
Timmy pulang ke rumah dengan wajah sedikit lesu. Selesai memarkirkan motor, Timmy lanjut masuk ke dalam rumah dan Mama Tere sudah langsung menyambutnya di ruang depan.
"Baru pulang, Tim?" Sapa Mama Tere yang hanya membuat Timmy mengangguk seraya melepaskan topinya.
"Kata Yvone, kalian akan ke kota D besok pagi?" Tanya Mama Tere lagi yang langsung membuat Timmy diam untuk beberapa saat.
Tadi di toko Beth, saat Yvone mengatakan kalau ia akan mengajak Timmy ke kota D agar Timmy bisa menemui Kath dan bicara pada wanita itu, Timmy memang sudah sedikit berharap. Namun kemudian saat tante Sita memberitahu Timmy kalau Kath sudah dibawa Marv ke luar negeti, haraoan Timmy seolah menguap begitu saja.
Lalu apa tujuan Timmy ikut ke kota D, kalau Kath saja sudah tak ada di sana?
"Tim!" Tegur Mama Tere yang langsung membuyarkan lamunan Timmy.
"Timmy rasa, yang akan pergi ke kota D hanya Yvone, Ma! Dia ada pekerjaan--"
"Lau kau tak berniat menemani dan menjaganya, begitu?" Cecar Mama Tere yang langsung membuat Timmy menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Yvone istri kamu, Tim! Jadi sudah seharusnya, kau menemani sekaligus menjaganya saat dia harus keluar kota!" Nasehat Mama Tere pada sang putra.
"Tapi Yvone sudah terbiasa pergi sendiri, Ma!!" Gumam Timmy beralasan.
"Itu dulu! Sebelum dia menikah denganmu!"
"Sekarang Yvone istri kamu, Tim! Jadi sudah seharusnya kau menemani Yvone dan tak membiarkannya pergi sendiri!" Tegas Mama Tere sekali lagi.
"Iya, Ma!" Jawab Timmy yang akhirnya menurut. Ketimbang Timmy harus mendengar ceramah panjang Mama Tere sepanjang malam.
"Timmy akan menelepon Beth dulu dan minta izin. Fairel pasti akan langsung menyuruh Beth menutup tokonya tiga hari," seloroh Timmy seraya geleng-geleng kepala. Sejak Beth hamil, Fairel memang jadi sangat-sangat protektif pada adik Timmy tersebut.
"Kau belum mencarikan kurir untuk toko Beth? Mama lihat orderan online srkarang lumayan banyak," tanya Mama Tere pada Timmy yang langsung menggeleng.
"Fairel maunya kurir perempuan dan tak boleh laki-laki, Ma! Sedikit susah mencari kurir perempuan sekarang."
__ADS_1
"Tak seperti Tante Sita dulu," ujar Timmy sedikit mengenang bagaimana dulu perjuangan Mama kandung Angga itu sebelum akhirnya ia menikah dengan Om Robert dan menjadi Nyonya Hadinata yang kaya raya.
"Ya sudah! Kau mandi dan berkemas sana! Tadi Yvone juga sudah pulang dan sepertinya sedang berkemas," tukas Mama Tere kemudian sembari menepuk punggung Timmy.
"Iya, Ma!" Jawab Timmy yang langsung mengayunkan langkahnya ke arah kamar. Timmy langsung masuk dan terlihat Yvone yang sedang menutup ritsleting kopernya.
"Hai, kau sudah pulang?" Sapa Yvone sedikit berbasa-basi pada Timmy.
"Sedang berkemas?" Timmy balik berbasa-basi.
"Sebenarnya sudah selesai," tukas Yvone yang hendak mengangkat kopernya. Namun Timmy sigap mengambil alih.
"Mau aku bantu berkemas?" Tanya Yvone kemudian menawarkan bantuan.
"Kita ke kota D berapa hari memangnya?" Timmy balik bertanya pada Yvone.
"Tiga hari. Tapi misalnya kau ingin lebih lama, bisa kita perpanjang."
"Barangkali kau mau lebih lama bertemu Kath." Yvone sedikit tertawa renyah.
"Maksudnya?" Yvone mengernyit bingung.
"Kath sudah ikut suaminya ke luar negeri. Mereka juga akan segera punya bayi, " cerita Timmy seraya tersenyum kecut.
"Kau tahu darimana? Mungkin itu informasi yang salah--"
"Tante Sita yang memberitahuku, jadi aku yakin kalau itu info yang valid," tukas Timmy cepat. Sejenak suasana jadi hening.
"Jadi, kau tak akan ikut ke kota D?" Yvone akhirnya kembali buka suara.
Timmy tak langsung menjawab dan pria itu malah menatap Yvone dengan aneh.
__ADS_1
"Bukankah katamu Kath sudah pindah? Aku mengajakmu ke kota D tadinya kan agar kau bisa bertemu Kath. Tapi kalau Kath sudah pindah--"
"Aku tetap ikut, karena kata Mama aku harus menemani dan menjagamu," sergah Timmy memotong gumaman Yvone.
"Kata Mama," Yvone bergumam pelan dan seketika langsung sadar akan posisinya.
"Secara hukum agama dan negara, aku masih suamimu, Yv!" Tukas Timmy lagi mengingatkan.
"Iya!"
"Aku tak perlu membatalkan tiketmu berarti." Yvone langsung manggut-manggut.
"Jadi membantuku berkemas?" Tang Timmy kemudian sedikit mencairkan suasana.
"Ya! Kopermu dimana--"
"Aku bawa ransel saja. Bajuku tak banyak. Kan hanya tiga hari." Timmy sudah mengeluarkan ransel dari dalam almari.
"Kalau bajumu tak banyak, kenapa tak dititip di koperku saja? Tadi masih ada space lumayan besar, karrna aku juga tak membawa banyak baju," tukas Yvone mencetuskan sebuah ide.
"Tapi itu juga kalau kau tak keberatan, Tim! Aku hanya menawarkan dan bukan memaksa," ujar Yvone lagi seraya mengendikkan bahu.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya apa kau keberatan jika aku menitipkan bajuku di kopermu?" Seloroh Timmy seraya tertawa kecil.
"Aku tidak keberatan," jawab Yvone cepat.
"Baiklah! Aku titip bajuku!" Timjy langsung mengeluarkan beberapa bajunya dari almari, dan membiarkan Yvone menatanya ke dalam koper.
.
.
__ADS_1
.
Terima