Sebatas Teman Ranjang

Sebatas Teman Ranjang
BAGAIMANA BISA?


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya....


Beep!


Yvone membunyikan klakson mobilnya sekali, saat ia melihat kerumunan serta beberapa kendaraan yang parkir sembarangan karena pengendaranya melihat sesuatu.


Ada apa?


"Menabrak ekor truk!"


"Mengantuk sepertinya."


Obrolan dari beberapa warga yang melontas di dekat mobil Yvone, tak sengaja mampir di telinga gadis itu.


"Kecelakaan?" Yvone bertanya pada dirinya sendiri sembari terus melajukan mobilnya dengan kecepatan siput, menyesuaikan mobil di depannya yang juga bergerak lambat.


"Ambulance sudah datang!" Seru beberapa warga bersamaan dengan terdengarnya raungan sirine ambulance dari kejauhan.


"Beri jalan! Beri jalan!"


Yvone memilih untuk menepikan mobilnya sejenak dan memberikan jalan pada ambulance yang hendak memberikan pertolongan pada korban kecelakaan. Posisi mobil Yvone yang lumayan dekat dengan titik kecelakaan, membuat gadis itu bisa melihat dengan jelas motor ringsek yang masih berada di belakang truk.


Lalu si korban kecelakaan yang sudah dibawa masuk ke dalam ambulance.


"Sebentar!" Yvone melepaskan kaca mata hitamnya, lalu membaca nama kecil di bawah plat motor yang ringsek tadi. Ada nama yang tak asing tertera di sana.


Timmy!


Yvone bergegas turun dari mobil dan setengah berlari menuju ke ambulance untuk memastikan korban kecelakaan yang kata warga pingsan tadi.


"Pak!" Panggil Yvone pada petugas ambulance yang hendak menutup pintu ambulance.


"Ada apa?"


"Saya boleh melihat sebentar korban kecelakaan? Motornya mirip motor teman saya!" Pinta Yvone dengan wajah seyakin mungkin.


"Silahkan!"


"Identitas korban juga tak ditemukan tadi kata warga," ujar petugas yang langsung memberikan akses pada Yvone.


Yvone langsung bergegas untuk memastikan dan benar saja!


"Timmy!" Gumam Yvone seraya menghela nafas dengan berat.


"Bagaimana?"


"Iya, itu teman saya, Pak! Dia akan dibawa kemana? Nanti saya susul setelah saya hubungi keluarganya," tanya Yvone selanjutnya pada petugas ambulance.


Setelah petugas ambulance menyebutkan nama salah satu rumah sakit, Yvone bergegas kembali ke mobilnya dan menghubungi Beth. Namun ponsel adik Timmy itu malah tak aktif.


"Beth kira-kira percaya tidak, ya? Dia kan marah sama aku kemarin," Yvone laku bergumam sendiri di dalam mobil.


"Ah! Aku ke rumah sakit dulu saja dan nanti aku kirim foto Timmy agar Beth percaya," putus Yvone akhirnya sebelum lanjut melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat Timmy dibawa tadi.


****


"Yvone!"


Yvone masih termenung di depan ruang UGD, saat Beth terlihat berlari untuk menghampirinya.


Ya, setelah tadi Yvone mencoba berulang kali menghubungi Beth, ponsel gadis itu akhirnya aktif dan pesan Yvone juga akhirnya masuk serta dibaca oleh Beth.


"Abang Timmy mana?" Tanya Beth selanjutnya bersamaan dengan brankar Timmy yang sudah didorong masuk ke ruang UGD lagi. Sepertinya pemeriksaan Timmy sudah selesai dilakukan.


"Abang!" Beth langsung menghampiri Timmy yang tampak mendengus. Sementara Yvone memilih untuk langsung menemui dokter yang tadi menangani Timmy dan menanyakan kondisi pria itu.


"Tidak ada tulang yang patah, dan cedera kepalanya juga hanya cedera luar yang tak mengenai organ dalam. Sepertinya dia melompat di waktu yang tepat." Ujar Dokter seraya terkekeh.


"Jadi tak perlu rawat inap, Dok?" Tanya Yvone memastikan.


"Tidak perlu. Pasien bisa langsung pulang setelah semuanurusan administrasi selesai," Tukas dokter yang langsung membuat Yvone mengangguk lalu berterima kasih.


Setelah dokter tadi undur diri, Yvone segera kembali ke ruang UGD, dimana Beth sedang mengomel pada Timmy.


