
Satu hari setelah acara pernikahan Alan dan Clara, Tia akan segera pergi keluar negeri sesuai dengan kesepakatannya dengan Al dan Ara. Tia sudah mengemasi semua pakaiannya. Sebelum keluar dari kediamannya Tia memandangi segala penjuru isi dirumahnya yang penuh akan kenangan.
Hatinya benar - benar berat meninggalkan rumahnya ini, hanya saja dia juga sudah tidak berhak lagi dirumah ini karena rumah Tia ternyata sudah disita dari pihak bank. Setelah merasa cukup memandangi rumahnya, dengan langkah berat Tia keluar dari rumahnya.
Diluar rumahnya sudah ada mobil yang disediakan oleh Al untuk menjemput dirinya. Pesan terakhir dari Tia adalah dia tidak ingin satu orangpun yang menyaksikan kepergiannya karena dia tidak ingin melihatnya merasakan sedih begitu juga dengan dirinya yang pasti akan semakin berat.
Tia sudah berjalan kearah mobil, dengan sigap supirnya turun lalu membukakan pintu penumpang untuk Tia. Sebelum masuk kedalam mobil, Tia sempat menatap rumah yang penuh kenangan dirinya selama beberapa saat.
'Selamat tinggal rumahku! Semoga suatu saat nanti aku bisa memilikimu lagi.' Ucap Tia didalam hatinya.
Lalu Tia masuk kedalam mobil tanpa menoleh sama sekali. Supirnya memasukkan koper Tia didalam bagasi mobil lalu segera masuk kembali kedalam mobilnya.
"Jalan Pak!" Pinta Tia.
"Baik Non."
Tanpa menunggu lagi supirnya langsung saja melajukan mobilnya menuju ke bandara. Selama didalam perjalanan Tia hanya tidur saja, dia tidak ingin melihat ponselnya sama sekali. Dirinya benar - benar merasa sangat lelah atas pesta tadi malam. Saat memejamkan kedua matanya, pikiran Tia mulai menerawang kembali.
Flashback On
Dipesta pernikahan Alan dan Clara tadi malam...
Tanpa disengaja Tia melihat kemesraan dari Al dan Ara, dia sudah berusaha untuk merelakan Al bersama dengan wanita lain. Hanya saja mungkin tidak akan semudah itu.Wajahnya kembali menjadi sedih. Tanpa disangka - sangka Ara ternyata menatap kearah Tia juga.
Tia belum sempat untuk memalingkan wajahnya. Ara langsung berjalan kearah Tia. Kini Tia sudah salah tingkah, dia langsung memandang kearah lain seolah - olah tidak melihat apa - apa.
Ara sudah berdiri tepat dibelakang Tia, Ara memegang bahu Tia, "Tia..." Panggil Ara dengan lembut.
Tia dengan kaku langsung membalikkan tubuhnya. "Ya Ra...ada apa?" Tanya Tia masih dengan sikap salah tingkahnya.
"Aku tau kok tadi kamu lihatin aku dan Al saja kan? Maaf ya karena kami memperlihatkan kemesraan kami didepan kamu....aku tau perasaan kamu pasti merasa sangat sakit saat ini." Ujar Ara yang seolah - olah bisa membaca pikiran Tia.
Tia menggeleng dengan cepat, "Tidak Ra, aku tidak apa - apa kok. Aku happy melihat kamu dan Al bahagia." Balas Tia sambil memegang tangan Ara.
"Jangan berbohong! Aku tau kok...gimana rasanya jadi kamu. Oh iya mengenai keberangkatan kamu...."
Dengan cepat Tia langsung memotong ucapan Ara, "Aku penerbangan pagi Ra." Ujar Tia.
"Bukan itu Tia...kamu benar - benar ingin pergi bukan karena Al yang memaksa kamu untuk pergi kan? Kamu masih mempunyai waktu untuk memikirkan ulang lagi. Kalau kamu pada akhirnya memilih untuk berada disini, aku berjanji akan meyakinkan Al untuk mengubah keputusannya." Balas Ara dengan sangat serius.
Tia menggeleng dengan cepat, "Tidak perlu Ra! Aku sudah memikirkannya kok...aku akan pergi dari sini walaupun tanpa Al yang memintanya. Aku sadar kalau aku tidak pantas berada disini. Kalau aku berada disini terus, aku tidak akan mungkin bisa memaafkan diriku sendiri. Apa kamu mau kalau aku disini aku akan merebut Al kembali?" Ujar Tia untuk menakut - nakutin Ara.
