Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
CERITA


__ADS_3

Timmy menatap pada rumah berpagar tinggi yang kata Beth adalah rumah Fairel. Ingatan Timmy mendadak melayang ke rumah besar yang serupa dengan rumah di depannya tersebut, yang terakhir kali ia tinggalkan saat usianya empat tahun.


Timmy hanya ingat ia berangkat sekolah kala itu bersama seorang supir, lalu setelahnya Timmy mimisan dan pingsan di sekolah.


Dan hari-hari Timmy setelah itu adalah berada di rumah sakit, bergelut dengan jarum suntik yang berulangkali ditusukkan ke kulitnya.


Bahkan beberapa masih membekas hingga sekarang!


"Bang!" Teguran Beth langsung menyentak lamunan Timmy.


"Kau bangunkan dia!" Titah Timmy pada Beth, seraya mengendikkan dagunya ke arah Fairel yang kini tertidur di jok belakang. Sepertinya pria itu kelelahan bonus kekenyangan juga. Jadilah tidurnya begitu pulas saat perjalanan pulang tadi.


"Kita nanti pulang naik apa?" Tanya Beth yang masih belum bergerak untuk membangunkan Fairel.


"Naik taksi," jawab Timmy.


"Kalau tidak ada taksi?" Tanya Beth pesimis.


"Jalan kaki," jawab Timmy yang langsung membuat Beth merengut.


"Malam-malam?"


"Kan ada abang! Memang kau takut apa?" Tanya Timmy seraya menatap pada Beth yang ganti menggeleng.


Kadang Timmy memang suka menggoda adiknya yang gemar merengut ini. Beth usianya terpaut lima tahun dari Timmy, dan sejak dulu Timmy selalu berusaha untuk menjaga adiknya ini.


"Ngomong-ngomong, beberapa hari yang lalu, Beth pernah bertemu teman Abang yang katanya meminjam motor Abang."


"Pasangan suami istri," cerita Beth yang langsung membuat Timmy mengernyit.


"Eh, tidak tahu mereka sudah menikah belum. Yang jelas satu laki-laki dan satu perempuan--"


"Elang?" Tanya Timmy memastikan. Satu-satunya teman Timmy yang kerap meminjam motor Timmy belakangan ini memanglah Elang.


Elang juga membawa seorang wanita ke kost-an milik Timmy yang ia sewa. Entah ada hubungan apa mereka berdua, Timmy tak mau ikut campur. Hanya saja, Timmy memang sesekali membantu Elang memantau wanita bernama Syiela itu di kost-an saat Elang sedang sibuk. Kadang Timmy juga mengantarkan makanan untuk Syiela sesuai arahan dari Elang.


"Iya, itu mungkin! Beth lupa-lupa ingat namanya," tukas Beth seraya meringis.


"Tadinya Beth mengira kalau dia mencuri motor Abang," cerita Beth lagi yang langsung membuat Timmy berdecak, lalu mengacak rambut adik semata wayangnya tersebut.


"Tapi kau tanya baik-baik, kan? Atau kau langsung mengomelinya?" Cecar Timmy yang hanya dijawab Beth dengan ringisan dan tawa khas.


Timmy sudah langsung paham maksudnya!


"Lain kali tanya baik-baik, Beth!" Nasehat Timmy kemudian.


"Iya, Bang! Maaf!" Beth mengangkat tangannya dan membentuk tanda V.


"Kau bangunkan temanmu itu--"


"Ck! Dia bukan teman Beth, Bang!"


"Orangnya nyebelin!" Curhat Beth seraya berbalik, lalu mengguncang tubuh Fairel yang kini malah mendengkur.

__ADS_1


"Iel!" Beth terus mengguncang tubuh Fairel agar pria itu bisa secepatnya bangun.


"Iel! Isssh! Bangun!" Beth mulai terlihat geram sekarang dan Timmy hanya menahan tawa alih-alih membantu sang adik.


"Abang jangan hanya tertawa! Bantuin!" Rengek Beth yang tangannya masih mengguncang tubuh Fairel yang tidurnya sudah seperti orang mati sekarang.


"Guncang terus!" Timmy memberikan dorongan semangat pada Beth yang sudah merengut dan putus asa membangunkan Fairel karena pria itu memang tak kunjung bangun.


"Tetap tidak mau bangun!"


"Bagaimana ini, Bang?" Tanya Beth meminta pendapat Timmy yang hanya mengendikkan kedua bahunya. Timmy lalu diam dan berpikir cukup lama.


"Lapor security saja!"


"Rumah mewah begitu pasti ada security di depannya," usul Timmy akhirnya menemukan sebuah ide cemerlang.


"Abang yang lapor!" Perintah Beth seraya bersedekap. Sepertinya adik Timmy itu sudah mulai merajuk gara-gara Fairel yang tak kunjung bangun tadi.


"Baiklah! Abang akan lapor," tukas Timmy akhirnya bersamaan dengan Fairel yang tiba-tiba malah sudah bangun dan bertanya seperti orang linglung


"Siapa yang mau dilaporkan?" Fairel menatap serius pada Beth dan Timmy. Tatapan pria terlihat menyelidik penuh kecurigaan


"Kau!" Beth langsung menjawab pertanyaan Fairel dengan ketus.


"Aku? Kenapa? Tadi yang meninju wajahku abangmu! Kenapa aku yang mau kau laporkan?" Cerocos Fairel nyaris tanpa jeda. Tak lupa Fairel juga menunjuk me arah Timmy yang tadi memang menghadiahi pria ini satu bogem mentah. Dan sekarang, Timmy malah ingin menghadiahi pria di depannya itu dengan dia atau lebih bogem mentah.


