
Clara saat ini sedang melamun sambil memandangi pemandangan yang bisa dilihatnya sekilas dari jendela yang berada dikamarnya saat ini. Clara mengelus - ngelus perutnya yang mulai kelihatan.
"Sayangnya Mama....kamu sedang ngapain didalam sana?" Clara mulai mengajak bicara Anaknya.
Entah mengapa tiba - tiba airmata Clara terjatuh begitu saja, hatinya benar - benar rapuh tidak seperti biasanya dirinya yang selalu kelihatan baik - baik saja. Clara hanyalah wanita biasa yang hatinya bisa merasakan sakit juga. Dia benar - benar tidak menginginkan kehidupan yang seperti ini. Diam - diam dia teringat tentang mantan kekasihnya, "Apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Apa kamu bisa melanjutkan hidupmu tanpaku atau bahkan saat ini kamu sedang mencari keberadaanku?" Tanya Clara kepada dirinya sendiri.
Begitu mendengarkan pintu kamarnya terbuka dengan cepat Clara menghapus airmatanya. Wina masuk kedalam kamar sahabatnya itu untuk membawakan Clara makanan yang baru dibelinya dari luar sesuai dengan makanan yang ingin dimakan oleh Clara.
"Aku cariin ternyata kamu dikamar...kamu itu seharusnya tidak boleh dikamar terus seperti ini Cla...kamu juga membutuhkan udara segar diluar sana. Ini juga tidak baik untuk perkembangan anak kamu nanti." Balas Wina dengan cerewet.
"Kamu tau kan apa yang akan terjadi jika aku keluar? Bagaimana kalau seandainya Papa dari Anak ini melihatku?" Ujar Clara.
"Iya juga sih! Tapi tetap saja kamu kan bisa memakai masker dan topi pasti tidak akan ada yang bisa mengenalimu. Ini makan...ini semua sesuai dengan pesanan kamu." Ujar Wina setelah meletakkan semua makannya diatas meja.
"Terimakasih atas sarannya...aku pikirkan dulu ya!" Setelah mengatakan itu Clara langsung bersemangat untuk memakan pecal sesukaannya itu.
Wina hanya menggeleng - gelengkan kepalanya saja melihat sahabatnya itu, 'Kenapa hidup kamu menjadi seperti ini Cla? Padahal kamu wanita yang baik, cantik dan pintar.' Batin Wina.
"Ya udah kalau gitu aku mandi dulu ya....ingat saranku tadi ya...ini semua demi Anak kamu lho." Setelah itu Wina segera berlalu dari kamarnya Clara.
Sedangkan Clara masih sibuk sendiri untuk menghabiskan makanannya itu. Dia benar - benar sudah sangat lama menginginkan pecal ini, akan tetapi baru kali ini dia bisa menikmatinya. Kebahagiaannya kali ini adalah untuk membahagiaan dirinya dan juga Anaknya termasuk juga perutnya.
Walaupun sedang hamil Clara terlihat seperti wanita yang sangat memikat dan seksi, bentuk tubuhnya yang semakin membesar malah semakin memperlihatkan kecantikannya disisi lain. Setiap hari Clara selalu saja menyempatkan dirinya untuk melakukan olahraga yang juga dianjurkan oleh Dokternya.
"Waaaa kenyangnya....kamu juga kenyangkan sayang?" Clara mulai mengajak anaknya untuk berbicara kembali.
Clara benar - benar menghabiskan semua pecalnya tanpa tersisa, bisa dibilang sejak hamil Clara tidak kesulitan untuk makan. Dia bisa memakan makanan apapun yang diinginkannya tanpa merasa mual sama sekali. Setelah merasa kenyang sekarang rasa ngantuk mulai menguasai diri Clara.
Kedua matanya kini sudah terasa sangat beratnya, Clara yang sedang duduk di sofa malah tertidur dengan lelapnya sambil duduk dan menyenderkan kepalanya disofa.
******
"Gimana pencarian kamu sayang?" Tanya Mikha sambil membantu Suaminya untuk melepaskan dasi.
"Masih dalam proses sayang...doain ya semoga Clara bisa segera ketemu." Jawab Alvin dengan wajah frustasi.
"Iya iya pasti aku doain kok...Kenapa wajah kamu begitu? Kamu lelah banget ya sayang?" Tanya Mikha lagi sambil menatap Alvin dengan selidik.
