SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 176


__ADS_3

"Lepasin aku Lan....! Lepasin!" Clara terus saja berusaha untuk bisa terlepas dari Alan.


"Cla Please jangan seperti ini....kamu tau kan kalau aku mencintai kamu? Kenapa kamu malah terus saja menghindari aku? Kenapa Cla?" Ujar Alan dengan pelan.


Seketika airmata Clara mengalir dengan sendirinya.


"Karena aku...aku..." Clara sudah tidak mampu lagi untuk melanjutkan ucapannya.


"Kamu tidak perlu menjawabnya lagi Cla...aku udah tau semuanya. Aku masih akan berjuang untuk kita." Ujar Alan lagi. Dengan cepat Alan membalikkan tubuh Clara.


Keduanya kini saling berhadapan satu sama lain, Alan yang melihat airmata Clara terjatuh. Dengan perlahan Alan mulai menghapus airmata Clara. "Maafin aku yang selama ini udah tidak memahami kamu Cla....aku ingin kita kembali lagi untuk bersama, aku ingin menikah dengan kamu." Ujar Alan dengan jujur mengutarakan isi hatinya.


'Sebenarnya apa yang Alan bicarakan sih? Dia tau apa tentangku?' Pikir Clara.


"Gimana Cla? Kenapa kamu diam saja? Aku ingin kita bersama lagi....dan soal Papa dan Mama aku...mereka sudah menerima kamu kok Cla. Selama ini aku berusaha untuk meyakinkan mereka." Ujar Alan lagi untuk meyakinkan Clara.


'Kelihatannya Alan memang tidak berbohong dengan apa yang barusan dikatakannya.' Batin Clara.


"Sorry Lan...aku masih belum bisa menjawab sekarang. Kamu ngerti kan?" Ujar Clara sambil menepis tangan Alan.


Alan mengerti kalau Clara masih membutuhkan waktu untuk berpikir, akhirnya Alan memutuskan untuk tidak mendesak Clara lagi.


"Baiklah Cla...aku berharap kamu memikirkan semuanya dengan baik ya! Dan janji satu hal sama aku kalau kamu tidak akan kabur - kaburan lagi." Ujar Alan.


Clara mengangguk, "Iya aku janji Lan." Balas Clara.


Alan tersenyum bahagia mendengarkannya, Alan langsung memeluk Clara kembali, "Terimakasih Cla..."


Kali ini Clara membalas pelukkan pria yang sangat dirindukannya itu. 'Maafin aku Lan atas sikap dan perbuatan aku selama ini kepada kamu. Aku benar - benar sangat menyesal karena pernah menyakiti kamu.' Batin Clara.


Setelah lama berpelukan, secara perlahan Clara mulai melepaskannya juga.


"Ini aku bawain bunga mawar kesukaan kamu..." Alan memberikan bunga mawar yang sedari tadi sebagai saksi bisu atas apa yang telah terjadi.


Clara menerima bunga pemberian Alan, "Thanks Lan." Ujar Clara sambil tersenyum.


"Sama - sama Cla...perut aku laper banget ini..." Rengek Alan dengan manja.


Clara hanya menggeleng - gelengkan kepalanya saja melihat sikap manjanya Alan yang mulai keluar. "Kamu ya emang dasar gak berubah - berubah!"


"Aku serius Cla...aku tadi kesini buru - buru...aku takut kamu kabur lagi! Jadinya aku lupa deh kalau aku sendiri belum makan."


"Tapi disini gak ada makanan Lan....kamu tenang aja aku udah bawain bahan makanan kok. Aku sangat merindukan masakan kamu." Ujar Alan lagi.


"Berarti kamu kesini sudah penuh persiapan ya? Bisa - bisanya kamu belanja terlebih dahulu..." Clara hanya tertawa geli melihat Alan.


Alan hanya membalasnya dengan senyuman nakalnya saja.


"Baiklah...aku akan masakin kamu! Sebaiknya kamu tunggu disini aja ya! Ingat jangan kedapur sebelum masakannya selesai!" Ancam Clara.


Clara tau pasti kalau Alan tidak akan mendengarkan ucapannya kali ini, tapi Clara tetap saja mengatakannya. Kemudian Clara pergi ke dapur dengan plastik belanjaan yang Alan berikan kepadanya.


Clara mulai menggunakan celemeknya dan tidak lupa juga Clara mengikat rambutnya. Clara sudah lama tidak memasakkan seseorang seperti ini. Diam - diam dia juga merindukan untuk memasakkan Alan makanan.


