
"Itu anaknya sudah pulang," ujar Aunty Jihan saat Yvone baru tiba di rumah.
"Darimana, Yv?" Tanya Uncle Sahrul kemudian pada Yvone.
"Bertemu teman, Uncle," jawab Yvone seraya menatap bergantian pada Uncle Sahrul dan Aunty Jihan.
"Sampai gelap begini? Temanmu laki-laki atau perempuan?" Cecar Uncle Sahrul lagi.
"Yvone sudah dewasa dan bukan remaja kemarin sore, Uncle! Jadi bisakah Uncle dan Aunty berhenti mengekang Yvone?" Sergah Yvone menumpahkan semua kekesalannya.
"Uvtak mengekangmu! Uncle hanya sedang menjagamu, Yvone!"
"Yvone bisa menjaga diri Yvone sendiri, Uncle!" Sergah Yvone lagi.
"Dan Yvone ingin kembali lagi ke apartemen! Yvone--" Yvone menatap sekilas pada Uncle James yang tersenyum mengejek ke arahnya.
Brengsek!
"Yvone ingin tinggal sendiri lagi--'
"Tidak!" Jawab Uncle Sahrul tegas.
"Kau akan tetap tinggal disini sampai nanti kau menikah!"
"Uncle tak akan lagi mengizinkan kau tinggal sendiri, apapun alasannya!' Tegas Uncle Sahrul sekali lagi yang langsung membuat Yvone menghela nafas frustasi.
Tinggal disini sampai Yvone menikah?
Yvone akan gila tak lama lagi, terlebih dengan kehadiran Uncle James yang begitu mengintimidasi batinnya.
Adik Aunty Jihan itu selalu saja menatap Yvone dengan tatapan yang membuat risih!
"Apartemenmu juga sudah Aunty sewakan pada teman Aunty, Yvone! Jadi kau tak punya pilihan lagi sekarang," ujar Aunty Jihan kemudian yang benar-benar membuat Yvone ternganga.
"Tapi Aunty belum bicara apalagi minta izin pada Yvone!"
"Itu apartemen pribadi Yvone, Aunty! Kenapa--"
"Aunty baru saja mengatakannya kepadamu!"
__ADS_1
"Dan jika kau mempermasalahkan tentang uang sewanya, nanti Aunty kirim ke rekeningmu!" Sergah Aunty Jihan yang langsung mendelik pada Yvone.
"Ini bukan tentang uang sewa!" Gumam Yvone kesal sembari berlalu pergi tanpa lagi berbasa-basi pada Aunty Saja maupun Aunty Jihan.
Yvone lalu segera naik ke kamarnya di lantai atas, namun saat di tangga Yvone malah berpapasan dengan Reandra menyebalkan.
"Merasa tersiksa tinggal disini, Sepupu?" Tanya Reandra dengan nada meledek.
"Semua karena ulahmu!" Sungut Yvone sembari terus melanjutkan langkahnya ke lantai dua.
Keluarga menyebalkan!
****
"Aku akan menikah minggu depan." Ucapan Kath satu pekan yang lalu kembali terngiang di benak Timmy. Pria itu lalu menatap pada kalender di depannya, dan memejamkan mata.
"Ini sudah satu pekan."
"Selamat untuk pernikahanmu, Kath!" Gumam Timmy kemudian seraya memegang pinggiran kalender duduk di tangannya dengan begitu erat.
"Semoga kau bahagia dengan pernikahanmu," gumam Timmy lagi, bersamaan dengan teguran Beth yang langsung membuat Timmy terlonjak.
"Kau juga belum pulang. Jadi Abang disini menemanimu," jawab Timmy akhirnya beralasan.
Sudah satu pekan atau tepatnya sejak kelab tempat Timmy bekerja tutup, Timmy memang selalu ke toko Beth dan membantu adiknya ini mengantar pesanan. Sekalian Timmy juga sedang mencarj lowongan pekerjaan yang sekiranya cocok untuk dirinya.
"Beth mau beres-beres dulu baru pulang," tukas Beth akhirnya seraya masuk lagi ke dalam dapur. Timmy lalu ikut masuk ke dapur dan mengekori sang adik.
"Beth, ada yang bisa abang bantu?"
"Ya!"
"Tolong keluarkan sampah ini daei dapur, Bang!" Jawab Beth seraya menunjuk ke tempat sampah di dapur. Timmy lalu bergerak cepat dan segera membantu sang adik.
****
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam saat Timmy sudah tiba lagi di toko untuk menjemput Beth.
Tadi setelah Timmy dan Beth selesai membereskan toko, Timmy memang pulang sebentar untuk mandi dan ganti baju karena Timmy dan Beth rencananya akan jalan-jalan sebentar ke alun-alun kota. Sedangkan Beth menolak ikut dan katanya mau menunggu di toko saja.
__ADS_1
"Beth!" Panggil Timmy seraya mendorong pintu toko.
"Iya, Bang!"
"Sudah selesai mandinya?" Tanya Beth yang terlihat sedang menyeka airmatanya.
Apa Beth habis menangis? Tapi kenapa?
Tadi saat Timmy timggal gadis itu bahkan masih tertawa lepas!
"Kau menangis?" Tanya Timmy seraya menghampiri sang adik.
"Tidak!"
"Beth hanya kelilipan, kok!" Sanggah Beth yang langsung menyambar beberapa lembar tisu untuk menyeka hidungnya yang tampak berair juga.
"Tapi kenapa sampai sembab--"
"Beth hanya sedikit flu, Bang!" Ujar Beth lagi seraya menyentak tangan Timmy yang tadi mengangkat dagunya.
"Tadi katanya mau ke alun-alun?" Tanya Beth selanjutnya menagih janji Timmy tadi.
"Ayo berangkat!" Ajak Timmy kemudian seraya menyodorkan jaket pada adiknya tersebut.
"Ingat saja!" Cibir Beth yang langsung membuat Timmy terkekeh.
"Mama yag mengingatkan," ujar Timmy berkata jujur yang langsung membuat Beth kembali mencibir.
Kakak beradik itu lalu segera mengunci pintu toko dan lanjut naik motor menuju ke alun-alun kota.
.
.
.
Sambungan dari "Beth Ter-Sweet" bab 103
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1