SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 171


__ADS_3

Selama didalam perjalanan Mikha terus saja terlihat tenang dihadapan Alvin. Mikha tidak ingin terlihat kalau dia saat ini sedang malu karena terus saja digoda oleh Suami mesumnya itu.


Alvin semakin mempercepat melajukan mobilnya agar segera sampai dirumah dengan cepat. Suasana berubah menjadi sangat canggung, Mikha tidak ingin menatap Alvin. Dia lebih memilih untuk memandang kearah luar saja. Akhirnya keduanya sampai juga di kediaman mereka. Kini Alvin sudah mematikan mesin mobilnya. Pandangannya kini tertuju kepada Mikha yang terlihat sangat gugup.


"Sayang...kamu baik - baik saja?" Tanya Alvin sambil mengelus wajah Sang Istri.


Mikha mengangguk dengan cepat, "Aku baik - baik saja kok." Kemudian Mikha dengan cepat langsung membuka pintu mobilnya akan tetapi Alvin malah dengan cepat mengunci pintu mobilnya.


"Vin...buka dong." Pinta Mikha sambil menatap Alvin.


"Aku akan buka pintunya kalau kamu..." Alvin menunjuk pipinya. Alvin sengaja memberikan kode kepada Mikha.


"Buka dulu..." Balas Mikha.


"Aku tidak bodoh sayang...aku tau setelah aku bukain kamu pintu pasti kamu akan kabur dengan cepat." Balas Alvin sambil mengacak - acak rambur Mikha. Alvin selalu saja suka melakukannya sampai membuat Mikha kesal sendiri kepada dirinya.


Mikha menghela nafas, "Oke baiklah..." Dengan cepat Mikha langsung mencium pipi Alvin.


CUP


"Udah kan? Ayo sekarang buka pintunya..." Ujar Mikha ingin segera kabur dengan cepat dari keadaannya itu.


"Kamu itu harus adil dong sayang...masa hanya pipi kiriku saja...yang ini belum?" Alvin menunjuk pipi sebelah kanannya.


Mikha hanya melongo tidak percaya menatap Suaminya itu,


"Gimana? Aku masih nungguin kamu lho ini sayang!" Ujar Alvin sambil mendekatkan dirinya kepada Mikha.


"Kamu ya benar - benar! Oke, tapi setelah itu buka pintunya ya." Akhirnya Mikha menuruti permintaan dari Suaminya itu.


CUP


Dengan cepat Alvin langsung menarik tubuh Mikha lalu memeluknya dengan erat sampai membuat Mikha terkejut dengan perlakukan mendadak dari Suaminya itu. Mikha berusaha untuk melepaskan dirinya dengan cara memberontak akan tetapi tenaga Alvin sangat kuat sampai membuat tubuh Mikha terkunci.


"Ehmmm..."


Alvin dengan nakalnya malah mencium bibir istirnya, Mikha terus saja memberontak sampai dirinya lelah sendiri. Alvin bahkan tidak melepaskan Mikha. Alvin malah semakin bersemangat dan bernafsu untuk mencium bibir Mikha. Hingga akhirnya Mikha tidak memberontak lagi.


Mikha pada akhirnya menikmati ciuman yang diberikan oleh suaminya itu. "Ehmmm..." Mikha mulai mendesah ketika Alvin semakin nakal.


Setelah melakukan ciuman yang cukup lama, akhirnya Alvin melepaskannya secara perlahan. Alvin mulai mengelap bibir Mikha yang saat ini masih basah akibat perbuatannya. Kini bibir Mikha sudah kelihatan membengkak.


Alvin tersenyum melihat bibir Mikha yang kini sudah merah dengan sempurna, "Kita lanjutkan didalam ya sayang." Kemudian Alvin membukakan pintu untuk Mikha keluar.


