SECRET LOVE

SECRET LOVE
Langkah Baru


__ADS_3

"Mau kemana, Ar?" tanya Bu Sofia pada anak lelakinya saat melihat penampilan putranya itu sudah rapih, sangat berbeda dari biasanya.


Aaric tersenyum mendapatkan pertanyaan dari ibunya, sejurus kemudian menghampiri sang ibu yang tengah duduk santai bersama ayahnya.


"Aaric mau ketemu teman, Ma."


"Malam-malam begini?" Bu Sofia mengerutkan dahinya.


"Masih sore, Ma, belum terlalu malam juga." timpal Aaric seraya ikut duduk di sofa kosong yang berseberangan dengan kedua orang tuanya.


"Ketemu siapa? Mau ngapain?"


"Teman lama. Ada sedikit urusan yang mau Aaric bicarakan," ujarnya santai tanpa menoleh pada kedua orang tuanya. Ia malah sibuk menyamil makanan ringan yang tersedia di atas meja.


"Soal pekerjaan?" sahut ayahnya yang kini ikut menoleh.


"Iya, Pa."


"Jangan pulang larut,"


"Cuma sebentar," balasnya seraya beranjak dari tempatnya.


"Hati-hati, jangan ngebut kamu. Ingat di rumah kamu masih punya Mama dan Papa." ibunya kembali mengiterupsi.


"Iya, Mama." ucapnya dengan senyuman penuh arti pada wajah senja ibunya.


'Aaric juga masih punya Adek Ma, kita punya Asyilla. Mama Papa yang sabar ya. Aaric janji akan membawa pulang Adek ke rumah kita.' lanjutnya membatin dalam hati.


Selama setengah jam berkendara mengarungi jalanan ibu kota yang cukup ramai meski di malam hari, Aaric sampai disebuah cafe yang biasa ia sambangi ketika menjamu klien perusahaannya.


Aaric berjalan dengan kepala tegak dengan tatapan matanya yang tak lepas dari seorang sosok yang sedang duduk melambaikan tangan ke arahnya.


"Ar!" panggilnya pada Aaric yang semakin dekat menghampirinya.


"Hai, Sa. Sorry aku telat banget datangnya soalnya kamu tahu sendiri jalanan di sini itu--"


"Macet." ucap mereka secara bersamaan yang mana membuat suara gelak tawa menguar seketika di meja itu.


"Haha, kamu itu ya," ucap Aaric seraya duduk di depan menghadap seorang sahabat dari sedari kecil yang ia temui.


"Apa?" tanya seorang wanita yang bernama Raisa itu menatap Aaric dengan mengatupkan kedua belahan bibirnya seraya mencondongkan badannya ke depan meja.


"Kamu nggak berubah sejak dulu," timpal Aaric dengan senyuman. Ia memangkas jarak dari Raisa dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang mana wajah wanita cantik itu hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.


Raisa mendengus, ia memangku kedua tangannya di dada sembari cemberut.


"Udah tahu aku tuh dari dulu nggak pernah berubah, tapi kamunya aja yang gak peka." gumamnya.


"Ya, apa Sa? Aku denger kamu ngomong sesuatu tapi nggak jelas gitu,"


"Nggak, bukan apa-apa." Raisa menggelengkan kepalanya.


"Oh, oke." balas Aaric tak melanjutkan.


"Mbak!" Raisa melambaikan tangannya ke arah pelayan yang tak jauh dari meja mereka.


"Kamu mau makan minum apa?" tanyanya.


"Apa ajalah, samain juga boleh." jawab Aaric santai.

__ADS_1


"Mbak, saya minta menunya satu lagi ya, samain aja sama yang saya punya." setelah memberi pesan pada pelayan tersebut, Raisa kembali beralih pada Aaric yang sibuk dengan ponselnya.


"Ya percuma ngajakin ketemuan tapi akunya di cuekin gini,"


"Eh, sorry-sorry, aku lagi ada cek email dari kantor. So, gimana?" tanya balik Aaric yang saat ini memberikan perhatiannya pada sahabatnya itu.