Disaat Clara tengah asik untuk memasak, tanpa Clara sadari Alan sudah berdiri tepat dibelakang Clara, Alan memeluk Clara dari belakang.


"Alan! Kamu iseng banget sih...aku kaget tau gak!" Ujar Clara dengan spontan.


"Masakan kamu harum banget Cla...cacing diperut aku udah bunyi - bunyi terus nih sedari tadi." Ujar Alan yang sebenarnya  hanya merupana alasan dari Alan semata saja untuk bisa mendekati Clara.

__ADS_1


Clara melepaskan pelukan Alan dari tubuhnya, "Aku masak dulu ya...mendingan kamu duduk disini dulu dan jangan bergerak sama sekali...kamu mengerti?" Ujar Clara dengan memegang pisau tentu saja membuat Alan menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Clara kemudian melanjutkan kegiatannya lagi, Alan terus saja menatapnya dari kejauhan sambil menopang dagunya. 'Bahkan aku sudah lupa kapan terakhir kali kamu masakin aku seperti ini Cla....thanks ya Cla karena kamu masih mau untuk memberikan aku kesempatan untuk itu lagi.' Batin Alan sambil tersenyum.


Sedangkan Clara yang sedang memasak tidak memperhatikan kalau Alan saat ini sedang menatap dirinya, dia hanya fokus untuk menyelesaikan masakannya saja.


******


Ditempat lain...


Alvin yang saat ini baru saja sampai di bar tempat Clara bekerja dulu, dia langsung masuk kedalam tentu saja dirinya tidak bisa masuk dengan mudah karena saat ini dirinya telah dihalang oleh beberapa Anak buah dari mantan Bosnya Clara.


"Minggir....sampaikan kepada Bos kalian kalau aku ingin menemuinya." Tegas Alvin tanpa ada perasaan takut sama sekali.


"Silahkan tunggu disini saja..."


Kemudian salah satu dari anak buahnya masuk kedalam untuk memberitahukan tentang kedatangan Alvin yang memaksa untuk masuk kedalam. Ternyata dengan senang hati mantan Bosnya Clara yang bernama Eric ini mempersilahkan Alvin untuk masuk kedalam ruangannya.


Alvin dikawal oleh beberapa Anak buah Eric untuk masuk kedalam. "Ini dia Bos!"


"Aku hanya ingin berbicara berdua saja..." Pinta Alvin.


Eric yang mengerti langsung memberikan kode kepada Anak buahnya untuk meninggalkan mereka berdua saja. Setelah mendengarkan pintu ruangan Eric sudah tertutup rapat, Alvin langsung menanyakan keberadaan Tia.


"Dimana Tia?"


"Dia sudah berada ditempat yang aman...katakan kenapa kamu mencariku? Bukannya perjanjian kita berdua sudah selesai?" Tanya Eric sambil menatap dengan sangat penasaran kepada Alvin.


"Aku masih mempunyai urusan dengan Tia...bisakah kamu mengizinkan aku untuk bertemu dengan Tia? Ada hal yang ingin aku konfirmasi dengan dia." Jawab Alvin.


"Hal apa? Sebenarnya aku tidak perduli dengan urusan kamu dan dia....hanya saja aku tidak bisa percaya bergitu saja kalau kamu tidak akan membawa kabur Tia!" Ucap Eric dengan penuh selidik.


Eric terus saja mencari kebohongan dari tatapan Alvin saat ini akan tetapi dia tidak menemukan adanya kebohongan disana. Akhirnya Eric memutuskan untuk membawa anak buahnya untuk membawa masuk Tia kedalam ruangannya.


"Kamu hanya mempunyai waktu sedikit saja untuk berbicara sama dia! Aku akan memberikan ruanganku sebenatar untuk kalian berdua." Ujar Eric lalu segera keluar darisana.


Tia dengan wajah babak belur, acak - acakan dan lemas hanya mengikuti saja kemana dirinya akan dibawa. Dia berpikir hidupnya memang sudah sangat hancur. Tidak ada bedanya kehidupannya diluar dan disini, dirinya merasa penjara ada dimana - mana untuk dirinya.


"Masuk!" Anak buah Eric mendorong tubuh Tia untuk masuk kedalam ruangan Eric. Alvin langsung menatap Tia, "Alvin!" Ucap Tia sangat terkejut.


