SECRET LOVE

SECRET LOVE
Keadaan Canggung


__ADS_3

Ucapan salam mengakhiri ibadah yang dilakukan oleh Bian dan Kiana secara bersama-sama. Tampak Bian memutar badannya untuk menoleh pada Kiana yang berada di belakangnya, menatap wajah seri bercahaya Kiana yang masih terbalut kain mukenanya.


Sungguh pemandangan ini membuat hatinya begitu merasa damai. Tak dapat dipungkiri kala ia merasa istrinya itu berkali-kali lipat terlihat lebih cantik di matanya. Bian semakin terenyuh hatinya di saat Kiana mengulurkan tangannya untuk meraih punggung tangannya, kemudian menciumnya dengan takzim penuh dengan kelembutan.


Istrinya itu tersenyum kala mendongak menatap wajahnya, yang sejurus kemudian Bian semakin mendekatkan dirinya pada Kiana untuk mencium kening istrinya itu dengan penuh kelembutan dengan cukup lama.


"Makasih sayang, ini merupakan pengalaman pertama Mas menjadi seorang imam dalam melaksanakan ibadah. Mas sadari masih banyak sekali kekurangan yang ada pada diri Mas, terlebih untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Terus bersama Mas ya, kita sama-sama berjalan ke depan agar menjadi pribadi yang menjadi lebih baik lagi. Selalu ingatkan jika Mas lupa atau bahkan berbuat salah. Karena kamu sudah membuat hidup Mas menjadi lebih berarti lagi, Ki." ucap Bian yang bersungguh-sungguh dalam hatinya.


Kiana menganggukkan kepalanya, seraya ia melepas mukena yang ia pakai dan melipatnya bersama sajadah yang ia gelar untuk melakukan ibadah pertamanya bersama sang suami baru saja.


"Mau kemana?" tanya Bian saat melihat Kiana beranjak pergi meninggalkannya. Sedangkan dirinya masih terdiam duduk di atas hamparan sajadah miliknya. Bian menahan tangan Kiana sehingga gadis itu tak beranjak dari tempatnya.


"Siapin sarapan buat Mas, nggak apa kan kalau aku cuma panasin makanan sisa semalam tadi? Masih banyak, sayang banget kalau dibuang begitu aja." balas Kiana apa adanya.


"Ini masih pagi sayang, apa tidak sebaiknya kita kembali untuk beristirahat saja?"


"Tapi aku harus menyiapkan sarapan sebelum Mas berangkat ke kantor."


"Hari ini Mas masih mau di rumah aja. Mas masih kangen sama Al dan juga kamu, sayang. Pokoknya hari ini Mas mau menghabiskan waktu bersama kalian." kukuhnya.


"Jadi Mas nggak kerja hari ini?" tanya Kiana menatap wajah Bian.


"Iya sayang, pokoknya Mas maunya hari ini kita bertiga harus family time. Soal pekerjaan, Mas bisa mengerjakannya dari rumah. Yang terpenting hari ini Mas mau melihat wajah kalian sepuasnya terutama Al, sampai kalian akan merasa bosan dan muak sama Mas." jelas Bian yang membuat Kiana mengangguk pasrah dan tak dapat mendebat keinginan suaminya itu.


Bian mendekat pada Kiana. Pria itu meraih tubuhnya untuk ia peluk merasakan kehangatan tubuh istrinya. Mendekapnya dengan erat seraya ia menyimpan ujung dagunya di bahu Kiana yang begitu membuatnya nyaman.


"Al masih tidur," ujar Bian menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kiana.


"Mungkin dia lelah karena semalaman bergadang dengan Mas," balas Kiana.


"Iya, anak kita sangat suka sekali mendengarkan cerita yang Mas dongengkan padanya." ungkap Bian membuat Kiana mengerutkan dahinya.


"Mas cerita apa sama Al?" tanya Kiana menoleh pada Bian yang berada di belakangnya, seraya melirik pria itu dengan ekor matanya.


Pria itu semakin mengeratkan pelukannya pada Kiana seraya membelitkan tangannya di perut istrinya untuk menautkan jari jemarinya di sana.


"Tentang kita," jawabnya sembari mencium pipi Kiana.

__ADS_1


"Kita? Apa yang Mas bicarakan tentang kita pada Al?" tanya Kiana lagi yang pada akhirnya penasaran. Kiana merasakan dadanya berdebar cepat, takut-takut kalau pria itu membicarakan hal-hal tidak baik tentangnya pada bayi mereka yang masih kecil dan tak tahu apa-apa.