Raisa tertawa pelan, melihat Aaric seperti itu ia menjadi gemas sekali. "Haha, santai Ar. Aku cuma bercanda kok. Gue suka pengen ketawa kalau udah liat muka kamu yang begitu."


"Apa sih, Sa... Kita udah bukan anak-anak kali,"


"Iya, cocoknya udah bisa bikin anak. Iya gak sih. Mau?" ujarnya dengan mimik serius menggoda Aaric.


Aaric mendelik kesal pada temannya itu.


"Ck, udah deh. Jadi gimana ini?"


"Ok, ok." Raisa mencoba menghentikan tawanya yang tak kunjung usai. Dia merapikan anak rambut yang menghalangi sebagian pandangannya.


"Kamu harus denger baik-baik Ar, karena informasi ini mungkin bisa mempermudah jalan apa yang kamu cari selama ini."


Raisa menjelaskan informasi apa yang dia ketahui setelah beberapa bulan ini membantu Aaric. Hingga tak terasa waktu berjalan begitu sangat cepat, sampai makanan dan minuman yang mereka pesan pun habis tak tersisa.


Aaric mengangguk-anggukan kepalanya mendengar kalimat terakhir dari Raisa. Nampak ia pun terlihat seperti berpikir, langkah apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


"Aku udah berusaha untuk mencari informasi sedetail mungkin. Ya, seperti yang udah aku bilang sama kamu tadi, terjadinya peristiwa itu kemungkinan besar karena adanya persaingan bisnis antara perusahaan Papa kamu dulu dengan para pesaingnya."


"Masuk akal," gumam Aaric.


"Tapi kamu harus menyelidiki masalah ini dengan hati-hati. Bagaimana pun kalau ini benar adanya, dampak dari apa yang mereka lakukan dulu sama keluarga kamu masih tersisa sampai sekarang. Terlebih--"


"Ya, perusahaan Papa menjadi taruhannya. Sejak dulu, bahkan sekarang pun. Apalagi Mama Papa kehilangan hal yang paling berharga di dalam hidup mereka, termasuk aku." Aaric mengenang apa yang sudah terjadi belasan tahun lalu yang menjadi bencana bagi keluarga mereka.


"Iya, kamu bener, Sa. Thanks ya, udah mau bantu."


Raisa menganggukkan kepalanya. Ia pun merasa sedih melihat keluarga Aaric yang setiap hari dirundung kesedihan karena kehilangan. Walau bagaimana pun, ia sudah hidup lama berdampingan dengan keluarga Aaric sejak kecil. Sedikit banyak ia pun tahu permasalahan yang terjadi pada keluarga itu.


"Okey, kalau gitu aku duluan ya."


"Kemana?" tanya Aaric.


"Pulanglah, kemana lagi." jawab santai Raisa.


"Aku antar,"


"Nggak perlu, aku bawa mobil kok. Kamu tahu sendiri kalau Papa tuh bawelnya seperti apa kalau anak gadisnya pulang telat?" kekeh wanita itu seraya beranjak dari duduknya.


"Kamu nggak mau mampir ke rumah ketemu Mama Papa aku? Om Indra nggak akan marah kalau dia tahu kamu habis dari rumah."


"Udah pasti, sejak dulu Papa itu lebih percaya kamu dibanding aku anaknya sendiri."


Aaric tersenyum mendengar celetukan sahabatnya itu. Mengingat watak ayah Raisa, mengingatkannya akan sikap posesif pria paruh baya itu pada anaknya dari laki-laki selain dirinya.


"Jadi mau mampir dulu? Mama pasti seneng kalau dia ketemu sama kamu, Sa. "


"Entar-entar aja deh, aku pulang duluan ya. Udah malem ini."


"Yakin?"


"Iya, Aaric..."

__ADS_1


"Oke deh, aku gak bisa maksa. Hati-hati ya."