"Apa yang membawa kamu kesini?" Tanya Tia.


Alvin mengamati penampilan Tia dari ujung kaki hingga ujung kepala. Penampilan Tia benar - benar sangat kacau untuk saat ini tidak seperti penampilan Tia seperti biasanya. "Kamu baik - baik saja?" Tanya Alvin yang merasa kasihan kepada Tia.


Tia tersenyum mendengarkan pertanyaan Alvin, "Menurut kamu? Bagaimana mungkin aku bisa berkata kalau keadaanku saat ini baik - baik saja." Balas Tia.


"Kenapa kamu melakukan ini semua? Kenapa kamu tega untuk memanfaatkan Clara untuk tujuan kamu? Apa sebenarnya yang ingin kamu buktikan dengan melakukan semua ini?" Tanya Alvin dengan to the point.


"Emangnya kenapa? Kenapa kamu sangat penasaran dengan alasan aku melakukan ini semua?" Tanya Tia.


"Sejujurnya aku tidak percaya kalau kamu adalah wanita jahat yang tega untuk memanfaatkan keadaan orang lain. Pasti kamu memiliki sebuah alasan tersendiri kenapa kamu sampai berbuat seperti itu. Tapi aku masih tidak habis pikir kamu bakalan setega ini....apa sebenarnya yang kamu inginkan?"


"Yang aku inginkan? Aku hanya menginginkan satu hal saja....tapi bahkan aku tidak berhasil untuk mendapatkannya sampai aku harus kehilangan semuanya." Balas Tia.


"Maksud kamu...?" Tanya Alvin sambil menggerlitkan alisnya.


"Iya aku sangat menginginkan Al kembali kepadaku! Tapi sejak kehadiran wanita itu Al bahkan sudah tidak menatapku sama sekali. Dulu aku berusaha tegar untuk menerima bahwa Al sudah menikah, tapi setelah aku mengetahui kalau Istrinya tidak lebih baik dari aku...aku bertekat untuk mendapatkan Al kembali. Aku mulai merencanakan semuanya dari cara halus sampai cara sekasar telah aku lakukan. Tapi Al sama sekali sudah tidak menatapku sama sekali." Ujar Tia panjang lebar.


"Jadi kamu melakukan semua ini karena kamu ingin kembali lagi dengan Kak Al? Tapi kenapa kamu melakukannya melalui aku? Aku masih belum mengerti? Kenapa kamu terobsesi kepada Kak Al? Kenapa kamu mengatakan kalau Kakak iparku tidak baik. Menurutku dia adalah wanita yang cocok dengan Kak Al." Balas Alvin.

__ADS_1


"Karena kamu adiknya! Adik kesayangannya...jadinya aku ingin melukai kamu dan membuat hubungan kamu dengan Istrimu itu hancur. Aku ingin Al merasakan sakit bila melihat kamu gagal dalam pernikahan kamu. Aku sangat mencintainya...jujur dulu aku sangat menyesal karena sudah pergi meninggalkannya begitu saja. Dan sepertinya kamu tidak mengetahui apa - apa tentang Kakak Ipar kamu itu! Dia tidak sebaik yang kamu pikirkan." Balas Tia dengan senyuman mengejeknya.


Alvin hanya menggelengkan kepalanya saja setelah mendengarkan penjelasan dari mulut Tia sendiri. "Aku benar - benar tidak menyangka kalau kamu akan berbuat sampai sejauh ini." Balas Alvin.


"Aku rela melakukan apapun asalkan aku bisa kembali lagi dengan Al!" Ujar Tia.


"Kamu gila! Kamu benar - benar gila. Kamu salah kalau kamu berpikir kalau Kak Al akan menatap kamu kembali. Dari awal kamu memang tidak pantas untuk bersama dengan Kakakku. Aku sangat bersyukur kalau kamu bukan jodoh dari Kak Al. Sepertinya Aku sudah cukup mendengarkan penjelasan dari kamu." Alvin memutuskan untuk segera pergi dari sana.


"Alvin!" Teriak Tia.


Alvin menghentikan langkahnya.


"Ara pernah mengkhianati Al...tapi Al malah memaafkan semua yang telah dilakukannya. Kenapa Al tidak bisa untuk memberikan kesempatan yang sama kepadaku? Aku pernah meninggalkannya itu semua karena dia terlalu cuek dan tidak peka dengan keberadaanku dulu! Kenapa Al malah lebih memilih bersama dengan wanita yang pernah selingkuh darinya? Apa kelebihan Ara dibandingkan denganku?" Ujar Tia.


