle Sahrul juga tak percaya dengan penuturan Yvone!


"Tapi Yvone tidak mengarang, Uncle--"


"Sudah cukup, Yvone!"


"Jangan menuduh atau mengarang--'


"Yvone tak mengarang, Aunty! Adik Aunty itu memang baj*ngan--"


"Yvone!"


Plak!


Sebuah tamparan keras mendadak sudah mendarat di pipi Yvone.


"Beraninya kau memaki adikku!" Geram Aunty Jihan kemudian pada Yvone yang kini memegangi pipinya.


"Jihan, seharusnya kau jangan menampar Yvone!" Tegur Uncle Sahrul pada sang istri. Teguran yang amat sangat terlambat.


"Tapi Yvone sudah keterlaluan dan dia--" Kalimat Aunty Jihan belum selesai saat Yvone sudah berlalu pergi dan mengabaikan panggilan sang Uncle. Yvone terus memegangi pipinya, hingga gadis itu masuk ke mobil.


"Aku akan keluar dari rumah ini!" Tekad Yvone seraya gadis itu memacu mobilnya keluar dari rumah sang Uncle.


Triing!


Suara lonceng di atas pintu masuk, langsung membuyarkan lamunan Yvone.


"Ada beberapa pria berpakaiam serba hitam di luar," Lapor Timmy yang rupanya sudah kembali dari mengantar kue.


"Berpakaian hitam--"


"Mereka anak buah Uncle Sahrul dan sedang membuntutiku," sela Yvone dengan tatapan mata Beth kosong.


"Kau tidak akan kembali ke rumah Uncle-mu, kan?" Tanya Beth yang lebih mirip permintaan pada Yvone. Beth memang sudah mendengar semua cerita Yvone.


"Tidak! Kau tak boleh kembali kesana--"


"Uncle tetap akan menyeretku pulang, Beth!" Isak Yvone kembali sesenggukan.


"Kau tahu sendiri kalau Uncle tak mengizinkan aku keluar dari rumahnya sampai aku menikah dengan seorang pria...." ucap Yvone lagi putus asa.


"Kau akan menikah dengan Abang Timmy kalau begitu!" Cetus Beth tiba-tiba yang langsung membuat Abang Timmy berteriak kaget.


"Apa?!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2