Entah apa yang membuat Mikha tidak bisa menolak pesona dari Suami mesumnya itu, Mikha hanya menuruti permintaan Suaminya itu. Bahkan ketika keadaan Mikha masih belum stabil, Alvin lagi - lagi sudah mengejutkannya dengan menggendong dirinya tentu saja secara spontan Mikha langsung melingkarkan kedua tangannya ditengkuk leher Suaminya itu.


"Apa yang kamu lakukan Vin?" Tanya Mikha dengan mata membulat.


"Mengendong kamu..." Balas Alvin lalu melanjutkan perjalanannya untuk masuk kedalam rumah.


"Turunin aku Vin...gimana bila ada yang melihat kita?" Mikha mulai berisik membuat Alvin lagi - lagi geram lalu membungkam bibir Mikha kembali.


Mikha hanya bisa terdiam tanpa protes kembali. Alvin mengendong Mikha dengan terus mencium bibir Istrinya itu. Sesampainya didalam Alvin dan Mikha tidak mengetahui bahwa ada yang sedang menonton perbuatan mesum keduanya.


Al dan Ara terus saja melihat keduanya sambil tersenyum jail lalu saling memandang satu sama lain, keduanya teringat tentang dirinya mereka pada waktu dulu.


Alvin dan Mikha seakan tidak bisa berhenti untuk terus berciuman sampai Al berdehem membuat keduanya menghentikan kegiatannya.


"Kak Al...Kak Ara!" Ujar Alvin dan Mikha secara bersamaan.


Mikha mulai memaksa untuk turun, "Ini semua gara - gara kamu Vin...lihat sekarang aku benar - benar merasa sangat malu dengan apa yang kita lakukan tadi." Mikha berbisik kepada Alvin sedangkan Alvin hanya tersenyum bahagia saja.


"Kapan Kakak pulang?" Tanya Alvin sambil berjalan mendekati Kakaknya itu.


"Baru tadi sore kok Vin....Ehemm...maaf Kakak tadi tidak bermaksud untuk menganggu kegiatan kalian berdua." Ujar Al sambil menatap keduanya secara bergantian.


"Ti-tiak apa - apa kok Kak." Jawab Mikha dengan cepat.


Berbeda dengan Alvin yang malah tertawa saja, sontak membuat Mikha menatap Suaminya itu dengan tatapan tajam.


"Sayang...kamu tidak perlu merasa malu seperti itu... Kak Al dan Kak Ara juga happy kok melihat kita seperti tadi." Ujar Alvin.


Mikha malah menjewer telinga Alvin dengan kuat sampai membuat Alvin meringis kesakitan sambil memegangi telinganya.


"Awww....kamu tega banget si sayang...sakit tau!" Rengek Alvin.


"Biarin!" Balas Mikha.


"Kak...kalau begitu Mikha naik keatas dulu ya...selamat malam." Setelah itu Mikha segera pergi meninggalkan Alvin yang masih berada disana.


"Bisa - bisanya ya Vin kamu malah membuat Mikha semakin merasa malu seperti itu." Ujar Al yang tidak mengerti melihat sikap Adiknya itu.


Alvin malah hanya cengengesan gak jelas saja, "Ya udah kalau begitu Alvin naik juga ya Kak!" Balas Alvin lalu segera pergi menyusul Mikha.


"Mikha tungguin aku dong sayang..." Teriak Alvin sambil mempercepat langkahnya.


"Lihat itu sayang si Alvin...bisa - bisanya dia mempermalukan Istrinya sendiri seperti itu. Aku semakin tidak habis pikir dengan dia!" Ujar Al dengan kesal.


"Iya udah sayang...kamu tau sendiri kan gimana Alvin? Mungkin kita terlalu cepat untuk kembali sayang." Balas Ara berusaha untuk menenangkan Suaminya.


"Ehemm...kita kapan ya seperti mereka lagi sayang?" Al malah sengaja untuk memancing Sang istri.


"Ih lihat nih sayang Papa kalian mulai genit." Ara malah mengadu sambil mengelus perutnya sendir.


