
Sesampainya dirumah sakit, Mikha semakin mempercepat langkahnya menuju ruangan Dokter Alan. Sebelum mengetuk pintu ruangan Dokter Alan, Mikha menghela nafasnya agar sedikit lebih tenang lagi. 'Tenang Mik...tenang!' Setelah jauh lebih rileks. Mikha akhirnya mengetuk pintu ruangan dari Dokter Alan.
TOKTOKTOK!
Dokter Alan yang memang sedang menunggu tamunya itu langsung mempersilahkan Mikha untuk masuk.
"Silahkan duduk Mik...ada yang bisa saya bantu?" Tanya Alan dengan ramahnya.
"Hmm...ini Dok!" Mikha membuka tasnya lalu mengambil testpack nya lalu memberikannya kepada Dokter Alan.
Alan mengambilnya lalu menatap Mikha sambil tersenyum, "Kamu hamil?" Ujar Dokter Alan dengan antusias.
"Sejujurnya saya juga masih belum merasa yakin sih Dok. Maka dari itu saya ingin diperiksa disini." Ujar Mikha lagi.
"Oke baiklah."
Mikha mengikuti Dokter Alan lalu berbaring. Tentu saja Dokter Alan tidak seorang diri disana, Alan juga menanyakan tetang beberapa hal. Salah satunya tentang kapan terakhir kali Mikha terakhir datang bulan. Mikha menjawabnya dengan jujur.
"Gimana hasilnya Dok?" Tanya Mikha yang memang sudah sangat penasaran sejak tadi.
Alan tersenyum lalu kemudian menunjukkan hasil pemeriksaannya. Alan mengulurkan tangannya untuk menyalami Mikha, awalnya Mikha hanya menggerlitkan alisnya saja karena masih merasa bingung apa yang sedang dilakukan oleh Dokter Alan.
"Selamat untuk kamu dan Alvin! Kamu hamil!" Ujar Alan.
Mikha menutup mulutnya yang sedang menganga tak percaya sambil membelalakkan kedua matanya. Sejujurnya Mikha masih belum bisa mempercayai tentang hal ini. Seketika airmatanya keluar begitu saja membasahi pipinya.
"Terimakasih Dok." Ujar Mikha sambil menerima uluran tangan dari Dokter Alan.
"Kamu sudah hamil sejak 4 minggu....ini hasil fotonya." Ujar Alan lagi yang sangat mengerti tentang sesuatu yang ingin diketahui oleh Mikha.
Mikha mengambilnya sambil terus mengusap - usap foto yang Alan berikan kepadanya. 'Sayang....kamu akan melengkapi kebahagiaan Mama dan Papa! Gimana ya rekasi Papa kamu setelah mengetahui hal ini?' Batin Mikha.
"Tapi kenapa saya tidak merasakan apa - apa Dok? Bulan lalu saya masih datang bulan lho." Tanya Mikha lagi.
"Wanita hamil itu berbeda - beda, tidak semuanya merasa mual, bahkan ada yang baru tau kehamilannya setelah memasuki 8 minggu. itu adalah haid terakhir kamu hanya untuk membersihkannya saja. Tapi apakah kamu tidak merasa ada yang aneh dengan bentuk tubuh kamu sendiri? " Ujar Alan.
Mikha yang memang tidak merasa aneh sama sekali dengan dirinya hanya menggelengkan kepalanya saja. Mungkin juga Mikha berpikir karena dia masih datang bulan sebelumnya maka dari itu dia tidak menyangka kalau saat ini dirinya tengah mengandung.
"Saya yakin Alvin akan merasa sangat bahagia setelah mendengarkan kabar ini." Ujar Alan lagi.
"Iya Dok saya rasa juga seperti itu, saya boleh memohon sesuatu?" Ujar Mikha.
"Apa itu?" Ujar Alan sambil menatap Mikha dengan sangat serius.
"Dokter kan sudah berteman dengan Suami saya...saya hanya meminta agar Dokter Alan jangan mengatakannya terlebih dahulu. Saya ingin memberikan Alvin sebuah kejutan." Ujar Mikha.
Alan mengangguk dengan cepat, "Oke baiklah! Saya tidak akan keceplosan bila bertemu dengan Alvin." Alan menyetujui permintaan Mikha yang menurutnya tidak sulit.
"Baiklah Dok, terimakasih sebelumnya sudah meluangkan waktunya untuk saya. Saya benar - benar merasa tidak enak hati mengganggu jam istirahat Dokter Alan." Mikha bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya.