"Coba saja jika kamu bisa....pasti kamu tau sendiri gimana sikap dingin Al kan? Aku tidak takut sama sekali karena aku yakin hati Al hanya untukku. Tapi bukan itu alasan kamu sebenarnya kan?" Ujar Ara kembali menatap Tia dengan tatapan menyelidik.
Tia tau sendiri kalau merebut Al dari sisi Ara adalah suatu hal yang sangat mustahil, dia mengatakan hal itu hanya untuk melihat reaksi dari Ara saja. Tapi sayangnya kekuatan cinta Al dan Ara sudah sangat kuat dan tidak memiliki celah lagi untuk orang lain.
Apalagi Tia sendiri sangat mengenal Al, Al memang sangat dingin bila dia sudah tidak menyukai orang itu lagi. Al akan memasang seribu dinding tebal yang tidak akan bisa ditembus oleh Tia.
Tia hanya tersenyum mendengarkan ucapan Ara barusan, "Aku tidak bisa mengatakan alasanku Ra....tapi aku memutuskan untuk pergi." Balas Tia sambil memegang bahu Ara.
"Kalau gitu besok aku dan Al akan mengantar kamu kebandara ya..." Ujar Ara lagi.
"Tidak Ra...tidak perlu. Langkahku akan sangat berat bila kalian mengantar kepergianku. Sungguh aku baik - baik saja kok." Ucap Tia untuk meyakinkan Ara.
Tia menatap kearah belakang Ara. Dia melihat Al berjalan mendekati mereka berdua, "Lihat itu Al lagi jalan kesini...terlihat dia sangat mencemaskan kamu kalau berada didekatku. Dia sangat posesif banget ya?" Ujar Tia lagi.
Ara langsung menoleh untuk menatap Suaminya, Lalu Al memeluk pinggang Ara dihadapan Tia.
__ADS_1
"Kamu yakin memang tidak ingin diantar?" Tanya Ara lagi.
"Ada apa sayang?" Ujar Al yang tidak mengetahui apa yang sedang dibahas oleh kedua wanita yang ada didekatnya itu.
"Ini sayang...aku bilang sama Tia biar kita mengantar dia kebandara, tapi dia menolaknya." Ujar Ara.
"Oh iya? Apa kamu yakin emang benar - benar tidak ingin diantar? Setidaknya kamu bisa melihat aku untuk terakhir kalinya disana." Ujar Al dengan pedenya.
Tia hanya tersenyum sambil menutup mulutnya untuk menahan rasa gelinya atas ucapan Al barusan.
"Ih sayang...kamu kepedean banget sih...belum tentu juga Tia ingin melihat kamu. Dasar! Uhft!" Ujar Ara sambil mencubit gemas pipi Suaminya.
"Ya kali aja kan? Tapi kamu juga tidak bisa untuk memaksa Tia bila dia tidak menginginkannya.Kamu tau gak dia itu terlalu keras kepala dan tidak ingin mendengarkan ucapan orang lain." Ujar Al.
"Al!" Ujar Tia.
Al dan Ara kembali terkekeh melihat reaksi Tia yang terlihat sangat kesal.
"Aku hanya bercanda, kami tidak akan memaksa kamu Tia...hanya saja aku akan menyuruh seorang supir untuk mengantar kamu kesana. Kali ini kamu tidak bisa untuk menolaknya atau kami akan tetap memaksa kamu untuk tetap mengantar kamu. Silahkan kamu pilih saja sendiri." Ujar Al dengan tegas.
Tia sangat tau pasti kalau Al tidak akan mungkin pernah main - main dengan apa yang telah dia katakan. Dengan berat hati Tia setuju dengan membiarkan supir yang diutus oleh Al untuk menjemputnya.
"Baiklah." Jawab Tia pada akhirnya.
"Boleh aku memelukmu?" Tanya Ara.
Sontak membuat Tia dan Al saling melihat tak percaya, Tia masih menatap Al untuk memberikan persetujuan, ketika Al menganggukkan kepalanya Tia langsung menjawab Ara dengan anggukan kepalanya juga.
Ara langsung memberiakn pelukan kepada Tia, "Terimakasih Tia...semoga kamu akan menemukan tujuan hidup dan kebahagiaan kamu juga ya! Aku sudah menganggap kamu sebagai seorang teman...selama kamu disana jangan sungkan bila kamu ingin menghubungiku ya. Aku pastikan akan menjawab panggilanmu."