"Si kembar pasti mengerti Papanya sayang....perut kamu sudah semakin membesar ya sayang...." Ujar Al sambil mengelus perut Istrinya itu.


"iya sayang tanpa terasa usia kehamilanku sudah memasuki bulan ke 7...aku menjadi semakin tidak sabar untuk bertemu si kembar ini." Balas Ara.


Al mengelus sambil sesekali mencium perut Ara membuat Ara tersenyum sambil mengelus kepala Suaminya.


"Gimana kalau kita ke kamar sayang..." Ajak Al.


"Ya udah deh ayo sayang." Kemudian Al dan Ara berjalan menuju keatas secara bersama - sama.


Sedangkan dikamar Alvin dan Mikha, kini Alvin mengikuti kemanapun Mikha, Mikha mulai merasa kesal karena Alvin tidak membiarkannya bernafas walaupun hanya sebentar saja.


"Vin! Sebenarnya kamu mau apa sih? Berhenti dong mengikuti aku seperti ini." Protes Mikha sambil menatap Suaminya dengan tatapan tajam.


"Emangnya salah ya kalau aku hanya ingin mengikuti kamu?" Balas Alvin.

__ADS_1


Mikha menghela nafas dengan kasar, "Terserah kamu!" Ujar Mikha lalu dengan cepat masuk kedalam kamar mandi lalu menutup pintunya dengan cepat. Mikha memutuskan untuk mandi dan membersihkan dirinya. Mikha melakukannya dengan perlahan. Mikha sengaja berlama - lama didalam kamar mandi supaya Alvin ketiduran.


Setengah jam kemudian Mikha sudah keluar dari tempat persembunyiannya. Akan tetapi wajahnya menjadi sangat kecewa ketika melihat Alvin masih menunggunya sambil bermain game di ponselnya itu.


'Kenapa si Alvin tidak tidur saja?' Gerutu Mikha.


Mikha berjalan menuju ruang ganti mereka, Mikha mengambil piyama tidurnya lalu segera memakainya dengan cepat. Kemudian Mikha berjalan menuju ranjang mereka, Alvin bahkan tidak beranjak sama sekali darisana.


"Kamu ngapain sih Vin? Mandi sana..." Ujar Mikha.


"Iya sayang sebentar lagi ya...nanggung nih." Balas Alvin sambil terus asik dengan permainannya.


"Vin...mandi sekarang! Ini sudah jam berapa? Nanti kan kamu bisa melanjutnya lagi." Ujar Mikha.


"iya sayang...beneran deh sebentar lagi." Balas Alvin.


Sangking kesalnya Mikha langsung mengambil ponsel Suaminya lalu dengan cepat langsung mengeluarkan permainannya begitu saja sontak membuat Alvin menjerit, "Sayang...apa yang kamu lakukan?"


"Salah sendiri kenapa kamu tidak mendengarkan aku! Pergi mandi sana." Ujar Mikha lagi.


Alvin menghela nafasnya dengan berat, "Baiklah! Kalau begitu tunggu hukuman kamu ya!" Setelah mengatakan hal itu Alvin langsung masuk kedalam kamar mandi.


Sedangkan Mikha bergirik ngeri dengan ucapan dari Suaminya barusan. 'Pasti Alvin akan membalas aku dengan cara tidak akan memberikan aku ampun! Astaga Mikha apa yang kamu lakukan sih?' Batin Mikha sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Sebaiknya sebelum Alvin keluar aku harus segera tidur...." Setelah itu Mikha mulai memejamkan kedua matanya. Tentu saja Mikha tidak berhasil melakukannya, dia hanya semakin merasa gelisah saja. Kini Mikha sudah bersembunyi didalam selimut tebalnya saja.


CEKLEK


Setelah mendengarkan suara pintu kamar mandi sudah terbuka, Mikha semakin merasa deg - deg kan. Tidak ada suara sama sekali Mikha yang merasa sangat penasaran akhirnya memutuskan untuk mengintip, akan tetapi betapa sialnya dirinya karena ternyata Alvin sudah berada dihadapannya hanya dengan berbalut handuk yang sengaja diikatkan Alvin dipinggang saja.