"Abang melamun atau bagaimana, sih?"

__ADS_1


"Kok bisa-bisanya menabrak ekor truk dan jatuh dari motor!" Omel Beth pada Timmy yang kini terlihat meringis. Mungkin karena sedang menahan perih luka di kaki serta tangannya yang tadi mencium aspal hitam.


"Diam dan jangan berisik!"


"Dan jangan bilang pada Mama dan Papa!" Timmy balik mengomel pada Beth seraya menuding pada adiknya tersebut. Beth sontak langsung mengerucutkan bibir.


"Kata dokter bisa rawat jalan saja dan tak perlu rawat inap," tukas Yvone yang akhirnya menengahi perdebatan Beth dan Timmy. Yvone juga sekalian menjelaskan pada Beth meskipun rasanya sedikit canggung.


Ya, baru kemarin Yvone dan Beth terlibat perdebatan panas mengenai pacar baru Beth yang sebenarnya adalah sepupu Yvone, Reandra!


"Ya!"


"Terima kasih karena sudah membawa Abang Timmy ke rumah sakit, lalu mengabariku," ucap Beth akhirnya yang hanya sesekali menatap pada Yvone.


Sepertinya Beth masih kesal pada Yvone namun berusaha ditahan.


"Seharusnya kau tadi tak perlu membawaku kesini, Yv! Aku jadi disuntik begini!" Gantian Timmy yang buka suara dan mengomel pada Yvone yang tentu saja langsung mengernyit bingung.


Berbeda dengan Beth yang malah menahan tawa. Ada apa memang? Timmy sebenarnya takut disuntik?


"Kau tadi pingsan, jadi aku bawa ke UGD karena takutnya ada luka serius--"


"Aku baik-baik saja!" Sergah Timmy cepat memotong kalimat Yvone.


Yvone akhirnya langsung diam dan tak bicara apa-apa lagi. Padahal tadi yang membawa Timmy ke rumag sakit juga bukan Yvone, tapi petugas ambulance. Yvone hanya membantu mengenali identitas Timmy serta menghubungi Beth yang notabene adalah keluarga Timmy.


Sepertinya Timmy sedikit salah paham


"Bilang makasih, Bang!" Ucap Beth kemudian seolah sedang mengajari Timmy.


"Iya, terima kasih, Yv!" Ucap Timmy akhirnya pada Yvone yang langsung mengulas senyum.


"Sama-sama!"


"Aku akan langsung kembali ke--"


"Ke hotel!" Potong Beth yang nada bicaranya Beth sedikit sinis.


Padahal tadi gadis itu sudah tertawa dan Yvone pikir Beth sudah lupa mengenai perdebatan mereka kemarin.


Hhhh!


"Memangnya yang menuduh kau menjual diri siapa?" Gumam Beth tetap dengan nada sinis.


"Tidak ada!" Yvone tertawa sumbang, sebelum kemudian gadis itu berpamitan sekali lagi.


"Aku pergi dulu."


"Cepat sembuh, Tim!" Ucap Yvone sembari menepuk punggung Timmy yang hanya mengangguk. Yvone tak berbasa-basi lagi pada Beth dan langsung keluar dari ruang UGD.


****


Timmy dan Beth masih sama-sama diam setelah kepergian Yvone tadi. Beth juga masih bersedekap sembari merengut.


"Kalian berdua sedang ribut?" Tebak Timmy yang akhirnya buka suara.


"Yvone yang mulai!" Jawab Beth kekanakan, tetap dengan tangan yang terlipat du depan dada.


Timmy sendiri masih tak paham bagaimana awal mula Beth dan Yvone bisa menjadi teman. Satu hal yang pasti mereka bukanlah teman sekolah apalagi teman kuliah.


Beth saja tak pernah mengenyam bangku universitas!


Timmy juga tidak tahu kenapa Beth selalu menolak untuk kuliah dan memilih untuk langsung terjun ke toko kue Mama Tere, setelah gadis itu lulus SMK jurusan tata boga.


"Kekanak-kanakan sekali! Memang masalahnya apa?" Tanya Timmy mulai kepo.


"Bukan masalah apa-apa!" Jawab Beth dengan nada malas.


"Yvone merebut pacarmu yang kemarin itu? Siapa namanya?" Cecar Timmy sok tahu sembari mengingat-ingat nama pacar Beth yang kata Beth adalah sepupu Yvone juga.