Ara hanya menunjukkan senyuman tulusnya kepada Tia.
"Duh sayang aku tidak menyangka lho kamu akan bersikap sebaik ini dengan Tia..." Ujar Al sambil mengelus kepala Sang Istri.
"Kan aku hanya ingin belajar dari kesalahan yang pernah aku lakukan dimasa lalu...aku tidak ingin hal itu terulang kembali." Balas Ara dengan menatap Suaminya dengan tatapan manjanya.
Tia sudah sangat terbiasa untuk menyaksikan kemesraan Al dan Ara, dia hanya tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya saja.
Flashback Off
'Terimakasih untuk kalian berdua...semoga kalian berdua selalu bahagia!' Batin Tia sambil membuka matanya lalu tersenyum tulus.
*******
Dengan telaten Bella merawat Adiknya Alex bila Alex harus pergi kekantor. Sudah entah berapa waktu ini Daniel belum menunjukkan tanda - tanda bila dirinya akan tersadar. Tanpa sadar Bella yang memang belum ada tidak sama sekali sejak tadi malam akhirnya tertidur dengan sendirinya tepat disamping Daniel.
Entah sudah berapa lama Bella tertidur disana, dia merasakan ada tangan yang sedang bergerak, dia langsung terdasar lalu menatap Daniel yang kini sudah membuka lebar kedua matanya. Dengan histeris dan bahagia Bella langsung memeluk Daniel. "Akhirnya kamu sadar juga! Aku akan memberitahukan kabar menggembirakan ini kepada Kakak kamu. Tunggu disini." Bella langsung menghubungi Alex, akan tetapi karena Alex tidak menjawab panggilannya Bella mengirimkan pesan singkat saja kepada Alex yang menyatakan kalau Adiknya sudah siuman.
Setelahnya Bella langsung memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Daniel. Dia langsung menekan tombol panggilan, tidak berapa lama kemudian seorang perawat sudah datang kedalam ruangan Daniel.
"Ya kak...ada yang bisa saya bantu?"
"Panggilkan Dokter! Pasien ini sudah sadar dari komanya....! Ayo cepat!" Ujar Bella dengan sangat antusias.
"Daniel...terimakasih karena kamu sudah sadar kembali. Kamu tau gak betapa paniknya Alex saat mengetahui kamu sedang sekarat. Dia sangat menyayangi kamu. Aku berharap kalian berdua bisa segera berbaikan ya." Ucap Bella sambil menatap Daniel dengan perasaan yang campur aduk.
Setelah melihat dokter datang untuk memeriksa keadaan Daniel, Bella keluar dari ruangan rawat Daniel.
__ADS_1
Dari kejauhan Alex sudah berlari untuk menghampiri Bella, "Alex! Kamu darimana saja sih? Kenapa kamu susah sekali untuk menjawab telepon kamu!"
"Apa benar kalau Daniel sudah sadar?" Tanya Alex dengan nafas yang masih memburu.
Bella mengangguk dengan mantap, "iya Lex! Daniel memang sudah sadar. Dia sedang diperiksa oleh Dokter didalam." Jawab Bella dengan sangat antusias.
Secara spontan Alex memeluk Bella, "Terimakasih...aku sangat bahagia sekali mendengar kalau Adikku sudah sadar!"
Bella masih terpaku tanpa merespon pelukkan dari Alex, Dan ketika Bella ingin memeluk punggung Alex tangannya seakan tak kuasa untuk melakukannya. 'Seperti ini saja sudah jauh lebih cukup untukku Lex! Aku tidak akan berharap lebih lagi kepada kamu.' Batin Bella sambil tersenyum lirih.
Setelah tersadar Alex langsung melepaskan pelukkannya dari Bella," Sorry tadi itu aku tidak..."
"Tidak apa - apa kok, aku mengerti kenapa kamu memelukku tadi. Aku tidak akan salah paham kok." Ujar Bella sambil tersenyum.
Keduanya saling menatap satu sama lain, pintu kamar Daniel sudah dibuka. Pandangan keduanya langsung tertuju kepada Dokter yang baru saja memeriksa keadaan Daniel.
"Bagaimana Dok?" Tanya Alex.