Mikha berusaha untuk menelan salivanya saja. Mikha mulai terpesona dengan Alvin, apalagi saat Alvin tidak menggunakan pakaiannya seperti ini semakin memperlihatkan setiap inti lengkuk tubuh kekarnya itu membuat setiap wanita yang memandang Alvin pasti langsung terpesona.


Mikha mulai menutup wajahnya kembali dengan menggunakan selimutnya, Alvin dengan cepat langsung membuka selimut yang menutupi diri Mikha.


"Apa kamu malu sayang?" Bisikan Alvin membuat sekujur tubuh Mikha bergetar hebat. Dia benar - benar belum terbiasa melakukan hubungan suami istri dengan Suaminya.


Mikha menggeleng pelan, "Kamu kok tiba - tiba saja sudah disini? Aww....kepala aku terasa sangat pusing Vin." Ujar Mikha sambil memegangi kepalanya.


"Kok bisa? Jangan bilang kamu saat ini sedang mencari - cari alasan saja?" Tebak Alvin sambil memegangi kepala Mikha.


"Awwww...." Mikha mulau kembali berakting.


"Aku ambilkan obat ya!" Setelah itu Alvin sengaja untuk memberikan obat yang sangat pahit kepada Sang Istri karena Alvin tau pasti kalau Mikha pasti tidak akan mau untuk meminumnya.


"Ini sayang." Alvin membawakan obatnya lalu memberikannya kepada Sang Istri.


"Hah? Aku hanya membutuhkan istirahat saja nih sayang. Aku tidak perlu meminum obat ya." Mikha terus saja menghindar.


"Apa kamu sebenarnya tidak sakit?" Ujar Alvin kembali.


'Sial! Sepertinya Alvin tidak percaya dengan aktingku ini!' Pikir Mikha.


Dengan cepat Mikha langsung mengambil obat dari tangan Alvin lalu segera meminumnya dengan sangat cepat walaupun setelahnya mulut Mikha terasa sangat pahitnya.


"Pahit sekali Vin...sebenarnya kamu memberikan obat apa sih?" Tanya Mikha sambil terus meminum air agar rasa pahitnya itu hilang.


Alvin malah tersenyum penuh misteri, "Kamu pasti akan menyukainya sayang!" Balas Alvin tanpa memberitahukan sama sekali obat apa yang dia berikan kepada Mikha.


"Kenapa mendadak menjadi sangat panas? Apa AC dikamar ini tidak menyala?" Mikha mulai mengambil remote AC nya lalu menyetel AC nya dengan suhu yang sangat dingin. Tapi tubuh Mikha semakin merasa kepanasan. Dia mulai mendekati Alvin. Mikha sudah tidak waras lagi. Mikha yang mulai untuk merayu Alvin terlebih dahulu akan tetapi ketika dirinya mulai menyadarinya dia mulai melepaskan dirinya dari Alvin.


"Apa yang aku lakukan? Obat apa itu sebenarnya Vin?" Tanya Mikha terus menerus.


"Kamu mau tau? Itu obat perangsang sayang...Aku tau kalau kamu tadi cuma hanya berakting! Aku juga tidak serius untuk memberikan kamu obat itu karena aku pikir kamu tidak akan nekat untuk meminumnya, akan tetapi dugaanku salah sayang. Maafkan aku!" Jawab Alvin dengan wajah penuh penyesalannya.


"Alvin! Kamu..."


"Sorry sayang..."


Alvin mulai mendekati Mikha yang kini berjalan mundur untuk menjauhinya, "Aku akan membantu kamu sayang."


"Tidak..aku tidak mau!" Balas Mikha sambil terus berjalan mundur. Akan tetapi ucapan sama tingkah laku Mikha sangat jauh berbeda, mulutnya mengatakan tidak akan tetapi tubuhnya menginginkannya. Secara spontan Mikha menarik tangan Alvin lalu segera mencium Alvin lalu membuka handuk Alvin dengan cepat.