"Banyak, banyak sekali yang harus dia tahu tentang kisah yang terjadi di antara kedua orang tuanya hingga bagaimana membuat ia hadir di tengah-tengah kita."


Kiana mencengkram lengan Bian kuat-kuat, detakan jantungnya semakin berdebar saja. Apa maksud pria itu menceritakan kenangan buruk yang terjadi diantara mereka yang bahkan ia sendiri pun sama sekali tak ingin lagi mengingatnya kembali.


"Mas," derap Kiana yang ingin melepaskan diri dari dekapan suaminya, menoleh pada pria itu untuk berkata sesuatu.


Namun Bian tak membiarkan belitan tangannya terlepas begitu saja pada tubuh istrinya.


"Mas hanya menceritakan kenangan indah yang bagaimana terjadi diantara kita saja, sayang. Kenangan-kenangan indah yang menurutku tak pantas aku lupakan begitu saja. Kenangan itu yang membuatku menyadari bahwa aku sangat mencintaimu, Kiana." ungkapnya seraya membalikkan posisi tubuhnya agar dapat berhadapan dengan Kiana.


"Aku sangat tidak menyesal melakukan itu padamu, Ki. Sungguh, walau aku tahu apa yang aku lakukan itu tidak dapat dibenarkan, tetapi aku akan tetap sangat bersyukur dengan kesalahan itu terjadi hingga membuat takdir menyatukan kita dengan hadirnya Al diantara kita."


"Maaf, maaf telah menyakitimu hingga dirimu begitu sangat terluka..." bisiknya lirih pada Kiana dengan kesungguhan hati. "Aku nggak bisa jauh dari kamu, Ki, aku cuma hanya menginginkan kamu." ungkap Bian merangkum wajah Kiana dengan kedua tangannya. "Jangan tinggalkan aku lagi, karena aku nggak sanggup tanpa kamu. Aku begitu sangat-sangat menyayangimu, aku mencintaimu, Kiana..." ucapnya.


Kiana menatap sepasang manik mata yang memancarkan kesungguhan dengan segenap ketulusan hati. Ia membingkai wajah sendu Bian dengan lekat yang menyiratkan akan perasaan mereka yang semakin mendalam dan menaut.


Hingga ia dapat melihat wajah Bian yang semakin mendekat padanya, sampai ia dapat merasakan hembusan napas pria itu menyapu permukaan kulit wajahnya yang terasa panas dan sangat, begitu memabukkan.


Melihat Kiana yang tak menolak, Bian semakin memperdalam ciumannya bahkan kini pria itu tak gentar untuk mencecap dan ********** dengan gairah yang semakin memburu. Hingga kedua irisan mata itu kini saling terpejam merasakan nikmatnya penyatuan yang saling bertukar saliva diantara mereka.


"Mas..." desah Kiana saat ia tak dapat lagi menahan terjangan gelombang kenikmatan yang dilakukan oleh Bian padanya.


Pria itu semakin gencar saja di saat kedua tangannya itu tak tinggal diam untuk menjelajahi setiap jengkal demi jengkal pada tubuh istrinya. Ia terus mencumbui leher jenjang putih milik Kiana hingga meninggalkan banyak cap kepemilikannya di sana.


"M-mas..." Kiana menahan gelombang nikmat seperti sengatan listrik yang menjalar di dalam tubuhnya. Hingga dapat ia rasakan tangan Bian yang sudah berada di atas kedua aset kembar miliknya, meremasnya sampai memainkannya silih bergantian dengan kedua tangannya.


"Sayang," ucap Bian dengan suara beratnya menatap wajah Kiana yang sayu dengan mendongakkan kepalanya ke atas. Wajah pria itu kini sudah berada di antara kedua aset kembar milik istrinya. Meminta persetujuan agar dirinya dapat melakukan hal yang lebih gila lagi pada istrinya itu. Menyalurkan rasa kerinduan yang lama mendalam di dalam dirinya.


Kiana terdiam tak menanggapi hibaan suaminya. Gadis itu hanya menatap wajah Bian dengan deruan napas yang tersengal-sengal dan terasa begitu berat.


"Boleh?" tanya Bian lagi memastikan. Ia mendudukkan Kiana di sisian pembaringan yang dimana di sana terdapat Al yang masih terlelap dalam tidurnya.