Alan membalas uluran tangan dari Mikha, "Sama - sama Mik, tidak perlu merasa sungkan. Saya bahkan tidak merasa terganggu sama sekali." Balas Alan.
"Permisi..." Ujar Mikha sambil tersenyum.
Setelah keluar dari ruangan Dokter Alan, Mikha yang saat ini sedang memeluk foto calon buah hatinya itu terus saja tersenyum penuh dengan kebahagiaan. Dia masih belum menyangka kalau saat ini dirinya tengah berbadan dua. 'Gimana ya reaksi Alvin nanti?' Pikir Mikha lalu menlanjutkan perjalanannya kembali.
Sesampainya dikantor perasaan Mikha yang sedang diselimuti perasaan yang sangat bahagia sangat terlihat jelas. Mikha terus saja senyum - senyum sendiri. Mikha semangat dalam menyelesaikan pekerjaannya saat ini. Dia sudah menemukan cara untuk memberikan Alvin sebuah kejutan. Bahkan Mikha sudah membayangkan reaksi dari Suaminya itu.
Hari ini berlalu dengan begitu cepatnya, Alvin kini sudah berada didepan kantor Mikha. Mikha segera menghampiri Suaminya dengan sangat cepat. Mikha langsung membuka pintu mobil lalu segera masuk kedalam. "Kamu sudah menunggu lama sayang?" Tanya Mikha dengan nafas yang masih memburu karena begitu melihat ponselnya, ternyata Alvin sudah berada disana selama 15 menitan.
"Tidak begitu lama kok sayang...santai saja! Pakai sabuk pengaman kamu ya!" Pinta Alvin.
__ADS_1
Mikha langsung saja memasangkan sabuk pengamannya lalu kembali menatap Suaminya sambil terus tersenyum, Alvin sebenarnya tidak merasa ada yang aneh dengan sikap dari Istrinya itu.
"Sayang..." Panggil Mikha.
"Hmm..."
"Kamu lagi pengen makan apa? Ntar aku masakin deh..." Ujar Mikha.
"Beneran nih? Gak usah deh sayang kasihan kamunya pasti udah capek. Nanti aja masakin aku pas kita berdua weekend ya." Ujar Alvin sambil membelai rambut Mikha.
Mikha hanya mengangguk setuju.
"Hmmm...kita makan malam diluar saja malam ini ya, tempatnya aku yang milih." Ujar Alvin.
"Baiklah Tuan!" Ucap Mikha dengan sangat antusias.
Biasanya Mikha tidak akan semudah itu untuk menyetujui pilihan dari Suaminya, Alvin sempat merasa heran karena Mikha tidak mengajaknya untuk berdebat dulu. Tapi Alvin tidak ingin menanyakan hal itu. Sesampainya ditempat yang dituju, Alvin turun lalu membukakan pintu mobilnya untuk Sang Istri.
Mikha turun sambil mengatakan terimakasih. Alvin menggerlitkan alisnya sebelah karena merasa sikap Mikha yang semakin aneh. 'Ada apa sih dengan Istriku ini? Kenapa hari ini dia bersikap begitu manis? Apa dia telah melakukan suatu kesalahan? Maka dari itu dia ingin menutupinya.' Pikir Alvin.
"Kamu baik - baik saja kan sayang?" Tanya Alvin sambil memegang kening Sang Istri.
"Ih kamu apaan sih!" Mikha langsung menepis tangan Suaminya.
"Sikap kamu aneh tau gak sih dari pagi...katakan sama aku kesalahan apa yang sedang kamu tutupi sampai kamu bersikap semanis ini? Bahkan kamu tidak mengeluh begitu aku bilang aku yang memilih tempat makannya. Itu benar - benar tidak seperti kamu, kamu terlihat sangat mencurigakan." Ujar Alvin yang memperhatikan sikap Sang Istri mulai dari pagi sampai sekarang.
"Aku baik - baik saja kok sayang! Udah ah kamu hari ini kenapa bawel banget deh." Mikha segera memeluk lengan kekar Suaminya dan berjalan masuk kedalam restoran yang sudah dipilih oleh Alvin.
Alvin masih merasa ada hal yang Mikha sembunyikan darinya. Sesampainya didalam, Mikha memesan makanan yang baik untuk anak yang sdang dia kandung, malam ini dia banyak memesan makanan. Alvin hanya menatap Istrinya saja tanpa berkata apa - apa.
"Kamu kenapa Vin? Kok begitu sekali menatap aku?" Ujar Mikha yang merasa Alvin pasti masih mencurigai dirinya.