Malam ini adalah malam yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Alvin sama sekali. Berawal hanya dengan bercanda, dirinya bisa merasakan kepuasan yang sungguh luar biasa. Malam yang sangat menggairahkan bagi keduanya.


Keesokan harinya....


Mikha yang bangun duluan mulai merasakan bagian bawahnya terasa sangat nyeri, Mikha mulai bangkit sambil memegangi kepalanya yang entah mengapa terasa sangat pusing. Mikha menuju kedalam kamar mandi dengan cepat untuk membersihkan dirinya.


Mikha masih berusaha untuk mengingat apa yang sedang terjadi tadi malam antara dirinya dengan Suaminya, akan tetapi Mikha bahkan tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Sekujur tubuh Mikha kini sudah merah - merah akibat dari ganasnya Alvin tadi malam.


Mikha melihat dirinya sendiri didepan cermin besar yang ada dihadapannya, "Apa yang harus aku lakukan dengan tanda - tanda merah ini semua? Alvin kamu benar - benar luar biasa ya!" Ujar Mikha dengan kesal.


Setelahnya Mikha langsung keluar dari kamar mandi, "Pagi sayang..." Ujar Alvin sambil mendekati Sang Istri sambil memeluk tubuh Mikha  dari belakang.


"Apa yang terjadi tadi malam?" Tanya Mikha dengan menatap Alvin tajam.


"Kamu tidak ingat sama sekali sayang?" Tanya Alvin yang tidak bisa untuk mempercayainya.


Mikha mengeleng dengan cepat, "Emangnya apa?"


"Kamu lho tadi malam yang memulai duluan sayang!" Ujar Alvin.


"Mana mungkin! Kamu pasti berbohong kan?" Balas Mikha yang tidak bisa mempercayai ucapan dari Suaminya itu.


"Ngapain aku bohongi kamu..." Balas Alvin lalu memperlihatkan tubuhnya yang juga memiliki tanda - tanda kemerahan seperti yang ada ditubuh Mikha.


"Aku yang melakukan itu semua?" Tanya Mikha masih belum percaya.


"Iya sayang...aku suka kamu tadi malam yang seperti itu..." Bisik Alvin.


"Apaan sih kamu Vin? Sebenarnya obat apa yang kamu berikan kepadaku tadi malam?" Tanya Mikha dengan sangat penasaran.


"Obat perangsang sayang...sebelumnya aku minta maaf sama kamu ya! Sejujurnya aku hanya bercanda saja tadi malam aku berpikir kalau kamu tidak akan mungkin mau untuk meminumnya." Ujar Alvin sambil membalikkan tubuh Mikha lalu memegangi tangan Mikha.


"Alvin! Ih kamu ya!" Mikha mulai memukul lengan suaminya.


"Sorry sayang...tapi aku tidak menyesal telah melakukannya." Balas Alvin sontak membuat Mikha menatap Suaminya itu dengan tatapan tajamnya.


"Mendingan kamu cepetan pergi dari hadapan aku sekarang juga!" Ujar Mikha lalu mendorong tubuh Suaminya untuk masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


"Dasar mesum! Mimpi apa aku punya Suami mesum seperti kamu!" Gerutu Mikha dengan kesal.


Mikha berusaha untuk menghilangkan merah - merah dilehernya itu dengan menggunakan foundationnya lalu melapisinya dengan bedak.


 Setelah Mikha memutuskan untuk turun kebawah, karena waktunya sudah sangat mendesak akhirnya Mikha memutuskan untuk hanya memberikan sarapan Suaminya dengan roti isi buatannya saja. Mikha dengan cepat mengoleskan roti untuk Alvin sebelum Alvin turun.


"Gimana Mik selama Kakak pergi? Kalian berdua menikmati waktu bersama - sama kan?" Tanya Ara sambil tersenyum jail.