"Reandra!" Sahut Beth tetap dengan bibir yang merengut.


"Iya, itu!"


"Bukankah katamu Reandra dan Yvone itu sepupu? Lalu kenapa--"

__ADS_1


"Tapi Beth masih tidak yakin kalau mereka itu sepupu, Bang!" Sergah Beth yang sepertinya mulai curhat ke Timmy.


Sedikit aneh kalau dipikir-pikir


"Abang sebenarnya masih bingung tentang hubungan pertemananmu dengan Yvone--"


"Kami sudah tak berteman!" Sergah Beth menyela.


"Yvone itu mantan teman Beth!", imbuh Beth lagi yang membuat Timmy harus menahan tawanya.


Timmy pikir hanya pacar yang bisa jadi mantan. Rupanya teman juga bisa jadi mantan!


"Kenapa tiba-tiba sudah jadi mantan?" Tanya Timmy lagi semakin kepo.


"Yvone yang mulai!" Curhat Beth sekali lagi.


"Yvone tiba-tiba menyuruh Beth menjauhi Reandra, terlebih setelah---" Beth menjeda kalimatnya cukup lama, seolah gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu.


"Setelah apa?" Tanya Timmy akhirnya karena Beth yang malah terlihat melamun sekarang.


"Setelah--" Beth masih terlihat ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya sementara Timmy masih sabar menyimak.


"Setelah Beth dan Reandra jadian, Bang!" Ujar Beth akhirnya menyambung curhatannya.


"Yvone seperti cemburu gitu," lanjut Beth lagi.


"Perasaanmu saja mungkin!" Pendapat Timmy sebelum kemudian pria itu memanggil perawat yang lupa melepaskan selang infus dari tangannya.


Timmy sedikit alergi pada infus, jarum suntik, dan peralatan medis lain sebenarnya. Memori tentang masa kecilnya yang begitu akrab dengan semua benda-benda menyebalkan itu penyebabnya.


Ya, dulu Timmy memang anak penyakitan yang kata dokter tak akan berumur panjang. Tapi nyatanya, Timmy masih hidup hingga sekarang usianya hampir kepala tiga! Ada-ada saja memang vonis dokter!


"Kita pulang ke rumah Mama--"


"Kau gila!" Sergah Timmy cepat sebelum Beth menyelesaikan kalimatnya. Adik perempuan Timmy itu sontak langsung merengut.


"Lalu siapa yang akan merawat abang di kost-an kalau Abang pulang ke kost?" Cecar Beth dengan nada kesal.


"Aku akan merawat diriku sendiri!"


"Lagipula, malam ini aku harus masuk--"


"Abang masih babak belur begini! Apa tidak bisa cuti kerja dulu?" Sergah Beth yang langsung menyalak pada Timmy yang memang berniat untuk tetap bekerja malam ini.


Timmy hanya tak mau diam sendiri di dalam kost karena hal itu akan membiat Timmy terkenang dengan semua yang terjadi di kost-an antara dirinya dan juga Kath.


Ya ampun!


Kath juga mungkin sudah kembali ke kota D hari ini!


Dan gadis itu mana tahu kalau Timmy mengalami kecelakaan.


"Abang cuti kerja saja dulu!" Ucap Beth lagi lebih tegas.


"Aku sudah baik-baik saja dan ini hanya luka-luka ringan! Jika aku hanya berbaring di kost-an, aku akan bosan dan malah tak sembuh-sembuh!" Ujar Timmy beralasan.


"Baiklah, Beth ikut ke kost kalau begitu!" Tukas Beth akhirnya. Yang langsung membuat Timmy menatap heran pada sang adik.


"Mau apa ke kost? Kau kan harus menjaga toko?"


"Untuk menjaga Abang lah! Beth juga yang nanti malam akan mengantar Abang ke tempat kerja," tukas Beth panjang lebar yang hanya membuat Timmy berdecak dan tak kuasa untuk menolak.


Tentu saja!


Adik Timmy ini memang keras kepala!


"Ayo pulang!" Ajak Timmy kemudian seraya turun dari bed perawatan. Beth buru-buru membantu Timmy, namun ditolak oleh abangnya tersebut.


Timmy memilih untuk berjalan keluar dari UGD sendiri meskipun langkahnya sedikit terpincang.


Sepertinya rencana Timmy untyk pergi ke kota D harus Timmy tunda sementara waktu.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2