"Kamu benar - benar baik - baik saja? Apa bos kamu menyiksa kamu dengan memberikan pekerjaan yang sangat banyak sehingga membuat kamu tertekan dan stres sayang?" Tanya Alvin dengan wajah yang penuh selidik.
"Tapi sikap kamu sangat aneh hari ini....biasanya kamu itu akan selalu mengomel sama aku! Hari ini kenapa kamu berubah menjadi sangat penurut sekali?" Tanya Alvin.
"Kamu yang aneh...! Jadi kamu merindukan omelanku? Hmm...baiklah setelah hari ini berlalu aku akan kembali mengomel lagi sama kamu sayang." Ujar Mikha setelah itu kembali tertawa.
'Iya juga...Mikha benar, kenapa aku jadi ingin diomelin ya? Padahal bukannya bagus ya kalau Mikha sehari ini tidak mengomel sama sekali?' Pikir Alvin.
"Sebaiknya kamu bersikap seperti ini sejak dulu...jadi kan aku makin cinta." Balas Alvin sambil memainkan sebelah matanya.
"Dasar pria suka gombal!" Ujar Mikha.
Lalu keduanya kembali tertawa bersama - sama, keduanya menikmati hidangan yang ada didepan mereka tentu saja dengan sesekali bercanda satu sama lain. Selesai selesai makan, keduanya langsung pulang. Selama diperjalanan menuju kerumah, Mikha terus saja memegangi perutnya yang saat ini seperti ingin meledak karena makan dengan sangat rakusnya. Kini Mikha sudah tidak memperhatikan tentang bentuk tubuhnya lagi, dia hanya ingin janinnya sehat - sehat dan mendapatkan nutrisi yang terbaik didalam sana.
'Kamu kenyang Sayang?' Ucap Mikha didalam hatinya sambil membelai perutnya sendiri.
Sesampainya dirumah, Mikha yang merasa sudah sangat gerah akhirnya memutuskan untuk mandi agar tubuhnya lebih segar. Sementara Suaminya langsung bermain game.
Mikha mandi dengan air hangat karena sudah pukul 9 malam. Selesai mandi, Mikha langsung mengenakan piyama tidurnya lalu membaringkan dirinya diatas ranjang. Mikha dengan manjanya masuk kedalam pelukkan Alvin yang saat ini sedang sangat serius dengan ponselnya. Mikha meletakkan kepalanya diperut Suaminya sambil terus memegangi dagu Alvin.
"Kenapa sayang?" Tanya Alvin yang masih fokus dengan gamenya.
"Sepertinya kalau kamu mempunyai kumis dan jenggot akan lebih seksi deh sayang." Ujar Mikha sambil terus memainkan tangannya diwajah Alvin.
Alvin hanya tersenyum, "Seperti aktor india maksud kamu? Sejak kapan kamu memperhatikan hal yang seperti ini? Atau jangan - jangan kamu melihat pria yang lebih tampan dari aku ya? Maka dari itu sikap kamu aneh hari ini. Pasti kamu kecentilankan dengan pria itu?" Kini tatapan Alvin sudah tertuju sepenuhnya menatap Sang Istri.
Mikha hanya berusaha untuk menahan tawanya, "Kalau iya kenapa? Kamu cemburu?" Tanya Mikha.
"Pantesan sikap kamu aneh banget hari ini...siapa dia? Dimana kamu melihatnya? Jangan bilang dia teman kantor kamu ya?" Tanya Alvin terus menerus.
__ADS_1
"Hmm...aku bahkan memiliki fotonya. Kamu mau melihatnya?" Mikha malah semakin jail untuk mengerjai Suaminya.
"Apa? Kamu memiliki fotonya! Wah...wah! Kali ini kamu sudah sangat kelewatan Mikha. Mana ponsel kamu!" Ketus Alvin dengan emosi yang sudah meluap - luap.
"Sebentar sayang!" Mikha lalu mencari ponselnya, Alvin dengan tidak sabaran langsung merampas ponsel milik Istrinya begitu saja. Mikha semakin merasa geli sendiri melihat reaksi dari Suaminya itu yang menurutnya sangat cemburuan dan berlebihan.
"Mana fotonya!" Ujar Alvin lagi.
"Makanya siniin dong ponsel aku..." Mikha mengambil ponselnya dari Suaminya.
"Nah ini dia..." Mikha menunjukkan sebuah foto seorang pria yang sedang tersenyum dengan janggut dan kumis yang memperlihatkan dirinya semakin tampan dan dewasa.
