
Hari sudah beranjak gelap dan Timmy masih berada di depan kediaman Hadinata. Sejak tadi kedua mata Timmy awas menatap ke arah gerbang rumah besar tersebut, seolah ia sedang menunggu seseorang.
Ya, Timmy memang sedang menunggu Kath, entah gadis itu akan keluar atau masuk ke rumah besar Om Robert.
Tapi jika Kath benar berada di kota ini, bukankah seharusnya Kath menginap di rumah Uncle dan Aunty-nya ini?
Timmy kembali membuka ponselnya, bersamaan dengan sebuah telepon yang masuk. Rekan kerja Timmy menelepon!
"Halo!" Sambut Timmy cepat sambil masih mengarahkan tatapannya ke kediaman Hadinata.
"Kau berangkat malam ini, Tim?"
"Ya!" Jawab Timmy seraya melihat arlojinya.
"Bagus! Karena aku harus izin malam ini!"
"Oh! Izin saja kalau begitu! Tak perlu khawatir!" Tukas Timmy sebelum kemudian rekannya berpamitan dan menutup telepon.
Timmy kembali mengarahkan pandangannya ke kediaman Hadinata saat melihat ada mobil yang hendak masuk ke dalam gerbang. Timmy bergegas bangkit dari duduknya dan memperhatikan mobil siapa yang masuk. Sayangnya gerbang langsung ditutup begitu mobil masuk ke dalam.
"Ck! Aku akan menelepon Kath saja," putus Timmy akhirnya seraya kembali menghubungi Kath.
Tersambung tapi tak diangkat! Apa Kath sengaja?
Timmy akhirnya hanya berdecak dan memutuskan untuk pergi dari kediamam Hadinata. Timmy juga masih harus pergi bekerja malam ini!
****
"Tim, ada yang mencarimu!"
Timmy baru keluar dari toilet, saat rekannya memberitahu tentang seorang tamu yang katanya mencari Timmy. Siapa?
Timmy bergegas menuju ke meja bar untuk mencaritahu. Dan pria itu benar-benar terkejut saat melihat gadis bergaun hitam yang sedang duduk santai menghadap meja bar sembari tersenyum pada Timmy.
"Sedang apa disini?" Tanya Timmy seraya menatap tak suka pada Kath yang masih tersenyum tanpa dosa.
"Menemuimu!" Kath hendak menyesap minuman di gelasnya, namun Timmy dengan cepat mencegah. Timmy mencium aroma minuman tersebut untuk memastikan Kath todak minum minuman keras.
"Itu bukan minuman keras!" Sergah Kath yang langsung merebut kembali minumannya dari tangan Timmy.
"Kau meneleponku tadi? Ada sebelas panggilan tak terjawab," ujar Kath selanjutnya bertanya pada Timmy.
"Ya!"
"Kau tadi dimana? Sepertinya sedang sibuk," jawab Timmy sambil tangannya meracik minuman untuk tamu lain.
"Memang!" Kath menyesap minumannya lagi.
"Aku sedang makan malam dengan klien bisnisnya Dad."
"Lagipula, aku di kota ini untuk urusan bisnis dan bukan untuk mengunjungimu saja!" Kath menuding ke arah Timmy sembari tertawa kecil.
"Tapi kau menginap di rumah Uncle-mu, kan?" Timmy memastikan lagi.
"Uncle Rob? Aku sudah ke sana pagi tadi," ujar Kath.
"Tapi malam ini aku akan menginap di kost-mu saja." Kath kembali tertawa kecil.
"Kecuali pacarmu yang siang tadi--"
"Sudah kubilang kalau itu bukan pacarku!" Sergah Timmy menegaskan sekali lagi pada Kath.
"Oh, ya!"
__ADS_1
"Bukan pacar tapi kau menggendongnya." Kath sedikit meledek Timmy.
"Karena dia tadi pingsan! Tidak mungkin aku menyeretnya atau membiarkannya di teras, kan?" Tutur Timmy memcari alasan.
"Benar juga!"
"Dia masih di kost-mu?" Tanya Kath lagi.
"Sudah dijemput pacarnya dan dibawa pergi," jawab Timmy tegas.
"Oh! Aku pikir kau pacarnya." Kath lagi-lagi tertawa kecil dan Timmy hanya bisa mendengus sekarang. Entah bagaimana caranya membuat Kath percaya!
"Aku akan melayani tamu yang lain dulu dan kau jangan kemana-mana!" Pesan Timmy yang hanya membuat Kath memutar bola mata. Kath lanjut membuka ponselnya dan wanita itu langsung sibuk bertukar pesan bersama Marvel.
Sementara, di dekat pintu masuk kelab, seorang gadis yang tadinya hendak masuk untuk menyapa Timmy, memilih untuk mengurungkan niatnya dan segera berbalik pergi. Tangan gadis itu mengepal erat dan kecemburuan seolah sedang membuncah di dadanya sekarang.
****
"Kau periksa semuanya!" Ucap Reandra dengan nada memerintah, seraya pria itu meletakkan satu buah map di atas meja kerja Yvone.
"Bukankah itu pekerjaanmu, Pak General Manager!" Yvone melempar tatapan tajam pada sang sepupu.
Ya, sulit dipercaya memang. Tapi Reandra menyebalkan ini memanglah sepupu Yvone. Dulu sebenarnya Reandra tak menyebalkan dan Yvone lumayan dekat dengannya. Namun sejak pria ini pulang dari USA, Yvone mendadak menjadi sebal pada Reandra. Terlebih Reandra yang kerap bergonta-ganti pacar, dan sekarang pria ini juga malah mendekati Beth yang notabene adalah teman baik Yvone sekaligus adik dari Timmy.