"Iya sayang...aku hari ini sangat lelah sekali tapi sekarang rasa lelahku telah hilang." Ujar Alvin sambil menatap nakal kearah Mikha.
"Kenapa? Kok bisa secepat itu?" Balas Mikha pura - pura tidak tau.
"Karena kamu sayang...." Balas Alvin.
"Dasar suka gombal...ya udah sekarang mendingan kamu mandi...mau aku buatin teh manis panas?" Tanya Mikha lagi.
"Duh perhatiannya Istriku ini...boleh deh sayang asalkan kamu tidak keberatan. Apa kamu hari ini tidak capek juga sayang? Gimana kerjaan kamu hari ini?" Alvin bertanya penuh selidik.
Seketika Mikha menepuk dada Alvin, "Awww...."
"Hari ini aku tidak terlalu sibuk kok sayang....makanya aku bersikap baik sama kamu hari ini." Jawab Mikha.
"Oh jadi seperti itu...bukannya kamu merasa cemburu ya makanya kamu bersikap baik? Ini tidak seperti Mikha seperti biasanya lho yang gak ada angin dan gak ada hujan malah bersikap manis? Hmmm...sejak kapan kamu mulai membukakan dasi aku? Kalau aku pikirkan sekali lagi ini adalah kali pertama kamu melakukannya kan?" Tebak Alvin.
"Kamu terlalu banyak berpikir...udah sana pergi mandi!" Ujar Mikha berusaha untuk membuat Alvin curiga.
"Kalau cemburu katakan saja sayang...." Teriak Alvin sambil berjalan kearah kamar mandi.
"Aku bilang tidak ya tidak!" Balas Mikha tidak mau kalah.
"Oh iya? Anggap saja aku percaya." Ujar Alvin sambil menatap Mikha sebelum dirinya menutup pintu kamar mandi.
"Ih Alvin! Siapa juga sih yang cemburu." Gerutu Mikha dengan kesal.
__ADS_1
Mikha memutuskan turun kebawah untuk membuatkan teh manis panas untuk Suaminya, tapi di ruang makan dirinya melihat kalau Ara saat ini sedang memilih - milih sesuatu. Mikha yang penasaran datang untuk menghampiri Kakak iparnya itu.
"Kakak sedang melihat apa?" Tanya Mikha.
Ara melihat Mikha, "Ini Mik, Kakak sedang memilih untuk mendecor ruangan diacar tujuh bulanan Kakak nanti." Jawab Ara.
"Oh...gak terasa ya Kak usia kandungan Kak Ara sudah memasuki tujuh bulan saja." Balas Mikha dengan ekspresi tidak menyangkanya.
"Iya Mik...Kakak juga tidak menyangka sudah memasuki tujuh bulanan seperti ini. Oh iya, Kakak bingung nih memilih decornya yang mana...tolong kamu bantu juga ya...Kakak menyukai semua decornya, bagus - bagus banget tau gak Mik." Ujar Ara dengan sangat bersemangat.
Mikha melihat foto - foto deocr yang ada di ponsel Ara, "Iya ya Kak bagus - bagus banget! Duh Mikha juga bingung nih Kak... Hmmm, begini saja Kak gimana kalau Kakak kasih masukkan warna kesukaan Kakak dan Kak Al biar Mikha bantu pilihkan yang sesuai dengan karekter Kak Ara dan Kak Al." Ujar Mikha memberikan masukan.
"Oh iya kamu benar juga ya, bahkan Kakak tidak memikirkan hal itu Mik. "Ujar Ara sambil menepuk keningnya.
"Kalau Kakak sukanya warna putih, semuanya harus serba putih karena putih itu warna yang suci dan netral juga menurut Kakak...kalau Al sukanya warna biru. Tapi menurut Kakak tidak bagus deh kalau ada birunya." Ujar Ara.
Mikha hanya tersenyum, "Kakak tidak boleh seperti itu dong...belum tentu lho warna putih dipadukan dengan warna biru itu menjadi tidak bagus? Menurut Mikha itu bagus sih Kak. Sebentar ya biar pilihkan decornya." Kemudian Mikha sibuk dengan ponselnya Ara. Dia berusaha memadupadakan warna putih dan biru lalu kembali menunjukkannya kepada Ara.
"Lihat ini Kak....perpaduan yang bagus bukan?"