Alvin hanya mengetahui kalau gambar itu adalah foto dirinya sendiri yang sudah diedit oleh Mikha langsung menggelitikkin Sang Istri tanpa ampun. "Jail banget sih kamu! Rasakan ini..." Ujar Alvin yang merasa sangat kesal karena telah dipermainkan oleh Mikha.
Mikha terus tertawa sambil terus meminta ampun agar Alvin segera menghentikan kegiatannya itu dari dirinya. Alvin tidak ingin berhenti, dia terus saja menggelitikkin Mikha sampai Mikha sudah tidak tahan lagi.
"Sayang pleasee...berhenti dong." Rengek Mikha terus menerus dengan wajah memohon.
"Kalau aku gak mau? Kamu sengaja ya ingin ngerjain aku? Iseng banget sih kamu Mik! Pokoknya aku masih kesal sama kamu...bodo amat!" Ujar Alvin.
"Habisnya kamu sibuk dengan ponsel dan game kamu...aku kan juga ingin diperhatikan! Akh...cukup sayang!" Teriak Mikha.
"Bilang maaf sambil wajah memohon dan nakal....mungkin aku akan memaafkan kamu." Balas Alvin dengan senyuman menyeringainya.
"Ma-af....Vin! Geli banget tau gak!" Balas Mikha.
"Tidak seperti itu sayang...ulangi lagi! Aku akan memberikan kamu satu kali kesempatan lagi untuk mengatakannya." Ujar Alvin.
"Maafkan aku sayang...aku janji tidak akan jailin kamu lagi." Ujar Mikha dengan wajah memohon.
"Lepasin aku dong Vin...kan aku udah minta maaf sama kamu sesuai dengan keinginan kamu!" Ujar Mikha lagi karena Alvin tidak melepaskan dirinya.
"Kesempatan kamu sudah habis sayang..."
"Maksud kamu? Bukannya aku sudah melakukannya?"
Alvin menggeleng, "Bukan seperti itu sayang! Aku bahkan tidak merasakannya sama sekali saat kamu memohon."
"Jadi apa yang kamu inginkan? Seperti ini?" Mikha memainkan jemarinya dengan nakal di tubuh kekar Suaminya.
Alvin tersenyum menyeringai melihat apa yang sedang dilakukan oleh Mikha.
Mikha menarik kera baju Alvin hingga keduanya saling menatap dan tidak memiliki jarak yang terlalu jauh. "Sayangnya aku mengantuk Vin." Ujar Mikha sambil menguap.
Alvin yang merasa sudah tergoda dengan Sang Istri malah menahan kedua tangan Mikha keatas kepala Mikha, "Siapa suruh kamu sudah menggoda aku terlebih dahulu...kamu tau kan apa yang akan aku lakukan sayang?" Bisik Alvin.
Mikha sedikit kesulitan untuk menelan salivanya sendiri. Detak jantung Mikha kini sudah berdetak tidak beraturan lagi. Mikha mengetahui pasti apa yang diinginkan oleh Suaminya yang mesum itu.
Dengan cepat Mikha menutup kedua matanya, Alvin tersenyum melihat Mikha yang sudah memejamkan kedua matanya. Alvin tak kunjung mencium Sang Istri. Mikha mengintip lalu kemudian membuka kedua matanya dengan lebar. Dia merasa telah dipermainkan oleh Alvin.
"Apa yang kamu harapkan sayang?" Tanya Alvin sambil tersenyum.
"Apa kamu sedang berharap aku mencium kamu sekarang?" Tebak Alvin lalu tertawa.
Mikha berusaha melepaskan tangannya yang telah dicengkram oleh Alvin. "Lepasin aku! Dasar menyebalkan, brengsek, ja...."
Alvin sangat senang melihat Mikhanya kini sudah kembali lagi, dengan cepat Alvin langsung membungkan bibir Mikha dengan ciumannya. Mikha memberontak karena masih kesal dengan Alvin tapi Alvin terus saja mencium Mikha. Hingga akhirnya Mikha membuka mulutnya juga. Lalu secara perlahan Mikha mulai memejamkan kedua matanya lagi untuk menikmati ciuman panas yang Suaminya berikan.
********
**Kira - kira kapan ya Mikha akan memberitahukan dirinya hamil? Kejutan apa yang akan dilakukannya? Lalu bagaimana reaksi Alvin sendiri ketika mengetahui kalau sang Istri sedang mengandung Anaknya? Teharuuu? **
__ADS_1
Ayo dong likeeee sebanyak - banyaknya!
Happy reading guys!