"Ini suatu keajaiban...Daniel sudah siuman dari komanya, awalnya saya sendiri saja tidak percaya bila hal seperti ini akan terjadi. Keadaannya saat ini secara perlahan sudah membaik, hanya saja dia masih tidak bisa mendengarkan hal - hal yang membuatnya terkejut. Sebaiknya berikan rasa nyaman bila ingin berbicara kepadanya, agar dia bisa merespon dengan baik. Baik kalau begitu saya permisi dulu." Ujar Dokter itu lalu melangkah pergi meninggalkan Alex dan Bella.
"Sebaiknya kamu masuk Lex...aku tidak ingin melihat Daniel melihat kita masuk secara bersama - sama." Ujar Bella lalu menepuk bahu Alex.
Alex mengangguk lalu langsung melangkah masuk kedalam ruangan Sang Adik. Bella melihat dari kaca depan, dia ikut merasa bahagia. 'Semoga kalian berdua selalu akur dan bahagia!' Batin Bella lalu melangkah pergi dari sana.
Dia sudah menghubungi Omanya Alex juga, seperti yang Bella perkirakan kalau saat ini pasti Omanya sedang berada didalam perjalanan menuju rumah sakit. Bella tidak ingin menyia - nyiakan kesempatan baik ini untuk segera pergi.
Pasalnya dia pasti tidak akan sanggup bila harus berpamitan langsung dengan Omanya Alex yang sudah menganggapnya seperti cucunya sendiri sama halnya dengan Alex dan Daniel. Bella sebenarnya sangat berat hati untuk meninggalkan Omanya begitu saja, tapi dia sudah berjanji kepada Alex bila Adiknya sadar, Bella akan segera pergi jauh dan tidak akan pernah kembali lagi dikehidupan kedua Kakak Adik itu.
Bella terus berlari untuk mempercepat langkahnya. Airmatanya kini sudah membanjiri pipi kanan dan kirinya. Bella saat ini sedang menutup mulutnya sambil terus mengusap airmatanya yang terus saja mengalir dengan derasnya. Dia ingin segera mengemasi pakaiannya dikediaman Alex.
Seakan takdir mendukung kepergiannya, tanpa ada macet sama sekali kini jalanan yang ada dihadapannya sangat lempeng dan kosong. Dengan cepat kini Bella sudah berada dikediaman Alex.
Dengan langkah cepat dia langsung berlari kekamarnya, lalu segera berkemas dengan cepat. Kebetulan dia memang tidak membawa banyak pakaian sejak memasuki rumahnya Alex. Jadi dalam waktu sekejab saja dia sudah selesai berkemas. Dia berjalan menuju kamar Alex.
Dia meletakkan sebuah surat yang memang sudah dipersiapkan oleh Bella. Kini Bella menuju kamar Omanya Alex, dia meletakkan sebuah surat juga diatas meja yang berada didekat kasur Omanya.
"Maafkan Bella Oma...maafkan Bella yang tidak bisa menepati janji Bella untuk tidak meninggalkan Oma. Ini semua Bella lakukan untuk kebahagiaan semua orang."
Setelah itu Bella langsung segera keluar dari kamar Omanya, taksi yang dinaikinya tadi sengaja untuk disuruh Bella untuk menunggu dirinya. Kini Bella sudah berada diluar rumah Alex. Dia memandangi rumah megah ini beberapa saat.
"Selamat tinggal semuanya. Terimakasih telah mengizinkanku untuk menebus rasa bersalahku." Lalu Bella menghapus airmatanya dan segera masuk kedalam taksi.
"Jalan Pak!" Pinta Bella tanpa menoleh kebelakang lagi.
Kini Bella sudah benar - benar pergi dari kehidupan Alex seperti apa yang Alex harapkan selama ini. Kini Bella sudah menuju ke hotel yang berada disekitaran bandara karena dirinya masih belum memesan tiket. Dia memutuskan untuk tidur satu malam didalam hotel sebelum akhirnya pergi dari negera ini.
Sesampainya di hotel Bella langsung check in lalu segera masuk kedalam kamarnya, dia langsung meletakkan semua barangnya begitu saja lalu kembail menangis histeris di kasur. Dadanya benar - benar terasa sangat sakit menerima kenyataan ini. Tapi ini adalah keputusan terbaik untuk menyatukan Alex dengan Adiknya lagi.
Dia hanya ingin pergi secepatnya dari negara ini untuk menghapuskan semua kenangannya disini.
*******
Mampukah Bella melakukannya? Memang benar ya kalau ada pepatah yang mengatakan kalau ada pertemuan pasti juga akan ada perpisahan...
Takdir memang sulit untuk ditebak ya! Hehe
Happy reading guys!
__ADS_1