Raisa hanya tersenyum mendapat perhatian kecil dari sahabat kecilnya itu. Hingga ia pun bergegas pergi dari tempat tersebut untuk pulang sebelum tengah malam tiba.


"Sorry, Sa." ucapnya menatap punggung kepergian wanita itu.


*


*


*


Kiana mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru ruangan pada sebuah tempat yang mana menjadi saksi bagaimana awal mula kehancuran dalam hidupnya.


Suasana dari ruangan tersebut masih sama, tak ada sedikitpun yang berubah dari kali terakhir Kiana berada di sana saat mengalami malam kelam bersama Bian pada waktu itu.


"Lho, kok malah berdiri di sana?" tanya Bian saat melihat Kiana terdiam diambang pintu kamar tersebut. "Ini anaknya ngerengek udah mau tidur kayaknya."


Kiana menatap wajah Bian dengan jari yang saling menaut di bawah sana.


"Ki, ayo masuk, sayang. Anaknya ngerengek udah minta minum." ucap Bian menghampiri Kiana yang terdiam dalam diamnya.


"Kenapa?"


Kiana seolah sulit untuk mengucapkan sepatah kata dari mulutnya. Kedua kakinya pun terasa berat untuk melangkah masuk ke dalam.


"Pak,"


Seakan tahu apa yang tengah dirasakan oleh Kiana, Bian meraih tangan istrinya itu dengan kedua tangannya.


"Ada apa dengan istriku ini, hem?"


"Pak," Kiana menundukkan kepalanya seraya menggigit bibir bawahnya.


"Kamu takut, Ki?" sudah dipastikan jika Kiana trauma akan apa yang sudah terjadi di tempat itu pada mereka, pikirnya.


"Sayang, dengerin Mas." Bian memegang dagu lancip Kiana untuk melihat wajah cantik istrinya yang terlihat pucat.


"Aku janji semuanya akan baik-baik aja. Kamu jangan takut ya, aku akan mengubah kenangan pahit itu dengan kebahagian yang akan kita ukir mulai saat ini." ucap Bian menenangkan keresahan hati istrinya.


"Ayo, Ki. Al udah gelisah sejak tadi nunggu ibunya." ajak Bian menarik lembut Kiana untuk segera masuk.


"Kita akan melukis pelangi yang indah di kamar ini bersama anak-anak kita nanti." ujarnya dengan senyuman seraya mendudukkan Kiana ditepi tempat tidur.


"Tapi untuk sekarang, kita urus dulu bayi kita yang satu ini sebelum kita sibuk mengurus bayi-bayi kita yang lainnya." Bian ikut terduduk di samping Kiana yang kini tengah sibuk mengganti pakaian bayinya.


"Kamu udah ada lapar belum?" tanya Bian sembari memegang kedua bahu Kiana.


"Belum," Kiana menggelengkan kepalanya.


"Ya udah, kalau gitu kita istirahat dulu sambil nunggu bayi tampan ini tertidur." Bian membaringkan raganya di pembaringan. "Bawa ke sini, Ki. Aku mau lihat kamu menimang Al sampai dia tidur. " Bian menepuk-nepuk bagian kasur yang kosong untuk ditempati anak dan istrinya.


Kiana pun beringsut ikut membaringkan dirinya dan juga Al di tengah-tengah Bian berada. Ia mulai mengusap lembut bayinya yang tengah tenang menyedot minuman kesukaannya.


Sesekali pandangan matanya bertemu dengan manik mata yang selalu membuatnya berdebar. Bian terus menerus menatapnya tanpa mengalihkan perhatian sedikit pun darinya.


Tersipu malu sudah pasti. Ingin rasanya ia menenggelamkan wajahnya dari pandangan suami tampannya yang tengah tersenyum manis ke arahnya.


"Aku cinta kamu, Ki." ucapnya dengan memberikan senyuman yang mana membuat Kiana menahan napasnya.

__ADS_1


Ya Tuhan... kesehatan jantungnya semakin tidak baik-baik saja.


__ADS_2