Salah Yvone juga yang dulu membantu Beth pedekate dengan Reandra!
Tapi dulu Reandra tak begini, dan sekarang Yvone benar-benar menyesal.karena sudah mengenalkan Beth pada Reandra. Terlebih Beth begitu keras kepala dan tak percaya pada semua omongan Yvone tentang Reandra. Adik Timmy itu seperti sudah dibutakan oleh cintanya pada Reandra!
Konyol!
"Dan kau adalah wakilku! Jadi susah menjadi tugasmu untuk mengerjakan pekerjaan yang tak bisa kutangani!"
"Aku sibuk!", tukas Reandra seraya merapikan kemejanya.
"Sibuk merayu para wanita?" Sindir Yvone pedas yang hanua membuat Reandra berdecak.
Dasar!
"Bisakah kau berhenti mengganggu Beth dan tak perlu memberikan harapan apa-apa padanya!" Seru Beth saat Reandra sudah mencapai ambang pintu dan hendak keluar.
"Temanmu itu saja yang tergila-gila padaku dan tak mau lepas dari pelukanku!"
"Jadi jangan menyalahkan aku yang memberikannya jalan!"
"Aku hanya mengikuti arus," tukas Reandra yang benar-benar membuat Yvone ingin meninju sepupunya tersebut.
Andai Yvone tak ingat kalau Papinya Reandra yang sudah menyelamatkan Yvone dari keterpurukan, serelah drama perceraian kedua orang tua Yvone.
"Lakukan saja pekerjaanmu dan tak usah berkomentar tentang hubunganku bersama Beth!"
"Aku juga yakin kalau Beth tak akan percaya pada semua omonganmu tentang aku!"
"Beth hanya percaya padaku!" Ucap Reandra penuh kesombongan yang langsung membuat Yvone menggeram kesal.
Terserah saja!
Yvone baru mendaratkan bokongnya kembali di kursi kerja, saat kemudian ponsel gadis itu berdering nyaring. Ada deretan nomor asing yang tertera di layar.
"Siapa ini?" Gumam Yvone yang akhirnya mengangkat telepon dari nomor asing tersebut.
"Halo, selamat pagi!" Sapa Yvone sopan.
"Yvone!"
__ADS_1
Yvone langsung tahu suara siapa di ujung telepon. Tadi malam Yvone hampir menemuinya di kelab, namun tak jadi karena sudah keduluan oleh wanita lain yang entah siapa.
Mungkinkah wanita yang semalam itu adalah pacar Timmy?
"Timmy?" Gumam Yvone memastikan.
"Kau kenal suaraku." Terdengar tawa canggung Timmy di ujung telepon.
"Ya! Suaramu punya ciri khas dan mudah dikenali," ujar Yvone beralasan.
"Oh! Aku malah tidak tahu!" Timmy kembali tertawa canggung.
"Jadi, ada apa menelepon? Kau sudah mengambil motormu di bengkel, kan?" Cecar Yvone yang kembali ingat pada motor Tinggi yang tempo hari ia urus pengambilannya dari kantor polisi, lalu Yvone bawa ke bengkel juga. Namun karena kerusakan yang lumayan parah dan pihak bengkel juga angkat tangan untuk memperbaikinya, Yvone akhirnya memutuskan untuk membelikan motor yang serupa dengan motor lama Timmy.
Tapi semoga pria itu tak menyadarinya!
"Sudah kuambil kemarin. Tapi sepertinya--"
"Sepertinya kenapa?" Sergah Yvone mulai cemas.
Jangan-jangan Timmy menyadari perbedaan motor lamanya dengan motor yang sekarang!
Tapi sebaiknya Yvone tetap tenang dan yakin!
"Sepertinya ada yang berbeda dengan motorku."
"Apa kau menggantinya dengan motor lain?"
Yvone langsung diam beberapa saat dan hadus otu juga menelan ludahnya berulangkali.
Ternyata Timmy begitu peka dan menyadarinya. Bagaimana ini?
"Motor lain apa maksudmu, Tim? Itu memang motormu yang kemarin kecelakaan--"
"Tapi kata Beth motorku sudah ringsek parah dan mustahil diperbaiki!"
"Tapi itu bisa diperbaiki! Dan sekarang sudah bisa kau pakai lagi," tukas Yvone meyakinkan Timmy.
"Tapi kuncinya berbeda dan itu buka kunci motor lamaku--"
"Kata pihak bengkel kunci yang lama rusak jadi mereka mengganti dengan kunci yang baru!" Sergah Yvone tak kehilangan akal dan alasan.
"Bisa begitu?" Suara Timmy terdengar tak percaya.
"Tentu saja bisa!" Jawab Yvone salah tingkah.
"Baiklah, jadi kau tetap tak mau berkata jujur?"
"Berkata jujur mengenai apa? Itu memang motor kamu, Tim!" Ucap Yvone seyakin mungkin.
"Ya! Ini motorku!"
"Bisa kau katakan berapa harganya agar aku bisa mengganti--"
"Hai kau sudah bangun? Maaf kalau suaraku terlalu keras. Aku akan keluar!"
Yvone langsung mengernyit, saat mendengar Timmy yang sepertinya sedang bicara pada seseorang.
Timmy sedang dimana memangnya?
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.