Kiana masih terdiam dalam bisunya, gadis itu hanya menggigiti bibir bawahnya atas tingkah Bian yang membuatnya semakin dilema atas apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Tak pernah Kiana sangka jika ia dapat merasakan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dan perasaan itu membuatnya semakin gila dengan kenikmatan yang membawanya bagai terbang ke awang-awang.


"Jangan di gigit seperti itu nanti luka dan berdarah," Bian menghentikan apa yang dilakukan oleh Kiana yang dapat menyakiti dirinya sendiri. Ia mengusap lembut bibir Kiana, sejurus kemudian mendaratkan kembali bibirnya di sana yang di rasanya telah menjadi candu baginya.

__ADS_1


Lama terbuai, Bian akhirnya membaringkan Kiana dengan pelan-pelan hingga ia berada di atas Kiana untuk mengungkungnya. Kini, saat-saat yang didambakan oleh Bian pun ada di depan matanya. Dengan mudahnya, pria itu telah berhasil melepas pakaian Kiana hingga ia dapat melihat betapa indah dan sempurnanya ciptaan Tuhan yang diperuntukkan hanya untuknya itu.


Tanpa ragu, Bian menenggelamkan wajahnya diantara kedua aset kembar berharga milik Kiana dan mencumbuinya dengan gairah yang semakin memburu. Bian terus bermain-main di sana dengan menyenangkannya. Hingga pada saatnya ia dapat mendengar dengan jelas ******* yang keluar dari mulut Kiana yang diiringi dengan suara tangis bayi Al yang cukup membuat aktifitas intim diantara mereka berdua seketika terhenti.


"Mas!" pekik Kiana yang terkejut saat mendengar bayi kecil mereka menangis terbangun dari tidurnya.


Bian dengan cepat menjauhkan wajahnya dari milik Kiana dan menatap sayu istrinya itu seraya beralih pandangan menatap putra kecilnya yang terbangun di samping mereka.


Kiana bergegas merapikan pakaiannya seraya menghampiri Al untuk menenangkan bayinya itu, meninggalkan Bian yang saat ini hanya diam terpaku di tempatnya


"Sssttt... sayang, Ibu ada disini..." ucap Kiana meraih raga mungil itu untuk ia dekap.


Bian masih menatap Kiana dengan perasaan yang sulit untuk ia ungkapkan. Yang jelas saat ini ia begitu sangat malu sekali atas apa yang sudah ia lakukan hingga membuat putra kecilnya itu terbangun dari tidurnya.


Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Menghampiri anak dan istrinya, Bian pun kembali ikut bergabung membaringkan dirinya di samping Al sembari menatap wajah istrinya itu.


"Mas,"


"Mas nggak apa-apa, sayang, Mas nggak apa-apa kok. Maafin Mas yang udah buat Al terbangun dari tidurnya." sahut pria itu dengan senyum yang terpaksa, padahal ia sendiri saat ini cukup merasa kesal sendiri jadinya.


"M-Mas jangan risau, sepertinya Al akan kembali tidur lagi," ucap Kiana kikuk sembari menepuk-nepuk tubuh mungil bayinya tanpa menatap Bian yang ada di hadapan matanya.


"Tapi sayang--"


"A-apa Mas?" ucap Kiana yang kini sudah mulai merasa canggung dengan keadaan yang ada bersama suaminya itu.


"Sepertinya Mas membutuhkan mandi lagi sekarang," ucapnya sembari menelan salivanya dengan susah payah. Terlebih kala melihat banyaknya tanda merah yang menutupi leher putih milik istrinya itu akibat ulah perbuatannya.


Kiana yang mendengar hal itu hanya dapat memalingkan wajahnya karena tersipu malu pada apa yang baru saja terjadi diantara mereka.


Niat hati ingin mandi kembali bukan hanya sekedar ucapan semata, Bian segara bangkit dari tidurnya untuk menuju kamar mandi. Pria itu terus menggerutu tak jelas dalam hatinya merutuki apa yang telah diperbuatnya hingga membuat suasana canggung diantara mereka.


"Lo ngapain sih, Bi? Bego banget Lo jadi orang! Kalau sampai Kiana mikir yang nggak-nggak, gimana?" gumamnya merutuki dirinya sendiri.


"Arrrgghhh... kenapa harus nanggung banget kayak gini?!" ucapnya seraya mengguyur tubuhnya yang terasa panas dengan air dingin dengan terpaksa.


*****

__ADS_1


__ADS_2