"Sudahlah!" Ucap Beth akhirnya seraya membuka sabuk pengaman. Timmy juga langsung melakukan hal yang sama karena ia susah malas berdebat dengan Fairel.


"Sekali lagi aku minta maaf, Iel!" Ucap Timmy pada Fairel seraya membuka pintu mobil.


Baru kali ini permintaan maaf Timmy ditolak oleh seseorang.


"Berarti memang sudah sifat kamu itu yang menjadi orang pendendam! Kemarin juga pas aku minta karena tak sengaja membuatmu tercebur ke kolam, kau juga tak mau memaafkan!" Beth sudah bercerocos kesana kemari sambil bersungut-sungut pada Fairel. Dua orang itu lalu kembali terlibat dalam perdebatan yang membuat Timmy harus menggaruk kepalanya yang tak gatal


"Tapi kau malah merem*s pundakku sampai biru-biru." Beth yang tadi bersungut kini wajahnya ganti cemberut.


"Serius sampai biru? Mana?" Fairel tiba-tiba sudah menarik kaus Beth seolah pria itu hebdak melakukan hal mesum pada Beth. Tentu saja Timmy tak tinggal diam dan langsung menegur pria di depannya tersebut.


"Hei! Hei! Kau mau apa?" Gertak Timmy dengan nada galak.


"Aku hanya ingin memastikan apa pundak Beth benar-benar biru setelah aku cengkeram kemarin." Tukas Fairel beralasan sebelum kemudian pria itu kembali berdebat dengan Beth.


Timmy bahkan bingung harus melerai bagaimana, jadi ia diam menyimak saja, sampai akhirnya Beth membuka pintu mobil dan mengajaknya turun.


"Ayo turun saja dan pulang, Bang!"


Timmy tak berkomentar lagi dan langsung ikut turun dari mobil Fairel.


"Kalian mau pulang naik apa tengah malam begini?" Tanya Fairel yang rupanya juga sudah ikut-ikutan turun.


"Apa saja yang ada!" Jawab Beth malas.


"Bawa saja mobilku kalau begitu! Toh aku juga sudah sampai di rumah," ucap Fairel sembari menahan langkah Timmy.

__ADS_1


"Tidak usah! Repot harus balikin kesini lagi besok," tolak Timmy cepat sambil menyentak tangan Fairel.


"Ck! Tidak usah dikembalikan kalau begitu!" Jawab Fairel enteng yang langsung membuat Beth dan Timmy saling bertukar pandang sekaligus merasa bingung.


Apa maksudnya tak dikembalikan? Fairel mau memberikan mobil itu untuk Beth dan Timmy?


Apa pria ini sedang mabuk?


Timmy kemudian berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari bergumam, "Sinting!"


"Ayo Beth!" Ajak Timmy kemudian seraya menyentak hadangan Fairel, lalu menggandeng sang adik untuk meninggalkan Fairel yang kini malah berteriak-teriak tak jelas.


"Tapi ini sudah tengah malam! Tidak ada taksi atau bus!"


Timmy dan Beth hanya mengabaikan teriakan Fairel, dan kakak beradik itu terus melangkah menuju ke ujung jalan.


"Abang mau apa?" Tanya Beth saat Timmy hendak memeriksa pundak sang adik. Timmy teringat kata-kata Beth tadi tentang Fairel yang sudah membuat pundak Beth menjadi biru.


"Kau diapakan oleh pria tadi?" Timmy masih berusaha memeriksa pundak Beth, meskipun adiknya itu sedikit menolak.


"Hanya salah paham," jawab Beth sedikit merengut.


"Salah paham kenapa sampai dia menyakitimu--"


"Bukan menyakiti, Bang! Fairel hanya sedang emosi saat Beth menemuinya. Dan sebenarnya dia hanya merengkuh pundak Beth, namun terlampau keras." Cerita Beth sembari membenarkan kaus dan overall yang ia kenakan


"Salah Beth juga yang mengambil baju Fairel tanpa izin. Tapi Beth hanya ingin bertanggung jawab karena saat ulang tahun Rossie, Beth sudah membuat Fairel tercebur ke kolam," ujar Beth lagi melanjutkan ceritanya.


Timmy sontak tertawa mendengar cerita Beth tentang Fairel yang tercebur ke kolam renang.


"Malah ketawa!" Cibir Beth pada sang Abang.


Saat kakak beradik itu swdang asyik bercerita sambil berjalan ke arah jalan utama, tiba-tiba mobil Fairel yang tadi dikemudikan oleh Timmy sudah berhenti di depan mereka.


"Maaf, Mas, Mbak!" Seorang pria paruh baya turun dari mobil dan menyapa Timmy serta Beth.


"Tadi Pak Fairel memonta saya untuk mengantar mas dan mbaknya pulang," tukas pria berseragam security tersebut.


"Kami akan naik taksi saja, Pak!" Tolak Timmy cepat seraya merangkul Beth.


"Tapi ini hampir tengah malam, Mas! Kalau tidak ada taksi bagaimana?"


Timmy dan Beth saling diam, lalu keduanya berdiskusi sebentar.


"Baiklah kalau begitu, Pak!" Tukas Timmy akhirnya yang bersedia untuk diantar oleh security Fairel tersebut. Timmy lalu menyebutkan alamat kedua orangtuanya.


"Tidak pulang ke kost, Bang?" Tanya Beth sembari masuk ke dalam mobil.


"Tidak usah! Abang mau istirahat di rumah mama saja," tukas Timmy yang lanjut menutup pintu belakang. Timmy sendiri memilih untuk duduk di samping kursi pengemudi sekalian menunjukkan jalan.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2