Ara mengangguk setuju dengan ucapan Mikha barusan, "Iya Mik...wah...ternyata kamu bisa mendecor juga ya! Untung ada kamu disini Mik...kalau tidak pasti Kakak akan bingung dan kesulitan untuk menentukan pilihan. Thanks ya." Ujar Ara.
"Iya Kak...kalau begitu Mikha tinggal sebentar ya Kak."
Kemudian Mikha berjalan untuk menuju dapur, dia mengambil gelas dan bubuk teh, dan ketika ingin mengambil gula Mikha mendadak mengurungkan niatnya itu. Tiba - tiba saja dia sebuah ide muncul dikepalanya. "Aku yakin kamu pasti akan menyukainya Vin!" Ujar Mikha sambil tersenyum misterius sambil menatap gelas itu.
Lalu Mikha memutuskan untuk membawanya keatas, dia ingin mengetahui ekspresi Sang Suami secara langsung dihadapannya. Bahkan Mikha sudah membayangkan sendiri ekpsresi dari Alvin nanti bakalan seperti apa.
Mikha masuk kedalam kamarnya, Mikha melihat Alvin tengah sibuk dengan ponselnya, Mikha mendekati Suaminya itu. "Sayang..." Panggil Mikha sambil memegang segelas teh.
"Duh sweet nya Istriku ini..." Puji Alvin sambil mengambil gelasnya dari tangan Mikha.
"Iya dong...namanya untuk Suami aku sendiri....lagian kamu terus mengeluh kalau aku tidak pernah perhatian sama kamu...ini aku perhatiin kamu.." Ucap Mikha dengan manja.
"Ada angin apa ini ya sayang? Kamu mendadak baik banget begini sama aku?"
"Iya iya aku minum...."
Alvin mulai meminum teh manis panasnya itu sampai habis tanpa merasakan apapun. Mikha malah menganga tidak percaya bahwa Suaminya bakalan bersikap biasa saja seperti itu.
"Terimakasih ya sayang..."
"Kamu benar - benar tidak merasakan apa - apa Vin?" Tanya Mikha dengan selidik.
Alvin menggeleng..."Ini hanya teh manis kan? Atau mungkin kamu mencampurkannya dengan sesuatu?" Jawab Alvin dengan santainya.
Mikha semakin kesal dengan sikap tenang dari Suaminya itu, 'Sial! Masa aku gagal lagi sih?' Gerutunya.
"Sayang...kamu baik - baik saja?" Tanya Alvin.
"Hah? Iya aku baik - baik saja kok...Kalau begitu sini biar aku bawa gelasnya kebawah lagi." Jawab Mikha sambil terlihat gugup.
"Hmmm...silahkan kamu ingin lari ya?" Ujar Alvin dengan jailnya.
"Lari? Kenapa aku mesti lari? Emangnya kesalahan apa yang telah aku lakukan?" Tanya Mikha masih berlagak tidak tau apa yang sedang terjadi.
Alvin menarik tubuh Mikha dan memeluknya, "Dari kesalahan yang kamu lakukan barusan..." Bisik Alvin.
"Jadi kamu tau? Ih nyebelin? Lalu kenapa kamu tidak bereaksi apapun?" Ujar Mikha dengan kesal sambil memukul - mukul lengan kekar suaminya.
Alvin malah tertawa lepas, "Aku sengaja karena aku ingin melihat ekspresi kesal kamu....kamu kira akan semudah itu untuk ngerjain aku? Kamu tidak lupa kan aku ini siapa sayang?" Balas Alvin.
"Ih Alvin! Dasar menyebalkan!" Teriak Mikha terus menerus sambil terus memukul - mukul lengan Alvin.
__ADS_1
"Salah sendiri kenapa kamu jailin aku?"
"Ih tetap saja kamu tidak perlu berlagak tidak tau seperti itu...ih sebal."
"Kamu pikir gimana tadi aku berusaha untuk meminum teh manis buatan kamu itu yang terasa sangat asin banget? Aku hanya berusaha untuk tetap tenang saja dihadapan kamu." Balas Alvin.
"Tapi bisa - bisanya kamu bersikap biasa saja....! Dasar...." Belum lagi sempat Mikha untuk mengutuk Suaminya itu dengan cepat Alvin sudah membungkam bibir Mikha dengan ciuman yang dia berikan. Tidak ada penolakan sama sekali dari Mikha bahkan Mikha sangat menikmatinya.