Mikha hanya menjawab pertanyaan Ara hanya dengan anggukan kepalanya saja.


"Selamat ya untuk kalian berdua! Kakak harap kalian berdua bisa selalu berbahagia dan kamu segera memiliki Anak." Ara mendoakan untuk kebahagiaan Alvin dan Mikha.


"Aminnnn terimakasih doanya Kakak iparku yang baik!" Ujar Alvin yang mendengarkan pembicaraan Ara dan Mikha secara tidak disengaja.


"Alvin!"


"Sarapan aku mana sayang?" Tanya Alvin dengan manja dengan Istrinya.


"ini...cepatan ya kamu habisin...aku keburu terlambat nih karena kamu kelamaan." Ujar Mikha sambil memberikan roti isi buatannya untuk Suaminya.


"Iya sayang...ini dibuat dengan cinta kan?" Goda Alvin sambil mengambil rotinya dari tangan Sang Istri.


"Alvin!"


Alvin hanya tertawa geli saja melihat reaksi malu - malu Mikha. Alvin menghabiskan roti isi buatan Sang Istri dengan sangat cepat.


"Kak...kami berangkat sekarang ya!" Ujar Alvin dan Mikha lalu pergi dengan cepat.


Selama didalam perjalanan, Mikha terus saja mengomel karena merasa tidak tenang karena waktunya semakin mepet saja. "Lebih cepat lagi Vin...bisa - bisa aku telat lho! Hari ini aku ada meeting penting." Mikha terus saja menatap jam tangannya dengan begitu gelisah.


"Iya sayang...kamu bisa tenang gak sih?" Ujar Alvin yang menjadi bingung.


"Gimana aku bisa tenang...aku udah mau terlambat lho Vin..." Balas Mikha.


"Iya iya aku tau!" Lalu Alvin segera mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat hingga akhirnya Mikha sampai dengan tepat waktu.


"Sampai nanti sayang..." Ujar Mikha lalu dengan cepat memberikan ciuman di pipi Suaminya.


"Byeee...kamu hati - hati ya!" Kemudian Mikha masuk dengan cepat kedalam kantornya.


"Uh dasar! Giliran seperti ini aja terus saja mendesak aku!" Gerutu Alvin dengan kesal lalu segera melajukan mobilnya dengan cepat.


******


"Gimana Lan? Kamu masih belum menemukan keberadaan Clara?" Tanya Papanya Alan.


"Belum Pa!" Jawab Alan dengan murung.


"Kamu yang sabar ya...Papa yakin kok kalau cepat atau lambat kamu bisa menemukan keberadaannya." Ujar Papanya memberikan semangat untuk Anaknya.


Alan hanya menganggukkan saja, "Terimakasih Pa!" Ujar Alan sambil tersenyum.


Alan mulai sibuk dengan ponselnya, kini Alan mencoba mencari tau keberadaan Clara dari sosmednya. "Kenapa kamu tidak meninggalkan petunjuk sama sekali sih Cla?" Ujar Alan yang kini malah memandangi wajah Clara.


Alan memutuskan untuk pergi mencari keberadaan Clara, hari ini rencananya Alan akan berkeliling ketempat semua orang yang pernah berhubungan dengan Clara. Salah satu orang yang terpikir oleh Alan adalah teman kerja Clara.


Alan sudah menanyakan keberadaan Clara hampir kesemua teman kerja Clara yang Alan ketahui. Akan tetapi Alan lagi - lagi tidak mendapatkan petunjuk sama sekali.


"Dimana sih kamu sebenarnya Cla? Kemana lagi aku harus mencari kamu?" Ucap Alan dengan resahnya.


******


Pintu ruangan Alex mendapatkan ketukan, dia langsung memerintahkannya untuk masuk. Alex sendiri masih sibuk dengan pekerjaannya sampai membuat dirinya tidak bisa untuk melihat sosok yang sudah berdiri dihadapannya saat ini.