Alvin kembali menatap Tia, "Sepertinya aku tau sekarang kenapa Kak Al lebih memilih Kak Ara dan masih memaafkan kesalahannya."


"Karena apa?"


"Karena Kak Al tau kalau Kak Ara menyesali perbuatannya sedangkan kamu tidak mengerti posisi kamu yang hanya sebagai masa lalu Kak Al. Kamu itu licik dan tidak pantas dengan Kak Al." Balas Alvin lalu segera keluar dari ruangan Eric.


"Alvin! Kenapa kamu membela dia? Kenapa?" Teriak Tia dari dalam ruangan. Sekujur tubuh Tia bergetar sangat hebatnya. Kini Tia sudah terduduk dilantai sambil tetap histeris.


Alvin melihat Eric berada diluar ruangannya, "Terimakasih atas waktunya..." Setelah itu Alvin pergi dari bar itu dengan cepat.


Alvin mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat, dia menuju ke kantor. Alvin ingin menemui Kakaknya untuk mengkonfirmasi apa yang dibilang oleh Tia itu benar atau tidak.


Sesampainya dikantor, Alvin langsung bergegas menuju ruangan Kakaknya. Alvin masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu ruangan Al terlebih dahulu.


"Kak!" Panggil Alvin.


"Ya Vin..."


"Kakak tau kabar terbaru dari Tia?" Tanya Alvin.


Al langsung menatap Alvin, "Kenapa? Kamu juga melihatnya di TV?" Ujar Al dengan tenang.


"Tidak Kak...Alvin mengetaui semua ini dari Alan dan Alvin langsung mengkonfirmasikannya langsung dengan Tia. Alvin baru saja bertemu dengan Tia." Ujar Alvin dengan jujur.


"Untuk apa kamu bertemu dengan dia?" Tanya Al sambil mengerlitkan alisnya.


"Karena ada hal yang ingin Alvin ketahui dengan sangat jelas."


"Lalu? Kamu sudah mengetahuinya sekarang? Dan untuk apa kamu repot - repot memberitahukan tentang hal ini kepada Kakak? Bahkan sedikit saja Kakak sudah tidak ingin lagi mendengarkan segala sesuatunya tentang dia." Tegas Al yang langsung emosi ketika mendengarkan nama Tia diucapkan.


"Iya Kak Alvin sudah mengetahui dibalik alasan Tia memanfaatkan Clara....Alasannya karena dia terlalu mencintai Kakak. Dia tidak ingin melihat Kakak bahagia dengan Kakak ipar. Dia ingin membalas dendam melalui Alvin." Alvin menjelaskan semuanya kepada Al.


Al bahkan sudah tidak merasa terkejut lagi dengan penjelasan dari Alvin barusan, "Dia benar - benar sangat terobsesi dengan Kakak Vin. Dia tidak rela kalau Kakak sudah menemukan kebahagiaan Kakak sendiri. Pikiran Tia terlalu dangkal, padahal dia wanita mandiri yang memiliki ambisi yang sangat tinggi. Tapi Kakak benar - benar tidak mengerti kenapa dia menyerah dan malah melakukan balas dendam seperti ini. Apapun itu Kakak sudah tidak ingin membahas tentang dia lagi." Tegas Al sambil menepuk bahu Alvin.


"Alvin mengerti Kak...Alvin tidak akan pernah membahas tentang hal ini lagi. Tapi satu hal yang Kak Al harus tau kalau Tia saat ini sedang menjadi budak dari Eric mantan Bosnya Clara. Kalau begitu Alvin kembali keruangan Alvin ya Kak." Ujar Alvin lalu segera pergi meninggalkan Sang Kakak sendirian.


'Apa? Bagaimana bisa Tia berurusan dengan Eric? Eric itu kan seorang mafia yang terkenal sangat kejam? Apa sebenarnya yang kamu lakukan Cla sampai kamu berurusan dengan Eric?' Batin Al yang tidak menyangka dengan kabar yang baru didengarnya barusan.


******


Bagaimanakah nasib Clara? Akankah dia merasakan karma atas perbuatannya selama ini?


Apakah kejutan yang ingin Al dan Ara berikan untuk Alvin dan Mikha?


Tunggu ya kejutannya!

__ADS_1


Happy reading guys!


__ADS_2