Alvin menjadi semakin bersemangat untuk melakukan kegiatannya, Mikha mendorong tubuh Suaminya. "Gimana rasanya kamu mencium aku lalu pas kamu masih merasakan enak - enaknya malah aku menarik diri dan menjauh?" Balas Mikha dengan tersenyum jail.
"Awas ya kamu...terimaa balasan aku...!" Teriak Alvin lalu mengejar Mikha.
"ALVIN...HENTIKAN!" Alvin bahkan sudah tidak menggubrisnya lagi. Malam ini keduanya kembali untuk menghabiskan waktu bersama - sama lagi, entah sudah beberapa ronde yang mereka lakukan, sampai waktu menjelang pagi.
*******
Alex saat ini sedang tertidur dia tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang masuk kedalam kamarnya. Bella menatap wajah tampan mantan kekasihnya itu sebentar. 'Bahkan saat kamu tertidur seperti ini saja wajah kamu sangat memikat Lex....sampai kapan kamu terus membenciku? Izinkan aku secara perlahan untuk mendekatimu kembali.' Batin Bella.
Setelah beberapa saat sibuk dengan lamunannya, Bella kembali tersadar, Dia membangunkan Alex sambil mengguncang - guncangkan tubuh Alex.
Alex yang baru saja bisa tertidur tentunya masih merasa mengantuk, dia malah menutup telinganya dengan kedua tangannya tanpa ingin menghiraukan Bella yang terus saja mendesaknya untuk bangun.
"Alex...bangun! Apa kamu tidak mendengarnya?" Teriak Bella terus menerus.
"Aku bisa tuli lama - lama! Keluar! Siapa yang mengizikan kamu untuk masuk kedalam kamarku? Keluar!" Tegas Alex tanpa menatap Bella sama sekali.
Bella masih belum menyerah juga untuk membangunkan Alex, dia masih berusaha dan tidak menggubris ucapan Alex barusan. "Aku tidak akan keluar sebelum kamu bangun!" Ancam Bella.
"Terserah! Lakukan sesukamu tapi jangan ganggu aku!" Balas Alex masih bersikeras dengan sikap keras kepalanya.
"Oke...kamu kira aku tidak bisa melakukannya?" Balas Bella.
Lalu Bella memutuskan untuk menyalahkan TV yang ada dikamar Alex lalu menyetel volume dengan sangat keras tidak lupa juga dengan Speakernya. Bella lalu berteriak - teriak sambil berdiri diatas kasur empuk Alex sambil berlompat - lompat sesuka hatinya. Tentu saja Alex sangat terganggu dengan kegiatan yang dilakukan Bella.
"Berisik! Matikan itu!" Teriak Alex sambil duduk dikasurnya.
Bella benar - benar tidak menggubrisnya sama sekali. Kesebaran Alex mulai habis secara kasar Alex menarik lengan Bella hingga keduanya tanpa sengaja saling berciuman.
Dengan cepat Alex mendorong tubuh Bella untuk menajaiuhinya, "Keluar!" Ucap Alex dengan suara meningginya lalu dengan cepat Alex langsung masuk kedalam kamar mandinya.
Sedangkan Bella masih terbengong dan kaget dengan kejadian yang barusan saja terjadi kepadanya. Dengan refleks Bella memegangi bibirnya, kini jantung Bella sudah berdetak dengan tidak beraturan lagi. 'Apa yang barusan terjadi?' Pikir Bella seketika pipi Bella sudah memerah dengan sempurna.
Bella berjalan keluar kamar Alex dengan perasaan yang sangat senang, ada perasaan aneh yang sedang bergejolak didalam hatinya saat ini. Senyuman terus saja mengembang dibibirnya.
Sedangkan didalam kamar mandi, Alex dengan cepat langsung mencuci wajah dan bibirnya. Kini Alex sedang menatap pantulan dirinya didepan cermin. 'Kenapa bisa - bisanya kami malah berciuman? Membayangkannya saja aku tidak pernah! Aku benar - benar membenci Bella...aku harus secepatnya membuat dia keluar dari rumahku ini!' Tekat kuat Alex.
*******
Dududu...
Kalian menyukai pasangan yang mana?
Al dan Ara
Alvin dan Mikha
Atau mantan kekasih yang masih saling terhubung ini?
Alan dan Clara
Alex dan Bella
Oh iya, gimana ya kira - kira nasibnya Tia mantannya Al itu?
__ADS_1
Votee ya! Hehe
Happy reading guys!