"Apa kabar Kak?"


Begitu mendengarkan seseorang dihadapan saat ini sedang memanggilnya dengan sebutan Kakak, tenty saja Alex langsung menatap tajam kearahnya, "Daniel! Kenapa kamu berada disini?"


"Kak Alex masih marah sama aku? Ayolah Kak...ini sudah terlalu lama...aku mohon lupakanlah masalalu, lagian sekarang Daniel sudah tidak mempunyai hubungan apapun juga dengan Bella."


"Maaf...aku tidak ada hubungan apa - apalagi dengan kamu dan juga wanita itu! Sebaiknya kamu segera pergi dari sini dengan cepat sebelum aku memanggil keamanan."  Ucap Alex dengan ketus.


"Tapi Kak...aku mohon berikanlah Daniel kesempatan sekali lagi. Daniel janji tidak akan pernah mengecewakan Kak Alex lagi." Daniel masih terus memohon kepada Alex dengan sungguh - sungguh.


"Keluar! Apa kamu tidak mendengarnya!" Ketus Alex lagi dengan amarahnya.


Daniel bangkit dari duduknya lalu berjalan pergi, tapi sebelum sampai ke depan pintu, Alex berkata, "Jangan pernah kesini lagi! Camkan itu!" Ketus Alex kembali.


Daniel kembali untuk berbalik lalu mengatakan, "Bahkan sampai sekarang Bella masih menyukai Kakak! Dia tidak pernah mencintaiku Kak! Aku yang terus memaksa Bella agar terus bersama denganku. Ini semua benar - benar kesalahanku Kak." Ujar Daniel sebelum pergi dari ruangan Alex.


Emosi Alex saat ini benar - benar sedang tidak stabil, dia benar - benar belum bisa melupakan apa yang terjadi dulu yang sangat menyakiti hatinya. "Kenapa kamu datang lagi? Arrrgh!" Ujar Alex sambil menarik rambutnya kebelakang.


Hari ini Alex menjadi tidak bisa berkonsentrasi dalam melakukan pekerjaannya, Alex memutuskan untuk pulang lebih awal lagi, sesampainya dirumah Alex langsung membaringkan tubuhnya diatas sofa empuknya, kemudian Alex mengamati kearah sekitar rumahnya.


'Siapa yang berani - beraninya merubah dekorasi rumah ini? Dan aroma ini sepertinya benar - benar tidak asing.' Pikir Alex.


"Bi...Bibi!"  Teriak Alex.


Begitu melihat seseorang wanita yang sangat dikenal dan dibencinya itu berada dirumahnya sontak saja membuat Alex emosi. "Kamu! Kenapa kamu berada disini? Ada apa dengan pakaian yang kamu kenakan?" Tanya Alex dengan menatap penampilan Bella yang menggunakan setelan pembantu yang yang ada dirumah Alex.


"Mulai hari ini aku bekerja disini..." Jawab Bella dengan santainya.


"Apa? Apa kamu gila? Tidak! Aku bahkan tidak sudi untuk melihat kamu berada disini! Ada apa dengan hari ini? Kenapa aku harus ketemu dengan kamu dan Daniel lagi! pergi!" Ucap Alex dengan suara yang sudah mulai meninggi.


"Gak akan! Aku gak mau pergi dari sini!" Balas Bella.


"Jangan sampai aku berbuat kasar sama kamu Bella! Pergi selagi aku masih bersikap baik." Ancam Alex.


Bella sama sekali tidak takut dengan ancaman Alex barusan, Bella malah semakin menantang Alex.


"Silahkan saja kalau kamu bisa!" Balas Bella.


"Kamu yang paksa aku!" Alex berjalan mendekati Bella lalu menarik tangan Bella.


*******


Hmm...gimana ya selanjutnya?


Gimana suka gak sama kejutan yang thor berikan hari ini? Hehe

__ADS_1


Happy reading guys!


__ADS_2